Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

Keesokan paginya…

Alya sudah duduk lebih dulu di meja, bersama Maya dan Arman yang tengah menikmati sarapan.

Tangannya menggenggam sendok, tapi dari tadi ia hanya memainkannya di dalam mangkuk tanpa benar-benar menyuap. Pikirannya masih terjebak pada kejadian semalam, pada tatapan Revan yang menusuk tajam, pada suara Revan yang seperti bisikan dosa.

Alya berharap pagi ini Revan tidak akan ikut makan bersama. Ia berdoa dalam hati agar laki-laki itu memilih keluar rumah atau sekadar menghindar seperti yang biasa ia lakukan.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang menuruni tangga. Sontak detak jantung Alya melonjak. Ia menoleh perlahan, dan benar saja Revan muncul dengan kaos oblong yang santai. Rambutnya sedikit acak, namun langkahnya mantap.

Revan berjalan perlahan menuju meja makan. Suara langkah kakinya di tangga terdengar begitu jelas di telinga Alya, seolah setiap langkah mengukir getaran di dadanya. Ia tak berani menoleh, hanya bisa memperhatikan dari ujung matanya.

Alya menahan napas sejenak.

Ia langsung membenarkan posisi duduknya, memastikan pakaian yang ia kenakan pagi ini benar-benar lebih tertutup dari semalam. Daster lengan panjang dengan motif bunga kecil, tidak terlalu ketat, dan panjangnya mencapai lutut. Lebih sopan, pikirnya. Lebih aman.

Tapi tetap saja, ia bisa merasakan sorot mata Revan yang menusuk dari samping.

Revan diam. Tapi tatapannya tidak berpaling dari Alya. Alya tahu lelaki itu tidak hanya sedang sarapan pagi. Ia sedang menelanjangi Alya dengan mata, dengan pikirannya yang penuh gelombang liar yang tak bisa ditebak.

Maya menoleh ketika mendengar langkah kaki Revan. “Duduk, Van. Mumpung masih hangat.”

Alya menunduk dalam-dalam, jantungnya berdetak begitu cepat hingga nyaris membuatnya sulit bernapas. Ia berharap Revan akan bersikap seperti biasanya, acuh, dingin, menjauh. Ia berharap Revan akan menolak ajakan Maya dengan anggukan singkat lalu berbalik pergi. Mungkin keluar rumah atau kembali ke kamarnya sendiri. Ke mana pun, asalkan bukan duduk di meja makan.

Namun harapan itu pupus dalam satu detik berikutnya.

Arman menyusul dengan nada santai. “Iya, Van. Ayo makan dulu, mumpung masih hangat,” katanya sambil tersenyum, tangan kirinya mengambil sepotong roti dan mengoleskan mentega.

Tanpa berkata apa pun, Revan menarik kursi dan duduk di samping Alya. Keberadaan Revan di sampingnya membuat Alya menjadi canggung dan merasakan ketegangan.

“Gimana keadaan kantor, Van?” tanya Arman sembari menyuap roti ke mulutnya.

Revan menjawab, tapi pandangannya justru tertuju pada Alya. “Ada sedikit perkembangan, Pa. Beberapa klien mulai balik ke jalur, semoga minggu depan stabil.”

Arman mengangguk pelan, lalu beralih ke Alya. “Alya, katanya kamu pengen ngerasain yang namanya kuliah? Kalau kamu mau Papa bisa bantu biayanya.”

Alya terkejut mendengar itu. Ia spontan menoleh ke Maya, seolah mencari isyarat atau dukungan. Maya hanya menatapnya datar, tanpa banyak ekspresi, seolah menunjukkan ketidaksetujuan nya.

Revan tiba-tiba menyahut, “Oh, jadi kamu mau kuliah?”

Belum sempat Alya menyahut, ia sudah dibuat terkejut dengan aksi kakak tirinya itu.

Pria itu meletakkan tangannya di atas paha Alya.

Alya tersentak kaget. Ia hanya bisa membeku, dan untuk beberapa detik ia tak mampu menggerakkan lidahnya.

Ia meneguk liurnya susah payah, sebelum menjawab dengan gugup, “I-iya, waktu itu… tapi sekarang kayaknya aku pikir-pikir dulu, Pa.”

Arman mengangguk, tak menyadari ketegangan yang tercipta di antara Revan dan Alya.

Maya tetap diam, menyuap sarapan ke mulutnya tanpa komentar. Tapi dari sorot matanya yang dingin, Alya tahu ada sesuatu yang mengganjal. Mungkin Maya tak suka jika Alya melangkah lebih jauh. Mungkin Maya tak ingin Alya lebih dari sekadar penghuni rumah.

Revan menyahut dengan nada datar, nyaris terdengar seperti sindiran yang diselimuti basa-basi. “Terima aja lagi, mumpung gratis.”

Tangan yang tadinya hanya menyentuh, kini perlahan mulai mengelus paha Alya. Kali ini, bukan hanya ketakutan, tapi amarah dan rasa malu yang membuncah di dadanya.

Tangan Revan masih mengelus Paha Alya. “Kok diem? Nggak tertarik kuliah gratis? Kapan lagi ada kesempatan kuliah tanpa harus mikirin biaya?”

Tangan Revan semakin bergerak naik, namun Alya memberanikan diri untuk menahannya agar tidak menyentuh bagian sensitifnya.

Alya menelan ludah dengan susah payah. “Sebenarnya mau. Tapi lihat aja nanti,” katanya akhirnya, lirih dan gugup, nyaris seperti bisikan yang ia paksa keluar dari

mulut.

Arman menoleh padanya sambil mengangguk, seolah tidak menyadari ketegangan yang terjadi diantara mereka berdua. “Nanti kalau memang serius mau, kamu bilang aja ya. Biar Revan yang bantu daftarin.”

Alya semakin menegang. Kalimat itu terasa seperti jebakan. Ia menoleh perlahan ke arah Revan, dan tangan lelaki itu masih berusaha untuk bergerak naik.

Revan tersenyum miring melihat air mata Alya yang hampir terjatuh. Sudut bibirnya terangkat sedikit. “Kok sampai mau nangis gitu, kenapa? Terharu ya?” tanyanya dengan nada main-main.

Alya merasa geram, tapi ia mencoba tersenyum, meski air mata yang menggenang hampir jatuh. Ia memaksa dirinya untuk berkata, “Iya... terima kasih, Pa… Van…”

Tapi hatinya tidak mengatakan hal yang sama. Di dalam dadanya, bukan rasa terima kasih yang tumbuh, melainkan bara kecil yang perlahan menyala menjadi sesuatu yang lebih besar.

Rasa malu dan amarah yang membara bercampur dengan rasa takut yang melumpuhkannya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel