Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 18. Dia Pacar Aku

Ting ,,,, ! Pintu lift terbuka, Michele berjalan keluar lift menuju ke ruangan 308. Sepanjang lobby sampai ruangan 308 beberapa suster dan dokter yang ada disana memperhatikan Michele. Tapi Michele memakai jurus cuek terhadap mereka. Kan gue bukan artis ini. Bebaslah.

Begitu pintu ruangan 308 di buka, ruangan itu kosong, tidak ada mami dan Frans. Michele lalu menelphone hp Frans. Frans mengangkat telphonenya :

Ya Michele …

“Kamu di mana sayang”

Aku di taman belakang sama mami, kamu ke sinilah.

“Okey, aku susul ke taman yach… “ Michele langsung keluar kamar dan menyusul mereka di taman.

Setelah tiba di taman belakang, Michele mencari Frans dan maminya berada. Dari kejauhan Michele melihat sesosok wanita yang ia kenal. Hah … itu bukannya mami yang duduk di kursi roda. Loh si Frans ke mana sich? Michele menuju ke arah mami berada.

“Mami” … loh Fransnya mana mi?

Frans mami suruh ambil minum,… mami haus Michele. Tahu begitu tadi titi Michele aja mi. Gak apa-apa, jangan merepotkan kamu. Kamu datang saja, mami sudah senang koq. Michele lalu mendorong kursi roda mami ke tempat yang sejuk dekat pohon. Koq Frans lama sich … ucap Michele dalam hati. Michele menelphone hp Frans …

“Kamu di mana,…. Kenapa lama sich? Cepetlah ke sini kata Michele dengan sedikit kesal. Mami yang mendengar Michele menelphone Frans … tersenyum . Itu dia yang kamu tunggu … kata mami sambil tersenyum.

Dari kejauhan Frans sudah melihat Michele bersama maminya, Frans menuju ke arah dua wanita yang amat dia sayangin dan cintai, sambil tersenyum senyum dan terik matahari pagi menyilaukan matanya.

“Hallo sayang….” Ucap Frans. Michele langsung melotot ke Frans dan matanya memberi kode ke arah maminya. Tanpa aba-aba, Frans langsung mencium pipi kiri Michele. Frans akhirnya mendapat pukulan manja dari Michele, tapi segera tertangkap oleh tangan Frans.

“Mi lihat ini calon mantu mami sudah berani pukul-pukul Frans” kata Frans bicara rada keras, agar maminya mendengar dan Michele biar jadi malu. Frans, kamu apa-apaan sich? Gak gitu mi, ini ulah Frans, “jelas Michele”

Aku sudah cerita koq ke mami, tentang hubungan kita ini. Dan mami menolak, ucap Frans, Michele sempet kaget …

Frans melanjutkan, “Iya mami menolak mantu, kalau bukan kamu mantunya”.

Mami tertawa mendengar ulah anaknya itu … masih suka saja menggoda pacarnya sendiri. Hati mami sangat bahagia sekali di pagi itu, terlihat dari sorot mata dan wajahnya yang berseri-seri dan senyuman indah melihat Frans dan Michele bisa saling mencintai.

Pesan mami buat kalian berdua, “Yang akur, saling pengertian, saling menjaga dan terpenting harus saling percaya” kalian sudah dewasa, harus pintar-pintar mengambil keputusan dan bijaksana bijaksini, “kata mami”.

Iya mi, saya akan inget pesan mami ... Michele sambil memeluk dan mencium maminya Frans.

Ternyata ada yang iri, loh aku gak di peluk cium sich.. ini pilih kasih namanya, protes Frans. Ya sudah kalau begitu kita ke atas yuk, mamimi sudah kepanasan tuch.

Frans mendorong kursi roda untuk menuju kamar.

Sesampai di kamar, Frans membantu mami naik dan tiduran di ranjang. Aku mau tanya suster kapan boleh pulang. Ya sudah, aku temani mami disini ajah ucap Michele. Michele duduk di kursi meja makan sambil mengupas buah apel, untuk mami.

Mi, ini apel malangnya manis loh, mami makan ya. Mami melihat calon mantunya perhatian sungguh senang, dan selalu tersenyum kepada Michele.

Tak lama Frans masuk ke kamar, lalu berkata, “ Besok siang mami boleh pulang” hari ini ada pemeriksaan dan pengecekan terhadap kali mami lagi. Hasil roungent dan MRI baik tidak ada gejala atau penyakit yang serius. Syukurlah, tegas Frans.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel