Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pertentangan dari Orang Tua Kalen

“Kau sudah menemukan orang yang mau mendonorkan ASI-nya untuk Melvin?”

Suara Nala, ibu Kalen, terdengar tegas saat langkah anggunnya memasuki ruang tamu yang luas.

Sorot matanya tajam, penuh wibawa, seperti seorang ratu yang baru saja kembali untuk menginspeksi kerajaan yang ditinggalkannya.

Kalen yang duduk di sofa meletakkan cangkir kopinya dengan pelan, seolah sedang mempertimbangkan kata-kata yang tepat sebelum menjawab.

“Sudah. Bayinya meninggal dunia, dan dia masih memproduksi ASI dalam jumlah yang cukup banyak,” ucapnya, suaranya lebih pelan dari biasanya.

Nala mengangguk pelan, tetapi tatapan matanya masih menyelidik. “Kalau begitu, Mama ingin bertemu dengannya.”

Kalen mendesah pelan, tubuhnya menegang. “Jangan hari ini, Ma. Dia masih—”

“Kenapa tidak?” Nala memotong tanpa ragu, suaranya naik sedikit, mencerminkan ketidaksabarannya. “Kau tidak asal pilih ibu susu untuk anakmu, kan?”

Sorot matanya kini penuh curiga, menusuk Kalen seolah berusaha mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik mata gelap putranya.

Kalen menelan salivanya, berusaha tetap tenang. “Tidak, Ma. ASI yang diproduksi olehnya sangat baik. John sudah mengonfirmasinya, dan semua ASI pasti memiliki kualitas yang baik.”

Nala mengangkat alisnya, sinar tajam matanya semakin dalam. “Mama tidak bertanya tentang kualitas ASI-nya, Kalen. Tapi, orangnya. Bagaimana jika ternyata orang itu seorang kriminal? Seseorang dengan masa lalu yang kelam? Kau yakin sudah cukup mengenalnya?”

Ketegangan menggantung di udara, mengisi ruang di antara mereka dengan keheningan yang menekan.

“Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Kalen?” Nada suaranya lebih rendah, tetapi justru terdengar semakin berbahaya.

Kalen menghela napas panjang, seolah sedang menimbang keputusan yang tidak bisa dihindarinya. Akhirnya, setelah jeda yang terasa seperti seabad, ia beranjak dari duduknya. “Aku akan membawanya padamu.”

Langkahnya berat saat ia berjalan menuju kamar Melvin. Dalam kepalanya, ia sudah bisa membayangkan reaksi ibunya saat mengetahui siapa sebenarnya wanita yang kini tinggal di rumah ini.

Ia membuka pintu dengan perlahan. Nadya yang sedang duduk di tepi tempat tidur mendongak, ekspresinya berubah ketika melihat wajah Kalen yang tampak tegang.

“Mama ingin bertemu denganmu.”

Nadya terdiam sejenak. Perlahan, ia menghela napas dan bangkit dari duduknya. Tanpa berkata-kata, ia melangkah keluar kamar, meninggalkan Melvin yang tertidur pulas di dalam buaian.

Dan di luar sana, seorang wanita dengan sorot mata tajam telah menunggunya.

“Nadya?!”

Mata Nala membelalak, suaranya menggema memenuhi ruangan yang sebelumnya sunyi.

Ada keterkejutan yang begitu kentara di wajahnya, tetapi lebih dari itu—ada kemarahan yang membara, menyala seperti api yang siap melalap habis siapa pun di hadapannya.

“Apa kau gila, Kalen? Kenapa kau memilih wanita ini menjadi ibu susu cucuku?” pekiknya, nada suaranya meninggi, menusuk udara dengan tajam.

“Ma, aku sudah tidak punya pilihan lain selain Nadya. Aku sudah mencari ke setiap rumah sakit, tapi tidak ada yang mau menjadi ibu susu untuk Melvin. Hanya Nadya yang mau menerimanya.”

Kata-kata itu meluncur dari bibirnya dengan nada tegas, tetapi tak cukup untuk meredam amarah ibunya. Justru, pernyataan itu seperti bensin yang menyulut api yang lebih besar di dalam dada Nala.

“Kau memang bodoh, Kalen!” Suaranya bergetar penuh emosi, jemarinya mengepal erat di sisi tubuhnya.

“Nadya mau jadi ibu susu Melvin agar bisa mendekatimu lagi! Atau mungkin… mungkin kau, Nadya, yang telah menyabotase mobil Kalen dan menyebabkan Rania meninggal?!”

Ruangan seketika membeku.

Nadya menoleh cepat, wajahnya memucat seketika. Tuduhan itu, begitu kejam, begitu menusuk.

Napasnya tercekat, jantungnya berdegup kencang, hampir tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar.

“Aku tidak seburuk yang Nyonya pikirkan,” lirihnya, suaranya hampir tenggelam dalam badai kemarahan yang sedang berkecamuk di ruangan itu. “Yang terjadi di masa lalu pun itu hanya salah paham.”

“Bullshit!” bentak Nala, matanya menyala penuh kebencian. “Aku tidak ingin kau menjadi ibu susu Melvin. Sebaiknya angkat kaki dari rumah ini sebelum aku menyeretmu keluar sendiri!”

Darah Nadya seakan berhenti mengalir. Sakit itu kembali menghantam dadanya, lebih menyakitkan dari penghinaan mana pun yang pernah ia terima sebelumnya.

Kalen mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras.

Ia tahu ibunya tidak akan semudah itu menerima keputusannya, tetapi melihat Nadya yang berdiri di sana, dengan mata berkaca-kaca namun tetap menegakkan kepalanya, membuat sesuatu di dalam dirinya bergetar.

“Ma. Aku mohon,” ucapnya, suaranya lebih lembut tetapi tetap tegas. “Aku tidak ingin kehilangan Melvin. Aku tidak ingin kehilangan orang yang kusayangi untuk yang kedua kalinya.

“Jika Nadya batal menjadi ibu susu Melvin, akan sulit lagi mencari pengganti yang bisa menyusui Melvin.”

“Bagaimana jika terjadi sesuatu pada anakmu karena ulah wanita ini, Kalen?” Nala menatapnya, matanya mengancam, penuh kekhawatiran yang terselubung dalam amarahnya.

Ketegangan semakin memuncak.

Kalen mengepalkan tangannya lebih erat. Ia benci harus membela Nadya, benci harus melawan ibunya sendiri.

Ia tahu, jika ia bersikap terlalu lunak, Nadya mungkin akan berpikir bahwa ia masih memiliki tempat di hatinya. Dan itu adalah sesuatu yang tak boleh terjadi.

Namun, jika ia menuruti keinginan Nala… bagaimana dengan anaknya?

Ia menarik napas panjang, sebelum akhirnya berkata dengan nada yang tajam dan penuh kepastian.

“Aku sendiri yang akan menjebloskan Nadya ke penjara jika terjadi sesuatu pada Melvin.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel