Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

bab 3

Di kehidupan sebelumnya, Su Na terlalu percaya pada Jiang Tan’er, hingga akhirnya ia dijadikan sebilah pisau untuk menghancurkan keluarga Xie.

Kini, saat kesempatan untuk memulai kembali terbuka, bagaimana mungkin ia akan mengulang kesalahan yang sama?

Jantung Jiang Tan’er berdebar, bahkan napasnya pun tertahan sejenak.

“Kakak A Na… apa maksudmu dengan perkataan ini… aku tidak mengerti.”

Sebelum kematiannya, Su Na dan Jiang Tan’er sudah saling mengenal bertahun-tahun lamanya.

Meski ketika awal merantau ia masih polos, tidak paham dunia, tidak mengerti kejahatan hati manusia, tetapi setelah sekian lama, ia pun sadar bahwa Jiang Tan’er tidak sebersih dan semurni yang ia bayangkan. Hanya saja, waktu itu ia tidak punya pilihan, ingin pergi pun sulit.

Maka kini, hanya dengan melihat ekspresi Jiang Tan’er, Su Na sudah bisa memastikan: Jiang Tan’er pada saat ini sudah tahu tentang hubungannya dengan keluarga Xie—bahkan lebih awal daripada yang tertulis di dalam buku.

Dalam buku itu ditulis bahwa Pangeran Ketujuh yang menelusuri jejak hingga ke keluarga Xie, tetapi justru menyarankan agar Jiang Tan’er menyembunyikan kebenaran darinya. Jiang Tan’er pun, demi “kebaikan” Su Na, menyetujui saran itu.

Alur cerita dan kenyataan ternyata memang ada perbedaannya.

“Dua tahun ini aku membantumu meracik obat, menolong orang untukmu, bahkan ketika kau memintaku obat yang bisa mencelakai orang, aku tetap tidak menolak. Dan permintaanku hanya satu, yaitu agar kau bersama Pangeran Ketujuh membantuku mencari keberadaan keluargaku. Kita sudah tiga bulan di ibu kota, apakah ada kabar?” Su Na bertanya tajam, terus menekan Jiang Tan’er.

Jiang Tan’er refleks mundur selangkah, wajahnya masih terasa perih.

“Kau dengar dari siapa? Kakak A Na, aku tidak akan mencelakaimu. Aku bilang tidak ada, berarti tidak ada!” katanya dengan keras kepala.

Wajah Jiang Tan’er memerah, matanya dipenuhi rasa tertekan, seolah semua yang ia lakukan hanyalah demi kebaikan Su Na.

“Lalu bagaimana dengan keluarga Xie?” Su Na tidak menutupi apa pun.

Air mata mulai memenuhi mata Jiang Tan’er, ia merasa Su Na mendadak berubah.

Dulu, Kakak A Na begitu baik, apa pun yang ia katakan selalu dipercaya, lembut dan penuh toleransi.

Mengapa kini tiba-tiba menjadi begitu keras dan menindas? Ia benar-benar tidak suka!

“Aku tahu, keluarga Xie memang pernah memiliki seorang putri kandung, tetapi kudengar ia meninggal saat melarikan diri. Nyonya Xie bersama anak itu sama-sama meninggal, jadi bagaimana mungkin itu kau! Kakak A Na, kau terlalu memikirkan yang bukan-bukan!” Jiang Tan’er buru-buru menjelaskan, tak peduli apa pun lagi.

Kebanyakan orang di ibu kota memang tidak tahu soal ini.

Tujuh belas tahun lalu, keluarga Xie bahkan belum memiliki nama, tidak lebih baik daripada rakyat jelata.

Baru lima belas tahun lalu, ketika Kaisar naik takhta, keluarga Xie ikut terangkat, menjadi Marquis Xuansu, tetapi hanya sebatas memperoleh gelar dan hadiah, tanpa benar-benar mendapat kasih kaisar.

Jiang Tan’er berbicara penuh keyakinan, seakan takut Su Na tidak percaya. Sikapnya terlihat seolah ia rela membelah dadanya untuk membuktikan ketulusan.

Namun, Su Na melihatnya justru merasa geli.

Sejak awal, orang di hadapannya hanyalah kepalsuan yang manis.

“Jiang Tan’er, apakah aku putri keluarga Xie atau bukan, bukan giliranmu untuk memutuskan. Rasa sok tahu yang kau tunjukkan sungguh menjijikkan. Mulai hari ini, jauhkan dirimu dariku. Jika lain kali aku bertemu denganmu lagi, aku tidak bisa menjamin apakah mulutmu yang pandai bersilat lidah itu masih bisa berbicara seperti dulu!” Su Na menatapnya dengan dingin, jijik tanpa batas.

Su Na pernah menceritakan petunjuk tentang asal-usul dirinya.

Ketika ia berusia lima tahun, orang yang merawatnya sudah tidak sanggup lagi membiayai hidupnya, lalu menjualnya. Saat itu, orang itu karena diliputi rasa bersalah sempat mengatakan yang sebenarnya: Su Na adalah bayi yang didapat ketika masa kelaparan. Laki-laki di keluarganya merampas seorang wanita, awalnya hendak memakan bayi itu. Namun sebelum sempat, laki-laki itu meninggal mendadak. Sang wanita tidak berani membunuh, akhirnya hanya membiarkan bayi itu. Kebetulan ada pejabat yang membagi-bagikan bahan pangan dan tanah bagi para pengungsi, sehingga nyawa bayi itu terselamatkan.

Namun, setelah membesarkannya hingga usia lima tahun, orang itu benar-benar tidak sanggup lagi. Ia pun mengembalikan kain pembungkus bayi itu. Karena Su Na sudah dijual kepada pedagang budak, benda itu tidak bisa disimpan, hanya bordiran pada kain itu yang disobek dan dibawa sebagai tanda.

Keluarga Xie selalu percaya bahwa anak mereka telah mati.

Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin seorang bayi bisa selamat? Maka, mereka tidak pernah mengumumkan pada orang lain, apalagi mencari anak itu.

Kalau Jiang Tan’er bisa mengetahui lebih awal daripada Pangeran Ketujuh, satu-satunya kemungkinan adalah ia pernah melihat sesuatu yang mirip dengan bordiran itu pada keluarga Xie.

Kini melihat Su Na tetap dingin, hati Jiang Tan’er makin kalut dan geram.

“Kakak A Na, apa kau ingin meracuniku hingga bisu? Aku berkata demikian semua demi kebaikanmu. Sudahlah, kau masih terluka, apa yang kau katakan ini tidak akan kuperhitungkan. Sekalipun kau ingin bertengkar denganku, lebih baik pulang dulu. Aku benar-benar khawatir padamu!” ucap Jiang Tan’er, lalu langsung menarik Su Na untuk pergi.

“Apalagi keluarga Xie itu tidak baik. Hari ini mereka berani menghunus pedang melukaimu, padahal kau masih harus mengobati sakit Paman Kekaisaran! Aku harus meminta Pangeran agar membelamu!”

Su Na menepis tangannya dengan kasar.

“Kita hanya pertemuan kebetulan, urusanku sudah terlalu banyak kau campuri. Mulai sekarang, tak usah lagi kau pedulikan aku! Kalau aku masih menerima ‘perhatianmu’, takutnya aku pun akan bernasib sama seperti putri keluarga Xie—habis diperdaya olehmu hingga tidak tersisa apa pun.” katanya dingin, menahan dorongan untuk membunuh Jiang Tan’er.

Jiang Tan’er benar-benar marah kali ini.

Pikirnya : Su Na, sungguh tidak tahu berterima kasih!

“Jadi kau sungguh tidak mau pulang bersamaku!? Kau sendirian, tanpa sanak saudara, mau pergi ke mana? Ke keluarga Xie? Karena kau mengira dirimu putri keluarga Xie, lalu merendahkan aku, rakyat jelata ini? Kakak A Na, aku tidak menyangka kau orang seperti ini. Demi para bangsawan, kau bahkan rela mengabaikan persahabatan kita selama dua tahun ini!” Jiang Tan’er berteriak dengan marah, air matanya pun jatuh bergulir.

Ia benar-benar tidak mengerti, apa hebatnya keluarga Xie itu!

Tuan Marquis Xie memang kehilangan istri sahnya di usia muda. Setelah tiba-tiba memperoleh kedudukan, ia lalu menikahi seorang istri pengganti!

Putri keluarga Xie yang kini dikenal orang itu sama sekali bukan putri kandung Tuan Marquis Xie, melainkan anak tiri. Namun ia diperlakukan layaknya permata berharga, bahkan dicatatkan dalam silsilah besar keluarga Xie!

Pada pertemuan puisi sebelumnya, putra sulung keluarga Xie, Xie Jiling, secara pribadi menjemput sang putri pulang. Saat itu, Jiang Tan’er sempat melihat kantong kecil yang tergantung di pinggang Xie Jiling. Kantong itu kasar, sudah usang, tetapi di atasnya tersemat sulaman bunga liar kecil—motif yang persis sama dengan potongan kain lusuh yang dimiliki Su Na!

Kemudian, tanpa sengaja Jiang Tan’er berpapasan dengan Xie Jiling. Kantong itu terjatuh ke tangannya. Ia pun membawanya pulang, mengamati dengan teliti, dan benar-benar yakin bahwa itu sama persis.

Kemarin, ketika ia bertemu dengan putri keluarga Xie di rumah makan dan menyampaikan permintaan maaf, mereka sempat berbincang sejenak. Putri keluarga Xie itu menceritakan beberapa kisah lama keluarga Xie, dan semua yang ia sampaikan sesuai dengan apa yang pernah Su Na katakan.

Tetapi, meskipun Su Na memang putri keluarga Xie, lalu apa artinya?

Nyonya utama keluarga Xie adalah seorang istri pengganti. Di dunia ini, mana ada istri pengganti yang benar-benar tulus menyayangi anak dari istri pertama?

Su Na sejak kecil hampir tidak pernah bersentuhan dengan orang lain, ia tidak pandai menjaga diri, tidak terbiasa waspada. Sedangkan anak tiri keluarga Xie itu dikenal lihai berpura-pura. Jika Su Na kembali ke keluarga Xie, kehidupannya pasti tidak akan mudah!

Jiang Tan’er sudah bersusah payah memikirkan semua ini demi kebaikan Su Na. Namun apa balasannya?

Su Na justru menuduh dengan penuh prasangka, menyangka niat baiknya sebagai sesuatu yang jahat!

Jiang Tan’er yakin Su Na akan segera melunak. Ia tahu benar siapa Su Na—meski pintar dalam banyak hal, tetapi dalam urusan pergaulan sama sekali tidak berpengalaman. Sejak kecil tanpa sandaran siapa pun, Su Na paling menghargai yang namanya persahabatan!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel