Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Saat tengah malam, hujan turun membasahi jendela kamar Alya yang belum bisa terlelap. Pikirannya melayang ke banyak hal, rumah baru, dan terutama Revan.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dengan kasar.

Klek...

Alya tersentak duduk. Revan masuk dengan langkah sempoyongan, tubuhnya sedikit oleng, aroma alkohol langsung menyeruak memenuhi kamar.

"Revan?" Alya memanggil, terkejut sekaligus bingung. “Kamu ngapain kesini!”

Revan memicingkan mata, seperti baru sadar ada orang lain di dalam. "Hah… seharusnya aku yang nanya, kamu ngapain di kamar aku?” katanya dengan suara berat.

Alya berdiri, menjaga jarak. “Ini kamarku. Kamarmu yang di sebelah.”

Revan menyandarkan tubuhnya ke pintu, tertawa pendek namun getir. “Kamu mau godain aku kayak Mama kamu godain Papaku, ya?”

Alya menahan napas. Ia mencium bau alkohol yang tajam dan tahu bahwa Revan tidak dalam kondisi sadar. Tapi ucapan itu seperti tamparan.

“Kamu mabuk?" kata Alya dingin. “Ini kamarku dan nggak ada yang mau godain kamu.”

Revan semakin mendekat, langkahnya goyah, dan tanpa sadar ia menjatuhkan tubuh ke ranjang tempat Alya duduk di sampingnya.

“Jangan berharap aku bakal tergoda…” gumamnya pelan.

“Ih, rese banget sih kamu! Keluar sana! Balik ke kamar kamu!”

Tanpa sadar karena pengaruh alkohol, Revan mencium bibir Alya. Alya terkejut, namun tidak Memberontak dan membiarkan ciuman itu terjadi. Setelah kesadarannya pulih, Alya mendorong Revan seraya berkata, "Apaan sih, nyari kesempatan banget!" Revan langsung tersungkur dan tertidur tak sadarkan diri.

Alya menatapnya dengan perasaan campur aduk. "Astaga, kenapa aku malah diem aja tadi?" gumam Alya pelan, menyentuh bibirnya dengan ujung jari. "Kenapa aku nggak langsung nolak?"

Alya menatap Revan yang kini tergeletak tak sadarkan diri di atas ranjangnya. Napasnya masih naik turun, jantungnya belum juga tenang. Ia masih bisa merasakan bekas ciuman tadi di bibirnya, hangat, aneh, dan membingungkan.

“Duh... dia tidur ,” gumamnya pelan, setengah kesal, setengah bingung.

Tatapannya berpindah ke pintu kamar yang terbuka. Panik mulai muncul di dadanya. “Masa harus tidur satu kamar? Gimana kalau Papa atau Mama lihat? Bisa gawat... nanti dikira macem-macem lagi”

Ia menggigit bibir bawahnya, lalu berjalan mondar-mandir kecil di dalam kamar.

“Haduh, harus gimana ini?” Alya menarik napas panjang, lalu menutup pintu kamar rapat-rapat sambil memastikan kuncinya tidak berbunyi.

“Kalau dibangunin juga percuma. Dia pasti nggak sadar apa-apa. Tapi... ya Tuhan... kenapa harus di kamarku sih?”

Alya menatap sudut tempat tidur yang kosong, lalu menghela napas pasrah. Ia meraih bantal cadangan dan duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding.

“Tidur di bawah aja deh, daripada ribet,” gumamnya lirih. Namun matanya masih sesekali melirik ke arah Revan, dan tangannya tanpa sadar kembali menyentuh bibirnya sendiri.

"Sebenernya tadi aku bego atau apa sih?"

Pagi itu, cahaya matahari menembus tirai jendela dan menyinari kamar Alya yang masih berantakan. Ia membuka mata perlahan, tubuhnya sedikit pegal karena semalaman tidur di lantai. Refleks, ia melirik ke ranjang.

Revan masih terlelap di sana, tertidur pulas, bahkan posisinya hampir tidak berubah sejak tadi malam.

“Ya ampun... dia belum bangun juga,” bisik Alya, setengah jengkel, setengah bingung.

Ketukan keras disertai suara ketus langsung membuyarkan kantuk Alya.

"Alya! Bangun! Jangan mentang-mentang udah pindah rumah jadi bisa enak-enakan tidur seenaknya, ya!"

Alya terlonjak. Panik. Matanya langsung mengarah ke ranjang, Revan masih tertidur pulas di sana. “Ya Tuhan…” gumamnya pelan, buru-buru berdiri.

Ia berlari ke arah pintu, membuka sedikit, lalu keluar dan menutupnya rapat dari luar sebelum Maya sempat melihat isi kamarnya.

“Iya, Maaf, Ma... Ini Alya udah bangun kok,” katanya sambil berusaha menenangkan napasnya yang tersengal karena gugup.

Maya berdiri di lorong, kedua tangannya menyilang di depan dada, tatapannya tajam.

"Udah sana cepat ke dapur bikin sarapan. Mama mau berenang dulu. Kalau udah jadi, panggil Mama di kolam, ngerti?"

“Iya, Ma.”

Alya buru-buru melangkah ke dapur. Kakinya masih sedikit gemetar, bukan hanya karena ketakutan pada Maya, tapi juga karena bayangan Revan yang masih tertidur di kamarnya terus mengganggu pikirannya.

Tangannya bekerja cepat: memecahkan telur, memotong roti, menumis bawang. Tapi pikirannya tidak bisa tenang. Ia terus melirik ke arah lorong. "Semoga Revan bangun dan keluar sebelum Mama balik ke atas," bisiknya penuh harap.

Setelah sekitar tiga puluh menit, sarapan selesai. Telur dadar, roti bakar, dan jus jeruk sudah tertata rapi di meja makan. Alya membersihkan tangannya lalu melangkah keluar menuju kolam.

“Ma… sarapannya udah jadi,” katanya pelan ketika melihat Maya tengah duduk di kursi santai, mengenakan kacamata hitam dan pakaian renang yang elegan.

Maya meliriknya sekilas, lalu berdiri.

“Bagus,” katanya pendek, lalu berjalan mendekat dan menunduk ke telinga Alya. “Tapi ingat, jangan bilang sama siapa-siapa kalau itu kamu yang masak. Ngerti?”

Alya mengangguk pelan. “Iya, Ma…”

Maya berdiri, mengibaskan sedikit ujung handuk kecil dari lehernya. “Ya udah, kamu panggil Revan sana. Mama males ngadepin anak songong itu,” katanya ketus, sembari memutar bola mata. “Mama mau bangunin Papa kamu dulu.”

Alya menunduk sedikit, menyembunyikan kegelisahan di wajahnya. “Iya, Ma…”

Sebelum maya pergi, ia menambahkan dengan suara tajam dan dingin, “Alya, inget ya.. kalau kamu berani macam-macam atau ngadu ke siapa pun soal hal-hal kecil yang terjadi di rumah ini, habis kamu.”

Alya menunduk dalam, menahan napas. “Iya, Ma... Alya ngerti.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel