Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

bab 3

"Silakan duduk," Dr. Ratna tersenyum ramah. Wanita paruh baya itu membuka map di hadapannya, mengeluarkan beberapa lembar hasil tes. "Saya udah pelajari rekam medis dari dokter sebelumnya, dan hasil tes terbaru..."

Maya merasakan genggaman Irwan mengerat. Ia bisa merasakan ketegangan yang terpancar dari tubuh suaminya.

"Maaf ya sebelumnya," Dr. Ratna menatap mereka bergantian, "tapi saya harus sampaikan ini dengan jelas." Ia mengambil salah satu kertas. "Hasil analisis sperma menunjukkan penurunan yang sangat signifikan, baik dari jumlah maupun motilitasnya."

"Maksudnya?" suara Irwan serak.

"Kualitas spermanya terlalu rendah buat program bayi tabung." Dr. Ratna nunjukkin grafik di kertas itu. "Bahkan dibanding pemeriksaan enam bulan lalu, penurunannya hampir 80 persen."

Maya merasakan tubuh Irwan menegang. Ia bisa melihat rahang suaminya mengeras, tangannya yang menggenggam sandaran kursi hingga buku-buku jarinya memutih.

"Tapi... masih ada cara lain kan, Dok?" Maya mencoba senyum, meski bibirnya gemetar. "Maksud saya... teknologi sekarang udah canggih..."

Dr. Ratna menggeleng pelan. "Dengan kondisi begini, kemungkinan berhasilnya sangat kecil. Kurang dari satu persen." Ia menatap Irwan yang kini menunduk dalam. "Dan liat tren penurunannya... saya khawatir kondisinya bakal terus memburuk."

Ruangan itu mendadak terasa dingin. Maya bisa mendengar deru AC yang bercampur dengan detak jam dinding. Tik. Tok. Tik. Tok. Menghitung detik-detik hancurnya harapan terakhir mereka.

"Nggak mungkin..." Irwan akhirnya bersuara. "Pasti ada yang salah. Kita bisa tes ulang. Di lab lain. Di rumah sakit lain."

"Pak Irwan," Dr. Ratna ngomong lembut, "kami udah lakukan tiga kali pengujian buat mastiin. Hasilnya konsisten."

Maya merasakan air matanya mulai jatuh. Ia menggigit bibirnya keras, berusaha menahan isakan yang mengancam keluar. Di sampingnya, Irwan duduk kaku seperti patung.

"Saya sarankan..." Dr. Ratna lanjut dengan hati-hati, "mungkin udah waktunya pertimbangkan opsi lain. Adopsi, misalnya. Atau..." ia diam sejenak, matanya natap Maya dan Irwan bergantian, "donor sperma."

Maya yang tadinya menunduk, mendadak mengangkat wajahnya. Irwan di sampingnya menegang.

"Dengan teknologi sekarang, prosedurnya cukup aman," Dr. Ratna jelasin dengan nada profesional. "Dan Bu Maya bisa ngalamin kehamilan sendiri, rasain prosesnya dari awal sampe melahirkan."

"Nggak." Irwan tiba-tiba berdiri. "Kami... kami perlu waktu buat cerna ini semua."

Irwan hanya mengangguk singkat sebelum membimbing Maya keluar. Di lorong rumah sakit yang ramai, mereka berjalan seperti robot. Maya bisa melihat beberapa ibu hamil berlalu-lalang, mendorong kereta bayi, menggendong bayi mereka. Pemandangan yang dulu memberinya harapan, kini terasa seperti pisau yang mengiris hatinya.

Di mobil, Irwan hanya duduk diam di belakang kemudi. Maya menatap suaminya, melihat bagaimana pria yang selalu tegar itu kini tampak begitu hancur. Kata-kata ayahnya tentang Om Hendra pasti bergema dalam benaknya.

"Yang..." Maya ngulurkan tangannya, tapi Irwan ngepisnya pelan.

"Jangan," bisiknya parau. "Jangan... sekarang."

Maya menarik tangannya kembali, membiarkan air matanya mengalir dalam diam. Di luar, langit Jakarta mulai mendung, seolah ikut berduka atas diagnosis yang baru saja menghancurkan mimpi mereka.

Bab 3

Malam itu, begitu sampai di rumah, Irwan langsung mengurung diri di ruang kerjanya. Maya bisa mendengar suara kunci diputar dari dalam. Dia berdiri di depan pintu kayu itu, tangannya terangkat hendak mengetuk, tapi tertahan di udara. Apa yang bisa dia katakan? Bahwa semua akan baik-baik saja? Mereka berdua tahu itu bohong.

"Pak Karyo," Maya memanggil pelan saat melihat asisten rumah tangga mereka lewat. "Tolong siapin makan malam buat Mas Irwan ya. Taruh aja di depan pintu."

"Nggih, Bu." Pak Karyo mengangguk, matanya melirik sekilas ke pintu ruang kerja yang tertutup. Maya bisa menangkap kekhawatiran di wajahnya.

Tiga hari berlalu. Nampan-nampan makanan di depan pintu nyaris tidak tersentuh. Maya hanya bisa mendengar suara keyboard dan sesekali geraman frustrasi dari dalam. Irwan masih mengerjakan pekerjaannya - mungkin lebih dari biasanya - tapi menolak keluar atau berbicara dengan siapapun.

Di hari kedua, Maya mencoba menelepon mertuanya, tapi kemudian membatalkan niatnya. Bagaimana dia bisa menjelaskan situasi ini pada wanita yang selalu membanggakan kesuburan keluarga mereka? Yang selalu bercerita bagaimana ia melahirkan empat anak dengan mudah?

"Bu Maya nggak makan?" Pak Karyo bertanya dengan nada khawatir saat membereskan piring sarapan yang lagi-lagi cuma disentuh setengah.

Maya menggeleng lemah. "Nanti aja, Pak. Aku... aku mau keluar bentar."

Dia mengambil kunci mobil dan tas tangannya, memastikan make-up-nya cukup tebal untuk menyembunyikan mata sembabnya. Ada satu tempat yang selalu dia kunjungi saat hatinya gundah - klinik konsultasi Dr. Sarah di kawasan Menteng, seorang psikolog spesialis pernikahan yang sudah menanganinya sejak program bayi tabung pertama.

Ruang konsultasi Dr. Sarah selalu terasa menenangkan. Aroma lavender dari diffuser, dinding dengan foto-foto keluarga bahagia, dan kehadiran wanita profesional yang selalu bisa membuat masalah seberat apapun terasa lebih ringan.

"Udah tiga kali program ya, Maya?" Dr. Sarah menuang air ke gelas. "Dan sekarang dokter bilang nggak bisa dilanjutin?"

Maya mengangguk, menyesap air mineralnya perlahan.

"Kelainan genetik, Dok. Kualitas spermanya..." dia terdiam, menggigit bibir. "Irwan... dia ngurung diri sejak tiga hari lalu."

"Hmm." Dr. Sarah mengangguk maklum. "Berat emang buat seorang suami. Apalagi di kultur kita, anak itu..." dia berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "...kayak bukti kejantanan."

"Aku nggak tau harus gimana lagi, Dok." Maya menunduk, memandangi pantulan wajahnya yang lelah di permukaan air. "Adopsi... aku belum siap. Rasanya... rasanya beda."

"Ada opsi lain sebenernya," Dr. Sarah berkata pelan. "Secara medis, ini udah cukup umum di beberapa negara." Dia membuka sebuah brosur. "Donor sperma."

Maya mengangkat wajahnya, terkejut.

"Tapi... bukannya itu..."

"Ini prosedur medis yang legal dan aman," Dr. Sarah menjelaskan. "Banyak pasangan dengan kondisi kayak kalian yang berhasil punya anak lewat cara ini. Yang penting itu nyari donor yang tepat, dengan latar belakang kesehatan yang jelas, dan pastinya..." dia menatap Maya dengan pengertian, "...dengan persetujuan suami."

"Irwan nggak bakal setuju," Maya menggeleng cepat. "Dia... dia tradisional banget soal hal-hal kayak gini."

"Tapi setidaknya ini opsi yang bisa dipertimbangin," Dr. Sarah menyodorkan brosur itu. "Daripada kalian terus kejebak dalam rasa bersalah. Ada banyak cara buat bangun keluarga, Maya."

Maya termenung. Donor sperma. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas dalam benaknya. Tapi sekarang...

"Pikirin baik-baik ya," Dr. Sarah tersenyum profesional. "Omongin sama Irwan kalau dia udah lebih tenang. Dan inget," dia menambahkan, "kadang solusi terbaik datang dari tempat yang nggak kita duga sebelumnya."

Dalam perjalanan pulang, pikiran Maya berkecamuk. Donor sperma. Kehamilan yang nyata. Bayi yang bisa dia kandung sendiri. Tapi... bagaimana cara menyampaikan ini pada Irwan? Pada suaminya yang bahkan mendengar kata "donor" saja sudah membuat wajahnya mengeras?

Mobil Maya memasuki halaman rumah. Dari jendela lantai dua, dia bisa melihat lampu ruang kerja Irwan masih menyala. Tiga hari, dan suaminya masih mengurung diri di sana. Maya menghela napas panjang, menggenggam kemudi erat. Mungkin memang sudah waktunya untuk membicarakan opsi yang tidak biasa ini.

Maya memarkir mobilnya di garasi, tapi tidak langsung turun. Dia menatap pantulan dirinya di spion - wajah lelah seorang wanita yang sudah kehabisan pilihan. Dari sudut matanya, dia melihat Pak Karyo sedang menyiram tanaman di taman depan, sosoknya yang tegap bergerak dengan efisien seperti biasa.

"Pak Karyo," Maya memanggil setelah keluar dari mobil. "Mas Irwan udah makan siang?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel