BAB 5 Hasrat Tertahan (18++)
Pukul 12.30 WIB. Kendaraan yang melintas sangat jarang terlihat. Hujan deras membuat Ray memperlambat laju mobilnya. Setelah setengah perjalanan, ia menyadari bahwa tidak ada obrolan manis seperti biasanya yang mengisi perjalanan mereka. Ray menunggu Nikita membuka suara, tetapi hening. Wanita di sampingnya hanya diam seribu bahasa, memandangi keluar jendela mobil yang tidak tertutup.
Setelah lima belas menit berlalu, Ray akhirnya berbicara. "Kenapa kamu diam saja? Tidak suka aku bertemu dengan Dinda lagi?" tegurnya karena Nikita tidak banyak bicara seperti biasanya.
Suara Ray memecah keheningan malam. Tetesan hujan berubah menjadi deras, menciptakan suara gemuruh di atas atap mobil dan pepohonan. Meskipun itu satu-satunya suara dalam radius beberapa kilometer, Ray tidak bisa mendengar helaan nafas kasar keluar dari bibir Nikita.
Wajah cantik Nikita yang ditemani kacamata terlihat lelah namun tetap memancarkan pesonanya. "Ini hanya urusan bisnis, kan?" Dia melepas kacamata dan mengusap matanya. Nikita mengenakan kacamata kembali, berusaha tersenyum. Wanita itu sangat pandai menyembunyikan rasa cemburu yang menggelora.
"Tidak lebih dari itu," balas Ray singkat dan tegas. Matanya melirik sebentar ke arah pacarnya. Meskipun kata-kata Ray terdengar jujur, ia hanya menjawab pertanyaan yang ingin diketahui oleh Nikita. Sedangkan jutaan pertanyaan lain bergemuruh di dalam pikirannya. Dan karena Ray tidak bisa membaca pikiran Nikita, jika dia ingin jawaban, maka harus menanyakan lagi. Namun, Nikita mempercayai pacarnya.
Dinda adalah mantan kekasih Ray tiga tahun yang lalu. Nikita pertama kali bertemu dengan Ray ketika baru saja berpisah dengan Dinda, di sebuah undangan pernikahan teman Ray. Dari situ, Nikita mengetahui alasan Ray berpisah dengan Dinda. Katanya, Dinda terlalu manja dan membuat Ray tidak nyaman.
"Ini hujan seakan-akan langit menumpahkan segalanya," gumam Nikita sambil melihat ke depan. Kaca depan terlihat bercak-bercak dan rambutnya basah, tetapi Nikita hanya menyibakkan rambut dari wajahnya.
Bibir Ray mengangkat sedikit mendengar suara Nikita. Setelah sepuluh menit keheningan, dia berkata, "Ini adalah berkah. Saat seperti ini, pintu langit terbuka dan doa-doa dikabulkan, lho."
Ray terlihat mencari topik pembicaraan dengan jelas. Sebuah senyuman muncul di wajah Nikita, dan Ray tahu bahwa dia mengatakan hal yang tepat.
"Lalu, doamu?" tanya Nikita tanpa menatap Ray.
"Aku ingin menjadi suami yang baik untuk istriku kelak," ujarnya dengan senyuman puas.
"Aamiin," kata Nikita sambil memandang Ray dengan senyuman.
Ray menggaruk tengkuknya, menyadari perubahan wajah Nikita, dan mengubah suaranya menjadi lebih lembut. "Doamu?" tanya Ray dengan lembut, terlihat tidak sabar menunggu jawaban dari Nikita.
"Aku berdoa agar menjadi istri yang shalihah dan bisa berbakti pada suamiku kelak," kata Nikita, mencoba agar terdengar riang.
Ray mengangguk dengan tulus. "Aamiin."
"Mampir dulu ke pom bensin, ya?" kata Nikita sambil menyentuh lengan Ray.
Ray melihat penunjuk bahan bakar. Jarum dan angka digitalnya menunjukkan bahwa tangki hampir kosong. "Ini baru gajian, mau mengisi bensin mobil, ya?"
"Sebagai tambahan hadiah ulang tahunmu, Tuan," kata Nikita sambil melirik dengan nada jenaka.
"Ampun! Tambahan hadiah ulang tahun berupa isi bensin," kata Ray sambil mengangkat bahu, terlihat malu, lalu tersenyum.
Nikita tertawa dengan senang.
Di tengah hujan deras, mobil mereka merayap menuju SPBU terdekat. Saat mereka antre di antara dua mobil lainnya, Nikita memperhatikan sebuah BMW hitam dua pintu yang juga sedang mengisi bensin di dekat supermarket SPBU. Nikita mengenali mobil dan plat nomornya dengan jelas.
"Tidak salah lagi, itu pasti dia!" pikir Nikita dalam hati. Dia diam-diam memandangi mobil BMW hitam tersebut.
Dari mobil itu, turun seorang pria tampan dengan rambut pirang pendek dan gaya kasual yang sedikit berantakan namun terlihat menarik. Ia mengenakan celana jeans dan kaos hitam, lalu masuk ke dalam supermarket. Tidak lebih dari sepuluh menit, pria itu keluar dan kembali masuk ke dalam sedan mewah itu, kemudian pergi meninggalkan area SPBU.
Nikita ingin meminta Ray mengikuti mobil itu, tapi ragu untuk mengatakannya.
Hujan semakin deras. Nikita hanya bisa menggelengkan kepala atas apa yang baru saja dilihatnya. "Dia belum berubah juga," pikirnya dalam hati.
"Apakah kamu kenal dengan pria yang masuk ke mobil BMW hitam tadi?" tanya Ray dengan satu alis terangkat. Dia memperhatikan Nikita yang diam-diam mengawasi mobil tersebut.
Nikita menoleh ke arah Ray. "Aku tidak kenal dengan pria itu. Tapi aku kenal dengan pemilik mobil itu. Tapi sudahlah," kata Nikita sambil tersenyum dengan gigi putih yang manis dan polos di mata Ray. Sambil itu, tangannya terkepal kuat.
Mendengar itu, Ray merasa lega. Dia mengangkat tangannya dan membelai lembut rambut Nikita. Mata Nikita terpejam sejenak. Lalu pandangannya memandang Ray sambil bergumam sesuatu yang tidak terdengar di tengah hujan.
Nikita memasang wajah polos sambil memelintir ujung rambutnya. "Apa?" tanyanya, tidak mengerti.
Wanita itu tak sadar jika tingkahnya, membangkitkan hasrat di dalam diri Ray. Bahasa tubuh Nikita seakan-akan memberi kode kepada pria itu.
'Tunggu apa lagi? Ayo, sentuh aku!'
Tiba-tiba Ray menepikan mobil di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang, Ray menarik tubuh Nikita ke arahnya dan mencium Nikita dengan gairah yang tak mampu ditahannya. Nikita merasakan rasa manis bibir Ray dan kekuatan tubuh Ray di tubuhnya sendiri. Semenit kemudian Ray memasukan lidahnya ke dalam mulutnya, bergerak, menjilati giginya. Entah kenapa lidah Ray terasa panas!! Hingga Nikita merasa lidah pria itu semakin dalam, ia pun langsung mencengkram lengan atas Ray.
Mata Nikita membelalak, pria berwajah tegas dengan mata sehijau emeralda yang mudah membuat kaum Hawa jatuh cinta.
Bibirnya membentuk seringaian jail lalu Nikita memukul lengannya. Dia menangkap tangan Nikita. Si wanita bisa merasakan gairah dari tatapan hangat yang berikan Ray padanya.
Ray menunduk lebih dekat ke telinga Nikita. "Kenapa kau menggodaku dengan wajah nakalmu," bisiknya. Sementara Nikita menelan ludah. Suara Ray terdengar serak dan berat dari biasannya.
Ray menegakkan kepala dan mengecup kening Nikita sekilas. "Bisa kau mencoba lebih waspada?" ujarnya sembari menatap mata Nikita lekat-lekat. Desahan berat keluar dari bibirnya. "Dengar, jangan pernah bersikap seperti itu di depan laki-laki lain."
Nikita merasa wajahnya memerah dan dadanya berdegup kencang. Dia merasa bingung dan sedikit terluka dengan apa yang dikatakan Ray. "Kenapa kau memberitahuku tentang hal itu? Apa aku harus waspada terhadapmu, padahal kaulah satu-satunya orang yang seharusnya diwaspadai lho?" gumamnya dengan perasaan campur aduk.
Ray mencoba menyembunyikan senyumnya, karena dia tidak bermaksud membuat Nikita merasa tidak nyaman. "Hmph. Baiklah," jawabnya dengan nada santai. Lalu dia melanjutkan, "Mulai sekarang, aku tidak akan menyentuhmu lagi."
Nikita terkejut mendengarnya. Dia memandang Ray dengan tatapan bingung, mencoba memahami apa yang baru saja diucapkan. Ray tersenyum, memperlihatkan satu lesung pipi mungil di pipi kirinya.
Bersambung....
