Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

tragedi

Istirahat yang Terlambat

Jam istirahat kedua baru saja berdentang. Rose duduk sendiri di bangku taman dekat lapangan belakang, buku biologi terbuka di pangkuannya, meski matanya tak benar-benar membaca. Angin sore berhembus lembut, membawa bau rumput dan sisa makanan dari kantin. Di kejauhan, suara tawa dan teriakan siswa kelas sepuluh memenuhi udara. Rose menarik napas panjang. Setidaknya lima belas menit lagi ia bisa menikmati ketenangan ini.

Tapi ketenangan tidak pernah bertahan lama jika Clara dan gengnya ada di sekitar.

“Lihat, si pemalu sedang bersembunyi di sini.”

Rose menegang. Suara itu sudah terlalu dikenalnya—manis tapi tajam, seperti pisau berbalut sutra. Clara berdiri di depannya, dua temannya, Maya dan Sinta, mengapit dari samping. Ketiganya tersenyum, tapi mata mereka dingin.

“Kamu tidak dengar, Rose?” Clara menyentuh bahu Rose dengan jemarinya. Bukan sentuhan ramah. “Aku tanya, apa kamu sudah mengerjakan tugas sejarahku? Bukannya kamu bilang bisa membantu?”

Rose menunduk. “Aku… belum selesai, Clara. Ada banyak bacaan—”

“Belum selesai?” Clara mengangkat alis. “Kamu ini tidak berguna, tahu? Masa cuma nyuruh ngerjain tugas aja susah.”

Maya terkekeh. “Mungkin dia terlalu sibuk jadi pecundang.”

Sinta menambahkan, “Atau terlalu sibuk mikirin betapa jeleknya rambut dia.”

Rose menggigit bibir bawahnya. Tiga tahun ia sudah mengalami ini. Tiga tahun ia belajar bahwa membela diri hanya akan memperburuk keadaan. Diam kadang lebih aman. Tapi kali ini, tubuhnya bergerak tanpa izin. Mungkin karena lelah. Mungkin karena hari ini ia sudah terlalu banyak menelan ludah pahit.

“Aku bukan pembantumu, Clara,” katanya lirih, tapi cukup jelas.

Keheningan sesaat.

Lalu Clara tertawa. Bukan tawa bahagia. Tawa itu pendek dan dingin. “Oh, sekarang berani? Bagus.”

Saat berikutnya terjadi begitu cepat. Rose melihat tangan Clara menggapai gelas minuman yang ditinggalkan seseorang di pagar taman. Isinya—es teh manis setengah penuh—disiramkan ke kepala Rose. Cairan cokelat dingin membasahi rambut, wajah, seragam putihnya.

Rose terperanjat, refleks menutup wajah. Dalam kebingungan itu, kakinya tersandung akar pohon yang mencuat. Ia jatuh ke samping, sikut kanannya menghantam ujung bangku beton dengan keras. Rasa nyeri menyembur dari tulang hingga ke ujung jari. Air matanya langsung meletup, bukan karena tangisan, tapi karena refleks tubuh terhadap rasa sakit yang menusuk.

“Aduh,” dengus Maya. “Jatuh lagi. Dasar kikuk.”

“Ya ampun, Rose, kamu cengeng banget,” kata Clara sambil membuang gelas plastik itu ke tempat sampah dengan gaya santai. “Cuma kena es teh sedikit saja nangis. Udah, gue pergi dulu. Jangan lupa tugasnya besok, ya.”

Ketiganya berjalan pergi sambil tertawa kecil, meninggalkan Rose yang terduduk di tanah, lengan kanannya memancarkan nyeri hebat. Air matanya kini benar-benar jatuh. Bukan karena es teh. Bukan karena hinaan. Tapi karena lengannya. Sesuatu terasa salah di sana. Gerakan sekecil apa pun membuat rasa sakit seperti ditusuk-tusuk jarum.

“Rose? Rose, kamu tidak apa-apa?”

Suara itu milik Bu Dewi, guru olahraga yang kebetulan lewat membawa kotak P3K usai memeriksa perlengkapan gudang. Wanita paruh baya itu berjongkok di samping Rose, matanya langsung menangkap seragam basah dan wajah pucat muridnya.

“Lenganmu… biar Bu lihat.” Dengan hati-hati Bu Dewi menyentuh pergelangan kanan Rose. Gadis itu langsung mendesis kesakitan. “Ini mungkin memar parah atau bahkan retak. Kita harus ke UKS sekarang.”

Bu Dewi menoleh ke belakang. Beberapa siswa lain mulai berkerumun, berbisik-bisik. “Kalian, tolong panggilkan petugas UKS bilang ada siswa perlu pertolongan. Dan cari teman Rose untuk bantu gendong tasnya.”

Dua siswa laki-laki segera menghilang ke arah gedung. Bu Dewi membimbing Rose berdiri dengan sangat hati-hati, satu tangan menopang punggungnya, tangan lain menjaga lengan Rose tetap stabil. Rose menggigit bibir, air mata terus mengalir tanpa suara.

Mereka berjalan perlahan melintasi lapangan. Setiap langkah terasa lama. Matahari sore menyorot wajah Rose yang pucat dan basah. Di sudut lain halaman, terlihat Clara dan teman-temannya sedang duduk di teras kantin, menyantap mi instan sambil tertawa. Clara sempat menoleh. Tatapan mereka bertemu sekilas. Clara tersenyum. Bukan senyum bersalah. Senyum itu berkata, lihat, tidak ada yang terjadi padaku.

Rose memalingkan muka. Dadanya sesak.

Bu Dewi memperhatikan arah pandang Rose, lalu menghela napas pelan. “Rose,” katanya lembut, “nanti di UKS, Bu ingin kamu cerita sejujurnya. Lenganmu tidak jatuh begitu saja, kan?”

Rose tidak menjawab. Matanya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena siku yang sakit. Sakit yang lain—lebih tua, lebih dalam—muncul ke permukaan. Sakit karena tiga tahun dipandang rendah. Sakit karena setiap hari ia datang ke sekolah dengan perasaan takut. Sakit karena ia sudah lupa bagaimana rasanya punya teman.

UKS terletak di lantai dasar gedung sebelah laboratorium. Begitu mereka masuk, Bu Lastri—perawat sekolah—langsung menyambut dengan ekspresi waswas. “Astaga, Rose, ini kenapa basah kuyup? Dan lengannya…”

“Jatuh,” kata Rose otomatis, seperti sudah hafal skenario.

Bu Dewi meliriknya tajam. “Rose, jangan. Bu sudah lihat siapa yang bersama kamu sebelum jatuh.”

Keheningan mengisi ruangan UKS yang sunyi. Bau antiseptik dan kapas menyengat. Bu Lastri mulai membersihkan luka lecet di siku Rose dengan lembut, sesekali menekan area sekitar tulang untuk memeriksa pembengkakan. Rose meringis, tapi tetap diam.

“Kurasa tidak retak,” kata Bu Lastri akhirnya. “Tapi memar parah di otot. Istirahat total untuk lengan kanan seminggu, ya. Jangan menulis dulu.”

Bu Dewi duduk di kursi samping tempat tidur UKS. “Rose, Bu tahu kamu takut. Tapi perundungan tidak akan berhenti jika kamu terus diam. Kamu tidak sendirian. Ada guru, ada orang tua kamu, ada teman-teman yang peduli.”

“Tidak ada yang peduli, Bu,” bisik Rose. Suaranya pecah.

“Sekarang ada.”

Rose menatap Bu Dewi. Wajah guru itu serius tapi hangat. Bu Lastri juga mengangguk sambil membalut lengannya dengan perban elastis.

Di luar, bel masuk berbunyi. Istirahat selesai. Suara langkah kaki ribuan siswa bergema di koridor. Tapi di dalam UKS yang kecil itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Rose tidak merasa sendirian.

Lengannya sakit. Seragamnya masih basah. Tapi di dadanya, sesuatu mulai berubah—kecil, rapuh, tapi nyata. Seperti tunas yang tumbuh di sela-sela beton. Mungkin hari ini ia tidak akan melawan Clara. Mungkin besok juga belum. Tapi suatu hari nanti, ia akan bilang cukup.

Dan untuk pertama kalinya, ia percaya kata cukup itu mungkin.

Bu Dewi meraih telepon di sakunya. “Bu akan hubungi ibumu. Dan Bu akan bicara dengan kepala sekolah. Mulai hari ini, tidak ada lagi yang menyakiti kamu, Rose. Bu jamin.”

Di luar jendela UKS, angin sore kembali berhembus. Membawa daun kering yang beterbangan, dan bersama mereka, harapan kecil yang mulai terbang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel