2. Meminta Bantuan
"Tapi-" Anette menjeda ucapannya langsung membuat Jane murung dan gelisah. "Kau harus menikah dengan Danzel," kembali melanjutkan ucapannya secara tegas.
Danzel yang akan di jodohkan dengan wanita asing itu pun seketika menolak dan tidak terima. "Ma, aku sama sekali tidak mencintai dia," sedikit kesal Danzel berkata seperti itu. Karena baginya pernikahan adalah ikatan suci janji bersama setia selamanya bukan sekedar permainan menjodohkan tanpa atas dasar cinta. Ia tidak mau.
"Mencintainya atau tidak kau harus menikah dengannya Danzel. Karena mama tidak ingin kau bersatu lagi bersama Stella, perempuan yang hanya menguras hartamu," sedikit tenang Anette membalas ucapan Danzel. Sejauh itu ia mengenal sifat Stella yang terlalu boros dan mengikuti tren sehingga barang keluaran branded apapun pasti akan di belinya.
Jane juga tidak setuju. "Maaf sebelumnya jika aku menyela pembicaraan, aku tidak mengenalnya. Bahkan kami bertemu karena ketidaksengajaan. Dia menabrakku saat menyebrang. Kemudian mengantarkanku ke tempat ini mencarikannya sebuah pekerjaan," dengan sopan dan kepala menunduk Jane menyampaikan pendapatnya.
"Terimalah. Dan aku akan memberikan berpapun uang yang kau mau," Anette tersenyum tulus pada Jane. Pertemuan pertamanya pada gadis sederhana di hadapannya itu meninggalkan kesan baik dan sopan. Maka dari itu, ia langsung menjodohkannya pada Danzel. Pilihannya tidak akan pernah salah.
Apapun? Jane merasa senang sekaligus bahagia. Itu artinya ia tidak perlu bekerja terlalu keras jika imbalannya semudah ini.
Jane mengangguk. "Aku menerimanya. Dan bersedia menjadi istrinya," matanya melirik wajah tampan Danzel, dalam beberapa detik saja ia langsung terpesona pada pria arogan itu. Ah bagaimana jika nanti ia setiap harinya melihat wajah Danzel? Pasti hari-harinya akan merasa indah dan jauh lebih berwarna. Apalagi uang cuma-cuma yang di berikan itu kini menantinya di depan mata.
"Lihat sendiri? Dia saja langsung menerimamu. Lupakan Stella dan fokuslah memulai cinta yang baru," kemudian langkah Anette menjauh, ia harus segera menyusun laporan keuangan hari ini juga.
"Tapi ma, kau yang memaksanya untuk menikah denganku. Dia pasti tergiur uang, bukan cinta!" suara Danzel berseru, tapi mamanya tidak mendengarnya.
Danzel menoleh menatap Jane tajam. "Bagaimana? Apa kau sudah puas menghancurkan hubunganku? Kau mau menjadi seorang perebut?" ketus dan galak Danzel mengatakannya pada Jane. Ia tidak peduli semua karyawan memperhatikannya, biarlah mereka tau jika ia hanya mencintai Stella bukan wanita asing yang bari saja di kenalnya beberapa menit lalu.
"Maaf," Jane hanya bisa menunduk takut. Dalam hatinya ia berkata. 'Lagipula aku hanya membutuhkan uang saja, tidak akan pernah mencintainya. Aku juga tidak sudi,' gerutunya kesal.
***
Jane merenggangkan tangannya. Ia menggeliat setelah terlalu lama duduk dan mempelajari beberapa berkas yang tadinya di berikan oleh Danzel, sangat banyak sekali sampai jam makan siang pun terlewatkan.
"Hari ini terlalu melelahkan. Dia tega membiarkanku kelaparan," gerutu Jane kesal. Dulu di tempatnya masih bekerja di kafe masih sempat makan siang, tapi sekarang tenaganya di paksa untuk berpikir.
"Aku menjabat apa disini?" Jane baru menyadarinya jika ia masih tidak di beritahukan jabatan apa selama berkerja disini.
"Menjadi sekretarisnya Danzel. Apakah kau berkenan?" suara Anette itu mengejutkan Jane yang setengah melamun.
"A-apa?" gugup sedikit Jane pun salah tingkah. Itu artinya ia akan berurusan terus dengan Danzel si pria arogan.
Anette mengangguk. "Agar kau bisa mendapatkan hatinya. Kalian harus mengenal lebih dekat lagi," betapa Anette sangat menginginkan Jane agar Danzel bisa mencintai wanita sederhana itu.
Karena Jane tidak ingin Danzel marah ia pun berkata. "Bagaimana jika kekasihnya tau saya menjadi sekretarisnya?" Jane hanya menghindari masalah pelik terutama kesalahpahaman yang nantinya akan terjadi setelah ia mengambil jabatan itu, si Stella pasti cemburu.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku pasti akan mengatasinya, lagipula Stella tidak bekerja disini melainkan menjadi seorang model majalah," jawab Anette bersama senyumannya.
Jane bernafas lega. "Bolehkah aku sekarang makan siang?" takut-takut Jane bertanya, saat ini jam dua dan sudah terlewatkan.
"Danzel akan mengantarkan makanan Go Food untukmu. Tunggulah beberapa saat lagi," Anette berlalu pergi.
Jane yang tidak mengerti istilah itu pun hanya menggaruk kepalanya. "Apa itu? Pergi makan?"
Tidak lama kemudian datanglah Danzel dengan wajah bosannya, ia terlihat tidak bersemangat saat berjalan menghampiri Jane demi mengantarkan Go Food atas perintah dari sang mama.
Danzel meletakkan paket makanan dari Richeese itu di hadapan Jane. "Habiskan, jangan membuat mamaku sedih," perintahnya menasehati Jane.
Saat membuka box makanan dengan paket berukuran besar itu membuat Jane menatapnya sayu. Banyak sekali, pikirnya.
'Aku tidak akan sanggup menghabiskan semua ini sendirian. Hm...aku tau!' dalam hati Jane ia memiliki sebuah ide yang cemerlang.
"Kita makan bersama ya? Perutku tidak mungkin sanggup menghabiskan ini sendirian," pinta Jane tersenyum ceria. Meskipun reaksi Danzel tetap datar.
"MAKAN BERSAMAMU?" Danzel tidak terima, ia hanya tidak ingin membuat Jane berharap lebih. Pasti wanita itu akan melancarkan aksi modusnya.
Mendengar keributan kecil Anette pun pergi ke ruangan Jane.
"Ada apa?" tanya Anette menatap Danzel.
"Dia mengajakku makan bersama. Aku sekarang tidak ada waktu karena sudah memiliki janji pada Stella," Danzel menjawabnya dengan tenang. "Aku pergi," kakinya yang setengah langkah itu di halangi oleh mamanya.
"Lupakan Stella. Segera akhiri hubunganmu. Sekalipun Stella baik, mama tidak merestuinya," ucap Anette dingin, ia sudah mengetahui sifat asli Stella yang hanya membutuhkan uang dari Danzel bukan cinta dan kasih sayang.
Danzel merasa heran, Jane hanyalah orang asing tapi sang mama langsung menyukainya dan segan.
"Gajimu sudah aku transfer. Terimalah," Anette baru saja selesai melakukan transaksi M-Banking.
Ponsel Jane berbunyi. "Terima kasih," ia akan menunjukkannya pada sang ibu. Akhirnya biaya operasi bisa di bayarkan, tidak perlu menunggu waktu lama.
Danzel menatap Jane malas. 'Sama saja dia menyukai uang. Tidak jauh beda dengan Stella,' batinnya dalam hati.
***
Dan sekarang Danzel harus mengantarkan Jane pulang, lagi dan lagi perintah dari sang mama.
Jane sebenarnya ingin menolak, melihat wajah masam Danzel saja sudah menyeramkan.
"Kau tidak ikhlas bukan?"
Danzel menoleh. "Apa?"
Jane mengatupkan bibirnya, sepertinya diam lebih baik daripada amarah Danzel semakin meningkat tak terkendali. Jane hanya takut jika Danzel mengebut karena kesal.
'Yang terpenting biaya pengobatan untuk ibu sudah ada. Terima kasih Tuhan, aku di pertemukan oleh pria ini meskipun mamanya yang lebih baik,' Jane berdoa dalam hatinya, bibirnya menahan sebuah senyuman jika mengingat pertemuan tak terduga itu. Danzel yang hampir menabraknya, kemudian ia meminta untuk diantarkan ke Florist penjual bunga namun ternyata bangunannya sudah berganti menjadi perusahaan milik Danzel.
***
Bersambung...
