Masih Pengen?
“APA?” Mata itu lantas membola mendengar ucapan perempuan itu. “Ke—kenapa bisa … pisah ranjang?” tanya Gerald kemudian.
Sandra menghela napas pelan. Matanya menatap Gerald dengan rasa bersalahnya. “Kamu tidak tahu kehidupanku setelah menikah bagaimana, Gerald. Tapi, aku tidak ingin menceritakan semuanya pada kamu karena tidak mau dianggap aji mumpung.”
Gerald tersenyum miring. “Kenapa bilang kayak gitu? Oke! Aku akan bertanya supaya kamu mau menjawabnya.” Gerald menatap perempuan itu dengan jarak yang cukup sangat dekat. “Kenapa, kamu pisah ranjang dengan suami kamu?” tanyanya dengan serius.
Sandra menghela napasnya. Tubuhnya ia tutupi dengan selimut sembari memeluk kedua lututnya.
“Gery menjual wahana kolam renang milik papanya itu dan aku tidak tahu alasannya. Hingga saat ini dia masih menganggur, tidak mau mencari pekerjaan. Aku, yang jadi tulang punggungnya.”
Gerald memijat keningnya kemudian menghela napasnya. “Kenapa tidak kamu ceraikan saja? Tanggung jawab yang harus menafkahi, tulang punggung keluarga itu suami, bukan kamu.”
Sandra menggeleng pelan. “Dia bisa membunuhku kalau aku menggugat cerai dia. Aku sudah pernah memintanya untuk menceraikan aku jika memang sudah tidak ada lagi yang harus kami pertahankan. Anak tidak ada, uang pun sudah tidak punya. Dan kamu tahu … apa yang dikatakan oleh Gery?”
Gerald mengangkat wajahnya. “Apa?” tanyanya kemudian.
Sandra menghela napas kasar. “Kembalikan semua uang yang sudah dia berikan. Biaya kuliahku dan semuanya.”
Gerald tersenyum miring lagi. Ia pun menatap Sandra dengan tatapan lekatnya. “Jangan mau jadi kacung, Sandra. Berapa, uang yang harus kamu kembalikan pada dia?”
Sandra menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Itu hanya alasan dia saja, Gerald. Sebenarnya dia tidak ingin menceraikan aku.”
“Masih cinta?”
Sandra menggeleng pelan. Ia pun tak tahu apa yang menyebabkan Gery enggan untuk menceraikannya.
“Ada harapan, semoga Gery bisa berubah?” tanya Gerald lagi.
Sandra menggeleng lagi. “Tidak tahu.” Matanya menatap Gerald kemudian menitikan air matanya.
Pria itu lantas memeluknya. Mengusapi punggung perempuan itu dengan lembut seraya menelan salivanya dengan pelan. “It’s oke. Jangan terlalu dipikirkan. Semuanya akan berlalu seiring jalannya waktu.”
Sandra menganggukkan kepalanya dengan pelan. “Terima kasih, Gerald. Terima kasih untuk semuanya.”
“Sama-sama,” ucapnya kemudian menatap perempuan itu dengan lekat. “Jadi, kalau seandainya hamil, itu anak aku? Aku nggak pakai apa-apa, kejadian tadi sangat mendesak, dan … aku mengeluarkannya di dalam.” Gerald mengecilkan suaranya di kalimat terakhirnya.
“Tidak usah berpikir jauh dulu, Gerald. Kita hanya melakukannya sekali. Mana mungkin hamil.”
“Iya sih. Lima tahun dengan Gery saja tidak membuat kamu ham—“
“Karena dijaga. Aku tidak ingin memiliki anak dengannya sebelum dia berubah.” Sandra menyela ucapan lelaki itu.
Gerald menelan saliva lagi. Banyak hal yang ingin dia ketahui tentang kehidupan pribadi Sandra. Hanya saja, dia tidak memiliki kewenangan untuk hal itu.
“Syukurlah kalau begitu. Aku mandi dulu. Kamu … mau mandi? Biar aku siapkan air hangat.”
Sandra mengangguk pelan. Gerald kemudian mengulas senyum tipis lalu masuk ke dalam kamar mandi. Hendak membersihkan diri terlebih dahulu sembari menyiapkan air hangat untuk Sandra.
“Aku akan mengeluarkan kamu dari penjara itu, Sandra. Perempuan baik sepertimu tidak pantas mendapatkan siksaan yang dilakukan oleh suami kamu sendiri,” ucap Gerald seraya mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Ia berjanji, akan mengeluarkan Sandra apa pun masalah yang harus dia hadapi. Cinta itu, semakin tumbuh dan akan mengambil Sandra dari cengkaraman kuat lelaki tak bertanggung jawab, yang malah menjadikan Sandra sebagai tulang punggungnya. Diminta membayar semua uang yang sudah dia berikan kepada perempuan itu.
**
Waktu sudah menunjuk angka tujuh pagi. Pada malam itu juga, Gerald mengantar pulang Sandra ke rumahnya. Kini, akhirnya ia tahu alamat tempat tinggal Sandra setelah sekian lama selalu ia tanyakan di mana keberadaan perempuan itu.
Seperti biasanya, Sandra menyiapkan sarapan pagi untuknya dan suaminya. Namun, ia tidak berani membangunkan lelaki itu jika bukan dia sendiri yang sudah ingin bangun.
“Pulang jam berapa kamu?” Gery sudah bangun, kemudian duduk di depan Sandra yang tengah makan.
“Jam sebelas, Mas. Kamu sudah tidur, makanya tidak tahu jam berapa aku pulang,” ucapnya pelan.
Gery menatap Sandra dengan tatapan yang cukup tajam hingga membuat perempuan itu sedikit ketakutan. Ditambah, ia baru saja melakukan kesalahan yang cukup fatal jika dirinya tahu kejadian semalam.
“Aku berangkat dulu, Mas.”
“Uang mana, uang?”
Sandra mengambil dompet miliknya. Namun, Gery mengambilnya dengan merampas seperti copet. Mengambil semua uang yang ada di dalam dompet tersebut.
“Mas, Mas. Jangan diambil semua. Aku tidak ada tabungan lagi. Hanya itu yang aku punya, aku mohon.”
“Aaah! Banyak alasan. Aku tahu duit kamu banyak. Dua hari yang lalu, kamu baru saja menerima incentive dari kampus. Jangan berbohong kamu, Sandra!” teriaknya kemudian melempar dompet tersebut tepat di wajah perempuan itu.
Sandra hanya bisa mengelus dada. Dulu, Gery tidak seperti ini. Namun, setelah ayahnya meninggal dunia, sikap kejam dan keras Gery semakin tak karuan.
Ia kemudian menitikan air matanya. Mengambil dompet tersebut dan memasukkannya ke dalam tasnya. Melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu. Rumah yang mereka tinggali cukup besar. Namun, tidak ada kebahagiaan yang terpancar di sana.
“Uangku sisa lima puluh ribu. Bagaimana ini? Naik apa, aku ke kampusnya?” gumamnya seraya memegang uang yang tersisa di dompet itu. Itu pun karena terselip hingga tak terlihat oleh Gery.
Sandra menghela napasnya. Ia kemudian memberhentikan taksi, berharap cukup sampai kampus hanya dengan uang lima puluh ribu.
Setibanya di depan kampus. Sandra melihat tariff yang berjalan di depannya itu. Ia kemudian menghela napas lega lantaran hanya membutuhkan tiga puluh ribu saja.
“Syukurlah. Setidaknya ada untuk makan siang,” gumamnya sembari melangkahkan kakinya menuju kampus.
“Selamat pagi, Bu Profesor,” sapa Joseph kemudian menerbitkan senyum nakalnya.
“Pagi,” ucapnya pelan. “Nggak sama teman kamu?” tanyanya menanyakan Gerald.
“Gerald? Noh! Ada di belakangmu!”
Sandra lantas membalikan badannya dengan cepat. Sungguh, perempuan itu sangat terkejut kala melihat Gerald yang tengah berdiri di belakangnya tadi.
“Aku kira, Ibu nggak bakal datang. Ternyata datang juga.”
Sandra menghela napas pelan. “Sebentar lagi jam masuk.”
Gerald mengangguk. “Sampai jumpa di kelas, Prof!” ucapnya kemudian mengulas senyum kecil.
Gerald merangkul pundak Joseph dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelasnya.
“Kali pertama elo masuk ke dalam, apa yang elo rasakan? Masuk ke dalam kehidupan orang yang elo cinta sejak dulu.” Joseph ingin tahu kejadian tadi malam.
Gerald mengendikan bahunya. “Nggak tahu. Gue nggak terlalu menikmatinya. Nggak ada persiapan sama sekali. Semuanya terjadi gitu aja.”
“Tapi, masih pengen?”
“Gila, lo!” umpatnya kesal.
Joseph lantas tertawa. “Jangan munafik lo, Gerald. Jujurlah padaku!”
Gerald lantas memukul kepala sahabatnya itu lantaran kesal. “Bini orang, begok.”
“Yaa nggak masalah sih kalau menurut gue. Kelihatan kok, kalau Profesor Sandra suka, sama elo.”
