BAB 4
Bau gosong samar mendadak tercium dari sudut sauce station.
Aroma pahit daging terbakar itu menyeruak cepat, merusak wangi gurih kaldu dan mentega yang memenuhi dapur Aether. Valerie yang sedang menimbang bumbu di meja tengah langsung menghentikan gerakan tangannya. Matanya memicing tajam, berputar mencari sumber bau beracun yang bisa merusak seluruh persiapan pagi.
Tatapannya terkunci pada panci tembaga raksasa di area saus. Di sana, Brandon berdiri mematung dengan wajah pucat pasi seperti mayat.
“Brandon, apa yang terjadi dengan demi-glace itu?” tanya Valerie seraya bergegas melangkah menghampiri koki muda tersebut.
“S-Sous Chef ... saya ...” suara Brandon bergetar hebat, jemarinya memegang sendok kayu dengan sangat erat.
Valerie menyambar lap basah, melapisi tangannya, lalu mengangkat tutup panci tembaga itu. Kepulan asap hitam tipis membumbung keluar, membawa bau gosong yang makin menyengat indra penciuman. Dasar panci berkapasitas lima puluh liter itu sudah menghitam sempurna, merusak seluruh stok saus dasar yang ditimang selama dua belas jam terakhir.
“Kamu tinggalkan kompor ini dalam keadaan api besar?” tanya Valerie dengan nada tertahan, berusaha mengontrol kepanikan.
“Saya cuma keluar sebentar untuk mengambil stok bahan di pendingin belakang, Chef,” cicit Brandon ketakutan. “Saya pikir apinya sudah saya kecilkan.”
“Stok saus ini butuh waktu masak dua belas jam, Brandon,” bisik Valerie penuh penekanan. “Restoran buka tiga jam lagi. Kita tidak punya cadangan saus untuk hidangan utama malam ini!”
“Saya bisa coba saring bagian atasnya yang belum gosong, Chef,” usul Brandon panik dengan tangan gemetar.
“Pahitnya sudah meresap ke seluruh kaldu, Brandon,” tegas Valerie menahan emosi. “Satu tetes saus ini tersaji, reputasi Aether hancur.”
“Saya benar-benar minta maaf, Chef Valerie,” bisik Brandon dengan mata mulai berkaca-kaca. “Saya panik karena stok bahan lain belum siap.”
“Minta maaf tidak akan membuat cairan gosong ini kembali jadi kaldu gurih,” balas Valerie menatap panci tembaga di depannya.
Sebelum Brandon sempat menjawab lagi, langkah kaki bertekanan berat terdengar mendekat dari arah koridor utama. Sosok Adrio muncul dengan mata menyipit tajam. Udara di sekeliling station saus mendadak membeku seketika.
“Bau sampah apa ini?” tanya Adrio dengan suara datar yang amat mengerikan.
Tidak ada satu koki pun di ruangan itu yang berani menjawab. Brandon makin menundukkan kepalanya, tubuhnya gemetar makin hebat di bawah intimidasi sang Executive Chef.
Adrio melangkah menuju panci tembaga. Ia melirik isi panci yang menghitam, lalu menatap Brandon dengan pandangan menghancurkan.
“Kamu yang bertanggung jawab atas station ini pagi ini?” tanya Adrio dingin.
“Saya, Chef Adrio ... maafkan saya,” bisik Brandon dengan suara hampir tak terdengar.
“Kamu tahu berapa lama proses pembuatan kaldu dasar ini?” tanya Adrio lagi, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
“Dua belas jam, Chef,” jawab Brandon gemetar.
“Dua belas jam kerja keras tim dibuang ke tong sampah cuma karena kamu tidak bisa memutar tombol kompor dengan benar?” bentak Adrio tiba-tiba, suaranya menggelegar menghantam dinding dapur.
Seluruh koki di station lain menghentikan aktivitas mereka seketika, terpaku melihat kemarahan Adrio.
“Saya tidak bermaksud merusaknya, Chef,” cicit Brandon mengusap keringat dingin di lehernya.
“Sengaja atau tidak, hasilnya tetap sama. Kamu tidak berguna di dapur ini!” seru Adrio menunjuk muka koki junior itu dengan ujung telunjuknya. “Lepaskan apronmu sekarang juga. Kamu dipecat.”
“Chef Adrio, tolong berikan saya kesempatan ...” mohon Brandon dengan suara tercekik.
“Buka apronmu dan keluar dari dapur saya sebelum saya panggil keamanan untuk menyeretmu!” potong Adrio tanpa kompromi.
“Tunggu, Chef Adrio!” sela Valerie mendadak, melangkah mantap berdiri tepat di antara Adrio dan Brandon yang ketakutan.
Adrio mengalihkan tatapan tajamnya pada sang Sous Chef. “Jangan berani-berani memotong keputusan saya, Valerie.”
“Langkah memecat Brandon saat ini tidak akan menyelesaikan masalah saus kita yang habis,” kata Valerie lugas menatap lurus mata atasannya.
“Dia merusak stok utama kita untuk service malam ini!” tegas Adrio. “Dia tidak pantas memakai seragam Aether!”
“Kesalahan ini terjadi karena pengawasan saya yang kurang ketat sebagai Sous Chef,” tangkis Valerie mengambil alih kesalahan. “Saya yang memegang kendali atas operasional station saus pagi ini.”
“Kamu mau pasang badan lagi untuk anak baru yang tidak bisa kerja ini?” cibir Adrio dengan nada beracun.
“Saya bertanggung jawab atas operasional dapur secara keseluruhan saat persiapan,” balas Valerie tak gentar. “Jika ada yang harus dipersalahkan atas kurangnya pengawasan, itu adalah saya.”
“Jangan cari penyakit, Valerie,” ancam Adrio rendah. “Saya bisa saja mencopot posisimu hari ini juga kalau kamu terus melindungi kelalaian fatal seperti ini.”
“Posisikan saya di mana saja yang Anda mau, Chef,” ujar Valerie rasional. “Tapi memecat koki di tengah jam persiapan tidak akan menghasilkan saus baru.”
“Lalu apa rencanamu, Sous Chef?” tantang Adrio penuh intimidasi. “Kamu mau menyajikan saus arang ini kepada tamu VIP kita?”
“Saya akan meracik ulang saus pengganti dari awal,” kata Valerie mantap.
Adrio terkekeh sinis, sebuah tawa kering yang menusuk telinga. “Racik ulang dari awal? Kamu gila? Kita cuma punya waktu tiga jam sebelum pintu depan dibuka!”
“Saya tahu teknik mengepres konsentrasi kaldu dengan teknik quick reduction menggunakan ekstrak bahan segar,” terang Valerie detail. “Rasanya tidak akan kalah jauh dari demi-glace tradisional.”
“Teknik itu berisiko tinggi membuat rasa saus menjadi terlalu asam atau pekat jika apinya tidak stabil,” ujar Adrio menilai.
“Saya yang akan memegang kompornya secara langsung,” tegas Valerie. “Saya jamin saus itu siap tepat waktu sebelum service dimulai.”
“Bagaimana kalau kamu gagal?” tanya Adrio memiringkan kepalanya, menatap Valerie dari atas ke bawah.
“Jika saus itu tidak layak diuji di meja pemeriksaan Anda sebelum jam lima sore, saya siap menerima sanksi apa pun,” jawab Valerie mantap.
Adrio menatap Valerie selama beberapa saat, mencari keraguan di wajah wanita itu. Keheningan pekat kembali melingkupi dapur saat seluruh staf menantikan keputusan sang pimpinan puncak.
“Kamu terlalu yakin dengan kemampuan teknismu, Val,” gumam Adrio pelan.
“Saya yakin dengan standar kerja yang saya pegang,” balasan Valerie tanpa keraguan.
“Saus pengganti dalam tiga jam membutuhkan tingkat presisi tanpa cela,” tegasi Adrio.
“Saya siap membuktikannya di atas kompor sekarang juga,” tantang Valerie.
Adrio berbalik menatap Brandon yang masih berdiri gemetar di belakang Valerie. “Kamu, bersihkan panci gosong itu sampai mengkilap seperti baru. Kalau ada sisa kerak sedikit saja, kamu tetap saya lempar keluar.”
“B-baik, Chef! Terima kasih banyak, Chef Adrio!” sahut Brandon terburu-buru meraih kain lap dan sikat kawat.
“Kembali bekerja semuanya!” perintah Adrio keras pada staf lain yang langsung berhamburan kembali ke station masing-masing.
Valerie menghela napas panjang yang tertahan sejak tadi. Ia berbalik menuju area penyimpanan bahan baku, mengambil panci stainless steel baru berukuran besar, lalu meletakkannya di atas kompor utama. Ia menyalakan api bertekanan sedang, membiarkan permukaan logam panci mulai menghangat.
“Siapkan potongan mirpoix dengan ketebalan tipis, Brandon,” panggil Valerie seraya memotong bahan. “Kita butuh ekstraksi rasa sayuran lebih cepat dari biasanya.”
“Siap, Chef Valerie. Saya potong sekarang,” jawab Brandon bergegas membawa papan pemotong.
“Perhatikan apinya, jangan biarkan mentega kecokelatan terlalu cepat,” petunjuk Valerie lagi. “Kita tidak boleh mengulang kesalahan yang sama.”
Jemarinya meraih pisau chef yang tajam dan mulai memotong bawang bombai dengan kecepatan mengagumkan. Suara ketukan pisau pada papan kayu terdengar konstan dan teratur.
Langkah kaki halus terdengar mendekati posisinya dari arah belakang. Valerie tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di sampingnya saat aroma kayu cendana bercampur minyak zaitun menyengat hidungnya.
Adrio mengulurkan tangannya dari belakang, secara mengejutkan menangkap jemari Valerie yang sedang memegang gagang pisau.
Sentuhan kulit pria itu terasa hangat dan posesif. Valerie menegang seketika, menghentikan irisan pisaunya di atas papan pemotong. Punggungnya menempel rapat pada dada bidang Adrio yang mengurungnya dari belakang.
Adrio merampas pisau dapur itu dari genggaman Valerie dengan gerakan lambat namun dominan. Pria itu meletakkan pisau tersebut di atas papan pemotong kayu. Ia menundukkan kepala, membiarkan bibirnya hampir menyentuh daun telinga Valerie. Hembusan napas hangatnya menyapu kulit leher wanita itu, mengirimkan sensasi desir aneh yang membakar saraf.
“Saya berikan kamu waktu tiga jam,” bisik Adrio tepat di telinga Valerie, suaranya begitu rendah dan berbahaya. “Kalau gagal, kamu dan anak baru itu keluar dari dapur ini bersamaan.”
