Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11 Memata-matai Carla

Gilda mengangguk mantap dan mempersilakan Mona untuk pulang lebih dulu. "Hati-hati di jalan, dan sampaikan pada kakek untuk tidak perlu cemas." Mona mengangguk dan melambaikan tangan.

Gilda terus memerhatikan Mona yang semakin keluar dari sini, dan di saat Mona sudah menghilang dari pandangannya, dahi Gilda membentuk lipatan. "Carla dan Kendrick?" tanya Gilda saat dua sosok yang jalan berdampingan itu hendak masuk ke gerai makanan di mana Gilda berada. Gilda tak pernah memutuskan pandangannya sampai Carla menyadari keberadaan Gilda.

"Wow!" Carla berjalan cepat dan memerhatikan buku yang sudah sempat dibaca Gilda, buku kehamilan. Ternyata kau sangat antusias dengan kehamilanmu dari hasil rencana kotormu, ya, Gilda?"

Gilda yang mendengar kata hamil, lantas menyentuh perutnya. "Apa yang kau bicarakan?"

"Jangan pura-pura tidak tahu!" Sebuah tamparan pun melayang, dan mendarat di pipi mulus Gilda sebelah kiri. Sopir Mateo yang kaget, lantas beranjak dari duduknya. "Kau sudah menjebak Edzhar malam itu, dan karena kau hamil, pernikahanku dibatalkan! Kau tidak jauh dari kata murahan, Gilda! Sahabat macam apa itu?! Murahan kau Gilda! Dasar pelacur!"

Saat tangan Carla terangkat lagi, sopir Mateo menahannya. Sementara Kendrick yang berada di belakang Carla, dengan sigap menarik pinggang Carla. "Semua orang di sini melihat kalian, Carla. Jangan sampai kau diusir security di sini juga!"

"Ayo, Nyonya Gilda! Mari pergi dari sini," ucap sopir Mateo tersebut yang sudah mengemasi paper bag milik Gilda dan sebuah buku yang berhasil memancing emosi Carla. Ia juga membantu Gilda berdiri dari kursi, juga membentengi sang nyonya dari tangan Carla yang hendak menarik rambut panjang Gilda.

Keduanya buru-buru berjalan keluar menjauhi gerai. Sambil memegangi pipinya yang panas, Gilda mengatakan, "Tolong jangan beritahu kakek tentang ini. Cukup kita saja yang tahu kejadian barusan." Sopir itu tidak menjawab, hanya melirik ke arah pipi Gilda yang mulai memerah. Setelah itu Gilda mengambil masker dari dalam tasnya, memasang masker tersebut untuk menutupi wajahnya, sekaligus bekas tamparan keras dari Carla.

"Nyonya tidak ingin melaporkan ini pada pihak berwajib?" Mendengar pertanyaan itu Gilda yang sudah memakai masker menggeleng. "Nyonya bisa melakukan visum dan melaporkan kejadian ini, saya juga akan membantu mengumpulkan bukti tambahan melalui kamera CCTV yang ada di tempat makan tadi, Nyonya."

"Tidak, tidak perlu. Aku tidak mau masalah ini sampai ke kakek, terlebih lagi diperpanjang sampai melapor," jawab Gilda yang matanya sudah berkaca-kaca. "Tidak perlu lapor siapa pun, karena kejadian ini tidak akan terjadi kalau aku tidak menikah dengan Ed, dan aku juga salah di sini."

"Maafkan saya karena kurang cepat menjauhkan tangannya, Nyonya."

"Tidak apa-apa, aku juga tidak sadar kalau dia akan menamparku secepat itu." Gilda memegang perutnya, menunduk, dan menangis dalam diam. "Yang terpenting janinku baik-baik saja," sambung Gilda membatin.

*

Di toko roti, Gilda duduk di sofa yang menempel pada dinding hampir di sudut ruangan. Dengan sebuah buku seputar kehamilan menemani, tangan satunya yang tidak memegang buku dipakai untuk mengoles salep berupa gel ke pipi. Bekas tamparan dari Carla sanggup menciptakan rasa nyeri dan sedikit bengkak.

Tidak ada ringisan yang keluar dari bibir Gilda dan sudah dua puluh menit di sana. Berhenti membaca, Gilda memikirkan beberapa rencana agar Mateo tidak bisa melihat bekas tamparan itu. Sebelumnya, Gilda harus tahu dulu apakah Mateo sudah di rumah atau belum.

Ia pun menghubungi Mona, dan tak butuh waktu lama bunyi ponsel pertanda pesannya dibalas, terdengar. Meletakkan bukunya, Gilda menggapai handphone yang bersebelahan dengan salep di atas meja.

Mona: Tuan Mateo belum datang, Nyonya. Ada apa Nyonya bertanya? Apakah Nyonya ingin pulang lebih lama lagi? Jika iya, maka saya akan kena marah tuan Mateo, Nyonya.

Melihat jawaban dari pesan Mona, Gilda bangun dari sofa dan menyampirkan tali tas ke bahu. "Kebetulan kakek sedang di luar, aku harus pulang mendahului kakek agar luka ini tidak dilihat," ucap Gilda yang langsung memasukkan salep dan ponselnya ke dalam tas dan segera keluar dari ruang istirahat. Buku kehamilan di tangannya bersama masker yang kini mulai dipakai.

Di perjalanan menuju rumah Mateo, Gilda tak berhenti meremas-remas tangannya sambil mengamati sopir kepercayaan kakek mertuanya. "Tolong sembunyikan kejadian di mall tadi dari kakek," pinta Gilda masih melihat sopir yang meliriknya dari kaca. "Sekali ini saja, aku mohon padamu cuma sekali."

"Apakah Nyonya tahu? Nyonya terlalu memikirkan perasaan orang lain sampai rela mengorbankan perasaan Nyonya sendiri."

Gilda merasa tertampar lagi, namun kali ini hatinya yang terasa nyeri. Ucapan sopir Mateo membuat perasannya tersentuh. Dengan tersenyum sedikit lebar Gilda menjawab, "Aku begini karena aku merasa bersalah, dosaku terlalu besar. Aku menghancurkan hubungan sahabatku sendiri."

"Apa Nyonya yakin kekasih tuan Edzhar yang menampar Nyonya tadi benar-benar tulus mencintai tuan Edzhar?" pertanyaan sang sopir yang kini fokus menyetir itu membuat mulut Gilda terkunci.

Kali ini Gilda tidak bisa menjawab, dia belum bisa memastikan kebenaran itu walaupun ia curiga dengan hubungan Kendrick dan Carla. Harus mencari bukti dan itu tandanya ia harus mengawasi Carla, sementara hubungannya bersama Carla sekarang sudah terputus. Tidak mungkin ia menanyakan perihal hubungan Carla dengan Kendrick secara langsung, walaupun yakin mereka berdua lebih dari sekadar teman.

"Apakah kau mengenal Kendrick?"

"Ya, tentu saja saya mengenalnya, Nyonya. Dia adalah adalah kakak sepupu tuan Edzhar dari pihak ibu. Kakak dari nyonya Lexa merupakan ibu dari tuan Kendrick."

"Lalu, bagaimana hubungan Kendrick dengan Edzhar? Apakah sebelumnya kau pernah melihat mereka bertengkar? Maksudku, bertengkar karena soal perempuan, apakah pernah?"

Sang sopir menggeleng, dan hal itu membuat helaan napas panjang Gilda terdengar. "Apakah Nyonya sudah mengetahui sesuatu mengenai tuan Kendrick dan nyonya Carla?" Gilda menatapnya, dan sopir Mateo lantas melihat ke kaca setelah mobil mereka berhenti di lampu merah. "Mendengar pertanyaan Nyonya tadi, saya merasa Nyonya seperti mengetahuinya."

Gilda mengingat-ingat lagi saat dirinya bertemu Kendrick dan mengobrol di hari lamaran Edzhar dan Carla. "Aku tidak begitu yakin, tapi Kendrick pernah mengaku padaku bahwa dia sakit hati melihat pertunangan Ed dan Carla saat itu. Sayangnya, aku tidak merekam apa pun dan menanyakan lebih lanjut hubungannya dengan Carla."

Sopir Mateo mengangguk paham. "Jika saya amati sejauh ini, nyonya Carla terlalu pandai menyimpan rahasia."

"Ya, selama aku mengenal dan berada di sekitarnya bersama Ed, dia terlihat tulus. Aku sama sekali tidak menaruh curiga bahwa dia akan berselingkuh di belakang Ed." Lampu lalu lintas yang berubah warna menjadi hijau, seakan memerintah mobil mereka melaju. "Apa kau mau membantuku memata-matai Carla? Aku tidak ingin Ed terluka terlalu lama."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel