Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Dendam Dari Alam Kubur

Riki melihat badan Alena tersentak mundur segera menghampiri Alena.

 

"Ada apa?" tanya Riki penasaran.

 

Alena menarik napas berulang kali untuk menenangkan gejolak yang merasuki hatinya.

 

"Aku yakin ini perbuatan dari makhluk yang berasal dari alam gaib, melihat dari bentuk jenazah ini hampir mirip dengan kematian yang pernah terjadi pada zaman dahulu yang di sebabkan oleh Iblis Kematian," jawab Alena.

 

"Iblis kematian, makhluk apa itu?" tanya Amor yang sudah berdiri di dekat mereka.

 

"Makhluk ini merupakan makhluk jahat, namun setahu yang aku ketahui kekuatannya sudah di segel oleh Dewa Keabadian sementara badannya sudah di masukkan ke dalam peti mati dan di kunci di sebuah tempat," jelas Alena kembali.

 

"Kalau kekuatannya sudah di segel kenapa sekarang bisa bangkit lagi?" tanya Riki yang juga bingung.

 

"Aku tidak tahu kenapa dia bisa bangkit lagi, yang pasti ada orang yang membuka peti matinya, apakah kamu tahu data dari korban?" tanya Alena kepada Riki.

 

"Korban merupakan pengawas dalam satu proyek konstruksi jalan," jawab Riki dengan pasti.

 

"Kalau begitu kemungkinan peti mati tersebut mereka temukan pada saat menjalankan konstruksi jalan, karena Iblis Kematian akan selalu membunuh korban yang sudah melihat wajahnya, coba kamu minta petugas kepolisian untuk melakukan pengecekan pada tempat terjadinya konstruksi," jawab Alena kepada Riki.

 

"Baik aku akan berbicara dengan petugas kepolisian yang ada untuk melakukan pengecekan mengenai tempat konstruksi tersebut," jawab Riki yang langsung berbicara dengan komandan Polisi yang bertugas di sana.

 

Tak lama kemudian Riki mendatangi Alena bersama seorang petugas kepolisian yang dari tadi mondar-mandir di tempat itu.

 

"Alena ini Japar yang merupakan kapten polisi yang bertanggung jawab terhadap kasus ini," jelas Riki kepada Alena.

 

"Aku sudah mendengar penjelasan dari saudara Riki, kebetulan apa yang di jelaskan oleh Riki memang terjadi di tempat konstruksi yang menjadi tempat kerja korban, di sana kami menemukan enam mayat serupa dan juga kami menemukan satu peti mati kosong," jelas Japar kepada Alena.

 

"Maaf pak, di mana sekarang peti mati yang di temukan itu berada?" tanya Alena kepada Japar.

 

"Peti mati itu sekarang ada di kantor polisi sebagai bukti yang kami dapatkan di lokasi," jelas Japar kepada Alena.

 

"Apakah saya di izinkan kalau ingin melihat peti mati itu pak?" tanya Alena kepada kapten polisi itu.

 

"Kalau begitu kita sekarang berangkat ke kantor, kebetulan kami menemukan jalan buntu mengenai kasus ini, barang kali Non Alena bisa memecahkan kebuntuan kami dalam penyelidikan ini," jawab Japar bersemangat.

 

Begitu sampai di kantor polisi dengan terburu-buru Japar mengajak Alena yang di ikuti Amor dan Riki menuju ruangan tempat penyimpanan barang bukti.

 

Alena cukup lama termenung melihat peti mati yang ada di hadapannya, matanya terus meneliti setiap jengkal peti mati itu.

 

Di pinggiran peti mati matanya melihat bekas pada peti yang menandakan pernah di cungkil paksa untuk membuka peti mati tersebut.

 

"Apakah ada yang kamu dapatkan?" tanya Amor yang dari tadi selalu berada di dekat Alena.

 

"Peti ini sepertinya pernah di buka paksa, melihat dari ukiran yang ada di sisi kiri kanannya ini jelas peti mati tempat menyegel Iblis Kematian, aku yakin pembunuhan ini akan berlanjut di luaran sana jika tidak di antisipasi lebih cepat akan ada beberapa korban lagi yang menyusul mayat yang sudah ada," jelas Alena.

 

Mendengar penjelasan Alena membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu meremang merasakan kengerian.

 

"Baiklah pak Japar terima kasih telah memperbolehkan kami melihat peti ini, aku akan membantu kepolisian semampuku jika terjadi kasus seperti ini bapak bisa menghubungi kami," Alena berkata kepada Kapten Polisi yang bernama Japar itu.

 

"Baiklah non, terima kasih atas bantuannya, aku berharap kita bisa bekerja sama kedepannya," jawab Japar dengan antusias.

 

"Aku juga berharap begitu, semoga bisa memberikan manfaat bagi orang banyak," jawab Alena sambil menyalami Japar.

 

Amor yang mengendalikan mobilnya tidak banyak bertanya melihat Alena yang sepanjang perjalanan hanya termenung menatap keluar mobil.

 

"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Amor yang penasaran mengenai langkah yang akan di ambil oleh Alena.

 

"Aku yakin ini merupakan dendam dari Iblis Kematian yang belum kesampaian, jika benar ini merupakan perbuatan iblis itu akan sangat sulit bagiku untuk mengalahkannnya, malam ini aku akan berkomunikasi dengan Dewa Keabadian untuk meminta petunjuknya," jawab Alena singkat.

 

"Bagaimana caranya kamu menghubungi dewa itu, apakah dia punya nomor telpon?" canda Amor kepada Alena.

 

Mendengar apa yang di katakan oleh Amor membuat Alena hanya tersenyum saja.

 

"Aku mempunyai cara untuk menghubungi Dewa Keabadian," jawab Alena sambil tersenyum.

 

"Baiklah, apakah ada peralatan yang kamu perlukan?" tanya Alena lagi.

 

"Tidak ada,cukup lilin merah, sepertinya kemarin kita sudah membeli banyak lilin itu," Alena berkata sambil tersenyum.

 

Sampai di rumah Alena menutup pintu kamarnya dia menyalakan lima buah lilin mengelilingi tubuhnya.

 

Cukup lama matanya terpejam untuk memanggil Dewa Keabadian dari tempatnya.

 

Sekitar lima belas menit angin bertiup semilir menembus kamar itu yang membuat api lilin bergoyang.

 

Merasakan hembusan angin itu dari bibir Alena merekah sebuah senyuman, dia tahu kalau itu menjadi pertanda bahwa Dewa Keabadian akan hadir.

 

"Ada apa kau memanggilku Bidadari Merah, mengganggu kesenanganku saja, apakah kamu kangen kepadaku?" tanya sebuah suara.

 

Mendengar suara itu Alena membuka matanya, di depannya sudah ada satu sosok tinggi besar dengan wajah tampan duduk bersila terapung di udara.

 

"Dasar dewa ganjen, siapa yang merindukan kamu?" jawab Alena sembari menatap Dewa Keabadian yang ada di depannya.

 

"Kalau bukan kangen kenapa kamu memanggilku?" tanya Dewa Keabadian lagi.

 

"Aku memanggil kamu karena pekerjaan kamu yang dahulu tidak selesai, sekarang akibat dari pekerjaan itu menjadi teror umat manusia," jawab Alena dengan suara sinis.

 

"Pekerjaan yang mana yang menjadi teror umat manusia?" tanya Dewa Keabadian bingung.

 

"Aku tahu dulu kamu yang di tugaskan Dewa Langit untuk mengatasi teror Iblis Kematian, namun pekerjaan yang kamu lakukan tidak sampai membunuh Iblis Kematian, kamu hanya menyegel kekuatannya saja," jelas Alena kepada Dewa tampan itu.

 

"Iya, aku menyegelnya dan tidak mungkin dia bisa keluar dari segel tersebut," jawab Dewa Keabadian tidak mau kalah.

 

"Karena kau tidak membunuhnya, sekarang iblis itu bangkit lagi," jawab Alena.

 

"Bagaimana bisa, dia tidak akan mungkin bisa bangkit lagi kalau tidak ada yang membuka peti tempat aku menahannya," jawab Dewa Keabadian tak mau kalah.

 

"Kenyataannya, sekarang dia sudah bangkit dn membunuh berapa orang," jawab Alena.

 

"Kalau dia sudah bangkit kamu tidak akan bisa mengalahkannya, iblis itu sudah menyerap seluruh saripati alam raya kekuatan itu menggumpal di dalam tubuhnya, sehingga semua kekuatan kamu tidak akan mempunyai artinya di hadapan makhluk itu," jawab Dewa Keabadian dengan suara cemas.

 

"Untuk itulah aku memanggil kamu, bagaimana aku bisa mengalahkannya?" tanya Alena.

 

######

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel