Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Deal or No Deal?

Author.

Dia menyandarkan tubuh tinggi tegapnya di sisi body mobil Jeep Sport warna hitam miliknya.

Dari balik kacamata hitam yang bertengger di hidungnya yang tegak, sesekali dia melemparkan pandangan ke setiap penjuru, mencari-cari seseorang yang sengaja dia tunggu siang ini.

Dalam balutan kemeja putih yang lengannya di gulung hingga bawah siku, dipadukan dengan celana jeans biru, semakin membuat dirinya tampak lebih menawan dan menjadi sasaran empuk bagi pandangan lapar gadis-gadis belia yang melintas di hadapannya.

Beberapa ada yang hanya meliriknya, ada yang melemparkan senyum menggoda, bahkan ada yang lebih berani menyapanya dengan panggilan ‘Baby hunk’.

Baby hunk? Cowok seksi dan menarik karena fisik.

Dia tertawa kecil mendengar panggilan itu yang ditujukan pada dirinya seraya mengalihkan bola matanya pada kedua lengannya yang memang berotot dan dadanya yang tebal sempurna di balik kemeja putih dengan dua kancing atas yang terbuka.

“Danisha!” panggilnya seketika pada gadis cantik berkaki jenjang yang baru saja keluar dari lobby kampus menuju pelataran parkir dan tengah sibuk dengan ponsel di tangan.

Gadis pemilik nama itu spontan menoleh ke arahnya.

Perlahan Danisha melangkah menghampirinya tanpa melepaskan tatapan bingung pada sosok tinggi tegap yang baru saja memanggilnya.

“Bang Satria?” sapa Danisha seraya membolakan kelopak mata lebar-lebar demi meyakinkan penglihatannya.

Satria melepaskan kaca mata hitamnya untuk membantu memperjelas penglihatan Danisha.

“Hai, apa kabar kamu, Sha?” sambut Satria seraya tersenyum lebar menatap Danisha yang masih terkesima memandanginya.

Apa benar mahluk tampan di hadapan Danisha ini adalah si pemilik nama yang dia sebut tadi?

Laki-laki muda dengan tatanan rambut tebal yang rapi walaupun tidak klimis. Batang hidungnya tegak paripurna. Memiliki senyuman ala iklan pasta gigi yang menampilkan barisan gigi yang putih dan rapi. Kulit sawo matang dan sedikit kecoklatan. Wajahnya yang sumringah mulus bersih tanpa satu jerawat pun yang bertengger disana.

“Wuiidiihhh, Bang Sat? Makan apa, lo, kok bisa jadi ganteng gini?” seru Danisha terkagum-kagum dengan logat khas centilnya.

“Heh, 'Bang' nya jangan di sambung kayak gitu, ah! Gak enak banget dengernya,” protes Satria seraya mentoyor jidat Danisha dengan gemas.

Danisha mengerucutkan bibirnya sebal, seraya mengelus jidatnya. "Dari kecil juga gue panggil 'Bang',” cicitnya, manyun.

“Ya, panggil Abang aja, jangan ada sambungannya. Titik!” protes Satria lagi.

“Baiklah, Abang Sat....” goda Danisha seraya menepuk lengan kokoh Satria.

“Ribet bener, Sha. Abang aja, udah!” Kali ini Satria melayangkan pelototan gemas pada Danisha, bahkan dia ingin sekali menyentil bibir nyinyir milik gadis di hadapannya itu. Sedangkan, Danisha hanya nyengir kuda menanggapi kekesalan Satria.

“Eh, tumben ke kampus, ada apa?” Danisha menyadari kehadiran Satria yang nyaris tidak pernah mengunjunginya di kampus ini.

“Hmm, aku mau bicara sama kamu, Sha. Penting.”

Danisha memicingkan mata, mencoba menerka-nerka apa yang akan dibicarakan Satria padanya.

Karena sudah lebih dari lima bulan ini mereka tidak pernah bertemu karena kesibukan yang menyita waktu masing-masing. Danisha sibuk dengan aktivitas kampusnya. Sementara Satria sibuk dengan pekerjaannya. Biasanya mereka hanya bertukar kabar melalui pesan WA. Frekuensinya pun bisa dihitung dengan jari. Tetapi sekarang, tiba-tiba Satria menemui Danisha untuk membicarakan sesuatu yang penting menurutnya.

“Oke, bicaralah. Adinda siap mendengarkan dirimu, Abangda,” persilakan Danisha dengan menggoda Satria seraya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Lalu, memasang tampang serius dan bersiap untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan Satria.

“Kita ke dalam mobilku aja. Apa yang mau aku omongin ini serius banget soalnya,“ ajak Satria walaupun dengan raut datar.

“Di mobil? Panas, ah!” tolak Danisha seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah.

“Kamu pikir mobilku nggak ada AC-nya, apa? Ayo masuk. Buruan.” Satria membuka pintu mobilnya untuk Danisha.

“Ya, ampun! Ini mobil apa sarang penyamun, Bang? Berantakan bener,” cetus Danisha ketika melongok ke dalam mobil Satria dan mendapati berkas-berkas dan barang-barang yang berhubungan dengan pekerjaan Satria terhampar sembarang di sana.

“Cerewet banget, sih! Gue karungin juga nih anak! Ayo, cepetan masuk!“ perintah Satria tak sabar melihat Danisha yang masih melongo menatap ruangan dalam mobilnya.

“Eh, iya ... iya, Bang. Ampun, Bang. Galak banget, iiih!”

***

“Jadi papa sama mama minta Abang untuk nikahin Sha?” Danisha terperanjat menatap Satria dengan perasaan tak percaya.

Satria mengangguk lemah seraya menatap wajah Danisha yang menampakkan guratan penyesalan yang begitu mendalam. Lalu, menghela nafasnya berat, seakan sarat beban.

Gadis itu benar- benar merasa tidak enak hati mendengar semua penuturan Satria tadi tentang permintaan papa dan mamanya pada kakak angkatnya itu. Dan itu menyangkut dirinya.

“Terus, Abang nurut aja sama permintaan papa?” tanya Danisha lagi dengan suara lirih.

Kembali Satria mengangguk lemah. Kali ini tertunduk seraya iseng memutar-mutar ponsel yang dia genggam sejak tadi.

“Harusnya Abang tolak aja, Bang. Sha nggak mau jadi beban Abang. Biar Sha yang tanggung sendiri. Sha nggak mau orang lain ikut sengsara karena dosa yang udah Sha perbuat. Kalo papa mama malu, Sha bisa kok pergi dari kota ini, mungkin tinggal di luar negeri sampai bayi Sha lahir,” sesal Danisha lagi.

Bola matanya mulai menghangat dan berkaca-kaca. Gadis manis itu mengatup kelopak matanya menahan air mata agar tidak merebak tumpah.

“Sha, jangan bilang begitu. Kasian papa sama mama. Kita sebagai anak nggak boleh egois. Aku udah memutuskan untuk menikahi kamu, jadi kamu jangan punya pikiran macam-macam lagi.” Satria berkata bijak demi melihat rasa bersalah yang begitu hebat di wajah sang adik angkat.

“Tapi ini bener-bener nggak adil untuk Abang,“ sergah Danisha.

“Anggap aja ini caraku untuk berbakti sama Papa Andri dan Mama Freya.”

Danisha tertunduk dan menghela nafasnya berat.

“Harusnya Sha ikutin aja saran temen Sha untuk gugurin kandungan supaya nggak jadi beban …”

“Huush! Sinting kamu, Sha. Bisa rusak rahim kamu nanti. Bahaya, tau!” bentak Satria dengan suara tertahan, seraya menatap kesal pada Danisha.

Buliran air mata Danisha pun tidak terbendung lagi. Sebulir dua bulir mulai mengalir dari sudut matanya.

Satria melihat itu, lekas dia menarik selembar tissue di atas dashboard mobil lalu mengusap pipi Danisha yang sudah basah.

“Bang, Sha nggak habis pikir akan nikah sama Abang. Walaupun kita bukan sedarah, tapi Abang udah Sha anggap kakak sendiri?” ucap Danisha setelah menyurutkan tangisnya.

“Sama, Sha. Aku juga nggak nyangka. Adik kecilku yang dulu sering aku mandiin di kolam ikan malah akan jadi bini aku." Satria menggerutu sambil menyunggingkan senyum getirnya.

"Gila! Gila!” Satria merutuk pada dirinya karena tidak berdaya untuk menolak permintaan orang tua angkatnya. Ya, terpaksa, karena balas jasa.

‘Benar kata kamu, Sha. Rasanya kok nggak adil banget buat aku. Cowok lain yang ngerjain kamu, justru aku yang harus bertanggung jawab,’ pikir Satria dalam benaknya.

“Bang....“ panggil Danisha, lalu menggantung kalimatnya. Bola matanya bergerak-gerak menatap kedua manik Satria yang mulai tampak meredup. Terselip rasa ragu di hatinya untuk mengutarakan sesuatu pada kakak angkatnya ini.

“Hm?”

“Gimana kalo kita buat kesepakatan?” Akhirnya meluncur juga kalimat itu dari bibir Danisha.

“Kesepakatan apa?” Satria menautkan kedua alisnya tanda tak mengerti.

“Kita jalanin pernikahan kita cuma sampe bayi Sha lahir. Setelah itu kita cerai. Gimana?”

“Ah, gila kamu, Sha!” bantah Satria cepat. Dia tidak menyangka kalimat itu meluncur dengan mudahnya dari mulut Danisha sendiri.

“Eh, Bang, Sha nggak mau jadi beban Abang selamanya, tau! Cukup sampe bayi ini lahir aja.”

“Sha, Sha. Pernikahan jangan dibikin main-main, Sayang!“ seru Satria seraya menggeleng-gelengkan kepala karena tidak mengerti jalan pikiran Danisha yang serba praktis, tanpa dipikirkan matang-matang.

“Buat apa menikah tanpa cinta, bisa sengsara, Bang. Aku sih nggak mau. Nggak tau deh kalo Abang."

Satria mendongak menatap lurus wajah Danisha. Di tatapnya lamat-lamat wajah gadis yang sudah tak gadis itu untuk mencari keseriusan di sorot matanya.

“Kok, kita sepemikiran, Sha? Nikah tanpa cinta pasti jadinya sengsara,” ucapnya lugu.

“Nah, itu Abang paham? Makanya kita nggak usah nikah lama-lama. Cukup sampai bayi Sha lahir aja. Gimana, Bang? Kita sepakat?” Danisha menyorongkan telapak tangan kanannya ke hadapan Satria.

“Ehh, tunggu, deh. Terus, nanti alasan kita bercerai apa? Aku takut orang tua kita syok. Apalagi ibu, Sha. Kamu tahu, kan kesehatan ibu kurang prima?” tanya Satria lekas, sorot matanya menggambarkan kekhawatiran ketika mengingat sang ibunda tercinta.

“Yaaa, apa kek. Bilang aja kita nggak cocok jadi laki bini. Cocoknya jadi nyonya dan supirnya. Atau alasan apa gitu? Tapi, ntar ajalah kita pikirin lagi soal itu. Yang penting sekarang Abang deal dulu. Oke?” Kembali Danisha menyorongkan tangannya.

Walaupun masih ada keraguan di benaknya atas penawaran Danisha, namun akhirnya Satria sepakat juga.

Terlebih lagi, ketika terlintas wajah cantik Anna, kekasihnya. Tawaran dari Danisha itu serasa angin surga yang menyejukkan hatinya, yang beberapa hari ini sempat dilanda gelisah lantaran permintaaan tak terduga dari Pak Andri dan Bu Freya.

Satria pikir, waktu sembilan bulan maupun satu tahun tidaklah lama. Setelah Danisha melahirkan, dia akan kembali bebas dan melanjutkan niatnya untuk menikahi Anna kemudian.

“Oke, sepakat deh.” Satria membalas jabatan tangan Danisha yang tersorong  di hadapannya, walaupun masih dengan rasa bimbang.

“Berarti abis itu aku jadi duda, Sha?” lanjut Satria dengan mimik wajah polosnya menatap Danisha.

Mendengar perkataan naif kakak angkatnya itu, Danisha melengos seraya memutar bola mata. “Jiaaahh! Tenang, Bro! Duda keren banyak yang ngincer, tau! Tuh, sugar baby pada nyariin sugar daddy. Seharusnya Sha yang lebih susah, Bang. Nanti Sha jadi janda two in one. Mesti berjuang keras lagi untuk dapetin cowok yang mau nerima Sha yang nanti berstatus janda anak satu,“ ucapnya enteng.

“Emangnya kamu nggak takut jadi janda?“

“Ya, mau gimana lagi? Memang keadaan Sha akan begitu nanti. Tapi, Sha percaya prinsip ini; Perawan memang menawan, tapi janda lebih menantang,” celetuk Danisha seenaknya sambil menaik-turunkan alisnya dan tersenyum lebar pada Satria.

Satria geleng-geleng kepala dan tersenyum masam mendengar ungkapan Danisha yang diutarakan seolah-olah tanpa beban dan rasa takut sedikit pun terhadap resiko yang bakal dia hadapi ke depannya nanti.

Begitulah Danisha yang Satria kenal, selalu menganggap remeh semua masalah. Bahkan persoalan yang menyangkut masa depannya pun dia hadapi dengan begitu santai.

“Pokoknya jangan sampai kesepakatan kita ini tercium sama mama papa dan Ibu Dewi. Bisa-bisa, Abang di gantung, lho, sama papa dan dicekek sama Bu Dewi.“ Danisha memperingatkan Satria dengan raut wajah serius.

Satria menggeleng dengan ekspresi wajah meringis ngeri sambil membayangkan dirinya benar-benar digantung oleh Pak Andri jika para orang tua mereka tahu tentang kesepakatan antara dirinya dan Danisha ini.

“Iya ya, digantung itu nggak enak ya, Sha. Rasanya sama kayak ditinggal pacar pas lagi sayang-sayangnya.”

“Abang nyindir Sha?“ tuduh Danisha seraya membelalakan kelopak matanya menatap geram pada Satria.

“Haa? Ohh, Hehehe! Sorry, Sha. Nggak ada maksud begitu. Swear, deh.” Satria mengangkat dua jari tangannya sambil cengengesan pada Danisha.

“Ntar Sha nggak jadi kawinin, Abang beneran digantung kayak jemuran lho, sama papa!” sewot Danisha seraya mengerucutkan bibir tipisnya dan melirik kesal pada Satria.

Pria berlesung pipi itu tertawa renyah menanggapi kekesalan adik angkatnya yang terkenal centil dan ceplas-ceplos itu.

Di matanya, tingkah Danisha sama-sekali tidak berubah, walaupun sedang berbadan dua akibat perbuatan laki-laki buaya, namun tetap saja ceria.

Tidak seperti kebanyakan gadis yang mengalami nasib serupa, yang pasti akan terus meratapi sesal.

Itulah yang dilihat oleh Satria pada diri Danisha. Selalu bersikap positif dalam menghadapi masalah. Gadis yang sudah tidak gadis ini benar-benar bermental baja. Satria maklum, gen Pak Andri, papa angkatnya itu menurun sempurna pada diri Danisha.

‘Freddy the Kampret! Liat nih hasil perbuatan lo! Semua orang jadi menderita. Gue, mama, papa dan sekarang kakak angkat gue, Satria. Tega lo ya, Pret! Liat aja, seandainya ketemu lagi ama lo, gue ceburin lo ke penangkaran buaya, biar lo ketemu ama semua sodara lo tuh!’  umpat Danisha di dalam batinnya, ketika membayangkan wajah Freddy sang kekasih hati yang kini entah dimana batang hidungnya. Pria tak bertanggung jawab yang pergi begitu saja meninggalkan benih berusia tiga minggu yang kini tumbuh subur di dalam rahim Danisha.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel