bab 2
"Dan jangan lupa, posisinya harus yang dalem," Om Hadi lanjut dengan nada sok tau, seolah-olah dia ahli fertilitas. "Kalo cuma missionary standar gitu, susah nembus. Harus yang..." dia bikin gerakan pake tangannya yang bikin Mama Irwan kesedak tehnya.
Maya menunduk, tangannya mencengkeram garpu semakin erat. Di sampingnya, ia bisa merasakan tubuh Irwan menegang, keringat mulai membasahi telapak tangannya yang menggenggam jemari Maya. Mereka berdua tahu persis—semua yang disebutkan Om Hadi adalah kebalikan dari rutinitas intim mereka yang singkat dan mekanis.
Irwan berdeham keras. "Om Hadi, soal properti di BSD tadi—"
"Oh iya, Maya," Mama Irwan motong, suaranya melembut dengan cara yang bikin Maya pengen nangis. "Mama denger di Malaysia ada treatment baru. Temen Mama sukses setelah lima tahun nyoba. Mau Mama minta kontaknya?"
Maya merasakan pandangan semua orang tertuju padanya. Blazer kremnya yang sudah terasa longgar kini seolah menyusut, mencengkeram tubuhnya seperti tangan-tangan yang menuntut jawaban.
"Makasih, Ma." Maya denger suaranya sendiri jawab, tenang dan terkontrol kayak pas dia mimpin rapat direksi. "Nanti kita omongin."
Mama Irwan mengangguk, tapi Maya bisa melihat kekecewaan samar di matanya. Enam tahun, dan mereka masih menunggu. Enam tahun, dan setiap pertemuan keluarga masih berakhir dengan tatapan yang sama.
Sisa makan malam berlalu dalam gerakan-gerakan mekanis. Maya mengiris rendangnya menjadi potongan-potongan kecil yang nyaris tidak ia sentuh. Irwan di sampingnya berusaha keras menjaga percakapan tetap pada topik-topik aman—politik, bisnis, cuaca—apa saja selain bayi dan kehamilan.
Ketika hidangan penutup disajikan—es teler premium dengan kelapa muda Australia—Maya sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Setiap suapan terasa seperti abu di mulutnya.
"Udah jam sembilan," Irwan akhirnya umumkan, lirik jam tangannya. "Maya besok ada meeting pagi."
"Ah, masih sibuk aja," Tante Mira senyum penuh arti. "Padahal harusnya—"
"Iya, meeting sama client dari Singapore," potong Maya cepat, bangkit dari kursinya. Blazer kremnya yang longgar dia rapetin kayak armor. "Makasih semuanya. Maaf kita harus duluan."
Pelukan dan ciuman perpisahan terasa seperti siksaan. Setiap pelukan disertai bisikan—"Sabar ya", "Jangan stress", "Coba konsul ke..."—yang Maya tanggapi dengan senyum profesionalnya.
Di mobil, Maya melepas sepatunya dengan gerakan lelah. Irwan menyalakan mesin dalam diam, membiarkan AC mobil mengisi keheningan di antara mereka.
"Yang..." Irwan akhirnya ngomong setelah mereka keluar dari area parkir.
"Jangan sekarang," Maya potong pelan, matanya terpejam. "Please."
Irwan mengangguk, tangannya menggenggam kemudi lebih erat. Enam tahun, dan mereka masih belum menemukan kata-kata yang tepat untuk saat-saat seperti ini.
Bab 2
Sepanjang perjalanan pulang, Maya membiarkan dirinya tenggelam dalam deru halus AC mobil. Blazer krem yang tadi pagi masih nyaman di badan sekarang terasa mencekik. Ia membuka kancingnya perlahan, mengambil napas dalam-dalam.
Ponselnya bergetar. Lagi.
"Matiin aja," kata Irwan, melirik sekilas ke arah istrinya. "Nggak usah liat grup itu malem ini."
Maya mengangguk lemah, tapi jemarinya tetap membuka notifikasi yang masuk. Foto terbaru bayi kembar Siska memenuhi layar - dua makhluk mungil dalam balutan jumper merah muda, tertawa ke arah kamera. Di bawahnya, deretan ucapan selamat dan emoji hati bermunculan seperti konfeti digital yang menari-nari, mengejek.
"Cantik ya?" Maya berbisik, suaranya bergetar. "Matanya... mirip Siska banget."
Irwan mengeratkan genggamannya pada kemudi. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Besok kita ke rumah sakit ya," ia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Jenguk Dika."
"Hmm." Maya mematikan ponselnya, melemparnya ke dashboard. "Anak ketiga Tari. Padahal dia nikah dua tahun setelah kita."
Mobil mereka berhenti di lampu merah. Di seberang jalan, seorang ibu muda menggendong bayinya yang tertidur, sementara suaminya mendorong kereta bayi kosong di sampingnya. Maya menatap pemandangan itu lekat-lekat, seolah berusaha merekam setiap detailnya dalam memori.
"Kita mampir beli hadiah dulu besok?" tanya Irwan, matanya mengikuti arah pandang Maya. Lampu hijau menyala, dan mereka kembali melaju menembus keheningan Jakarta malam.
"Wan," Maya tiba-tiba bersuara setelah beberapa saat. "Inget nggak waktu kita masih pacaran?"
"Hmm?"
"Waktu itu aku cerita... mau punya anak berapa?"
Irwan tersenyum tipis. Tentu saja ia ingat. Bagaimana bisa lupa? Maya yang duduk di ayunan taman kampus, mata berbinar menatap langit sore, bercerita tentang impian-impiannya. "Empat," jawab Irwan pelan. "Dua cewek, dua cowok."
"Kayla," Maya melanjutkan, suaranya nyaris berbisik. "Rayhan... Adiba... Malik..."
"Dan kamu udah planning mau masuk sekolah mana," Irwan menambahkan. "Les ballet buat yang cewek, sepak bola buat yang cowok."
"Tapi sekarang..." Maya nggak melanjutkan kalimatnya. Nggak perlu. Mereka berdua tahu apa yang nggak terucapkan.
Irwan menepikan mobilnya di bawah pohon beringin besar. Jalanan sudah sepi, hanya sesekali mobil melintas. Ia mematikan mesin, membiarkan keheningan merayap di antara mereka.
"Aku capek, Wan." Maya akhirnya berbicara, menatap kosong ke depan. "Capek... sama semua ini. Program-program itu... suntikan-suntikan itu..."
"Maya..."
"Nggak," Maya menggeleng keras. "Dengerin aku dulu." Ia melepas sabuk pengamannya, memutar tubuh menghadap suaminya. "Kita udah coba segala cara. Tiga kali program bayi tabung, Wan. Tiga kali!"
"Dan kita bisa coba lagi," Irwan menyela, tangannya terulur pengen ngelus pipi Maya, tapi istrinya menghindar.
"Pake duit dari mana? Kita udah abisin hampir semua tabungan buat program-program itu!"
"Aku bisa ambil project tambahan. Lembur. Apa aja."
"Bukan cuma soal duit!" Maya membentak, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kamu nggak tau rasanya... setiap suntikan itu... setiap pengambilan sel telur... setiap nungguin hasil..." Suaranya pecah.
Irwan terdiam. Memang, ia tidak pernah benar-benar tahu. Yang ia tahu hanya Maya yang kesakitan setelah setiap prosedur. Maya yang menangis diam-diam di kamar mandi setiap hasil test negatif. Maya yang perlahan-lahan kehilangan senyum cerahnya.
"Aku masih inget muka Papa kamu," Maya melanjutkan setelah beberapa saat. "Waktu Om Hendra dateng ke acara tahun baru sama istrinya. Cara Papa ngeliat mereka... cara dia komen..."
"Maya, please..." Irwan memejamkan mata. Ia tidak mau mengingat itu. Tidak mau mengingat bagaimana ayahnya dengan kejam mengatakan Om Hendra "bukan lelaki sejati" karena tidak bisa memberikan keturunan.
"Dan sekarang," Maya tersenyum getir, "kita kayak mereka."
"Kita nggak kayak mereka!" Irwan memukul kemudi keras, bikin Maya terlonjak. "Sori... sori." Ia mengusap wajahnya kasar. "Satu kali lagi, Yang. Please. Satu kali lagi kita coba."
Maya menatap suaminya lama. Irwan yang selalu tegar, yang selalu optimis, kini tampak begitu rapuh. Ada keputusasaan dalam suaranya yang belum pernah Maya dengar sebelumnya.
"Kalo gagal lagi?" tanya Maya pelan.
"Kita stop." Irwan menggenggam tangan Maya erat. "Aku janji. Satu kali ini aja. Kita coba sama dokter baru. Yang lebih bagus. Aku denger ada spesialis fertilitas baru di RS Menteng."
Maya hela napas panjang. "Kamu yakin?"
"Please?"
Setelah keheningan yang terasa selamanya, Maya ngangguk pelan. "Satu kali," bisiknya. "Yang terakhir."
***
Seminggu kemudian, Maya duduk tegang di ruang tunggu RS Menteng. Jemarinya mencengkeram tas Hermes-nya erat, matanya menatap kosong ke arah akuarium besar yang menghiasi sudut ruangan. Di sampingnya, Irwan membolak-balik brosur rumah sakit tanpa benar-benar membacanya.
"Nomor 28, Ibu Maya Andini?"
Maya menegakkan tubuhnya. Irwan menggenggam tangannya, memberinya kekuatan, sebelum mereka melangkah masuk ke ruangan Dr. Ratna.
Ruangan itu berbeda dari klinik-klinik fertilitas yang pernah mereka kunjungi sebelumnya. Lebih hangat, dengan lukisan-lukisan bayi yang terpajang di dinding. Tapi justru pemandangan itu bikin dada Maya makin sesak.'
