Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

He is Begging Me

Author.

Empat orang dewasa yang duduk di ruang tamu itu terdiam sesaat. Hanya saling melempar pandang satu sama lain secara bergantian.

Pak Andri yang duduk disamping Bu Freya sebenarnya sudah gelisah menunggu jawaban dari pemuda di hadapannya itu, setelah panjang lebar dia menjelaskan duduk persoalan dan maksud kedatangannya malam ini.

Namun, dengan sikap keningratannya yang memang sangat dia junjung tinggi, pak Andri berusaha tetap setenang mungkin. Bersikap sebijaksana mungkin dan menunjukan kematangan emosionalnya di hadapan semua.

“Apa laki-laki itu benar-benar nggak ketemu, Pa?” Pemuda di seberang meja Pak Andri membuka suara juga akhirnya. Setelah sekian lama terdiam dan terbungkam ketika mendengarkan maksud dan permintaan Pak Andri dan Bu Freya pada dirinya.

“Nggak ketemu, Sat. Papa sudah nyebar orang suruhan Papa untuk cari dia, tapi nggak ketemu juga. Petunjuk yang didapatkan dari hotel tempatnya bekerja nggak banyak membantu, minim sekali. Alamat di kartu identitasnya pun sudah lama ditempati orang lain,“ tutur Pak Andri masih dengan nada suara yang datar walaupun ada rasa geram di hatinya.

“Aneh, hilang di telan bumi itu orang. Udah enak-enak main tinggal aja. Laki-laki nggak bertanggung jawab,” gumam pemuda itu lagi. Pelan namun terdengar jelas menunjukan rasa kesal dan prihatin. “Kasihan Sha.“

“Ya, karena itulah, Papa minta kamu pertimbangkan permintaan Papa tadi. Cuma kamu harapan Papa dan Mama saat ini. Bagi Papa kamu juga adalah anak Papa yang harus menjunjung nama baik dan kehormatan keluarga kita,” ucap Pak Andri berusaha tegas namun sebenarnya memelas.

Bukan seperti sebuah permintaan, tapi lebih terdengar seperti sebuah perintah. Itulah yang terasa di benak pemuda di hadapan Pak Andri ini.

Dia pun hanya mengangguk menatap nanar wajah Pak Andri, lalu bergantian menatap wajah Bu Freya yang juga balas menatapnya dengan sorot mata memelas. Kemudian tertunduk lagi setelah menghela nafasnya yang begitu berat.

Dia melirik sekilas sosok ibunda yang duduk di sebelahnya. Wanita berusia setengah abad yang melahirkan dirinya itu hanya menatapnya dengan tatapan lembut seraya mengusap lengan kokohnya. Memberikan ketenangan tersendiri baginya dengan sentuhan sayang dari sang ibunda tercinta.

“Kamu nggak perlu jawab sekarang, Sat. Papa kasih waktu untuk kamu mempertimbangkan dan memikirkan masak -masak semua perkataan Papa tadi. Papa percaya kamu pasti paham mana keputusan yang terbaik yang harus kamu ambil.“

Kembali pemuda itu hanya mengangkat wajahnya dan mengangguk. Bukan tidak sanggup bicara, tapi benaknya tengah berputar-putar berusaha mencerna baik-baik semua perkataan dan permintaan Pak Andri dan Bu Freya sejak awal kedatangan mereka ke rumahnya.

“Baiklah, Pa. Akan aku pertimbangkan,“ putusnya seraya menyungging senyuman getir dan terpaksa.

Pak Andri membalas dengan anggukan dan melempar senyum bijaknya. Tak lama Kemudian, beranjak dari sofa di ikuti oleh Bu Freya di sebelahnya.

“Kalau begitu, Papa dan Mama pulang dulu. Jangan lupa, Papa tunggu jawaban kamu secepatnya, ya.”

Begitulah Pak Andri. Permainan kata-katanya begitu sempurna. Terdengar tidak meminta, tetapi yang tersirat adalah sebuah perintah. Membuat lawan bicaranya terpaksa dan mau tidak mau mematuhi perkataannya.

Pemuda dan Ibundanya itu pun ikut beranjak dan mengantar pasangan suami istri itu menuju mobil mewah mereka dengan seorang supir yang sudah menunggu di balik kemudi.

Sejenak Pak Andri berbalik menatap wajah pemuda itu sebelum memasuki Limousinnya.

“Kamu sudah dewasa sekarang, sudah jadi orang sukses. Papa dengar perusahaan kamu masuk top five nominasi Property Award, ya?”

“Alhamdulillah, Pa. Itu semua berkat doa dan dukungan Papa dan Mama Freya juga.”

“Papa bangga sekali sama kamu. Papa yakin almarhum ayahmu di surga sana juga sangat bangga melihat keberhasilan puteranya ini,” puji Pak Andri seraya menepuk-nepuk bahu tegap pemuda itu dengan rasa bangga .

Pemuda itu kembali tersenyum seraya menarik jemari ibundanya untuk mendekat padanya.

“Kamu berhasil mendidik puteramu, Wi. Kamu ibu yang hebat.” Pak Andri beralih perhatian pada Ibu Dewi, ibunda pemuda itu.

“Aku cuma menjalankan amanat almarhum Bang Sechan aja, Ndri. Kesuksesan putera satu-satunya ini ya memang berkat dukungan kamu dan Freya selama ini,” tutur Bu Dewi dengan bahasanya yang sangat halus dan menenangkan.

“Baiklah, kami pamit dulu. Mbak Dewi jaga kesehatan, ya. Mainlah ke rumah. Sha sering nanyain Mbak Dewi, katanya kangen dengan opor ayam buatan Mbak Dewi,“ sambung Bu Freya dengan bahasa yang tidak kalah lembut di sertai dengan senyuman manis yang terhias di bibir merahnya.

“Iya, Frey. Insya Allah aku akan mampir ke rumah kalian. Titip salamku untuk Sha, ya. Aku juga kangen sama anak cantik itu,” balas Bu Dewi lagi.

“Baik, Mbak, nanti aku sampaikan salam Mbak Dewi untuk Sha. Kami pamit, ya. Assalammualaikum.”

“Waalaikumsalam,” balas Bu Dewi dan putera tampannya yang berdiri sambil merengkuh bahu sempitnya.

SATRIA.

Kepulangan Papa Andri dan Mama Freya barusan menyisakan kegundahan di hatiku.

Semua cerita yang disampaikan di awal kedatangan mereka malam ini membuatku tidak sanggup berkata-kata. Aku hanya bisa mendengar dan turut merasakan keprihatinan yang mendalam dengan keadaan yang dialami Danisha, adik angkatku.

Puteri kesayangan keluarga Andri Putera Bintang itu kini tengah berbadan dua. Akibat perbuatan laki-laki yang tidak punya nyali untuk bertanggung jawab.

Aku, Satria Sechan. Pemuda yang ditemui Papa Andri dan Mama Freya barusan.

Aku adalah anak angkat dari Andri Putera Bintang. Beliau adalah sahabat karib almarhum ayahku sejak keduanya masih sama-sama tinggal di kampung halaman kami di pulau Sumatera. Saat beranjak dewasa, keduanya menekuni dunia bisnis retail bersama di ibukota.

Namun, ketika Papa Andri melanjutkan kuliah pasca sarjananya ke Jerman dan menikahi wanita Jerman yang setengah darahnya mengalir darah Solo, Mama Freya, ayahku menjalankan manajemen perusahaannya seorang diri.

Hingga nasib buruk menimpa keluarga kami. Perusahaan ayah hancur karena ditipu oleh rekan bisnisnya, meninggalkan hutang yang jumlahnya sangat banyak, bahkan rumah kami pun ikut diambil alih oleh bank.

Sejak itu ayahku jatuh sakit karena tidak kuat menghadapi getirnya kenyataan hidup hingga akhirnya berpulang ke pangkuan Illahi.

Di usiaku yang masih sepuluh tahun, aku harus merelakan orang terkasihku pergi meninggalkan aku dan ibu untuk selama-lamanya.

Sejak kepergian ayah, Papa Andri dan Mama Freyalah yang membantu kehidupanku dan ibu. Mereka menanggung semua biaya hidup kami hingga mensupport biaya sekolahku sampai lulus dengan predikat Cum Laude dari sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Barat.

Mereka adalah orang-orang berhati baik. Aku sangat terharu dan berterima kasih karena mereka telah mengangkat aku sebagai anak mereka dan dengan suka rela meminjamkan nama keluarga besarnya sebagai referensi untuk mendongkrak image perusahaanku yang bergerak di bidang property dan proyek pembangunan pemerintah.

Maka, jika ada yang mengatakan ‘Apalah arti sebuah nama’, aku sangat menampiknya. Karena bagiku sebuah nama itu sangat berarti besar dan itu terbukti padaku.

Bahkan bukan hanya namanya yang beliau pinjamkan untukku, Papa Andri juga dengan sangat ikhlas menggelontorkan rupiah yang sangat besar sebagai modal awal bisnis propertyku.

Perlakuan Papa Andri dan Mama Freya padaku tidak jauh berbeda dengan perlakuan mereka pada Danisha, puteri semata wayangnya yang usianya terpaut delapan tahun di bawahku.

Kasih sayang mereka pada Danisha tidak berbeda kepadaku. Aku merasa bukan lagi sebagai anak angkat, tetapi sudah terikat pertalian bathin yang sangat kuat pada mereka. Termasuk pada Danisha yang sudah aku anggap sebagai adik kecilku sendiri.

Kini, aku tertunduk di ruang kerjaku. Menekuri ujung meja dengan pikiran yang tidak menentu.

Permintaan Papa Andri dan Mama Freya kembali terngiang di benakku seperti sebuah kaset rusak yang terus berputar berulang-ulang mengusik saraf otakku.

“Kali ini Papa mohon bantuan kamu, Sat. Karena cuma kamu satu-satunya yang bisa Papa andalkan. Nikahi Danisha. Jadikan dia istrimu. Kamu tau, kan apa risikonya jika orang di luar sana tau Danisha hamil tanpa ada suami? Apalagi kalau sampai tercium media, bisa hancur nama baik keluarga kita terutama bisnis Papa dan Mamamu ini.”

Itu permintaan Papa Andri dan Mama Freya padaku tadi. Permintaan yang sangat jauh dari dugaanku sebelumnya.

Awalnya aku pikir Papa Andri memintaku untuk mencari bajingan tengik yang telah menghamili Danisha, ternyata bukan itu.

Justru aku yang diminta untuk menikahi adik angkatku itu demi menyelamatkan kehormatan dan nama baik keluarga besar.

Sejujurnya, itu permintaan yang sangat berat untukku. Bukan karena aku tak tahu berterima kasih atau tak tahu membalas hutang budi pada orang yang telah sangat baik padaku dan Ibu. Tapi itu tidak sesuai dengan prinsip hidupku.

Bagiku, suatu pernikahan itu harus didasari dengan cinta, bukan karena terpaksa ataupun dipaksa.

Suatu hubungan yang dilandasi dengan keterpaksaan akan berakhir dengan kesengsaraan. Itu menurutku dan selalu aku tanamkan sejak aku mengenal cinta.

Karena prinsip hidupku itulah aku hanya ingin menikah dengan wanita yang memang aku cintai dan dia mencintai aku.

Anna. Wanita yang sudah dua tahun ini mengisi hari-hariku dan membuatku merasakan getaran indah di hati. Wanita anggun yang sangat cantik, pintar dan mandiri.

Walaupun bukan wanita pertama untukku, tapi Annalah yang membuatku merasakan sebenar-benarnya jatuh cinta. Hingga aku tergila-gila padanya.

Begitupun dirinya. Aku merasa dia sangat mencintaiku, sangat mendambakan keberadaan aku di sisinya setiap saat. Dan dialah yang akan aku nikahi kelak, bukan wanita lain.

“Satria....”

Aku mendongak, mendapati ibu yang tiba-tiba berada di hadapan, berdiri di seberang meja kerjaku.

Ibu menggeser kursi di seberang meja, lalu menghenyakkan dirinya perlahan tanpa melepaskan tatapan teduhnya padaku.

“Ibu belum tidur? Ini udah hampir tengah malam, Bu,” tanyaku seraya menyandarkan punggung yang terasa penat pada sandaran belakang kursi kerja.

“Gimana Ibu bisa tidur, ngeliat anak Ibu udah selarut ini masih bengong sendirian di sini. Ibu takut kamu kesambet nanti.”

Aku hanya menyungging senyum lebar menanggapi celetukan ibu.

“Satria, Ibu tau kamu lagi mikirin permintaan papa mamamu tadi ‘kan?“

Kuhela nafas beratku, menegakkan punggung, lalu mengangguk pelan pada Ibu.

“Permintaan mereka berat, Bu. Rasanya aku nggak bisa mengabulkan.”

Ibu meraih jemari tanganku lalu meremasnya dengan lembut. Begitu menenangkan bagiku ketika Ibu melakukan itu.

“Satria, apa pun keputusannya Ibu serahkan pada kamu. Tapi ibu juga berhak memberi masukan untukmu. Papa Andri dan Mama Freya adalah orangtuamu juga. Walaupun hanya orang tua angkat, tapi kasih sayang mereka padamu luar biasa, Nak."

"Tanpa mereka mungkin nasib kita tidak sesejahtera ini sekarang. Dan sudah sewajibnya kamu sebagai anak untuk berbakti pada orang tuamu, termasuk pada mereka."

"Ibu sangat mendukung jika kamu memenuhi permintaan mereka, Nak. Karena mungkin ini waktunya kamu menunjukan baktimu pada mereka.“

Sejenak aku tertunduk meresapi perkataan ibu yang disampaikan dengan sangat perlahan dan teratur. Namun bagiku masukan yang ibu berikan itu berbanding terbalik dengan prinsip hidupku.

Menikahi Danisha untuk menunjukan bakti?

Bukan berbakti, Bu. Itu namanya balas budi. Pikirku hanya di dalam hati. Aku tahu jika itu aku sampaikan pada Ibu, perasaannya pasti akan terluka. Aku tidak mau.

“Berarti Ibu setuju aku menikahi Sha? Walaupun hanya untuk menutup aibnya?” tanyaku lirih.

Ibu mengangguk seraya tersenyum. ”Ibu sayang sama Sha seperti Ibu sayang sama kamu. Ibu ikut merasakan bagaimana terpukulnya Andri dan Freya atas musibah yang terjadi pada Sha. Mungkin kalau Ibu bertukar posisi dengan mereka, Ibu juga akan melakukan hal yang sama,“

“Tapi aku sudah punya calon pendamping, Bu. Dan aku sudah janji akan menikahi dia dalam waktu dekat,” sergahku dengan suara lunak. Aku tidak mau membuat Ibu berpikir aku membantahnya.

“Dengan Anna?” tanya Ibu singkat. Dan aku mengangguk.

Ya. Ibu memang sudah mengetahui kedekatanku dengan Anna sejak aku memperkenalkan Anna pada Ibu beberapa bulan lalu, ketika aku memantapkan hati dan berniat ingin menikahinya.

“Nak, bukannya Ibu nggak suka dengan Anna, secara pribadi mungkin Anna wanita yang baik. Tapi hati Ibu masih terganjal ragu karena pekerjaannya. Yang ibu tau profesinya itu sangat dekat dengan kebebasan yang kebablasan. Ibu takut kamu justru terbawa ke dunianya, Nak.“

“Tapi nggak semua foto model itu seperti yang Ibu sangka, Bu. Banyak juga yang nggak suka dengan kebebasan yang kebablasan seperti yang Ibu maksud. Anna contohnya. Selama ini aku lihat Anna nggak pernah terbawa arus oleh rekan-rekan seprofesinya.” Aku masih berusaha meyakinkan Ibu.

Memang, sejak Ibu mengetahui profesi Anna sebagai foto model, Ibu terang-terangan menunjukan ketidaksukaannya pada hubunganku dengan Anna. Dan selalu berusaha mempengaruhiku untuk meninggalkannya.

“Yaaah, entahlah. Tapi hati kecil Ibu berkata lain, Sat. Biasanya intuisi seorang ibu nggak pernah salah menilai mana yang terbaik untuk anaknya. Ibu takut kamu kecewa nantinya. Menurut Ibu, coba kamu pertimbangkan lagi permintaan Papa Andri dan Mama Freya."

"Bisa jadi sesuatu yang kamu tidak suka justru itu yang terbaik untuk kamu. Atau sebaliknya, yang sangat kamu sukai justru bukan yang terbaik untuk kamu,” lanjut Ibu.

Ibu tersenyum manis padaku, meremas jemariku sesaat lalu beranjak dari duduknya. Dan meninggalkan aku yang masih termangu di kursi menatap punggung Ibu yang keluar dari ruang kerjaku.

“Ya Tuhan, berilah aku petunjuk-Mu....” harapku pelan di sela helaan nafas yang mulai terasa sarat beban.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel