Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Membunuh Mahkluk Abadi

"Benarkah?" Ye Chen hampir ingin berteriak dan mengutuk pria tua itu.

Menjadikan dirinya sebagai murid di saat-saat terakhir, dan masih pada orang kejam seperti orang tua ini, hanya orang bodoh yang akan mempercayainya.

Lupakan tentang mereka yang jelas-jelas tidak pernah mengenal dan baru pertama kalinya bertemu. Sekalipun Ye Chen bersedia menjadi muridnya, apa yang bisa diwariskan dari guru yang sedang sekarat? Terlebih lagi, hanya orang bodoh yang akan percaya dengan kejadian yang tiba-tiba semacam ini!

Sayangnya pria tua itu tidak ingin menjelaskan lebih lanjut dan hanya tersenyum licik sambil diam-diam pedang kecil di tangannya mulai melayang di udara.

Sudah berakhir!

Ye Chen tahu bahwa dia tidak punya pilihan lagi. Entah mematuhi perintahnya atau mati dengan pedang terbang.

"Nak, sepertinya kamu cukup cerdas dan berhati-hati," orang tua itu tiba-tiba berkata dengan suara dingin, mengabaikan respon Ye Chen.

Menoleh ke arah mayat pemuda berbaju putih, orang tua itu sekali lagi berbicara dengan nada dingin dan perintah mutlak. "Jika kamu memang pintar, sebaiknya jangan memikirkan hal yang tidak perlu."

Ancaman! Ancaman nyata!

Ye Chen benar-benar marah dan menggertakkan giginya, tapi dia tahu bahwa dia tidak bisa melakukan apa pun dan hanya mengikuti arus.

Senyum licik kembali muncul di wajah pria itu saat melihat Ye Chen patuh. "Karena kamu tahu apa yang terbaik, sebaiknya kamu pergi ke mayatnya dan mengambilkan kantong kulit lembu untukku."

Mendengar perintah itu, Ye Chen secara tak sadar menoleh ke arah mayat pemuda berbaju putih dan berpikir bahwa ini mungkin kesempatannya.

Tanpa ragu-ragu lagi, Ye Chen segera mendatangi mayat pemuda berbaju putih itu. Saat mencari-cari di tubuh mayat, dia meraba dengan cepat, mencoba mencari senjata, pisau, atau apa saja yang bisa membantunya.

Tapi sialnya tidak ada apapun yang dapat digunakan.

Yang dia temukan hanya kantong kulit lembu berwarna putih dengan ornamen awan, terlihat kasar dan hanya sebesar telapak tangan pria dewasa. Tidak ada senjata. Tidak ada pisau. Bahkan tidak ada batu yang cukup besar.

Harapannya segera menghilang. Ye Chen mengulurkan tangan untuk menutup mata pemuda itu dengan lembut.

Untuk saat ini, sebaiknya ikuti pria tua itu dan lihat apakah ada kesempatan.

Dia mulai berjalan kembali dengan kantong di tangan, tapi ketika jaraknya dengan pria itu tinggal lima meter, suara dingin menghentikannya.

"Lemparkan benda itu kepadaku."

Ye Chen menggertakkan giginya dengan marah dan jengkel. Benar-benar konyol jika ia berpikir pria ini akan membiarkannya mendekat.

Untungnya, dua meter di depannya, palu hitam, senjata abadi yang sebelumnya digunakan dalam pertarungan, tergeletak di tanah. Lima meter jauhnya.

Ye Chen dengan pasrah melempar kantong di tangannya, lalu berdiri di tempat dan menunggu.

Di sisi lain, saat kantong tiba, pria itu menangkapnya dengan cepat. Lalu sedikit menutup matanya dan hal ajaib tiba-tiba muncul. Dimana sebuah pil putih pucat tiba-tiba keluar dari mulut kantong kecil itu, kemudian terbang layaknya punya pikiran sendiri.

"Bagus!" Pria tua itu segera tersenyum lebar dan memasukkan pil itu ke mulutnya.

Jantung Ye Chen berdegup lebih kencang. Dari ekspresi kegembiraannya, kemungkinan besar itu adalah obat yang bisa menyembuhkan luka-lukanya.

Pria itu menutup mata, napasnya menjadi lebih dalam dan teratur.

"Karena kamu tahu apa yang harus dilakukan, aku akan memberimu kesempatan," pria itu tiba-tiba berkata tanpa membuka mata.

Sebuah buku jatuh di depan Ye Chen.

"Dalam satu jam ke depan, kamu harus menghafal dan bisa mempraktikkan apa yang ada di dalamnya walaupun hanya sedikit. Jika tidak...." Pria itu menghentikan kata-katanya.

Tanpa harus diteruskan, Ye Chen tahu apa yang akan terjadi.

Ye Chen mengambil buku di depannya, tidak ada judul apa pun yang tertera. Membuka halaman pertama, dia segera menemukan serangkaian gambar manusia dengan beberapa keterangan tertulis di bawahnya. Terus membalikkan halaman demi halaman, Ye Chen akhirnya mengerti, ini metode untuk menarik sesuatu ke dalam tubuh. Aura? Energi? Dia tidak terlalu paham, tapi gambarnya cukup jelas.

Ye Chen menoleh ke arah pria yang sedang menutup mata dan tampak mengabaikan hal-hal di sekitarnya.

Kesempatan datang!

Tanpa ragu-ragu lagi, Ye Chen segera berlari ke depan dengan kecepatan penuh. Tak lupa juga untuk mengambil palu di tanah, Ye Chen dengan tekad kuat berlari sambil mengangkat palu tinggi-tinggi.

Tepat ketika jarak Ye Chen dan pria tua di depannya kurang dari dua meter, pria itu tiba-tiba membuka matanya dan dengan dingin menggerakkan lengan kirinya.

Pedang terbang hitam kecil tiba-tiba muncul di depan Ye Chen, langsung mengarah ke kepalanya.

Ye Chen mengayunkan palu dengan sekuat tenaga untuk memblokir.

"TANG!"

Benturan keras terdengar dan percikan api muncul. Getaran keras menjalar dari palu ke kedua tangannya. Pada waktu yang bersamaan, kekuatan dorongan besar mendorong seluruh tubuhnya terbang beberapa meter ke belakang.

Ye Chen terjatuh ke tanah dengan keras, mulutnya terasa manis dan darah segar segera menyembur. Kedua tangannya gemetar hebat dan terasa mati rasa.

Kuat!

Hanya dengan sesaat konfrontasi barusan, Ye Chen menemukan bahwa kekuatan mahkluk Abadi ini benar-benar di luar imajinasinya.

Tapi melihat kembali pada pria paruh baya di sana, Ye Chen menemukan bahwa lawannya juga terguncang. Pria itu sekarang berbaring di tanah tanpa bergerak. Entah sudah mati atau belum.

Penemuan itu membuat kepercayaan Ye Chen tumbuh. Dia mengambil palu di tanah lagi, kemudian menggertakkan giginya dan sekali lagi bergegas ke depan dengan niat membunuh.

"BOM!"

Tanpa diduga, serangannya kali ini benar-benar berhasil. Bahkan tanpa perlawanan sedikit pun, palu itu menghantam kepala pria itu dengan keras.

Entah dia telah mati atau belum, Ye Chen tidak peduli. Dia mengangkat palu di tangannya lagi. Terus-menerus, dengan kejam dia melampiaskan kekesalan dan amarah di hatinya, memaku wajah pria paruh baya itu ke tanah.

Baru ketika Ye Chen merasa lelah dan tangannya tidak bisa diangkat lagi, dia berhenti dan menemukan bahwa kepala pria paruh baya itu sudah sangat sulit untuk dikenali.

Memeriksa beberapa saat dan memastikan pihak lain tidak lagi bergerak, Ye Chen akhirnya merasa lega dan jatuh ke tanah.

"Akhirnya mati."

Ye Chen mengatur napasnya dan sedikit tersenyum. Dalam seluruh karirnya sebagai tentara, dia sudah membunuh banyak orang. Tapi ini berbeda. Ini adalah pertama kalinya dia membunuh mahkluk yang bisa terbang dan mengendalikan pedang dengan pikiran.

Ternyata mereka juga bisa mati.

Tapi perasaan lega Ye Chen segera menghilang. Senyum di wajahnya seketika membeku. Kedua matanya melebar dan ketakutan merasuki jiwanya.

Jantungnya berdegup kencang, wajahnya berkeringat dan punggungnya menjadi dingin. Tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak.

Karena pada saat ini, dari mayat pria yang telah mati di depan, bayangan putih, kabur, seperti sebuah gas diam-diam keluar dan melayang di depannya. Dengan wajah yang sama persis dengan wajah pria paruh baya sebelumnya, tampilannya terlihat sangat marah dan tersenyum dingin.

"Ckckck... Kamu benar-benar berhati-hati dan menentukan di usia muda."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel