Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Maya sibuk di dapur, menata meja makan sambil memastikan semua hidangan tersaji dengan rapi. Ia berperan sebagai istri yang perhatian dengan harapan Revan akan menyukainya.

Begitu semuanya siap, Maya menyeka tangannya dengan lap, lalu berjalan ke arah tangga. Ia berhenti sejenak di depan pintu kamar Arman yang sedikit terbuka, lalu mengetuk pelan.

“Mas… makan malamnya udah siap,” ucapnya lembut.

Dari dalam, suara Arman terdengar pelan, nyaris seperti gumaman. “Iya, bentar lagi, Sayang.”

Maya pun turun kembali ke ruang makan. Alya sudah duduk di sana, diam, menatap piring kosong di depannya.

Beberapa menit kemudian, Arman turun sambil merapikan lengan kemejanya. Ia tersenyum tipis saat melihat mereka.

“Revan mana?” tanyanya sambil menarik kursi.

Maya menggeleng. “Belum turun, Mas. Mungkin masih di kamar.”

Ia lalu menoleh ke Alya.

“Alya, coba kamu panggil Revan, ya.” nadanya sedikit tinggi.

Arman menoleh cepat. “Kamu kayak gitu aja kok malah nyuruh Alya? Harusnya kamu yang ajak dia turun, biar pelan-pelan Revan mulai terima kamu.”

Maya menghela napas panjang, agak kesal. “Mas, aku capek. Dari tadi sibuk di dapur nyiapin semuanya. Lagian biar mereka akrab, kan.”

Arman terdiam sejenak, menatap istrinya. Ia tidak menyangka respons Maya akan sesantai itu. Tapi ia tak ingin memperpanjang.

“Ya udah,” katanya akhirnya, menoleh ke Alya. “Alya, tolong ya... panggilin Revan. Bilang makan malamnya udah siap.”

Alya mengangguk sopan. “Iya, Pa.”

Alya bangkit dari kursinya, sempat ragu sebelum melangkah ke arah tangga. Napasnya pelan, seolah menyiapkan diri. Bukan karena takut, tapi karena ia tahu, bicara dengan Revan bukan hal yang mudah. Lelaki itu dingin dan sulit ditebak. Salah ucap sedikit saja, suasana bisa langsung jadi canggung atau lebih buruk.

Langkahnya pelan saat menyusuri lorong menuju tangga. Di wajahnya, terlihat sedikit ragu. Ini pertama kalinya ia berdiri di depan kamar Revan dan ia tahu, kemungkinan tak akan disambut dengan ramah.

Ia berdiri di depan pintu Revan dan mengetuknya.

Tok… tok…

“Revan… makan malamnya udah siap,” ucapnya, suaranya rendah.

Tak ada jawaban.

Alya menunggu sebentar, lalu mengetuk sekali lagi, kali ini lebih pelan.

Tiba-tiba, terdengar suara dari dalam kamar.

“Apa sih, berisik banget! Ganggu orang tidur aja!” bentak Revan, suaranya serak dan kesal.

Alya menarik napas pelan, menahan diri untuk tidak terpancing.

“Kamu tidur Magrib-magrib?” tanyanya, nada suaranya datar. “Itu nggak bagus, Revan. Pamali”

“Bukan urusan kamu,” sahut Revan cepat, masih dengan nada tajam.

Alya mengangkat bahu, setengah malas menanggapi. “Ya udah... terserah kamu juga. Aku cuma mau ngasih tahu kalau makan malam udah siap.”

“Bodo amat,” jawab Revan sambil menutup pintu keras-keras.

Alya hanya menggeleng kecil dan berbalik. Ia menuruni tangga dengan langkah ringan tapi ekspresinya menyimpan kekesalan yang ditahan.

Saat tiba di ruang makan, Arman yang sedang menuang air putih menoleh padanya.

“Revannya mana, Alya?”

Alya tersenyum tipis, berusaha tetap tenang. “Dia baru bangun, Pa. Mungkin mau mandi dulu.”

Arman mendengus pelan. “Kebiasaan. Dulu waktu masih ada Mamanya, selalu diingatin jangan tidur magrib. Sekarang, udah nggak ada yang ingetin dia lagi.”

Maya yang sedang merapikan sendok-garpu di meja ikut angkat bicara, suaranya pelan tapi terasa menyentuh.

“Pantes dia sesayang itu sama Ratri…”

Arman mengangguk pelan. “Iya. Makanya, kamu juga harus bisa seperti Ratri supaya bisa ambil hatinya pelan-pelan.”

Maya tersenyum samar, tak menjawab. Hanya anggukan kecil sebagai tanda ia mendengar.

Tak lama, langkah kaki terdengar dari tangga. Revan turun dengan rambut sedikit basah, wajahnya masih terlihat malas.

Maya mencoba bersikap hangat, suaranya lembut. “Ayo makan, Van. Tadi Mama—eh, aku masak sup kesukaan kamu.”

Revan tidak menjawab. Ia hanya menoleh sebentar ke arah Arman, lalu membuka mulutnya pelan.

“Aku makan di luar aja, Pa.”

Maya menahan kecewa yang mulai merayap di dada. Tapi ia tetap tersenyum kecil, berusaha sabar.

“Coba dulu sedikit, Van… Kalau nggak enak, kamu boleh makan di luar. Nggak apa-apa.”

Arman menimpali, suaranya terdengar lebih tegas. “Iya, Van. Hargain dong usaha Maya. Dia masak khusus buat kamu, loh. Masakan kesukaan kamu juga.”

Revan mengangkat alis, lalu menggeleng perlahan. “Lain kali aja.”

Suasana jadi hening sejenak, sampai Alya yang sejak tadi diam mencoba mencairkan ketegangan.

“Mau ke mana, Revan?” tanyanya pelan, nada suaranya ringan, mencoba akrab.

Tapi Revan malah menoleh tajam. “Mau tahu banget, sih urusan orang.”

Alya terdiam, matanya sedikit melebar, tak menyangka akan mendapat jawaban setajam itu.

Arman langsung angkat suara, nadanya meninggi. “Revan! Yang bener kalau ngomong. Dia itu adik kamu.”

Revan mendengus, lalu menjawab dengan datar. “Adik tiri, kan?”

Ucapannya meluncur begitu saja, dingin, menusuk, dan membuat udara di ruang makan seolah ikut membeku. Alya menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu yang nyaris pecah di dadanya.

Arman hanya bisa menatap Revan dengan kecewa. Anak itu belum siap, pikirnya. Dan luka lama rupanya masih terlalu dalam untuk digantikan apa pun, bahkan oleh niat baik.

Setelah makan malam selesai, piring-piring kotor masih berserakan di meja. Arman sudah kembali ke ruang kerja di lantai atas, dan Revan entah ke mana. Hanya Maya dan Alya yang tersisa di ruang makan.

Maya menguap kecil, lalu berdiri sambil menepuk pelan pinggangnya.

“Alya, Mama capek mau istirahat,” ujarnya sambil melirik meja makan. “Kamu beresin ini semua, ya?”

Alya menoleh sekilas, lalu mengangguk pelan. “Iya, Ma.”

Maya melangkah pelan menuju tangga, tapi sempat berhenti dan menoleh lagi.

“Oh iya,” tambahnya, nada suaranya ringan tapi tajam. “Kalau nanti Papa kamu tanya kenapa bukan Mama yang beresin, bilang aja itu kemauan kamu sendiri.”

Alya hanya menjawab pelan, “Iya, Ma,” lalu mulai mengumpulkan piring-piring kotor dengan tenang.

Maya pun naik ke atas tanpa menoleh lagi, meninggalkan Alya sendirian dengan sisa-sisa makan malam yang belum tersentuh Revan.

Di dapur, bunyi air mengalir dan denting sendok bertemu piring terdengar pelan. Alya bekerja tanpa suara, tanpa mengeluh.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel