Bab 12 Surat Perjanjian
Ketukan dari luar pintu kamar disusul panggilan, membuat Gilda menyahut dari dalam. “Nyonya, tuan Mateo memanggil Nyonya untuk makan malam bersama di ruang makan,” lapor Mona yang masih di luar kamar Edzhar. Pelayan Mateo memang tidak berani membuka kamar, karena Gilda tidak memerintahnya.
“Aku sedang membaca, biarkan aku makan di kamar saja.” Gilda bangun dan mendekat ke pintu kamar. Lupa bahwa saat ini dia tidak memakai masker, Gilda yang hampir saja membuka pintu menepuk jidat. “Mona, tolong bawakan makananku ke sini saja, dan sampaikan maafku pada kakek karena aku tidak bisa turun ke sana sementara.”
Mona yang tidak curiga sama sekali dengan alasan Gilda, lantas membalas, “Baik, Nyonya. Saya sampaikan pada tuan Mateo kalau Nyonya ingin makan di kamar, saya permisi.”
Begitu merasa kondisi di luar pun sunyi, Gilda mampu bernapas lega. “Untuk sementara ini aku harus menutupi perbuatan Carla,” gumam Gilda di dalam hati dan melanjutkan kegiatan membacanya. Wanita itu juga buru-buru memakai masker jika Mona mendadak datang membawakan makan malamnya.
Benar saja, tidak sampai sepuluh menit Gilda menunggu kedatangan Mona, pintu kamar pun diketuk. Gilda mendatanginya dan segera membukakan pintu untuk Mona. Belum sempat Mona melangkah masuk, Gilda menyerobot nampan penampung semangkuk bakso dan segelas jus jeruk yang dibawakan Mona. “Biar aku saja yang membawa ini ke meja. Datanglah ke sini lima belas menit kemudian, Mona.”
“Mengapa Nyonya memakai masker? Apakah Nyonya sakit?”
“Mungkin akan flu, tidak perlu khawatir.” Sesudah itu Gilda mendorong pintu dengan lengan kanannya. Membuat Mona yang di luar mengerut bingung, namun memilih mengiyakan dan pamit pergi. Gilda membawa makanannya ke meja bekas tempat Edzhar meletakkan buku-buku semasa kuliah. “Aku harus makan cepat, apalagi sampai sekarang Edzhar belum pulang ... aku tidak mau dia tahu luka di pipiku.”
Melepas masker, Gilda menyantap makanan yang menyegarkan tenggorokan dan perutnya dengan lahap. Menu bakso sapi malam ini membuat suasana hatinya makin membaik setelah dirusak kala di pusat perbelanjaan. Dalam waktu sepuluh menit saja bakso semangkuk dan jus jeruk di atas nampan itu habis tak bersisa.
Gilda membasuh mulutnya di kamar mandi sebelum kembali memakai masker. Ia tinggal menunggu kedatangan Mona. Hingga suara pintu diketuk, membuat Gilda bangun dari kursi sembari membawa nampan. Dibukanya pintu itu dan Gilda segera mengucapkan terima kasih pada Mona.
Sebelum pintu ditutup kembali, Mona memerintahkannya untuk turun karena Mateo memanggilnya. “Tuan Mateo ingin membicarakan sesuatu pada Nyonya di ruang keluarga, Nyonya. Jadi, Nyonya harus turun,” jelas Mona yang menerbitkan rasa kaget dan waspada Gilda.
“Haruskah malam ini?”
“Iya, Nyonya. Tuan Mateo akan menunggu Nyonya sampai pukul delapan.” Baru menutup mulutnya, kedua wanita itu dikejutkan oleh kedatangan seseorang dari arah tangga. Sosok Edzhar datang sambil membawa tas laptop dan jaket hitamnya. Melihat masker di wajah sang tuan muda, Mona dengan refleks menanyakan, “Tuan juga terserang flu?” Dalam hati dia melanjutkan, “Apakah kalian memang berjodoh? Sampai-sampai sakit di hari yang sama.”
“Ini ... tidak, aku tidak flu.” Sesudah itu Edzhar melewati keduanya dan masuk ke kamar setelah membuka pintu di samping Gilda lebih lebar. “Kita akan turun ke ruang keluarga setelah aku mandi, Mona. Beritahu kakek untuk lebih sabar menunggu.”
“Baik, Tuan Edzhar. Saya turun dulu.” Mona bergegas pergi dari sana.
Sementara Gilda sudah ditarik masuk oleh Edzhar, setelah lelaki itu menutup pintu dengan salah satu kakinya. Gilda didudukkan di tepi ranjang. Sementara dirinya meletakkan laptop dan jaket di meja.
“Apa maksudmu menyuruhku duduk di sini?”
“Aku ingin kau menandatangani surat perjanjian,” jawab Edzhar tanpa menoleh ke arah Gilda. Dia saat ini tengah mengambil sesuatu dari dalam tas laptopnya.
“Surat perjanjian?”
Sambil memutar badan, Edzhar membenarkan. “Ya, surat perjanjian tentang pernikahan kita.” Melangkah ke arah Gilda, dan kala di hadapan sang istri, tangannya menyodorkan sebuah kertas. Kertas tersebut sudah diberi materai, bersama tanda tangannya di sana.
“Bacalah selagi aku mandi,” ucapnya yang membuat Gilda menatap kertas perjanjian tersebut dengan tatapan tak percaya.
“Perjanjian pernikahan?”
“Ya, bacalah baik-baik, setelah itu tandatangani.” Edzhar berlalu dari sana, masuk ke kamar mandi.
Sedangkan Gilda yang masih terkejut melihat judul surat perjanjian di tangannya, menutup mulut. Air matanya mendesak, ingin keluar. “Kau ingin pernikahan ini cuma sementara, Ed?” tanyanya masih tak percaya bersama air mata yang sudah menetes.
SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK
Yang bertanda tangan di bawah ini masing-masing:
Nama: Biantara Edzhar Martinez
Tempat tanggal lahir: Belalang, 11 Januari xxxx
Agama: A
Yang selanjutnya disebut sebagai Pihak Pertama (1)
Nama: Violetta Gilda
Tempat tanggal lahir: Capung, 11 Mei xxxx
Agama: A
Yang selanjutnya disebut sebagai Pihak Kedua (2)
Menerangkan bahwa Pihak Pertama (1) mengajukan pernikahan kontrak terhadap Pihak Kedua (2) selama satu tahun penuh. Yang sebelumnya telah menikahi pihak ke dua (2) pada tanggal 11 September xxxx dan akan diceraikan pada tanggal 11 September xxxx. Pihak Pertama wajib menafkahi Pihak Kedua dan Pihak Kedua berhak atas harta Pihak Pertama selama kontrak perjanjian berlangsung.
Kepada siapa pun tidak dibenarkan membatalkan kontrak selama kontrak masih berlangsung. Demikian surat perjanjian pernikahan kontrak ini dibuat dengan sebenarnya dan ditanda tangani dalam keadaan sadar tanpa ada unsur paksaan dan tekanan dari pihak mana pun serta dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Di bagian bawah surat perjanjian, Gilda dapat melihat tanda tangan Edzhar mengenai materai 10000 yang bersebelahan dengan tempat Gilda tanda tangan. Melihat itu, rasa sesak semakin menekan dadanya. Gilda yang sudah selesai membaca surat perjanjian kontrak di tangannya, menarik napas dan berusaha menguatkan diri.
Ia meraba perutnya sekilas. Lalu menatap kamar mandi, di mana sang suami berada. Gilda menaruh kertas perjanjian kontrak itu di atas meja, dan mengambil pena di sana. Tanpa pikir panjang lagi ia menandatangani dan menyimpan kertas tersebut ke dalam tas laptop Edzhar.
Tak lama, Edzhar pun muncul. Gilda yang mendengar langkah kaki, menoleh ke sumber suara. “Kalau menurutmu ini pilihan terbaik, aku ingin kau berhenti memperlakukanku sebagai istrimu. Jangan pernah sentuh aku.” Menatap tajam Edzhar yang baru saja keluar dari ruang ganti.
“Apa maksudmu?”
Gilda berjalan mundur saat tatapan Edzhar jatuh pada perut ratanya. “Tidak ada sentuhan apa pun, termasuk menyentuh perutku. Aku tidak ingin perasaanku padamu semakin tumbuh, karena ujung-ujungnya kita harus berakhir karena perjanjian bodoh itu.”
“Aku tidak yakin untuk itu.”
Gilda mengerutkan keningnya begitu tahu ada bekas kemerahan di pipi Edzhar seperti miliknya. “Ada apa dengan pipimu, Ed?” tanya Gilda kemudian.
