Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

6. Haruskah mundur?

Duda beranak empat

Part 5

**

Aku memandangi terus mobil Ridwan, sampai hilang di belokan jalan.

Jantungku masih gedebak-gedebuk tak karuan, setelah barusan ada sedikit salah curiga.

Aku kira Ridwan...

Pipiku memanas. Aih, kenapa pula pikiranku jadi belok begini? Aku menoyor kepalaku sendiri.

Rosi, jangan piktor, pikiran kotor!

Segera aku berbalik dan masuk ke rumah setelah mengucap salam.

"Uhuk...uhuk...ngga jadi adegan delapan belas plus-plus-nya?" goda Risa sambil tergelak.

Semvlak! Rupanya Risa ngintipin aku tadi.

"Eh, anak ingusan dilarang ngintip, bintitan tingkat menteri nanti!" gerutuku antara sebal dan malu.

"Anak ingusan juga bentar lagi kawin, Mbak e!"

"Lu ngikut mulu kayak gerbong kereta."

Risa semakin jahil tertawa. "Mbak kan locomotifnya, gue gerbongnya, haha. Dimana-mana adek itu ngikut kakaknya."

Risa langsung ngacir ke kamar, ketika aku sudah siap menyambitnya dengan sendal.

Aku melangkah ke dapur, mengambil minum. Mendadak tenggorokanku terasa sangat kering dan sangat haus. Efek tadi grogi tingkat kabupaten.

"Udah pulang, Rosi?" sapa Emak ketika aku membawa segelas air hendak ke kamar.

"Udah, Mak."

"Gimana kesan pertama ketemu anaknya Ridwan yang kembar empat? Mereka baik dan tidak bandel, kan?"

Aku terdiam mendengar pertanyaan Emak. Ingin sekali jujur mengatakan keadaan sebenarnya di sana. Akan tetapi, aku gengsi sama Emak. Belum apa-apa, aku sudah mengeluh dan hampir mati kutu.

Apa kata Emak nanti? Apa kata adik-adikku juga?

Sambutan dari si kembar yang telah dicuci otaknya , sehingga mereka takut padaku sebagai ibu tiri. Membuatku harus berpikir keras, bagaimana cara menangkalnya.

Aku yakin, aku bisa. Jiwa anak masih polos. Dengan pendekatan yang intens, lembut dan tulus, bisa membuat hati anak-anak lama-lama meleleh. Asal sumber pencuci otak harus dibasmi terlebih dulu.

Pokoknya...seorang Rosi pantang menyerah.

Yang agak sulit itu sambutan dari dua wanita dewasa, penghuni rumah Ridwan yang dingin dan menakutkan seperti mumi, anggap itu patung kuda yang lagi sakit gigi.

Ah, ya. Aku ingat patung kuda nyengir. Bukan nyengir ketawa, tapi seperti nyengir sakit gigi!

"Ditanya wajahmu malah kusut seperti cucian belum kering," tegur Emak.

"Ngga apa-apa, Mak. Rosi pengen tahu, ada kursus membuat ibu tiri yang baik ngga ya, Mak?"

Mata Emak membulat, alisnya langsung terangkat mendengar pertanyaanku.

"Ada." sahutnya.

"Ada?" Aku melonjak senang. "Di mana, Mak?"

"Di hatiku..."

Jawaban Emak membuat bahuku terkulai. Emak kembali beraksi dengan kekonyolannya.

"Yang bener dong, Mak," gumamku lemas.

"Lha, iya. Emak kan di urus sama Ibu tiri. Kakekmu kan nikah lagi setelah isterinya meninggal. Emak tahu rasanya punya ibu tiri. Tapi ibu tiri yang baik tentunya."

"Oh, ya. Aku kok lupa, ya. Kakek kan nikah lagi, jadi otomatis Emak punya ibu tiri."

Tubuhku langsung fresh lagi. Tenaga serasa di charge ulang baterenya full.

"Wah, cerita dong, Mak. Ibu tiri yang baik itu kayak gimana?" rajukku.

"Wani Piro?" tanya Emak konyol. "Emak cerita butuh tenaga, energi, soalnya bisa tujuh hari tujuh malam ceritanya. Butuh asupan energi biar nggak lemas."

Ya, ternyata, nggak anaknya, nggak emaknya, sama-sama nggak mau rugi. Lha, apa bedanya aku sama emak, ya? Mau nikah aja pake perjanjian. Emak juga sama....Mau kursus ibu tiri, harus berani menyediakan asupan energi.

Jiaah...buah jatuh tak jauh dari pohonnya, apa lagi kalau pohonnya pohon duren.

***

Akhirnya dengan seabrek rayuan juga mimisan..eh, tangisan, Emak akhirnya luluh juga. Mau kasih tips jadi ibu tiri keren dan beken di mata anak tiri.

Yess...aku sudah amankan tipsnya, dicatat di primbon pribadi.

Malam ini aku bisa tidur nyenyak. Semoga esok, hari menjadi lebih indah. Esok harinya lagi...makin indah. Esok harinya lagi...jauh lebih indah.

Boleh dong punya harapan?

Baru saja hendak memejamkan mata, ponselku di nakas samping tempat tidur bergetar. Tadinya mau aku cuekin, tetapi entah kenapa hatiku tidak tega. Takut ada hal penting.

Aku segera mengambil ponsel, mengusap layarnya dengan malas.

Mataku yang sudah lima Watt, langsung terang benderang. Seolah ada tambahan daya sehingga jadi terang.

[Selamat malam. Selamat istirahat. Besok masakin aku lagi yang enak, ya. Si kembar juga suka]

Rasanya tak percaya membaca pesan yang dikirim Ridwan. Segera aku ambil kacamata baca, takut mataku sawan.

Dibaca ulang, isi pesan tetap sama sih.

Iyess!

Aku langsung mengambil.posisi duduk padahal tadi sudah tepar. Tadinya sih mau berdiri dan langsung loncat-loncat di atas tempat tidur, saking happy. Akan tetapi, takut ranjangnya jebol. Jadi aku hanya mesem-mesem sendiri kayak orang sawan.

Aku langsung balas pesannya.

[Sama-sama. Btw, besok request apa? Biar aku masakin]

Send!

Jantungku gedebukan nunggu balasan.

Tak berapa lama ada pesan balasan.

[Apa aja. Asal dimasak dengan cinta, pasti enak]

Wau..gombalan lebay sangat ini.

Namun aku sukaa, gaes!

Bodo amat yang tidak suka. Dunia ini milik aku dan Ridwan. Yang lain, ngontraak!

Tips pertama dari emak sudah kulaksanakan dan sukses.

Sentuhlah mereka tepat di hatinya, dimulai dari kesukaanya. Terutama makanan. Percayalah, dari perut bisa naik ke hati. Karena jarak perut dekat dengan hati. Eaaa!

***

"Selamat pagi, Emak."

"Selamat pagi adik."

Aku menyapa dengan irama lagu keluarga Cemara di pagi hari sebelum sarapan.

Emak, Risa dan Rasya yang sudah duduk bersiap sarapan, serempak menoleh.

"Tumben ada yang cerah, seperti lampu phili*s, terang terus!" goda Risa.

"Sarapan dulu, Rosi. Mumpung masih panas." Emak menunjuk ke arah nasi goreng yang masih mengepul.

"Uhuy...calon manten, bening banget!" Rasya ikut menggoda. Kedua adikku juga sudah bersiap ke kantor.

Ketiga anak emak ini memang sudah pada kerja. Emak sekarang santai, bisa menikmati hari tuanya. Aku mesem-mesem, segera bergabung untuk sarapan.

"Lho, kok tumben sarapan sedikit?" tanya Emak ketika aku sarapan sedikit sehingga cepat selesai.

"Rosi diet sekarang, Mak. Badan rasanya udah bulat!"

Risa terkekeh mendengar ucapanku. "Tumben, inget diet!"

"Malu. Masa suami ganteng dan atletis, akunya mirip bola bekel?"

Risa dan Rasya meledak tertawa.

"Rosi, harusnya kamu sudah dipingit, ini seminggu lagi menikah. Kapan kamu ambil cuti?" tanya emak

"Nanti tiga atau dua hari sebelum hari H. Biar dapet lagi libur setelah merit," sahutku kalem.

Aku bergegas berdiri dan mencium tangan emak untuk pamitan. Sebelum Emak merepet lagi tentang married.

***

[Sore aku jemput lagi, ya. Nanti kamu ke rumahku lagi!]

Kembali ada chat masuk dari Ridwan saat jam istirahat.

Aku menghela napas panjang. Nanti sore kembali harus berhadapan dengan si kembar empat dan dua patung kuda yang sakit gigi. Meyda dan Airin.

Namun kali ini, aku sudah mengantongi jurus tips ampuh yang didapat dari Emak. Jurus menaklukan anak tiri, sekalian sama bapaknya. Eaaa...

Hanya belum ada jurus menaklukan dua mumi yang bertengger seperti pajangan di rumahnya Ridwan. Itu dibutuhkan keberanian dan keahlian khusus, biar bisa menghadapinya. Valentina Rosi harus bisa bergerak cepat. Aha!

[Oke]

Kukirim pesan balasan.

Tak berapa lama ada balasan emoticon mata penuh cinta. Aih, Ridwan bucin juga. Aku tertawa dalam hati.

Akan tetapi, harus hati-hati juga, siapa tahu dia juga bucin dengan wanita lain. Untung, aku sudah membentengi diri dengan perjanjian pra-nikah point' tiga.

Aku kan belum mengenal Ridwan lama. Mungkin ada hal yang tidak aku ketahui tentang si ganteng berlesung pipi itu. Masa selama dua tahun, dia anteng tanpa ada affair dengan wanita, sedangkan fisiknya bikin meleleh wanita manapun?

Ya, kan..kan..aku harus berpikir juga pakai logika, jangan hanya bucin pakai hati.

Aku menyimpan lagi ponsel di tas tangan. Tak sengaja tangan ini menyentuh plastik di tas. Tertegun sejenak, teringat lagi itu kartu undangan!

Aku lupa, undangan ini harusnya kubagikan pada teman kantor juga pada pimpinan. Namun, setelah kemarin Ridwan jadi investor di perusahaan, apakah ada pengaruhnya jika mereka tahu aku menikah dengan investor itu? Apa aku harus berhenti jadi pegawai?

Oh, no!

**

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel