Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Yun Zijun sering menggunakan alasan “hubungan saudari” untuk menahan Yun Na di Istana Fengyi setelah memberi salam pagi dan sore. Dengan alasan sepele, ia bisa menghukum Yun Na berlutut selama 4 jam penuh.

Setiap kali Yun Na hampir tidak kuat lagi, Mo Jinglin baru datang “tepat waktu”, memohon agar permaisuri melepaskannya.

Baru pada bagian akhir cerita, Nyonya Yun mengetahui kebenaran bahwa Yun Zijun sama sekali bukan anak kandungnya, melainkan anak dari wanita simpanan Perdana Menteri.

Putri kandungnya yang sebenarnya selama ini adalah Yun Na.

Artinya, empat belas tahun kemewahan yang dinikmati Yun Na memang seharusnya menjadi miliknya. Sebaliknya, orang yang selama ini merebut identitas orang lain adalah Yun Zijun.

Lebih parah lagi, tokoh utama pria, Mo Jinglin, ternyata sejak awal sudah mengetahui kebenaran tersebut.

Karena identitas ibu kandung Yun Zijun sangat istimewa dan memiliki kekuatan besar di belakangnya—kekuatan yang dibutuhkan oleh sang Putra Mahkota—ia membantu Perdana Menteri menipu dan menyembunyikan kebenaran dari Nyonya Yun.

Tujuannya adalah untuk mendapatkan dukungan dari kedua pihak.

Namun yang lebih menjijikkan lagi, menjelang kematian Yun Na, Mo Jinglin masih berani menunjukkan wajah penuh penyesalan dan penderitaan.

Ia mengatakan semua ini adalah kesalahannya.

Ia berkata bahwa orang yang ia cintai sejak awal hingga akhir hanyalah Yun Na.

Ia mengaku hubungannya dengan Yun Zijun hanyalah keterpaksaan, sekadar sandiwara.

Ia memohon agar Yun Na memaafkannya, memohon agar Yun Na tidak mati.

Benar-benar pria tidak tahu malu.

Memikirkan hal itu, Yun Na sedikit mengangkat kepalanya. Ia menatap wanita yang tampak seperti bunga teratai putih di depannya, lalu sudut bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang dingin dan penuh ejekan.

“Yun Zijun,” katanya perlahan, “kau bilang aku yang mendorongmu ke sungai. Aku ingin bertanya—kau jatuh ke sungai yang mana?”

Keluarga Yun adalah keluarga Perdana Menteri, sehingga kediamannya sangat luas dengan halaman yang berlapis-lapis.

Di taman terdapat sebuah danau teratai lengkap dengan paviliun dan bangunan bertingkat. Di bagian tengah taman juga ada kolam yang berdampingan dengan bebatuan buatan. Di luar paviliun Tingyu Lou—tempat tinggal Yun Zijun—terdapat pula kolam ikan koi di bawah koridor.

Halaman tempat Yun Na menginap semalam memang terpencil, tetapi di luarnya juga berbatasan dengan danau. Bahkan di belakang halaman terdapat sebuah sungai kecil yang terhubung langsung ke luar kediaman—jalur pelarian yang bisa digunakan dalam keadaan darurat.

Selama ini, Yun Zijun sangat pandai berbicara dengan cara yang ambigu, sengaja atau tidak sengaja menggiring orang lain untuk salah paham terhadap Yun Na.

Sayangnya, Yun Na sekarang bukan lagi Yun Na yang dulu.

Ia adalah tipe orang yang paling ahli menghadapi “teratai putih” yang suka bermain kata-kata samar.

Yun Zijun menggigit bibirnya, matanya memerah, tampak seolah hendak menangis. “Kakak, aku tidak… bukan aku yang mengatakan itu… aku… aku…”

Yun Na mengangkat alis. “Aku tanya sekali lagi, kau jatuh ke sungai yang mana?”

“Yun Na, apa yang ingin kau lakukan?” Yun Zexuan segera menarik Yun Zijun ke belakangnya untuk melindunginya. Wajahnya penuh amarah dan kewaspadaan saat menatap Yun Na. “Zijun memang berhati baik, tapi itu bukan alasan bagimu untuk menindasnya—”

“Kau benar-benar keras kepala dan bodoh.” Kesabaran Yun Na akhirnya habis. Ia menoleh, lalu dengan cepat menampar Yun Zexuan dua kali. Setelah itu, ia mencengkeram rambutnya dan menyeretnya ke dalam ruangan. “Pergi sana!”

Buk!

Ia mengangkat kaki dan menendang dengan keras, hingga pria dewasa seperti Yun Zexuan terjatuh berlutut di lantai. Belum cukup sampai di situ, Yun Na melangkah maju dan menendang dada serta perutnya dua kali lagi, hingga tubuhnya terguling beberapa kali di lantai.

Yun Zexuan merasakan sakit menusuk di dadanya, dan setetes darah mengalir dari sudut bibirnya.

“Kakak?” Yun Zijun yang melihat kekerasan itu langsung pucat ketakutan. “Kau… apa yang sedang kau lakukan?”

Yun Na menoleh perlahan. Sorot matanya gelap dan dingin saat menatapnya. “Kau bilang aku mendorongmu ke sungai, bukan?”

“Aku… aku…” Yun Zijun yang melihat sikapnya benar-benar serius langsung mundur ketakutan. “Aku tidak! Tolong! Ada orang! Cepat datang!”

“Kau mau memanggil siapa?” Yun Na melangkah mendekatinya sedikit demi sedikit, senyum di wajahnya tampak berbahaya. “Kau selalu tidak percaya pada siapa pun, bahkan pada pelayanmu sendiri. Jadi setiap kali kau datang mencariku untuk menjebakku, kau selalu datang sendirian. Apa kau takut pelayanmu akan berbalik melawanmu jika mereka disuap?”

Yun Zijun mundur hingga ke ambang pintu, wajahnya penuh ketakutan. “Kau… kalau kau berani menyentuhku, Ayah tidak akan melepaskanmu! Kakak, Ayah tidak akan melepaskanmu…”

“Benarkah?” Yun Na mengangkat sudut bibirnya, namun matanya tetap dingin tanpa emosi. “Hanya saja, aku penasaran—hari ini Ayah dan Ibu akan lebih percaya kepadamu atau kepadaku?”

Begitu selesai berbicara, ia tiba-tiba bergerak secepat kilat. Tangannya mencengkeram tengkuk Yun Zijun, lalu menyeretnya menuju tepi danau.

“Apa yang kau lakukan?!” Yun Zijun menjerit, tak lagi sempat berpura-pura lemah. “Tolong! Tolong!”

“Berteriaklah, teriak sekuat mungkin. Kita lihat apakah ada yang datang menyelamatkanmu,” kata Yun Na dingin.

Ia menyeret Yun Zijun hingga ke tepi danau, lalu menendangnya hingga jatuh ke tanah. Setelah itu, ia menekan seluruh tubuh Yun Zijun ke dalam air.

“Kau suka sekali jatuh ke sungai, bukan? Aku akan membiarkanmu merasakannya sepuasnya!”

Dalam ketakutan, Yun Zijun berjuang mati-matian.

Naluri untuk bertahan hidup membuatnya melawan dengan sekuat tenaga. Kekuatan di tangannya begitu besar—bahkan tidak seperti kekuatan seorang wanita lemah.

Jika ini adalah Yun Na yang asli, setelah tiga tahun penyiksaan dengan tubuh penuh luka, ia pasti tidak akan mampu melawan.

Namun sayangnya, yang dihadapinya sekarang adalah Yun Na setelah masuk ke dalam novel.

Seorang “wanita jahat” yang tidak memiliki belas kasihan—hanya memiliki tekad untuk membalas setiap perlakuan yang diterimanya.

Tekadnya kuat, kehendaknya keras, dan dari situlah kekuatannya muncul.

Yun Na menekan wajah Yun Zijun kuat-kuat ke dalam air hingga ia tersedak dan tidak bisa bernapas. Rasa sesak di dada dan ketakutan akan kematian membuat Yun Zijun semakin panik dan berjuang tanpa kendali.

Namun, sekeras apa pun ia berusaha, dalam kondisi seperti ini ia tetap tidak bisa melawan Yun Na. Saat meronta, ia menelan beberapa teguk air danau hingga wajahnya memerah dan matanya dipenuhi air mata.

Baru ketika paru-parunya hampir terasa pecah, Yun Na akhirnya “berbaik hati” menariknya keluar.

Yun Zijun membuka mulut lebar-lebar, berusaha menghirup udara segar. Ia hendak berteriak meminta tolong, tetapi sebelum sempat melakukannya, Yun Na kembali menekan kepalanya ke dalam air.

Yun Zexuan yang memegangi dadanya dengan susah payah keluar dari dalam ruangan. Ketika melihat pemandangan itu, ia langsung terkejut dan marah. “Yun Na! Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila, ya?!”

Yun Zijun tersedak hebat, dadanya terasa sakit, tubuhnya terus meronta di dalam air.

Tolong… tolong!

Yun Zexuan berlari menghampiri dan mengulurkan tangan untuk menarik Yun Na. “Lepaskan dia!”

Yun Na berdiri, lalu menendang Yun Zijun hingga terjatuh ke dalam danau.

Plung!

Tubuh Yun Zijun jatuh ke air.

Kemudian Yun Na berbalik, dengan gerakan secepat kilat menangkap pergelangan tangan Yun Zexuan, menendang lututnya, dan dengan satu dorongan keras menjatuhkannya ke dalam danau juga.

Plung!

“Tolong! Tolong!” Yun Zijun terus berjuang di dalam air sambil berteriak. “Tolong!”

“Jun’er! Jun’er!” Yun Zexuan berenang panik ke arahnya. “Jangan takut, aku akan menyelamatkanmu!”

Yun Na berdiri di tepi danau, menatap dingin pada kakak-beradik itu yang tampak saling menyelamatkan. Matanya tanpa emosi, sementara sudut bibirnya melengkung dalam senyum kejam yang bahkan mengandung sedikit kepuasan.

Sesaat kemudian, ia mengangkat ujung roknya dan tiba-tiba berbalik berlari keluar.

“Tolong! Tolong! Adikku jatuh ke air! Tolong! Cepat, ada orang jatuh ke air!” teriaknya keras.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel