Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Pernikahan Singkat

"STOP!" Jane spontan berteriak karena Danzel melewati pekarangan rumahnya.

Dan Danzel langsung menginjak rem-nya mendadak. Beruntungnya sabuk pengaman itu menyelamatkannya dari kecelakaan kecil seperti menghindari adanya benturan.

"KAU GIL*?" Danzel menatap Jane tajam.

"M-maaf. Aku turun disini saja. Terima kasih atas tumpangannya," ucap Jane setengah gugup, melihat Danzel yang sudah mengamuk saja membuatnya grogi juga takut sedikit. Ah sisi arogannya memang selalu mendominasi.

"BAYAR!" lagi-lagi Danzel mengamuk, terpaksa Jane mengurungkan niatnya keluar dari mobil.

"Ha? Bukankah mamamu sendiri yang meminta untuk mengantarkanku pulang?" Jane tidak suka jika Danzel perhitungan, andai saja tadi ia memilih berjalan kaki beberapa kilometer mencari angkutan kota.

"Kau menumpang di mobilnya siapa?"

"Mas Danzel," jawab Jane menggoda Danzel, panggilan mas yang sudah menjadi kebiasaannya saat di kampung dulu.

"Pergilah," merasa risih karena Jane baru saja menggodanya. Apakah wanita itu memiliki ketertarikan pada dirinya? Semoga saja tidak, akan berurusan panjang nantinya dan melibatkan Stella.

Jane dalam hatinya bersorak. 'Akhirnya aku tidak perlu membayar uang transportasinya,' bibirnya tersenyum senang, mudah sekali membuat Danzel mengamuk.

Hari ini Jane begitu bahagia, selain mendapatkan pekerjaan yang mudah juga bertemu dengan orang-orang baik. Tapi tidak termasuk Danzel, pria arogan yang sedikit ketus dan perhitungan.

'Aku tidak perlu memikirkannya. Tidak penting juga sih,' batin Jane mengusir bayang-bayang Danzel dari pikirannya.

***

Sedangkan Danzel yang baru saja sampai di rumah itu kalimat-kalimat yang selama ini Danzel hindari.

"Aku sangat setuju jika Danzel anak kita menikah dengan Jane, gadis biasa juga karyawan baru itu," Galen mengangguk, ia menurut saja dengan saran istrinya, Anette.

Menikah bersama Jane? Danzel tidak suka, ia hanya mencintai Stella sampai kapanpun.

Langkah lebarnya menghampiri ayah dan sang ibu yang tengah duduk membicarakan pernikahannya.

"Aku tidak setuju," akhirnya Danzel menyuarakan isi hatinya. Tidak mungkin ia mengkhianati Stella jika demi wanita lain.

"Kenapa?" Galen menoleh, sedikit terkejut karena Danzel tiba-tiba datang.

"Pasti kau lebih memilih Stella kan?" sahut Anette ketus, lagi dan lagi Stella selalu memenangkan hati Danzel. Ia sebenarnya heran, apa yang telah Stella rayu sehingga Danzel sampai cinta mati seperti ini.

"Biarkan aku yang memilih siapa pendampingku nanti. Jangan pernah melibatkan wanita lain," langkah Danzel berlalu pergi. Haruskah hidupnya diatur seperti ini? Selama ia berbakti kepada sang mama dan ayah mereka hanya meminta hal-hal kecil membantu pekerjaan rumah juga pergi ke pasar, Danzel merasa tidak keberatan karena itu sudah kewajibannya.

Galen dan Anette saling pandang.

"Kau yakin Danzel akan mau menikahi Jane?" Galen masih ragu-ragu, setelah melihat sikap Danzel yang berubah menjadi emosian ia yakin perjodohan ini pasti akan gagal.

Anette mengangguk. "Aku yakin. Karena Danzel selalu berkomunikasi dengan Stella setiap malamnya mereka berkomunikasi melalui telepon. Dan cara satu-satunya adalah mengambil semua barang-barang pribadinya, termasuk hp Danzel juga jam tangannya," sebuah senyuman licik itu mengembang di bibirnya, kelemahan Danzel cukup mudah.

"Kapan pernikahan itu di laksanakan? Kita saja tidak ada persiapan sama sekali."

"Besok," jawab Anette serius. Ia tidak ingin mengulur waku, Stella pasti akan semakin gencar merayu Danzel meminta apapun.

***

Jane membuka pintu kamar sang ibu perlahan-lahan, ia ingin memberikan kejutan.

'Ibu pasti senang, 300 juta ini saja lebih dari cukup. Orang tua Danzel begitu baik padaku,' batin Jane dalam hatinya.

Namun saat Jane melangkah masuk, terlihat sang ibu memejamkan matanya.

"Hari ini aku sudah mendapatkan uang banyak. Ibu bahagia kan? Ini-" ucapan Jane berhenti saat suara serak dengan nafas tersengal itu membuat hati Jane gelisah.

"Jane? Ibu...sepertinya tidak akan..lama. Jagalah dirimu...sshh-sakiitt," Ellen merintih menahan rasa sakit di kepalanya.

Kedua mata Jane berkaca-kaca. "Ibu, bertahanlah. Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit sekarang. Ini aku ada biayanya. Kita tidak perlu memikirkan uangnya," ucapan Jane terlalu cepat, ia bingung harus bagaimana.

"Ibu hanya bisa...berharap. Kau menikahi pria...yang...tepat," setelah itu mata Ellen terpejam bersamaan dengan nafasnya yang berhenti.

Jane panik. "Ibu? Bangun, ibu hanya kelelahan bukan?" ia terkekeh, ia masih tidak siap untuk kehilangan sang ibu, hanya beliau yang selama ini menemaninya.

Namun Jane merasakan ibunya sudah tidak bernafas lagi pun merasa hancur dan terpukul. Selanjutnya ia tidak akan baik-baik saja menghadapi dunia sendirian. Tak ada lagi yang selalu menyemangatinya.

Kedua mata Jane berkaca-kaca, rasanya seperti mimpi.

***

Danzel pagi-pagi sekali menuju ke rumah Jane karena perintah mamanya.

"Jujur saja aku merasa keberatan jika harus menjemput Jane. Lagipula dia masih bisa mencari taksi online atau transportasi lain. Tidak perlu mengandalkan aku," gerutu Danzel sepanjang perjalanan dengan kesal.

Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Danzel sampai.

Dengan mata yang masih sembab karena seharian menangisi kepergian sang ibu, Jane mengunci pintu rumahnya. Ia harus tetap berangkat meskipun hatinya tengah kacau.

Tak bisa menahan tangisannya akhirnya mata Jane kembali basah.

"Apa aku akan hidup sendirian begini? Tanpa ada siapa-siapa lagi yang menemaniku?" Jane berbicara sendiri, ia masih menghadap pintu. Sama sekali tidak menyadari kedatangan Danzel sekalipun suara mobilnya.

"Ada apa? Dia berbicara dengan pintu?" merasa heran, Danzel menggampiri Jane.

"Kau baik-baik saja bukan?"

Jane yang mendengar suara itu segera menghapus air matanya. Pasti Danzel sudah melihatnya. Ia tak boleh cengeng.

Menoleh dan Jane berkata. "Ya, tadi ada debu sedikit yang menyusup ke mataku. Jadinya begini, perih sampai menangis," jawab Jane beralibi. Entah Danzel mudah percaya atau tidak.

"Oh. Ayo, aku tidak ingin terlambat. Kau jangan mengulur waktuku," ucapan Danzel sedikit pedas.

Jane heran, sejak kapan Danzel mau menjemputnya? Ah tidak mungkin itu murni keinginan Danzel, pasti karena mamanya.

Selama perjalanan saja, Jane masih teringat tentang kenangan yang selama ini ia lewati bersama sang ibu.

Tapi Danzel sesekali melirik Jane. 'Kenapa dia tidak berisik saat pertama kali bertemu? Apa mungkin dia sedang ada masalah?' batin Danzel bertanya-tanya.

Danzel tidak ingin mengulik masalah Jane. Wanita itu hanya orang asing yang tidak pentinh dalam hidupnya.

***

Saat baru saja memasuki kantor, pintu utama langsung di tutup dan dijaga oleh satpam.

Danzel dan Jane tidak menyadarinya. Keduanya sudah berada di dalam.

"Pendeta, segerakan pernikahannya," ucapan Anette itu mengejutkan Danzel.

Pernikahan? Danzel masih bingung. Apakah dirinya yang akan menikah? Dengan siapa?

Matanya mencari seseorang yang sangat di cintainya. Namun Danzel tidak menemukan Stella. Lalu, siapa calon istrinya?

Perasaan Danzel mulai tidak tenang dan gelisah. Pikirannya menduga jika calonnya adalah Jane. APA? Jane?

"Ma, aku-" Danzel yang ingin memprotes atas pernikahan mendadak ini pun ucapannya disela oleh sang mama.

"Ayo, ucapkan janji sucimu untuk setia dan mencintai Jane. Pasangkan juga cincin ini," Anette memberikan kotak berwarna merah, tampillah cincin sederhana yang siap di pasangkan.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel