BAB 4 Api Cemburu
"Lun, ngomong apa sih kamu?" tanya Nikita bingung setelah mendengar jawaban aneh dari sahabatnya itu. Dia baru saja datang, tapi bukannya disambut dengan kebahagiaan, malah dikasih jawaban yang nggak jelas.
"Serius, aku pengen banget jadi manusia amnesia," ujar Luna dengan suara yang meninggi, seolah-olah dia benar-benar serius dengan ucapannya.
"Duh, ini anak kenapa sih?" pikir Nikita dalam hati, merasa sedikit kesal dengan sikap Luna yang seperti wanita tua yang menyebalkan. Namun, perasaannya berubah ketika dia melihat keseriusan di wajah Luna.
Setelah perlahan-lahan memahami situasi yang jarang terjadi pada Luna, rasa kesal Nikita langsung hilang. "Kamu lagi ada masalah sama calon suamimu ya?" tebak Nikita sambil mendekat dan menggenggam tangan Luna.
Tapi Luna dengan lembut menepis tangan Nikita. Wajahnya berubah serius, seolah-olah dia memegang kartu As andalannya. Dan akhirnya, Nikita terjebak dalam cerita yang penuh misteri.
"Kita bicaranya di luar sambil minum-minum, ya," pinta Luna dengan suara memelas di depan wajah Nikita.
Nikita menghela nafas, matanya yang cokelat menatap wajah sahabatnya dengan tajam. Terlihat jelas kantung mata hitam yang besar di bawah mata Luna. Awalnya Nikita ingin menolak dengan halus, tapi malah dibalas dengan anggukan pelan.
"Mabok maksudmu...?" tanya Nikita bingung.
"Betul banget! Tunggu sebentar, aku mau cuci muka dulu," kata Luna sambil masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian dengan cepat. Setelah itu, Luna keluar dari kamar dengan tergesa-gesa. Dalam keadaan bingung dan penasaran, Nikita mengikutinya. Mereka berdua kemudian pamit ke orang tua Luna sebentar untuk keluar.
****
Jam sembilan malam di sebuah klub malam di pusat kota. Luna memesan sebotol Martini Vermouth tanpa ragu. Dua gelas kosong disajikan oleh bartender. Luna langsung menuangkan minuman mewah itu ke dalam gelas-gelasnya dan meneguk dengan cepat. Begitu habis, dia menuangkan lagi. Nikita hanya memperhatikannya dengan serius. Dia mencoba tetap tenang, tetapi rasa ingin tahu dalam dirinya semakin memuncak. Saat Luna hendak meneguk langsung dari botol Martini Vermouth, Nikita memegang lengan wanita itu.
"Kamu kenapa, Lun?" tanya Nikita. Dia tak tahan melihat Luna terlihat seperti orang yang sedang dalam depresi.
"Gila! Setan! Goblok! Dan segala cacian untuk Luna Anastasya," Luna mengutuk. Dia melepaskan lengan yang digenggam oleh Nikita, lalu dengan cepat menyalakan rokoknya. Dia menghembuskan asap dan menghisapnya kembali.
"Ada apa sebenarnya, Lun? Jangan bikin penasaran, dong!" rayu Nikita. Wajahnya terlihat sedih, dagunya bertumpu pada tangan yang lemas.
Luna menuangkan lagi Martini Vermouth ke dalam gelasnya. Wajahnya terlihat lebih dewasa dan pengaruh alkohol dari minuman itu mulai mempengaruhi pikirannya. Tiba-tiba, Luna tertawa sendiri.
"Buat aku jadi amnesia, Niki. Supaya aku bisa hidup dengan tenang. Aku lelah memiliki beban pikiran setiap hari," ucap Luna kemudian. Dia tersenyum getir kepada Nikita sambil menghisap rokoknya dengan satu tarikan panjang.
"Lun! Aku serius, kamu kenapa? Kamu terus-terusan mengatakan ingin jadi amnesia!" tegur Nikita.
Luna mendesah lebih lama dari biasanya. "Aku percaya padamu, Beb. Bisakah kamu menjaga rahasia terbesarku?" Mulutnya terbuka setengah dan menghembuskan asap perlahan selama beberapa detik.
Asap rokok membubung, membuat Nikita tersedak dan batuk-batuk kecil. "Sialan! Bukannya kita selalu saling menjaga rahasia? Rahasia apa sih itu?" ucap Nikita sambil menghela napas pelan, dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
Minuman pahit yang menggugah selera itu diminum hingga habis. Terlihat gelas-gelasnya kosong dan Luna menuangkan lagi. Lalu dia menjawab, "Pernahkah kamu melihat aku bersama cowok bule ganteng di SPBU itu?" Sambil mematikan rokoknya di asbak keramik putih.
*****
Dua minggu yang lalu di Time Cafe, tempat Nikita Cs selalu tampil, suasana cukup ramai meskipun bukan malam Senin. Pukul setengah delapan, mereka naik ke panggung rendah dengan latar belakang alam yang dihiasi bintang-bintang warna-warni yang disusun dengan artistik.
Tidak jauh dari sana, Nikita melihat kekasihnya, Ray, duduk dengan tenang di sudut yang agak gelap. Meski terlihat oleh Nikita. Sementara sang vokalis melambaikan tangan kepada para pengunjung dan mendapatkan balasan lambaian dari mereka.
Tak terasa, tiga jam berlalu dengan penampilan memukau dari Nikita Cs di atas panggung. Setelah sebentar berada di belakang panggung, Nikita segera mendatangi Ray yang dilihatnya sedang didekati oleh seorang wanita imut.
Ray terkejut melihat Nikita sudah berada di dekatnya. Sebaliknya, Nikita terkejut melihat wanita imut di hadapannya. Dinda. Seorang wanita dari masa lalu Ray.
"Hai, penampilanmu sangat keren," sapa Dinda dengan senyuman sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Dengan senyuman lebar, Nikita menyambutnya. "Terima kasih." Kehadirannya langsung membuat Dinda merasa silau.
Ray merasa diabaikan dan memberikan kode dengan batuk-batuk kecil. Sejenak, pandangan Dinda beralih dari Nikita ke Ray.
"Dinda, aku pulang, ya? Kamu juga sebaiknya pulang secepatnya. Bahaya pulang malam terutama jika sendirian," ujar Ray kemudian.
Nikita terkejut mendengar ucapan manis dari pacarnya. Dia melirik tajam ke arah pria di sampingnya. "Hei, aku masih di sini, lho," batin Nikita kesal. Dia menggenggam tangannya dengan erat, kemudian melepaskannya, dan akhirnya memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Dinda menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan sedikit gugup. "Tenang saja. Aku akan pulang bersama teman," jawabnya dengan lega mendengar kekhawatiran Ray terhadap dirinya.
Seulas senyum tergambar di wajah Ray saat dia menerima tatapan tajam yang tidak pernah diberikan oleh Nikita.
"Oh, begitu. Baguslah," kata Ray dengan santai.
Dinda kembali ke topik sebelumnya yang sempat terputus karena kedatangan Nikita. Dia berusaha untuk tetap bersikap profesional dan sempurna di depan kliennya.
"Oh iya, aku akan mengirimkan laporan ke emailmu. Kamu bisa cek, jika tertarik dengan proyek ini, hubungi aku langsung," ujar Dinda dengan senyuman manis.
Ray tidak bisa menahan senyumnya. "Aku akan menunggu."
Dinda memberikan anggukan kecil kepada Nikita, kemudian pergi kembali ke teman-temannya di meja lain. Ray memperhatikan Nikita yang terus memperhatikan Dinda.
"Tidak perlu curiga. Aku sudah melupakan masa lalu dengan dia. Kebetulan saja bertemu di sini. Dia hanya menawarkan kerjasama," kata Ray sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Nikita.
Nikita menjauhkan dirinya sedikit dari Ray, kemudian menatap mata hijau esmeralda itu.
"Kamu setuju?" tanya Nikita dengan lesu. Dia berharap Ray menunjukkan penyesalan, tapi ternyata tidak. Pria itu malah menatap mata Nikita dengan penuh kehangatan.
"Aku akan melihat berkasnya terlebih dahulu. Jika menarik, maka akan kuterima," ujar Ray sambil mengangkat bahunya. Dia menyisir rambutnya dengan jari, memperlihatkan senyuman genitnya. Dia tahu bahwa senyumannya mampu membuat wanita langsung terpikat, kecuali wanita di sebelahnya.
Nikita hanya mengalihkan pandangannya, mulutnya sempat terkatup tapi dia membatalkan niatnya untuk protes. Dia dengan sekuat tenaga mencoba untuk tidak membiarkan rasa cemburu menguasainya.
"Oh, begitu ya... Ayo, pulang," balas Nikita dengan nada yang tidak sejalan dengan hatinya.
Bersambung....
