
Ringkasan
Hidup Nadya hancur berkeping-keping setelah kehilangan bayi yang baru saja ia lahirkan. Luka di hatinya masih menganga, hingga takdir mempertemukannya dengan Kalen, pria dari masa lalunya yang kelam. Kalen muncul membawa bayi mungil berusia dua minggu—yang baru saja ditinggal pergi ibunya. Bayi itu alergi susu formula, dan Kalen menawarkan uang berapa pun yang Nadya inginkan, dengan satu syarat: Nadya harus menyusui anak itu. Dari permintaan yang tak terbayangkan ini, lahir hubungan yang rumit. Rasa benci, penyesalan, dan cinta bercampur menjadi satu, menggiring mereka pada perjalanan penuh konflik yang tak pernah diduga. Apakah Nadya mampu menghadapi luka masa lalunya?
Bukan Permintaan yang Diinginkan
“Kami turut berduka cita atas kepergian putra Anda.”
Ucapan itu melayang di udara seperti belati tak kasat mata, menembus langsung ke hati Nadya.
Dunia mendadak sunyi—seluruh hidupnya seperti terhenti dalam jeda waktu yang kejam.
Setelah empat jam bergulat dengan rasa sakit, bertarung melawan tubuhnya sendiri demi membawa kehidupan baru ke dunia ini, dunia malah merebutnya kembali.
Bayi itu—sosok kecil yang sudah ia cintai bahkan sebelum matanya terbuka untuk melihat dunia—menyerah.
Hanya lima menit, cukup bagi kehidupan untuk membisikkan harapan, sebelum akhirnya memutuskan bahwa dunia ini terlalu berat untuk ditanggung oleh makhluk sekecil itu.
“Anakku…” Nadya merintih, suara parau itu lebih seperti bisikan kepada dirinya sendiri daripada keluhan kepada dunia.
Air mata mengalir tanpa ampun, membasahi wajah yang sudah kehilangan warna. Bayinya—yang bahkan belum sempat ia dekap dalam pelukannya, belum sempat mengecap manisnya susu yang telah ia persiapkan dengan penuh cinta—pergi begitu saja.
Satu-satunya alasan ia bertahan di bawah tekanan keluarga suaminya kini sirna seperti bayangan di tengah kabut pagi.
Kepedihan Nadya bahkan belum sempat mereda ketika Jonathan datang, seperti badai yang menyapu reruntuhan. “Kau gagal memberiku anak, Nadya!” ucapnya tajam, suaranya menusuk lebih dalam daripada rasa kehilangan yang sudah melumpuhkannya.
Nadya mengangkat kepalanya perlahan, matanya yang sembab berusaha menangkap wajah pria yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung.
“Maafkan aku…” Suaranya nyaris tidak terdengar, tercekik oleh gelombang air mata yang terus mengalir.
Namun, bukannya meredakan luka, Jonathan malah menaburkan garam di atasnya. “Hanya itu yang bisa kau lakukan, huh? Menangis, menangis, dan menangis! Aku menyesal telah menikah denganmu!” katanya dengan suara bergetar penuh amarah.
Sebuah kertas putih melayang di udara sebelum jatuh ke pangkuannya. Tangan Nadya gemetar ketika meraihnya, mata lemah itu menelusuri kata-kata yang tertulis dengan tinta hitam, seolah-olah setiap huruf mencakar-cakar relung hatinya.
“Kau… menceraikanku?” Nadya berbisik, lebih kepada dirinya sendiri. Kata-kata itu tidak mungkin benar, meskipun kenyataan di hadapannya tidak bisa disangkal.
“Ya! Mulai detik ini kau bukan lagi istriku. Aku tidak sudi bertemu denganmu lagi. Kau gagal menjadi ibu, Nadya. Aku akan menikah dengan wanita yang lebih baik darimu!”
Tanpa memberi waktu bagi Nadya untuk menyerap kejamnya kata-kata itu, Jonathan pergi, langkah-langkahnya meninggalkan bayangan yang terasa lebih berat dari kepergiannya sendiri.
Nadya terisak, tubuhnya berguncang dalam kesunyian yang semakin pekat.
Tangannya mencengkeram kertas itu erat, seolah-olah dengan menghancurkannya, ia bisa menghancurkan kenyataan pahit yang kini membebaninya. Dadanya terasa sesak, seperti terhimpit oleh ribuan beban tak kasat mata.
“Kenapa dunia begitu kejam padaku…” ucapnya lirih, suaranya menghilang di antara tangisan yang seolah tak kunjung reda.
Di sudut pikirannya, ingatan tentang mertua yang selalu mencemooh, suami yang tidak peduli, dan bayi yang kini telah tiada bergulung menjadi satu, seperti pusaran gelap yang tidak memiliki akhir.
Nadya hanya bisa menangis, tetapi bahkan air matanya terasa tidak cukup untuk melukiskan kedalaman luka yang baru saja menghancurkan hidupnya.
Hujan turun deras di luar, mengguyur jalanan yang sepi. Nadya duduk di tepi ranjangnya, menggenggam surat cerai yang baru saja diterimanya pagi itu.
Surat itu basah oleh air mata yang tak henti-hentinya mengalir dari matanya. Kepedihan menggerogoti hatinya seperti racun yang merambat perlahan. Dadanya terasa sesak, seolah dunia menolak memberinya ruang untuk bernapas.
Ia menyentuh dadanya, merasakan ASI yang terus keluar, seolah tubuhnya menolak menerima kenyataan bahwa bayinya telah tiada. Rasanya seperti ejekan kejam dari tubuhnya sendiri.
Saat mendengar pintu ruangannya diketuk, Nadya menghapus air matanya dengan cepat, berusaha menenangkan diri sebelum orang itu masuk ke ruangannya.
Di depannya berdiri seorang pria tampan berusia tiga puluh lima tahun, pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya bertahun-tahun lalu.
Wajah pria itu tetap sama seperti yang diingat Nadya: tegas, dingin, namun matanya memancarkan kehangatan yang tak pernah bisa ia abaikan.
"Kalen?" Nadya terkejut. Kehadirannya di tengah badai emosinya adalah sesuatu yang tak pernah ia duga.
"Nadya, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," jawab Kalen tanpa basa-basi, nada suaranya tegas namun penuh ketegangan. Matanya menatap Nadya dengan intensitas yang membuatnya merasa terpojok.
"Apa?" tanya Nadya bingung, masih mencoba mencerna kehadiran pria itu di hadapannya. “Dari mana kau tahu aku ada di sini?”
Kalen menarik napas panjang sebelum menjelaskan, “Jadilah ibu susu untuk anakku.”
“Apa?” Mata Nadya membulat mendengar permintaan mendadak dari mantan kekasihnya itu.
“Anakku baru berusia dua minggu, dan dia alergi susu formula. Ibunya baru saja meninggal. Dan aku butuh kau menjadi ibu susu untuk anakku."
Kata-kata itu menghantam Nadya seperti gelombang besar. Ia terdiam sejenak, mencoba memahami maksud dari permintaan Kalen.
"Apa? Kalen, aku baru saja kehilangan anakku sendiri. Aku tidak bisa melakukan itu. Lagi pula, aku bukan ibu kandungnya," ujarnya, suaranya bergetar.
“Dari mana kau tahu aku memiliki ASI yang tidak bisa aku salurkan?” tanya Nadya dengan tatapannya masih menatap heran Kalen yang tiba-tiba saja memintanya menjadi ibu susu untuk anaknya.
“Dokter yang menanganimu adalah sepupuku. Dia memberitahuku satu jam yang lalu, setelah bayimu meninggal,” ucapnya dengan nada datarnya.
Kalen menatapnya dengan penuh harap. "Anakku butuh ASI, dan aku butuh bantuanmu. Aku akan memberikan uang sebanyak yang kau minta. Bahkan bisa memberimu fasilitas apa pun yang kau inginkan.”
Nadya menggeleng. "Ini bukan soal uang, Kalen. Aku... aku tidak yakin bisa melakukannya."
Mata Kalen yang tajam itu menatap lekat wajah Nadya yang terus menerus menolaknya. Ia sangat tidak suka penolakan, dan Nadya telah membuatnya emosi.
“Kau baru saja bercerai dengan suamimu, kan? Kau butuh tempat tinggal setelah diusir oleh suamimu. Lalu, apa alasanmu menolak permintaanku?”
"Da—dari mana kau tahu aku dan suamiku bercerai?" Suara Nadya terdengar bergetar, matanya melebar, dadanya sesak oleh keterkejutan yang baru saja ditorehkan oleh Kalen.
Pria itu tetap berdiri tegak, sorot matanya sekelam langit yang kehilangan bintang. "Aku akan memberimu tempat tinggal jika kau menerima permintaanku," ucapnya, suaranya datar, namun ada sesuatu yang berputar di balik nada tenangnya—sesuatu yang enggan ia ungkapkan.
Sejenak Nadya terdiam, membiarkan perasaan yang berjejalan di dadanya berusaha menemukan celah untuk keluar. "Ini terlalu sulit, Kalen."
Kalen menghela napas panjang dan kasar. Kesabarannya mulai goyah. Tanpa berkata-kata lagi, ia melangkah mendekat, lalu meletakkan bayi mungil itu di hadapan Nadya.
Tangisan bayi itu meraung seperti jeritan kecil yang memohon kasih sayang. Air matanya mengalir tanpa henti, napasnya tersengal-sengal dalam dekap kehausan dan kelelahan.
"Kau sudah merasakan kehilangan yang menyakitkan karena kepergian anakmu, kan?" Suara Kalen menggema dalam ruangan, menusuk Nadya hingga ke lapisan luka terdalam yang belum sempat sembuh.
"Apa kau ingin melihatnya untuk kedua kalinya? Melvin akan meninggal karena mengalami dehidrasi dan kelelahan, Nadya!"
Kata-kata itu menghujam Nadya seperti belati tajam yang menggurat luka lama. Dadanya bergemuruh, hatinya berteriak, sementara tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Bayi malang itu. Bayi tak berdosa yang kini menggigil di hadapannya.
Dengan mata berkabut, Nadya menatap makhluk kecil yang tengah meronta di dekapan Kalen. Hatinya tak kuasa menahan gejolak yang mendesak ingin meledak.
“Kemarikan bayi itu.” Suaranya lirih, hampir seperti bisikan angin yang baru saja mengembuskan keputusannya.
Kalen menghela napas lega, lalu dengan hati-hati menyerahkan bayi laki-laki itu ke dalam pelukan Nadya. Begitu hangat, begitu mungil, begitu rapuh.
"Tolong keluar dulu," pinta Nadya dengan suara yang lebih tenang, meskipun gemuruh emosinya masih belum surut. "Aku tidak yakin apakah dia mau menyusu atau tidak. Tapi, aku akan usahakan dulu."
Kalen hanya mengangguk, lalu melangkah keluar bersama John—sepupunya yang juga dokter kandungan di rumah sakit itu.
Nadya menatap bayi yang kini bersandar di dadanya, merasakan kehangatan kulit mungil itu menembus lapisan pakaiannya.
Dengan penuh kasih, ia mendekapkan tubuh kecil itu dan membiarkannya mencari sumber kehidupan.
Matanya berkaca-kaca saat Melvin mulai menyusu. Begitu lahap, seolah ia menemukan satu-satunya pelabuhan yang selama ini ia cari.
Dan di saat itu juga, Nadya menyadari satu hal—ikatan yang tak terlihat telah terjalin di antara mereka, sehalus benang sutra, namun sekuat takdir yang telah digariskan semesta.
"Sudah berapa lama kau tidak minum susu, Nak? Tampaknya kau sangat kehausan," lirih Nadya.
Jemarinya yang halus mengusap wajah bayi mungil itu dengan penuh kasih, seolah ingin menghapus setiap jejak kesedihan yang semesta berikan padanya.
Hampir setengah jam berlalu. Melvin menyusu dengan rakus, seakan menemukan kembali pelukan yang pernah direnggut darinya.
Dalam diam, Nadya menatapnya, merasakan detak jantung kecil itu bersatu dengan denyut nadinya sendiri. Namun, momen itu terhenti ketika suara langkah kaki memasuki ruangan.
Kalen kembali, sorot matanya kelam bagai samudra di malam tanpa bulan. Tanpa banyak kata, ia mengulurkan tangan dan menggendong bayinya kembali, seolah ingin memastikan bahwa kehidupannya masih ada dalam genggaman.
"Melvin sangat membutuhkan ASI milikmu, Nadya," ucapnya. Nada suaranya datar, tanpa emosi, seperti batu yang tak tergoyahkan oleh derasnya ombak.
Tatapannya tajam, menusuk langsung ke hati Nadya yang masih duduk di bangsal rumah sakit. "Jika kau punya hati, sebaiknya terima saja penawaranku."
Nadya menelan salivanya dengan pelan. Pandangannya jatuh kembali pada Melvin, tubuh mungil yang kini tertidur pulas dalam dekapan ayahnya.
Bibirnya bergetar sebelum akhirnya sebuah pertanyaan meluncur dengan suara nyaris tak terdengar.
"Bagaimana dengan orang tuamu dan juga mertuamu? Apa mereka tidak keberatan?"
Kalen mengangkat dagunya sedikit, ekspresinya tetap tak terbaca. "Tentu saja tidak. Ini keputusanku, dan sebaiknya segera beri jawaban sebelum kau menyesal, Nadya."
Nadya mengembuskan napas panjang, hatinya terasa seperti ombak yang berdebur di tengah badai.
Ia kembali menatap Melvin, lalu Kalen. Ada jarak yang terbentang di antara mereka, jarak yang dulu dipenuhi oleh kenangan manis, namun kini hanya tersisa bayang-bayang luka dan kesalahpahaman.
Akhirnya, dengan suara setenang embusan angin senja, Nadya berbisik, "Baiklah. Aku menerima tawaranmu. Aku tidak tega melihat bayi ini menangis kencang seperti tadi."
Kalen mengangguk pelan. Ada kilatan samar dalam matanya, sesuatu yang begitu cepat berlalu hingga Nadya hampir tak menyadarinya.
Ia tahu, sejak dulu Nadya adalah perempuan yang lembut, seorang wanita yang tak akan sanggup membiarkan seorang bayi menangis kelaparan tanpa berbuat apa pun.
"Aku harus mengurus administrasimu. Sebaiknya tunggu di mobil dengan John. Dia akan mengantarmu ke parkiran," ujar Kalen, suaranya masih penuh kontrol, tak sedikit pun membiarkan perasaannya menerobos keluar.
Nadya beranjak perlahan, tubuhnya masih lemah. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti menapak di atas serpihan kaca, menyakitkan dan penuh kehati-hatian. Ia akhirnya duduk di kursi roda yang telah disiapkan.
Matanya beralih kembali ke Kalen, lalu ke bayi kecil yang masih berada dalam dekapan pria itu.
Ada sesuatu yang menusuk dadanya saat ia menyadari betapa eratnya Kalen memeluk anaknya, seolah Melvin adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap berdiri.
"Kemarikan anakmu. Aku akan membawanya bersamaku," kata Nadya, suaranya lebih tegas kali ini, meskipun ada getar halus yang tersembunyi di baliknya.
Kalen terdiam. Waktu seolah melambat. Ada keheningan panjang sebelum akhirnya ia menyerahkan bayinya kepada Nadya.
Namun, sebelum ia melepaskan genggamannya sepenuhnya, bibirnya terbuka, mengeluarkan bisikan yang lebih menyerupai pengakuan luka yang tak pernah sembuh.
"Hati-hati... Hanya dia yang kumiliki setelah kepergian istriku," suaranya lirih, tetapi penuh dengan kepedihan yang dalam. "Hanya dia... kenang-kenangan yang kumiliki bersama istriku."
