Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Keterpaksaan

Malam berkabut kelam, berkali-kali Aditya salah dalam menyebutkan nama mempelai wanita saat ijab kabul di laksanakan.

Membuat semua hadirin yang menyaksikan acara sakral itu sedikit resah.

Bagaimana mungkin Aditya hanya mengucapkan nama Evi saat menikahi Nancy. Empat kali salah dalam mengucapkan nama, membuat Pak Penghulu semakin geram melihat sosok Adit yang tampak kebingungan.

"Maaf Pak, jika yang kelima ini masih salah. Lebih baik kita tunda saja pernikahan ini. Karena tidak baik, jika Nak Adit masih menyebut nama wanita lain ..." ungkapnya pada Sugondo juga Atmaja.

Nancy, yang tertutup selendang hanya bisa menggenggam tangannya sendiri. Tak menyangka, bahwa pria Aceh yang dia kagumi sejak duduk di kelas tiga SMP itu, menyebut nama wanita lain.

Aditya menghela nafas panjang, kembali mengusap wajah dan dadanya kembali terasa sesak, karena menolak perjodohan ini. Memohon izin pada kedua orang tuanya serta pria yang akan menjadi calon mertua tersebut.

"Izin Pak, saya permisi dulu ..."

Semua mata tertuju pada Adit, saat dia berlalu meninggalkan ruang akad nikah yang di hadiri keluarga dekat mereka, dengan penuh tanda tanya.

"Siapa Evi? Bukankah wanita itu tetangga kampung sebelah yang sudah menikah ...?"

Hanya kalimat itu yang terdengar dari bisik-bisik keluarga, saat Adit berlalu menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

Adit melewati Nancy, tanpa mau menoleh sedikitpun, kearah wanita yang masih berusia 23 tahun tersebut.

"Kenapa aku harus menikahi wanita itu? Bukankah dia itu anak manja, dan hanya bisa berdiam diri saja di rumah ...?" sesalnya.

Berkali-kali Adit membasuh wajahnya, agar dapat melupakan gadis yang bernama Evi.

"Tidak ada cara lain! Aku harus menikahi gadis itu, untuk mengobati hati Bapak saja. Mana mungkin aku akan jatuh hati pada wanita lain, selain Evi ...!"

Adit membuka pintu kamar mandi, tanpa sengaja dia menutup pintu itu kembali dengan sangat keras ...

BRAAAK ...!

Semua orang yang ada di ruang tamu terlonjak kaget, saat mendengar bantingan pintu dari arah belakang yang sangat mengejutkan.

Tanpa berpikir panjang, Adit melangkah menuju depan, dimana orang-orang masih menunggu diri nya untuk kembali mengucapkan ijab kabul.

Wajah lesu tak bersemangat, membuat dia tak ada pilihan lain selain menikahi Nancy putri satu-satunya Pak Sugondo yang merupakan kerabat dekat Atmaja.

Entah mengapa, Adit sangat mantap menyambut tangan Pak Sugondo, melirik kearah Nancy yang masih menundukkan kepalanya, dengan perasaan masih tak karuan.

Adit menyambung kalimat, "Saya terima nikah dan kawinnya, Nancy binti Sugondo dengan mas kawin tersebut, tunai!"

Kalimat yang di nanti-nantikan pihak kedua keluarga hanya untuk kebahagiaan putra-putri mereka, akhirnya dapat terucap dengan lancar dan tegas.

"Alhamdulillah ..."

Sambut kedua keluarga mereka saling bersalam-salaman.

Aditya memalingkan wajah, saat Nancy mendekatinya, untuk mencium punggung tangan pria yang sudah sah menjadi suami saat ini.

Wajah Adit hanya diam membisu, menerima tangan gadis itu saja dia berat, apalagi untuk mencium keningnya selayaknya pasangan pengantin yang tengah berbahagia.

Adit membuka penutup wajah Nancy, sesuai yang di arahkan pihak ibu-ibu yang hadir, membuat ia malas mendengar suara tawa dan candaan dari para keluarga.

Adit memilih duduk di sofa, bersebelahan dengan Nancy. Tanpa ada basa-basi ataupun menyapa sebagai salam perkenalan.

Rahangnya mengeras saat Ibu Adit memberikan cincin kawin untuk segera di sematkan di jari manis sang gadis yang cantik dan pendiam.

Adit menghela nafas berat, melakukan ritual seperti kebanyakan pasangan yang menikah.

Terjebak, mungkin hanya ini yang ada dalam benak Aditya. Karena kegagalan nya bersama Evi, maka kedua orang tuanya menjodohkan Adit dengan Nancy.

Gadis yang sejak dulu di elu-elukan Ibu-nya untuk menjadi menantu jika Adit sudah kembali dari Yordania.

Kini Adit dan Nancy telah resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka telah menikah, dan Nancy sudah menjadi tanggung jawab Adit sepenuhnya.

.

Malam yang terang, cahaya lampu menyinari kamar pengantin yang telah di persiapkan keluarga Nancy untuk anak menantu mereka. Tanpa resepsi, tanpa mau di gembar-gemborkan atas permintaan Adit pada Keluarga Sugondo.

Tentu Sugondo tidak keberatan, karena dia hanya mewujudkan permintaan sang putri satu-satunya.

Nancy masuk kedalam kamar, membayangkan sesuatu sangat indah akan terjadi pada malam pertamanya, mungkin dengan jeritan seorang gadis telah menyerahkan kehormatan pada pria yang sudah berstatus suami.

Seperti cerita dewasa, para sahabat kuliahnya saat mereka melewati malam pengantin yang indah. 

Akan tetapi, Nancy kini hanya bisa duduk terdiam di ranjang kamar yang tampak terang tanpa ada kata-kata 'hai' atau 'senang telah menikah dengan mu' ...

Nancy melihat Adit hanya berbalut kaus singlet putih, dan celana pendek, tanpa menghiraukan keberadaan nya sebagai istri.

"Ehem ..."

Nancy bersusah payah untuk mengajak Adit agar dapat mengeluarkan suaranya.

Namun, sejak awal mereka bertemu tak sepatah katapun yang Adit ucapkan pada Nancy.

Adit mengambil bantal, juga selimut tebal yang ada di ranjang itu, dan memilih tidur di sofa.

Tentu kejadian ini sangat mengagetkan bagi gadis polos yang berharap lebih pada pria bertubuh tegap itu.

"Mas ..." sapa Nancy memberanikan diri, saat melihat Adit tengah menyusun bantal untuk tidurnya.

Adit menoleh, menjawab hanya sekedar bahkan hanya menggunakan kode dagu ...

Nancy yang tampak serba salah melihat suaminya seperti itu, hanya bisa tersenyum tipis, "Kok ... Bukankah kita sudah menikah ...?" tanyanya dengan suara halus.

Adit tertawa kecil mendengar penuturan gadis yang tampak bodoh di hadapannya.

"Terus? Kalau sudah menikah mau ngapain? Bukankah yang memaksa kita menikah itu orang tua? Aku tidak pernah memiliki perasaan apa-apa sama kamu! Jadi kita menikah hanya keterpaksaan saja! Jangan berharap lebih! Aku tahu kamu menikah dengan ku, hanya karena aku mapan dan tampan! Jika tidak, entahlah ...!" jelasnya sungguh menyakitkan hati Nancy sebagai wanita baik-baik.

Mendengar ucapan suaminya, Nancy hanya bisa menahan tangis. Seumur hidupnya tidak pernah di perlakukan kasar oleh siapapun.

Namun, kali ini dia harus menerima perkataan kasar yang sungguh menyakitkan dari pria yang baru beberapa jam menjadi suaminya.

Dengan dada yang terasa sesak, Nancy hanya bisa bertanya, "Apa salah Neng sama, Mas?"

Adit bergidik, menyunggingkan senyum kecil dari sudut bibirnya.

"Kamu salah! Karena telah menikah dengan orang yang salah. Menikahi pria yang tidak mencintai kamu! Itu salahnya!" jawabnya enteng.

Air mata Nancy jatuh tak tertahankan, bahkan dia semakin terisak ...

Adit semakin tertawa, "Ngapain pake nangis segala! Itulah jadi istri prajurit! Mana bisa lembut, jadi mulai sekarang kita hidup masing-masing. Jangan sok peduli. Yang kamu harapkan status sebagai istri mayor! Ya kan? Dasar perempuan matre!"

Nancy meremas ujung piyamanya, penghinaan yang di ucapkan Adit semakin menyakitkan, bahkan mengiris hati dan perasaannya sebagai wanita yang dianggap lemah.

Nancy merebahkan tubuhnya di atas ranjang, hanya menangis dalam keheningan.

Malam pertama yang dianggap indah, namun hinaan dari mulut seorang pria bernama Aditya Atmaja yang dalam diam dia kagumi harus dia terima ...

"Ternyata mulut kamu tajam Mas! Lebih tajam dari pisau silet, sangat mengiris hati ..." isaknya mencoba memejamkan mata.

Sementara Adit tidak memperdulikan wanita yang tengah terisak karena kata-katanya. Baginya hanya Evi yang ada dalam benaknya.

"Bagaimana aku bisa menikahi gadis secengeng dia? Kesal ...!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel