Bab 5
Sementara itu, Revan hanya menatap mereka satu per satu, datar, tanpa penyesalan sedikit pun. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkah pergi.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan, sebelum Arman menarik napas dan mencoba tersenyum tipis, meski jelas terasa dipaksakan.
“Ya udah... kita lanjut sarapannya,” ucapnya pelan. “Nggak apa-apa ya, kita cuma bertiga lagi…”
Ia menoleh ke Alya, suaranya lebih lembut, hampir terdengar menyesal. “Papa minta maaf, atas kelakuan Revan barusan. Papa juga nggak nyangka dia bakal segitu kasarnya.”
Alya tersenyum tipis dan menggeleng. “Nggak apa-apa, Pa. Aku ngerti kok… mungkin dia memang belum bisa nerima kita.”
Maya pura-pura menyeka sudut matanya dengan ujung jari, lalu mengambil sendok dan mulai menyuap nasi di piringnya. “Ayo makan, nanti keburu dingin…”
Alya dan Arman mengikuti, mencoba menikmati sarapan yang sempat tertunda. Suasana masih sedikit kaku, tapi setidaknya tak ada lagi kata-kata yang menyakitkan.
Malam turun perlahan. Makan Malam telah lama selesai. Arman dan Maya udah masuk kamar, meninggalkan rumah dalam keheningan yang menenangkan.
Alya yang nggak bisa tidur, turun dari kamarnya. Ia menuju dapur dan mulai menyiapkan mie instan. Pakaian tidurnya tipis, hanya tanktop dan celana pendek longgar berwarna pastel. Ia memakai itu karena dia berpikir nggak akan ada yang melihatnya.
Revan biasanya lebih memilih lembur, meski pekerjaan di kantor sebenarnya tak terlalu mendesak. Baginya, itu bukan soal tugas, melainkan cara paling mudah untuk menghindar. Menghindari ajakan makan malam bersama. Menghindari bertemu dan duduk satu meja dengan Maya.
Tapi tidak.
Revan membuka pintu dan masuk tanpa suara. Ia menutupnya perlahan, lalu melangkah pelan melewati ruang tengah. Baru saja hendak naik ke lantai atas, matanya melihat sosok di dapur dan langkahnya terhenti.
Alya sedang berdiri membelakangi arah datangnya Revan, sibuk mengaduk mie dalam panci.
Pandangan Revan terpaku. Bukan hanya karena kejutan melihat Alya masih terjaga, tapi karena penampilannya malam itu terlalu terbuka untuk dapur rumah yang bisa diakses siapa saja.
Tatapannya berubah. Ada sesuatu di matanya, bukan sekadar terkejut. Lebih dari itu. Seperti rasa penasaran yang tak seharusnya tumbuh. Seperti keinginan yang ia tahu harusnya segera dihilangkan, tapi malah dibiarkan berkembang.
Alya berbalik dengan nampan di tangan, dan jantungnya langsung melonjak saat melihat Revan berdiri tak jauh dari sana, menatapnya lurus.
“Revan?” gumamnya refleks, suara pelan nyaris tercekat. “Kamu udah pulang?”
Revan tidak langsung menjawab. Ia melangkah ke dalam dapur dengan santai, lalu menarik kursi dan duduk di meja makan, masih menatap Alya dari ujung kepala sampai kaki.
“Kalau kamu lihat aku di sini…” katanya datar, tapi tatapannya tak lepas dari Alya “berarti aku udah pulang, kan?”
Alya buru-buru meletakkan mangkuk mie di atas meja, wajahnya memerah karena gugup. Ia melirik cepat ke arah Revan, lalu menghindari tatapannya.
“Aku cuma laper. Nggak bisa tidur,” sahutnya singkat.
Revan menyandar di kursi, melipat tangan di dada. “Kamu yakin pakaian kayak gini aman dipake keluar kamar?”
Alya langsung memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menutupi bagian yang terasa terlalu terbuka. “Aku pikir semua sudah tidur…” bisiknya.
Revan tak bicara lagi. Ia hanya menatap, dengan pandangan yang membuat Alya merasa tidak nyaman. Campuran bingung dan risih, tapi anehnya, jantungnya berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Kamu kenapa sih...” tanyanya akhirnya, setengah berani, setengah gugup. “Ngeliatin aku kayak gitu banget.”
Revan mendengus pelan, matanya menyipit sedikit. “Aku lapar pengen makan kamu”
Alya terkejut, alisnya terangkat. “Hah?”
“Maksudku... aku lapar. Mau mie juga. Buatin dong,” ucapnya, kali ini dengan senyum tipis yang sulit ditebak.
Alya menghela napas panjang. “Ih, bikin sendiri sana. Tinggal rebus juga,” ucapnya, berusaha tetap tenang meski suaranya sedikit gemetar.
Tapi Revan bangkit dari kursi dan melangkah pelan ke arahnya, berdiri agak dekat.
“Ya udah… kamu aja yang aku makan,” ucapnya pelan, dengan tatapan nakal.
Alya terpaku. Selama beberapa detik, mereka hanya saling menatap dalam diam. Lalu, sambil menghindari tatapannya, ia mengangguk kecil.
“I-iya aku buatin,” gumamnya cepat.
Alya kembali ke arah kompor. Tangannya sibuk mengaduk mie yang baru ia masukkan ke dalam air mendidih, tapi pikirannya tidak tenang. Ia bisa merasakan tatapan Revan di belakangnya, seperti bayangan yang menolak menghilang meski lampu sudah dinyalakan.
Revan kembali menyender santai di meja, satu tangannya menopang dagu. Pandangannya tidak berubah sejak tadi, penuh rasa ingin tahu, dan ada sesuatu yang tidak biasa. Tatapannya bukan tatapan seorang saudara ipar yang kebetulan melihat orang rumah terjaga malam-malam. Lebih seperti seseorang yang sedang mencari celah. Celah antara ketidaksengajaan dan niat.
“Aromanya enak,” suara Revan akhirnya terdengar lagi, membuat Alya sedikit tersentak. “Tapi kayaknya bukan cuma mie yang bikin lapar malam ini.”
Alya pura-pura tak mendengar. Ia mematikan kompor, lalu menuangkan mie ke dalam mangkuk. Ia menaruh mangkuk itu ke atas nampan, lalu membawanya ke meja dengan langkah hati-hati.
“Ini…” ucapnya pelan, meletakkan mie di hadapan Revan, tapi tak berani menatap matanya.
Revan menatap mangkuk itu sebentar, lalu pandangannya naik kembali ke wajah Alya. “Makasih,” ucapnya, tapi dengan nada yang masih mengandung sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Alya hanya mengangguk cepat, lalu berbalik, hendak kembali ke kamarnya. Tapi langkahnya tertahan ketika Revan berkata, “Kamu sering begini malam-malam?”
Alya menoleh pelan. “Maksudnya?”
“Keluar kamar dengan baju kayak gitu. Masak mie jam segini. Sendirian.”
Alya menggigit bibir bawahnya. “Enggak... cuma lagi nggak bisa tidur aja.”
Revan mengangguk pelan. “Kamu nggak takut?”
“Takut apa?”
“Kalau aku bukan Revan yang biasanya,” ucapnya sambil memainkan sendok di tangan. “Kamu tahu, kadang malam bisa bikin orang berubah jadi lain. Jadi lebih jujur atau lebih gelap.”
Alya menatapnya sejenak, ia menarik napas dalam-dalam. “Aku ngantuk. Selamat makan,” katanya cepat, lalu segera melangkah pergi sebelum sempat melihat senyum kecil di bibir Revan yang entah apa artinya.
Di tangga, Alya berhenti sejenak, memegang dada yang masih berdebar.
“Apa barusan tadi beneran nyata?” pikirnya panik. “Dia bilang pengen makan aku. Bercanda, kan? Tapi tatapannya…” Ia menggigit bibir, mencoba mengusir sisa-sisa panas yang menempel di pipinya.
Tangannya meremas pegangan tangga. “Kenapa aku nggak langsung pergi aja tadi? Kenapa malah gugup? Kenapa malah ngangguk?”
