Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Menjadi Murid Abadi?

Ye Chen masih berdiri terpaku di balik pohon, tangannya mencengkeram kulit kayu sampai buku-buku jarinya memutih.

Pedang terbang. Bola api. Petir yang dipanggil dari tangan kosong.

Ini nyata. Ini benar-benar nyata.

Matanya tak berkedip mengikuti setiap gerakan di udara, terlalu cepat untuk diikuti sepenuhnya, tapi cukup jelas untuk membuktikan bahwa ini bukan ilusi. Tanah retak di bawah mereka. Pepohonan tumbang karena gelombang tekanan. Udara sendiri tampak bergetar setiap kali senjata-senjata itu berbenturan.

Tapi bahkan setelah melihatnya langsung, sebagian otaknya yang terlatih bertahun-tahun di bumi modern, masih menolak untuk mempercayainya sepenuhnya.

Apakah aku sedang bermimpi? Atau sedang berhalusinasi?

Pemikiran tidak percaya semacam itu terus muncul di kepalanya. Bagaimanapun juga, hidup selama dua puluh lima tahun di bumi, dia telah melihat banyak hal, entah yang aneh, mengerikan, atau yang tidak masuk akal lainnya. Zona perang di Timur Tengah, operasi rahasia di hutan Afrika, bahkan ritual-ritual aneh yang dilakukan milisi lokal.

Tapi baru kali ini dia melihat sesuatu yang benar-benar melanggar semua hukum fisika yang dia ketahui.

Dia benar-benar tidak ingin mempercayainya. Tapi apa yang ada di depannya tidak bisa dibantah lagi.

Abadi. Dua orang yang sedang bertarung sengit di langit pastilah mahkluk Abadi!

Untuk sementara waktu, Ye Chen tenggelam dalam pikirannya, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tetap mengamati? Mundur sebelum mereka menyadarinya? Atau menunggu hasil pertarungan?

Tunggu hasilnya. Kumpulkan informasi sebanyak mungkin.

Keputusan diambil. Dia tetap di posisinya, mata terus mengikuti pertarungan yang semakin brutal.

Entah telah berapa lama waktu berjalan, mungkin hanya beberapa menit, tapi terasa seperti jam, pertarungan di udara akhirnya berhenti. Dua sosok samar-samar terjatuh ke tanah dengan keras, menimbulkan debu dan reruntuhan.

"Apakah sudah selesai?"

Ye Chen tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya dalam hatinya. Bagaimanapun, saat melihat keajaiban dan hal baru untuk pertama kalinya, dia merasa bahwa kejadian barusan terasa sangat singkat. Dia bahkan ingin melihat lebih banyak lagi, ingin tahu batas kekuatan seperti ini.

"Uhuk... Uhuk...."

Suara batuk serak dan terdengar berat menghentikan lamunan Ye Chen.

Melihat ke sumber suara, dia segera melihat seorang pemuda tampan, berusia sekitar dua puluhan awal, sedang duduk di tanah dengan lemah. Pemuda itu jelas terluka parah, dimana darah tidak berhenti keluar dari mulutnya, dan pakaian putih di seluruh tubuhnya telah diwarnai merah darah. Bahkan dari jarak sepuluh meter, Ye Chen bisa melihat luka-luka dalam di tubuhnya, luka yang seharusnya langsung membunuh manusia biasa.

Anehnya, meskipun keadaannya sangat mengkhawatirkan, Ye Chen melihat ada sedikit senyum dan tatapan puas di kedua matanya.

Apakah mahkluk Abadi ini tidak peduli dengan nyawanya?

"Sialan!"

Suara yang tampak sangat marah dan dingin terdengar dari sisi lain.

Menoleh ke arah lain, Ye Chen menemukan bahwa yang bertarung dengan pemuda sebelumnya ternyata adalah pria paruh baya dengan wajah dingin, sombong, dan terlihat sangat kejam.

Sama dengan pemuda yang memakai baju putih, pria paruh baya dengan baju merah gelap di sisi lain juga sedang terluka parah, bahkan lebih parah daripada lawannya. Lengan kanannya terpotong dan darahnya masih mengalir. Bahkan, ada sebuah luka tusukan besar di dada kirinya yang tembus sampai ke punggung.

Kesampingkan luka yang terlihat jelas, pria paruh baya itu pasti tidak akan bisa bertahan lama lagi.

Tapi pada saat ini, dia tiba-tiba tertawa dingin. Dan ketika suaranya sampai ke telinga Ye Chen, dia merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya.

"Nak, kamu benar-benar tidak tahu kata kematian!" Suara dingin dan berat dari pria paruh baya itu benar-benar sangat menusuk. "Jika seandainya kau tidak menolak saranku, kamu pasti tidak akan mati! Kalian, para Aliansi Surgawi benar-benar bodoh!"

Meskipun Ye Chen berjarak lebih dari sepuluh meter darinya, dia benar-benar merasa kedinginan. Tubuhnya tidak bisa menahan gemetar.

Abadi... hanya dengan mendengar suaranya saja, aku tidak tahan!

Benar-benar mahkluk yang di luar imajinasi!

"He... hehe... he...."

Suara tawa puas yang dipaksakan terdengar dari sisi lain. Saat Ye Chen melihatnya, dia benar-benar bingung.

Dia benar-benar tidak mengerti bagaimana orang yang akan mati bisa memiliki penampilan seperti itu. Tidak ada ketakutan, penyesalan, atau hal negatif apapun. Yang ada hanya cibiran, rasa bangga, dan kepuasan di wajahnya.

Abadi... apakah mereka benar-benar di luar nalar!?

Dengan keadaan keduanya, apakah mereka benar-benar bisa kembali hidup, sehingga tidak takut akan kematian?

Tidak!

Ye Chen segera menemukan bahwa pemuda itu saat ini tidak lagi bergerak. Meskipun dia masih membuka matanya dengan ekspresi bangga dan samar-samar terlihat sedang tersenyum, dadanya tidak lagi naik turun. Napasnya sudah berhenti.

Dia sudah mati.

"Haha!"

Tawa keras dan puas dari pria paruh baya itu membenarkan pengamatan Ye Chen.

"Benar-benar masih hidup!"

Ye Chen seketika hampir ingin mundur dan kabur saat melihat pria paruh baya itu masih hidup dan tertawa. Dua mahkluk Abadi ini benar-benar sulit dibunuh. Terlebih lagi pria paruh baya yang jelas-jelas jantung atau setidaknya dadanya telah tertusuk.

Tunggu. Pedang terbang yang sebelumnya menancap di dada pria itu sekarang sudah berada di tangan kirinya. Bahkan, pedang itu mulai mengecil dan berubah menjadi seperti belati hitam sepanjang lima belas senti.

Senjata yang bisa berubah ukuran? Ini semakin tidak masuk akal...

"Nak."

Lelaki itu tiba-tiba menoleh dan memanggil ke arahnya.

Tepat saat melihat tatapan dan wajah pria itu, jantung Ye Chen tanpa sadar mulai berdegup sangat kencang. Seluruh tubuhnya gemetar, dan rasa dingin karena keringat membasahi punggungnya membuatnya sangat ketakutan.

Mengerikan!

Hanya saat melihat tatapan mata Abadi ini, Ye Chen benar-benar tidak bisa mengendalikan tubuhnya!

Tatapan dingin, acuh tak acuh itu seperti binatang buas mematikan, bahkan jika Ye Chen pernah melihat banyak pembunuhan dan sebagainya, dia benar-benar tidak bisa menahan rasa takut di hatinya.

Tapi begitu, Ye Chen tahu bahwa tidak ada hal baik yang akan terjadi selanjutnya, karena dengan jelas dia menemukan bahwa tatapan dan ekspresi wajah pria paruh baya itu adalah ekspresi orang yang sangat kejam. Hanya dengan sekedar melihatnya saja, Ye Chen tahu bahwa pria itu tidak pernah memperdulikan manusia, seolah-olah manusia hanyalah babi dan anjing.

Menghitung kejadian sekarang dan apa yang dialami oleh Ye Chen, kedua orangtuanya, serta desa Siqing, pria ini pasti adalah otak dan dalang dari semua hal buruk yang terjadi.

Sedangkan pemuda berpakaian di sisi lain adalah orang abadi di aliran yang benar, dan mencoba untuk mencari keadilan bagi seluruh nyawa manusia di desa Siqing. Sayangnya dia gagal dan akhirnya juga ikut mati.

Sekarang, menimbang apa yang telah terjadi, Ye Chen segera berpikir cepat dan beberapa pilihan segera muncul di otaknya. Pertama adalah segera melarikan diri dari tempat ini sejauh mungkin. Menghitung luka yang di alami pihak lain, dia pasti tidak akan bisa mengejarnya.

Kedua adalah membunuh pria kejam ini untuk membalas dendam masa lalu. Tapi Ye Chen sadar, bahwa dengan keadaannya saat ini, pilihan pertama adalah yang paling realistis. Tapi entah kenapa, perasaan sesak dan adrenalin yang menggebu-gebu di dadanya sangat memuakkan.

Pikiran untuk segera maju dan bergegas membunuh adalah hal yang benar!

Mungkin karena itu adalah keinginan dari jiwa Ye Chen di dunia ini. Tapi Ye Chen dari bumi tahu, bahwa itu sama sekali tidak realistis bagi manusia biasa untuk membunuh yang abadi seperti pria paruh baya itu.

Dia tidak bodoh, dan tahu bahwa begitu dia berniat untuk membunuh, pria paruh baya itu pasti akan membunuhnya dengan mudah. Meskipun dia sedang terluka parah, dia adalah mahkluk Abadi. Mahkluk seperti mereka tidak bisa dipikirkan oleh orang fana seperti dirinya.

Jadi, dia membuat pilihan sendiri dan hanya berdiri di posisinya sambil menunggu kesempatan untuk melarikan diri.

Sayangnya, pria itu itu tampaknya memahami niat Ye Chen dan kembali berbicara, "Nak, apakah kamu bersedia menjadi muridku?"

"Murid?"

Pertanyaan yang sepertinya tidak sesuai dengan segala jenis kemungkinan yang telah Ye Chen pikirkan sebelumnya benar-benar membuatnya linglung, dia juga tidak tahu harus merespon seperti apa.

Apakah ada kejadian kebetulan seperti ini? Bagaimana mungkin dengan keadaan yang sudah seperti ini, pria itu akan menerimanya menjadi murid? Meskipun Ye Chen juga ingin menjadi Abadi dan memiliki guru untuk membimbingnya, bisakah pria sekarat ini melakukannya!?

Memikirkan pro dan kontra, Ye Chen tidak pernah percaya bahwa dia akan diangkat sebagai murid karena hal-hal baik yang telah dia lakukan di bumi.

"Nak, dengan keadaanku sekarang, paling banyak aku hanya bisa hidup paling lama satu jam ke depan,"

Pria paruh baya itu benar-benar memahami pikiran Ye Chen dan mulai menjelaskan dengan nada yang lebih lembut, "Jika aku tidak bisa hidup lebih lama lagi, untuk apa aku memikirkan untuk membunuh dan menutup mulut? Orang tua ini sudah hidup lebih dari 100 tahun, dan umurku hanya tinggal 20 tahun di waktu normal. Tapi sekarang, aku akan mati, jadi aku hanya memikirkan hal lain."

"Benar, aku tidak pernah memiliki seorang murid, dan di ujung kematianku sekarang, tiba-tiba aku memikirkannya. Bagaimana, apakah kamu bersedia mewariskan mantelku?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel