Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1

"Life gets better when you decide not to care."

Sinar mentari pagi memasuki setiap celah yang ada di kamar ini, suara burung berkicau dengan indahnya mengawali pagi ini.

Tetap saja, semua itu tidak berpengaruh untuk laki-laki yang kini masih terbungkus selimut dengan guling yang masih berada di dalam pelukannya.

Ketukan dan suara lembut sang mama dari balik pintu kamarnya juga seakan tidak berararti apa-apa.

"Rey," Zahra masuk ke dalam kamar Rey, "bangun sayang."

Rey mengerang pelan, ia ingin menghajar siapa saja yang mengganggu tidurnya. Sayang, yang membangunkannya adalah ibunya.

"Nanti kamu telat, ayo bangun." Zahra menyibak selimut yang membungkus tubuh Rey. Kemudian ia beralih untuk membuka gorden dan jendela kamar anaknya itu.

"Ma," panggil Rey dengan suara serak khas bangun tidur.

"Kenapa?" balas Zahra sembari menghampiri anaknya itu.

Rey tidak menjawab lagi, ia langsung bangun dan melenggang pergi untuk mandi.

Zahra menatap punggung anaknya itu , sudah biasa jika Rey menanggilnya namun tidak mengatakan apa-apa.

Namun, bagi Zahra itu lebih baik. Daripada anaknya terus diam dan bersikap dingin.

• • • •

Sarapan pagi ini di keluarga Zahra sangat ramai, padahal hanya ada mereka berempat.

Itu karena si kecil Regitha selalu mengoceh, entah apa yang di katakan anak berumur 7 tahun itu.

"Abang Rey itu loh pa! Temen Rere itu naksir bang Rey!" Regitha mengutarakannya dengan sangat antusias.

"Temen Rere yang mana sayang?" tanya Eldy yang duduk di dekat Rey.

"Itu loh pa, semuanya yang di kelas Rere itu naksir sama abang," Regitha menunjuk Rey dengan tangannya yang berlumuran selai coklat.

"Udah, Rere diem. Tangannya itu di lap, anak cewek kok berantakan." tegur Zahra.

Regitha menurut, ia membersihkan tangannya menggunakan tissu dan melanjutkan makannya dengan tenang.

"Abang," Eldy memanggil putra sulungnya itu yang masih berkutat dengan sarapannya.

Merasa di panggil, Rey mendongakan kepalanya untuk menatap sang ayah. Ia tidak mengeluarkan suara, cukup tatapan yang mengisyaratkan -kenapa-.

"Kamu mau ngerayain ulang tahun di mana?" cetus Eldy.

Rey nampak berfikir sejenak, kemudian ia sudah menemukan jawabannya.

"Panti asuhan."

Dan, ini resmi menjadi ulang tahun yang terbaik bagi Rey. Bisa berbagi dengan anak-anak itu, kebahagiannya bertambah berkali-kali lipat.

• • • •

Sebuah motor Ninja hitam metalic, melaju dengan kecepatan standar membelah jalanan.

Setelah 15 menit berkendara, akhirnya Rey sampai ke tempat tujuannya.

Sekolah.

Ketika motor besar itu memasuki lingkungan parkiran, tatapan memuja dari gadis-gadis yang berada di sana adalah hal yang biasa di dapatkannya.

Bagi Rey, mereka hanya memandang kekayaannya. Bisa saja jika dirinya hanya menggunakan sepeda butut ke sekolah, para wanita itu tidak akan menatapnya dengan tatapan memuja seperti itu.

Saat berjalan di koridor, tatapan itu masih saja mengikuti setiap langkahnya.

Jika saja tidak berdosa dan tidak melanggar hukum, percayalah, Rey akan mencongkel semua mata wanita itu menggunakan sendok.

Baru saja ia ingin menaiki tangga, tiba-tiba tubuhnya tertarik ke belakang.

Sepasang tangan yang baru saja menariknya, kini ja menggelayutkan tubuhnya pada Rey.

"Gila ya lo," Rey menghempaskan tangannya yang di gelayuti perempuan tidak tau malu itu.

"Sayang ihhh, kok gitu." Perempuan itu Angel.

"Jangan panggil gue sayang, gue bukan siapa-siapa lo." Rey menjauh dari gadis itu.

"Tapi kamu jodoh aku Rey," Angel berteriak dengan percaya diri.

Rey kemudian berbalik dan menatap gadis itu dengan tatapan tajamnya.

"Perempuan gila harta kaya lo, cocok kalo jadi simpenan om-om." Rey mengucapkannya dengan santai, sudah biasa bagi dirinya.

Angel mendelik sebal, padahal apa kurang dirinya. Baginya, tubuhnya indah, wajahnya cantik, bahkan dia kapten Cheerleaders di sekolah ini.

Tapi semua itu tidak berpengaruh bagi Rey, selalu saja lelaki itu menatap perempuan menginginkan hartanya.

• • • •

Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, semua murid bergegas untuk masuk ke kelas mereka masing-masing.

Sama halnya dengan Rey dan teman-temannya. Mereka sudah berada di dalam kelas daritadi.

Beberapa menit kemudian, seorang guru masuk ke dalam kelas. Setelah memberikan salam, mereka kembali duduk di tempat masing-masing.

"Pagi ini, kita kedatangan murid baru." Guru itu menyuruh seseorang yang sedang menunggu di luar untuk masuk.

"Silahkan perkenalkan siapa kamu," titah bu Kinan.

Siswi baru itu mengangguk, meski sedikit gugup ia mencoba memperkenalkan dirinya pada seluruh orang yang berada di kelas ini.

"Nama saya, Anesya Jasmine. Bisa di panggil Nesya. Saya pindahan dari Bandung." Gadis itu berkenalan sangat kaku, lidahnya kelu. Padahal dirinya tidak pernah segugup ini.

"Panggil sayang boleh nggak?" celetuk Rio dari belakang.

Seluruh murid di kelas itu menyoraki Rio.

"Sudah, diam kalian. Jangan ribut," bu Kinan memperingati seluruh siswanya, "Nesya, kamu bisa duduk di sebelah Rey."

"Perang dunia ketiga nih," guman Rio pada Revin yang duduk disebelahnya.

Nesya berjalan menuju bangku kosong yang terletak di samping Rey, lelaki itu menatapnya dengan tajam. Membuat Nesya sedikit menundukan kepalanya.

"Hai," sapa Nesya saat sudah duduk di sebelah Rey.

Lelaki itu tidak merespon, bahkan menengok pun tidak.

Nesya menghela nafasnya, sepertinya sangat sulit untuk berteman dengan lelaki yang berada di sampingnya ini.

• • • •

Saat jam istirahat, Nesya tetap berada di kelas. Bukan karena apa, dia tidak memiliki teman untuk pergi ke kantin.

Tadi ia sempat ingin bergabung bersama Rey, namun mengingat tatapan tidak suka dari lelaki itu. Membuat Nesya mengurungkan niatnya.

Padahal perutnya sangat lapar sekarang, karena tadi pagi ia tidak sempat sarapan.

"Lo, nggak ke kantin?"

Nesya mendongakan kepalanya, seorang siswi berperawakan mungil, berkulit putih dan cantik itu sedang berdiri di samping bangkunya.

"Aku, nggak tau kantin dimana. Engga ada temen juga." jawab Nesya jujur.

Siswi itu terkekeh dengan jawaban Nesya, baginya Nesya seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

"Gue Tasya," ia menyodorkan tangannya untuk bersalaman, "sekarang, lo jadi temen gue."

Mata Nesya mengerjap, ia kira Tasya akan membully dirinya. Karena, penampilan Tasya mirip seperti pembully yang sering di lihatnya di televisi.

"Ini lo nggak mau jadi temen gue? Kok diem aja?" Tasya menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

"E-eh? Eh iya, mau." Nesya membalas menjabat tangan Tasya.

"Yaudah, yuk kantin." Tasya menarik tangan Nesya untuk membawanya pergi ke kantin.

• • • •

Suasana kantin sangat ramai, seperti biasanya. Tempat duduk yang berada di pojok kantin menjadi sorotan para kaum hawa.

Di tempat itu, ada 5R. Para pria tampan, yang sedang menikmati makanan mereka masing-masing.

Karena letak meja mereka dekat dengan tukang siomay, jadilah para siswi bermodus ria untuk membeli siomay.

Itu menjadi berkah tersendiri untuk pak Tino---pedagang siomay, karena dagangannya selalu ludes saat istirahat jam pertama.

"Gue bosen dah, duduk di sini."

"Kenapa?" Revin menatap Rio.

"Ini kursi kayanya udah turun temurun ya, dari jaman orang tua kita. Sampe kita anak-anaknya juga duduk di sini," ujar Rio.

"Sampe banyak coretan tangan mereka, coba liat." Rasya menunjuk coretan-coretan yang bertuliskan nama orang tua mereka.

Zafran selalu mencintai Tania.

Diandra cantik.

Eldy kena tonjok Zahra.

Zahra paling cantik.

Dan lain lain.

"Anjay, bokap gue alay bener." Rio terkekeh geli.

"Anjir Rey, bokap lo pernah di tonjok sama nyokap lo." Rico menunjuk tulisan yang bertuliskan 'Eldy kena tonjok Zahra' .

Rey tidak bergeming, ia diam saja. Tidak perduli dengan apa yang di bicarakan teman-temannya itu.

Kini, di pikiran Rey hanya satu. Bagaimana caranya menyingkirkan gadis yang menjadi teman sebangkunya sekarang.

"Life gets better when you decide not to care."

Sinar mentari pagi memasuki setiap celah yang ada di kamar ini, suara burung berkicau dengan indahnya mengawali pagi ini.

Tetap saja, semua itu tidak berpengaruh untuk laki-laki yang kini masih terbungkus selimut dengan guling yang masih berada di dalam pelukannya.

Ketukan dan suara lembut sang mama dari balik pintu kamarnya juga seakan tidak berararti apa-apa.

"Rey," Zahra masuk ke dalam kamar Rey, "bangun sayang."

Rey mengerang pelan, ia ingin menghajar siapa saja yang mengganggu tidurnya. Sayang, yang membangunkannya adalah ibunya.

"Nanti kamu telat, ayo bangun." Zahra menyibak selimut yang membungkus tubuh Rey. Kemudian ia beralih untuk membuka gorden dan jendela kamar anaknya itu.

"Ma," panggil Rey dengan suara serak khas bangun tidur.

"Kenapa?" balas Zahra sembari menghampiri anaknya itu.

Rey tidak menjawab lagi, ia langsung bangun dan melenggang pergi untuk mandi.

Zahra menatap punggung anaknya itu , sudah biasa jika Rey menanggilnya namun tidak mengatakan apa-apa.

Namun, bagi Zahra itu lebih baik. Daripada anaknya terus diam dan bersikap dingin.

• • • •

Sarapan pagi ini di keluarga Zahra sangat ramai, padahal hanya ada mereka berempat.

Itu karena si kecil Regitha selalu mengoceh, entah apa yang di katakan anak berumur 7 tahun itu.

"Abang Rey itu loh pa! Temen Rere itu naksir bang Rey!" Regitha mengutarakannya dengan sangat antusias.

"Temen Rere yang mana sayang?" tanya Eldy yang duduk di dekat Rey.

"Itu loh pa, semuanya yang di kelas Rere itu naksir sama abang," Regitha menunjuk Rey dengan tangannya yang berlumuran selai coklat.

"Udah, Rere diem. Tangannya itu di lap, anak cewek kok berantakan." tegur Zahra.

Regitha menurut, ia membersihkan tangannya menggunakan tissu dan melanjutkan makannya dengan tenang.

"Abang," Eldy memanggil putra sulungnya itu yang masih berkutat dengan sarapannya.

Merasa di panggil, Rey mendongakan kepalanya untuk menatap sang ayah. Ia tidak mengeluarkan suara, cukup tatapan yang mengisyaratkan -kenapa-.

"Kamu mau ngerayain ulang tahun di mana?" cetus Eldy.

Rey nampak berfikir sejenak, kemudian ia sudah menemukan jawabannya.

"Panti asuhan."

Dan, ini resmi menjadi ulang tahun yang terbaik bagi Rey. Bisa berbagi dengan anak-anak itu, kebahagiannya bertambah berkali-kali lipat.

• • • •

Sebuah motor Ninja hitam metalic, melaju dengan kecepatan standar membelah jalanan.

Setelah 15 menit berkendara, akhirnya Rey sampai ke tempat tujuannya.

Sekolah.

Ketika motor besar itu memasuki lingkungan parkiran, tatapan memuja dari gadis-gadis yang berada di sana adalah hal yang biasa di dapatkannya.

Bagi Rey, mereka hanya memandang kekayaannya. Bisa saja jika dirinya hanya menggunakan sepeda butut ke sekolah, para wanita itu tidak akan menatapnya dengan tatapan memuja seperti itu.

Saat berjalan di koridor, tatapan itu masih saja mengikuti setiap langkahnya.

Jika saja tidak berdosa dan tidak melanggar hukum, percayalah, Rey akan mencongkel semua mata wanita itu menggunakan sendok.

Baru saja ia ingin menaiki tangga, tiba-tiba tubuhnya tertarik ke belakang.

Sepasang tangan yang baru saja menariknya, kini ja menggelayutkan tubuhnya pada Rey.

"Gila ya lo," Rey menghempaskan tangannya yang di gelayuti perempuan tidak tau malu itu.

"Sayang ihhh, kok gitu." Perempuan itu Angel.

"Jangan panggil gue sayang, gue bukan siapa-siapa lo." Rey menjauh dari gadis itu.

"Tapi kamu jodoh aku Rey," Angel berteriak dengan percaya diri.

Rey kemudian berbalik dan menatap gadis itu dengan tatapan tajamnya.

"Perempuan gila harta kaya lo, cocok kalo jadi simpenan om-om." Rey mengucapkannya dengan santai, sudah biasa bagi dirinya.

Angel mendelik sebal, padahal apa kurang dirinya. Baginya, tubuhnya indah, wajahnya cantik, bahkan dia kapten Cheerleaders di sekolah ini.

Tapi semua itu tidak berpengaruh bagi Rey, selalu saja lelaki itu menatap perempuan menginginkan hartanya.

• • • •

Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, semua murid bergegas untuk masuk ke kelas mereka masing-masing.

Sama halnya dengan Rey dan teman-temannya. Mereka sudah berada di dalam kelas daritadi.

Beberapa menit kemudian, seorang guru masuk ke dalam kelas. Setelah memberikan salam, mereka kembali duduk di tempat masing-masing.

"Pagi ini, kita kedatangan murid baru." Guru itu menyuruh seseorang yang sedang menunggu di luar untuk masuk.

"Silahkan perkenalkan siapa kamu," titah bu Kinan.

Siswi baru itu mengangguk, meski sedikit gugup ia mencoba memperkenalkan dirinya pada seluruh orang yang berada di kelas ini.

"Nama saya, Anesya Jasmine. Bisa di panggil Nesya. Saya pindahan dari Bandung." Gadis itu berkenalan sangat kaku, lidahnya kelu. Padahal dirinya tidak pernah segugup ini.

"Panggil sayang boleh nggak?" celetuk Rio dari belakang.

Seluruh murid di kelas itu menyoraki Rio.

"Sudah, diam kalian. Jangan ribut," bu Kinan memperingati seluruh siswanya, "Nesya, kamu bisa duduk di sebelah Rey."

"Perang dunia ketiga nih," guman Rio pada Revin yang duduk disebelahnya.

Nesya berjalan menuju bangku kosong yang terletak di samping Rey, lelaki itu menatapnya dengan tajam. Membuat Nesya sedikit menundukan kepalanya.

"Hai," sapa Nesya saat sudah duduk di sebelah Rey.

Lelaki itu tidak merespon, bahkan menengok pun tidak.

Nesya menghela nafasnya, sepertinya sangat sulit untuk berteman dengan lelaki yang berada di sampingnya ini.

• • • •

Saat jam istirahat, Nesya tetap berada di kelas. Bukan karena apa, dia tidak memiliki teman untuk pergi ke kantin.

Tadi ia sempat ingin bergabung bersama Rey, namun mengingat tatapan tidak suka dari lelaki itu. Membuat Nesya mengurungkan niatnya.

Padahal perutnya sangat lapar sekarang, karena tadi pagi ia tidak sempat sarapan.

"Lo, nggak ke kantin?"

Nesya mendongakan kepalanya, seorang siswi berperawakan mungil, berkulit putih dan cantik itu sedang berdiri di samping bangkunya.

"Aku, nggak tau kantin dimana. Engga ada temen juga." jawab Nesya jujur.

Siswi itu terkekeh dengan jawaban Nesya, baginya Nesya seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

"Gue Tasya," ia menyodorkan tangannya untuk bersalaman, "sekarang, lo jadi temen gue."

Mata Nesya mengerjap, ia kira Tasya akan membully dirinya. Karena, penampilan Tasya mirip seperti pembully yang sering di lihatnya di televisi.

"Ini lo nggak mau jadi temen gue? Kok diem aja?" Tasya menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

"E-eh? Eh iya, mau." Nesya membalas menjabat tangan Tasya.

"Yaudah, yuk kantin." Tasya menarik tangan Nesya untuk membawanya pergi ke kantin.

• • • •

Suasana kantin sangat ramai, seperti biasanya. Tempat duduk yang berada di pojok kantin menjadi sorotan para kaum hawa.

Di tempat itu, ada 5R. Para pria tampan, yang sedang menikmati makanan mereka masing-masing.

Karena letak meja mereka dekat dengan tukang siomay, jadilah para siswi bermodus ria untuk membeli siomay.

Itu menjadi berkah tersendiri untuk pak Tino---pedagang siomay, karena dagangannya selalu ludes saat istirahat jam pertama.

"Gue bosen dah, duduk di sini."

"Kenapa?" Revin menatap Rio.

"Ini kursi kayanya udah turun temurun ya, dari jaman orang tua kita. Sampe kita anak-anaknya juga duduk di sini," ujar Rio.

"Sampe banyak coretan tangan mereka, coba liat." Rasya menunjuk coretan-coretan yang bertuliskan nama orang tua mereka.

Zafran selalu mencintai Tania.

Diandra cantik.

Eldy kena tonjok Zahra.

Zahra paling cantik.

Dan lain lain.

"Anjay, bokap gue alay bener." Rio terkekeh geli.

"Anjir Rey, bokap lo pernah di tonjok sama nyokap lo." Rico menunjuk tulisan yang bertuliskan 'Eldy kena tonjok Zahra' .

Rey tidak bergeming, ia diam saja. Tidak perduli dengan apa yang di bicarakan teman-temannya itu.

Kini, di pikiran Rey hanya satu. Bagaimana caranya menyingkirkan gadis yang menjadi teman sebangkunya sekarang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel