Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pisah Ranjang

"Berikan minuman ini pada dia!" Natasha menunjuk ke arah Sandra yang tengah mengobrol dengan beberapa dosen di sana. 

Pada malam itu, merupakan acara pesta ulang tahun kampus yang diadakan di The Golden Hotel. Di mana para mahasiswa-mahasiswi juga diundang untuk meramaikan acara tersebut. 

Namun, rupanya malam itu juga malam di mana Natasha yang tak lain adalah selingkuhan Gery—suaminya Sandra berniat menjebak Sandra dengan memberikan obat perangsang. 

Sebab ia mencintai Gery. Namun, lelaki itu tak kunjung menceraikan Sandra entah alasannya apa, ia pun tidak tahu. Yang ia tahu hanyalah Gery harus menjadi miliknya.

"Minumnya, Mba. Silakan!" ucap pelayan hotel yang diperintahkan oleh Natasha membawa minuman itu kepada Sandra. 

"Terima kasih!" ucapnya sembari mengambil minuman itu. Tampak segar, Sandra lantas meneguk minuman tersebut. Memang pada dasarnya semua orang yang ada di sana pun diberi minuman yang sama yang diminum oleh Sandra. Hanya saja, minuman yang diminum oleh Sandra sudah diberi obat perangsang oleh Natasha. 

'Kenapa badanku terasa panas?' ucapnya dalam hati. Setelah lima menit meminum minuman tersebut, efeknya mulai terasa. 

'Ada apa ini? Sepertinya minuman itu sudah diberi obat perangsang.' Sandra langsung menyadarinya. Ia kelimpungan. Perempuan itu lantas mengedarkan matanya, meminta tolong kepada seseorang yang mau membantunya. 

"Gerald. Tolong aku, aku mohon,” ucapnya memohon sembari menatap Gerald. Ia menghampiri Gerald—salah satu pria yang ia kenali sejak masih sekolah tujuh tahun yang lalu.

"Prof! Profesor Sandra kenapa?" tanya Gerald panik. 

"To—tolongin aku, Gerald."

"Ya udah bilang. Apa yang sedang kamu rasakan? Kenapa wajahmu memerah dan ... keringat dingin?" tanya Gerald lagi. Sungguh, lelaki itu sangat penasaran juga khawatir kepada perempuan yang sudah ia cintai selama tujuh tahun itu. Tidak pernah tergantikan, meskipun ia tahu bila Sandra sudah memiliki suami.

"Ada yang memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku. Aku mohon, Gerald. Tuntaskan. Aku hanya percaya pada kamu." Mata itu menatap sayu, memohon agar Gerald mau menuntaskan tubuh Sandra yang sudah tak karuan itu. 

Gerald menelan salivanya dengan pelan. Ia kemudian menatap Sandra lagi dengan lekat. "Di mana, minuman itu?" tanyanya seraya menahan tangan Sandra yang sudah tidak bisa tenang.

Sandra menunjuk gelas di sampingnya dengan tangan gemetar. Gerald lantas mengambilnya dan meneguk sisa minuman itu. 

Mata Sandra membola. "Gerald. Apa yang kamu lakukan?" tanyanya terkejut. 

Gerald menghela napasnya dengan panjang. "Agar suhu tubuh kita sama. Aku belum pernah melakukannya, Sandra."

Malam itu juga, Gerald membawa Sandra menuju apartemen miliknya. Di mana lelaki itu akan menuntaskan gairah yang tengah dirasakan oleh Sandra. 

“Kita mau ke mana, Gerald?” tanyanya seraya menahan suhu panas dalam tubuhnya itu. 

“Apartemenku,” ucapnya seraya menahan gairah yang sudah memuncak dalam dirinya. Walau hanya minum sedikit saja, rupanya efek dari obat itu membuat Gerald menjadi tidak karuan. 

“Sial!” umpatnya karena lampu lalu lintas berwarna merah. Ia pun menarik tubuh Sandra dan meraup bibir itu dengan penuh. Tangannya menyelinap di bawah sana dengan erangan yang membuat Gerald semakin menggila. 

Klakson berbunyi dengan kerasnya di belakang sana. Meminta agar Gerald segera melajukan mobilnya. 

Sampai akhirnya mereka tiba di dalam apartemen. Gerald menatap Sandra yang sudah membuka seluruh pakainnya lantaran panas yang sudah tidak karuan itu. 

“Sandra. Kamu yakin?” tanyanya seraya menatap Sandra dengan penuh.

Perempuan itu mengangguk. “Gerald. Sejak masih sekolah dulu, kamu selalu membantuku. Kenapa, untuk saat ini kamu tidak bisa? Banyak pria yang bisa aku mintai tolong. Tapi, hatiku hanya tertuju pada kamu. Gery tidak ada di rumah, entah ke mana aku pun tidak tahu. Please, Gerald.  Aku bisa mati kalau harus menahan panasnya tubuhku ini." Sandra merintih pelan seraya menatap Gerald. 

“Kamu bisa telepon suami kamu. Minta dia yang menuntaskannya. Di mana rumahmu?"

Sandra menggeleng pelan. “Sudah tidak ada waktu lagi. Jauh, Gerald. Gery tidak akan mau diganggu kalau sudah keluar." Sandra kemudian meraup bibir Gerald lantaran nafsunya sudah tak terkendali. 

Gerald yang sama tengah liar itu lantas membawa Sandra ke atas tempat tidur. Sembari membuka seluruh pakaian yang ia kenakan, Gerald enggan untuk melepaskan tautannya. 

Malam semakin larut. Hujan turun dengan derasnya di luar sana. Pacuan yang dilakukan Gerald, untuk pertama kalinya ia merasakan senggama itu dengan perempuan yang cinta selama ini. 

Matanya menatap Sandra yang tengah mengeluarkan desahan. Gerald memejamkan matanya sekejap. Hal gila yang sama sekali tidak pernah ia lakukan harus ia lakukan. Menyetubuhi milik orang lain merupakan suatu kesalahan yang amat besar. 

Namun, jikalau dia menolak permintaan Sandra, bukankah dia sudah membiarkan permatanya mati tak berdaya? 

Gerald mengecup kening perempuan itu dengan lembut. Ada rasa kecewa dan bahagia beradu menjadi satu dalam diri lelaki itu. Ia bukan merenggut kesucian wanita itu. Hanya merenggut kekuasaan milik suami dari Sandra. 

“Gerald?” panggil Sandra dengan pelan.

Gerald menatap perempuan itu mata penuh gairah. Rasa bersalahnya ia singkirkan terlebih dahulu. Lebih baik segera mengakhiri semuanya agar tubuh Sandra tidak tersika lagi oleh obat sialan itu. 

Tangan itu meraih pucuk kembar itu dan mengusapinya dengan lembut. Belum pernah melakukannya bukan berarti ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Tak ada satu pun yang dia lewatkan termasuk menyesap dengan lembut pucuk merah muda itu. 

Suara lenguhan pun keluar dari bibir perempuan itu. Tidak pernah ia sangka akan mendapatkan perlakuan lembut seperti ini dari Gerald. 

‘Kenapa aku menyukainya? Bukankah ini kesalahan yang amat besar? Bukankah aku akan mendapat hukuman, jika Gery tahu apa yang telah aku lakukan di belakangnya.’ Sandra tidak bisa memungkiri jika permainan yang dilakukan oleh Gerald begitu lembut dan manis.

“Maaf, Sandra. Aku belum pernah melakukannya. Jangan kecewa. Aku hanya ingin menuntaskan hasrat kamu saja,” ucapnya kemudian menarik miliknya setelah melepaskan pelepasannya. Ia kemudian duduk di samping Sandra seraya menatap perempuan itu dengan wajah rasa bersalahnya. 

“Tidak apa-apa, Gerald. Terima kasih, kamu tidak perlu minta maaf. Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah meminta kamu unt—“

Gerald menutup bibir perempuan itu dengan jari tengahnya. “Tidak masalah,” ucapnya kemudian segera mengenakan pakaiannya lagi. “Kalaupun kamu hamil, bukankah itu anaknya suami kamu? Kita baru melakukannya sekali," tanyanya seraya menatap wajah Sandra yang sudah berantakan karena ulahnya. 

Sandra menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Sudah tiga bulan ini, aku dan Gery pisah ranjang.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel