7. Mantan Rese
**
Aku memerlukan pekerjaan ini. Tabunganku belum cukup besar untuk resign, untuk memberikan sebagian penghasilan pada emak. Aku punya mimpi sendiri. Menjadi bisnis woman. Aku tak mau mengandalkan penghasilan suami. Meskipun nanti kalau menikah dengan Ridwan, aku berkecikupan. Ada emak yang harus kuurusi. Beliau janda. Ada mimpi juga yang dulu ingin kuwujudkan.
"Rosi! Dipanggil Pak Abda!" teriak Sida dari pintu ruangan.
"Ada apa, ya?" Aku mengerutkan dahi
"Meneketehe!" Sida membalas dengan ucapan yang sering kulontarkan. Lalu dia ngeloyor ke ruang marketing.
Deg!
Jantungku berdetak lebih kencang.
Ada apa ya, Pak Abda memanggil?
Aku melangkah ke ruangan Pak Abda dengan hati tak karuan. Semoga ini kabar baik!
"Masuk!" Terdengar sahutan ketika aku mengetuk pintu.
"Silakan duduk, Rosi."
Dengan canggung, aku duduk di depan meja Pak Abda.
"Nah, Rosi. Langsung saja ya. Pak Ridwan mengatakan pada saya, akan menikah..." Pak Abda menjeda ucapannya, lalu menatapku dengan senyum. "Saya tidak menyangka, calon isterinya adalah kamu."
Aku tercekat kaget. Ah, ternyata Ridwan sudah memberitahu pak Abda.
"Semalam Pak Ridwan bertandang ke rumah saya. Beliau berpesan, jangan sampai karyawan lain tahu. Takut ada kehebohan."
Aku mengembuskan napas pelan. Ada yang nyempil tak enak di dada sini. Ternyata masih ada rahasia yang harus dijaga dari pegawai lain.
"Ba-bapak tidak apa-apa, kan?" tanyaku gugup.
"Saya pribadi tidak masalah. Status Pak Ridwan bukan sebagai karyawan di sini. Jadi posisimu aman. Beliau hanya penanam modal saja. Hanya saja, jangan sampai ada masalah pribadi berimbas pada jalannya perusahaan. Jadi saya harap Pak Ridwan dan kamu, bersikap profesional di kantor. Jika ada masalah, jangan dicampur adukkan dengan kebijakan di perusahaan," papar Pak Abda bijak.
"Baik, Pak. Saya mengerti." Aku tersenyum lega dengan pengertian dari bosku itu.
"Selamat ya, Rosi. Calon suamimu orang hebat. Saya sudah lama mengenalnya." Pak Abda terus menyunggingkan senyum.
"Bapak sudah lama kenal dengannya?"
"Iya. Ridwan adalah adik tingkat waktu kuliah. Dia pintar, ramah dan rajin. Saya lama tidak bertemu dengannya. Sampai kemudian, setahun lalu ketemu lagi. Saya banyak mendengar perusahaannya dari klien saya. Sampai kemudian jadi investor di sini." Pak Abda bercerita panjang lebar. Wajahnya terus tersenyum.
"Kamu tak salah pilih, Rosi. Saya tahu kamu juga wanita baik dan rajin. Orang baik akan berjodoh lagi dengan orang baik."
Aku merasa hatiku tersentuh oleh ucapan Pak Abda. Ada rasa lega dan bahagia di lubuk hati.
Emak juga tak mungkin salah memilihkan jodoh untukku. Beliau pasti punya pertimbangan yang baik. Hanya saja, orang-orang di sekeliling Ridwan yang membuat semuanya jadi terasa sulit untukku.
***
Pulang kerja, baru saja hendak keluar gerbang perusahaan, kembali aku dihadang mobil sedan. Hanya saja sekarang aku lebih waspada. Segera mengerem kendaraan, lalu berhenti dan segera mundur untuk di parkir di belakang gerbang.
Aku sudah kenal mobil ini. Mobil yang sama pertama menghadangku dulu.
Aku tunggu sampai penumpangnya turun seperti dulu. Dengan langkah sombongnya.
Benar saja, sesosok tubuh ramping turun. Memakai celana jeans pensil dan kaus ketat dibalut cardigan pendek. Berjalan mendekat ke arahku.
"Mau apa lagi?" Aku menyambutnya dengan pertanyaan.
"Tenang, dong, nggak usah pasang tampang jutek begitu," Wanita itu menyeringai menyebalkan. Wanita bernama Joana itu, lalu memandangi gedung perusahaan. "Jadi ini tempat kerjamu dan tempat investasi Ridwan?"
"Bukan urusanmu! Sekarang katakan mau apa, waktuku terbuang percuma dengar ocehanmu!" sentakku, tak suka kalau Joana mulai mengusik tempat kerjaku.
"Para pegawai sini tahu tidak ya, investornya punya affair dengan salah satu pegawai di perusahaan?" tanya Joana sinis. "Selamat ya, kamu juga mulai mendekat pada anak-anakku. Hebat juga Ridwan bisa kamu taklukan."
Joana tersenyum miring, lalu berjalan mendekat padaku. kepalanya dicondongkan ke arah telingaku dan berbisik.
"Jangan lupa, aku ibu si kembar. Sampai kapan pun aku tak bisa disingkirkan dari hidup anak-anakku."
Aku menghela napas kesal. Joana selalu mengatakan posisinya sebagai ibu kandung si kembar, yang kedudukannya kuat tak bisa disingkirkan. Padahal sebagai Ibu kandung, jelas-jelas dia tak berfungsi. Masa tidak mau mengurus anak-anak kandungnya sendiri? Masa tega seorang ibu kandung membiarkan anak-anaknya terus diurus ayahnya, sedangkan ia sendiri tidak ak mau mengurus. Joana lebih sibuk mengurus dirinya sendiri, dibanding buah hatinya yang berjumlah empat itu. Joana ingin hidup babtanpa tanpa mau berkorban.
Adakah seorang ibu apalagi ibu kandung yang Setega Joanna?
Dan kini Joana terus mengusikku dan selalu berusaha membuat menatapku jatuh atau bikin aku kena masalah terus.
"Apa maumu, Joana?" tanyaku dingin. Aku sungguh muak melihat sikap Joana.
"Ridwan dan anak-anakku milikku. Tak ada yang bisa merebutnya dariku."
"Sinting! Ridwan dan kamu sudah cerai. The End. Kamu lupa, ya? Atau kepalamu kepentok jadi amnesia?" Aku tak kalah gertak dengan Joana.
"Oke. Silakan kamu bersenang-senang sekarang. Ingat, aku selalu mengawasimu!" desis Joana sambil menyeringai mengancam. “Aku tak akan biarkan siapa pun merebut posisiku di mata Ridwan dan anak-anakku!”
Ingin sekali rasanya aku balas memaki Joana. Mengatakan hal-hal yang ingin kukatakan dengan tajam dan sindiran. Namun aku berusaha menahan semua itu. Tak boleh aku mengotori mulutku sendiri dengan berkata ucapan yang kasar atau menyakitkan hati. Posisiku masih lemah. Aku belum sepenuhnya memiliki Ridwan. Jadi peranku belum kuat di sini untuk menghadapi Joana.
Lalu Joana berbalik dan berjalan kembali ke mobilnya.
"Inget, kata-kataku barusan. Bye!" teriaknya sambil menoleh sekilas dengan seringai licik di milutnya, sebelum tubuhnya menghilang masuk lagi ke dalam mobil.
Aku mengembuskan napas kasar. Dasar, sinting! Otak wanita itu sudah konslet. Statusnya sudah mantan isteri, tapi masih rese. Rupanya, posisi Ridwan sebagai investor di perusahaan bakal dia pakai untuk mengusikku. Dasar, wanita sakit jiwa!
Aku merasakan firasat yang tak enak, dengan kelakuan wanita si mantan itu. Wanita itu sudah gila. Terobsesi pada Ridwan dan anak-anak. Dia tak ingin melihat siapa pun menjadi milik Ridwan. Joana sepertinya menyesal telah meninggalkan Ridwan yang ternyata lebih tajir dari dulu. Pria lembut dan baik hati. Ayah yang sempurna untuk anak-anaknya.
Aku menghela napas panjang. Ridwan memang sempurna dengan kelebihan yang dimilikinya. Siapa yang tak kepincut dengannya? Pria sukses, mapan, yang bertanggung jawab.
Benar-benar sempurna menurutku. Aku segera melajukan kembali kendaraan. Waktuku tersita sedikit gara-gara Joana. Semoga aku tak telat pulang ke rumah gara-gara dijegal Joana di jalan. Heran sekali akhirnya, kenapa Ridwan sampai punya mantan seperti Helena? Apa ketika menikah Ridwan tak tahu sifat wanita itu?
Ah, entahlah! Kepalaku mendadak puyeng kalau ingat kelakuan Joana yang terus mengancam-ancam.
**
