Pustaka
Bahasa Indonesia

Menghancurkan Pengkhianat di Kehidupan Kedua

270.0K · Baru update
althea
202
Bab
3.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Song Jinyue adalah putri sah dari sebuah keluarga Adipati Song yang paling diidamkan, dikenal karena kecantikan dan statusnya yang tinggi. Ia dijanjikan untuk menikah dengan seorang pemuda tampan yang mirip dengan Pan An. Namun, segalanya berubah ketika sebuah kudeta di istana menghancurkan hidupnya. Tunangannya yang berhati serigala berkolusi dengan saudara tirinya untuk membunuh anggota keluarganya, menyebabkan kematiannya yang tragis. Setelah terlahir kembali, Jinyue bersumpah untuk melindungi orang-orang terkasihnya dan tidak akan mundur dalam menghadapi ancaman. Ia bertekad untuk menghancurkan tunangannya yang jahat, membuat ibu tirinya yang kejam hidup dalam ketakutan, dan merusak reputasi saudara tirinya yang sebelumnya hidup nyaman. Di sisi lain, sepupunya, yang seharusnya mati muda, kini berhak atas takhta, sementara bibinya, yang seharusnya mengalami nasib buruk, hidup dalam kemewahan. Keluarga ibunya yang seharusnya musnah kini berkembang pesat. Jinyue tidak berharap lebih, tetapi tiba-tiba, seorang pemuda yang baru saja lulus ujian dan meraih gelar tinggi menawarkan diri untuk menikahinya. Apa yang akan terjadi selanjutnya ketika jalan hidupnya berinteraksi dengan takdir yang tidak terduga?

Kehidupan SosialPerselingkuhanPengkhianatanBalas DendamZaman KunoKeluargaMengungkap MisteriDramaDewasaMenyedihkan

Bab 1

Di luar jendela, hujan deras mengguyur tanpa henti, angin kencang membawa ranting-ranting kering dan dedaunan layu yang melayang di tengah hujan.

Petir menyambar dan guntur menggelegar, seolah-olah langit runtuh.

Namun, "langit" benar-benar runtuh!

Song Jinyue, mengenakan pakaian duka serba putih, hanya menyematkan setangkai bunga putih di sanggul rambutnya yang sederhana, tanpa tambahan hiasan lain. Saat ini, dia sedang membungkuk di meja, merapikan sumbu lilin, membuat ruangan menjadi sedikit lebih terang. Nyala api yang redup memantulkan cahaya di wajahnya yang pucat, menambah rasa gelisah di hatinya.

Kegelisahan tanpa sebab merayap di pikirannya, seakan-akan sesuatu yang lebih besar akan segera terjadi.

Sang Kaisar tiba-tiba wafat, para pejabat memasuki istana untuk berjaga dan mengurus jenazah.

Karena khawatir akan keadaan Bibi Permaisuri, Song Jinyue baru masuk ke istana untuk menemani.

Tiba -tiba, pisau kecil yang digunakan untuk memotong sumbu lilin tergelincir. Tanpa berpikir panjang, ia segera meraih pisau itu, namun ujungnya yang tajam menggores telapak tangannya, membuat kulitnya yang halus robek dan darah seketika mengalir keluar.

Dia buru-buru melemparkan pisau itu ke lantai, dahinya berkerut, dan kekhawatirannya semakin mendalam.

Namun, saat itu juga, terdengar suara ribut dari luar.

Ada yang menangis histeris, ada yang berlari tergesa-gesa di tengah hujan seolah-olah melarikan diri, dan suara benturan pedang terdengar ...

Terjadi kekacauan?

Hati Song Jinyue mendadak hampa, dia tidak lagi memikirkan untuk memakai jubah, dan langsung berlari ke pintu untuk melihat apa yang terjadi. Dia melihat pelayannya, Qiu Yun, yang basah kuyup dengan wajah dipenuhi ketakutan.

"Nona, cepat lari!"

"Pangeran Kelima telah memberontak! Anda harus segera melarikan diri!"

He Yuanzhen memberontak? Tidak mungkin ... bagaimana mungkin!

Jinyue tidak percaya.

Benar, bagaimana dengan Bibi Permaisuri? Kakak Sepupu Putra Mahkota? Di mana mereka sekarang?

Song Jinyue mengangkat roknya dan berlari menuju kediaman Permaisuri, sama sekali tidak menyadari bahwa pelayannya jatuh di tengah hujan, sementara pedang tajam menembus dada pelayan dari belakang.

Sepanjang jalan, ia hanya melihat mayat -mayat yang bertebaran di jalan istana, air hujan bercampur darah telah mewarnai seluruh jalur istana menjadi merah.

"Bibi ..."

Suaranya gemetar saat melihat pintu kediaman istana yang tertutup rapat. Ia mengulurkan tangan untuk mendorong pintu, namun baru separuh terbuka, ia melihat seseorang terbaring di ambang pintu. Orang itu ternyata adalah bibi iparnya (istri dari paman –nya)!

Song Jinyue menghapus air matanya dan segera berlari masuk. Namun, pemandangan yang ia temui sungguh memilukan: istana yang biasanya ramai kini dipenuhi mayat.

Di sana, Bibi Permaisurinya terbaring di atas lantai dingin, tubuhnya terlindung oleh seorang wanita tua yang memposisikan diri untuk melindungi —wanita tua itu adalah neneknya! Di samping Bibi Permaisuri, tergeletak kakak sepupunya, Putra Mahkota, serta kakak sepupu laki-laki kedua dan kakak sepupu perempuan ketiga dari keluarga paman nya!

Mereka semua adalah keluarganya, tetapi sekarang, tidak ada lagi nyawa yang tersisa!

"Adik, kakak sungguh sulit menemukanmu. Ternyata kau di sini."

Suara itu, begitu akrab di telinganya —itu adalah kakak tirinya, Song Jinxi, putri dari ibu tirinya!

Song Jinxi tampil anggun dengan perhiasan mewah, dan di sampingnya berdiri seorang pria—bukan orang lain, dia adalah dalang dari semua ini, He Yuanzhen!

He Yuanzhen adalah tunangannya Song Jinyue!

"He Yuanzhen, Bibi ku tidak pernah memperlakukanmu dengan buruk. Mengapa kau tega melakukan hal sekejam ini?"

Sejak lahir, He Yuanzhen telah kehilangan ibunya. Karena belas kasih, Bibi nya Song Jinyue mengasuhnya, menjadikannya putra sah, dan bahkan kakak sepupu Putra Mahkota juga selalu menyayanginya.

Namun, balasannya?

Segala sesuatu yang dilihat dan didengar Song Jinyue saat ia berlari melewati istana, tidak lain adalah bukti nyata dari semua yang telah dilakukan oleh He Yuanzhen!

"Jika ingin menyalahkan, hanya bisa menyalahkan mereka karena telah terlahir dalam keluarga kekaisaran! Di dalam keluarga kerajaan... tidak pernah ada kasih sayang."

Apakah ini masih He Yuanzhen yang aku kenal?

Di manakah kak Yuanzhen yang dulu lembut dan baik hati? Orang yang begitu kejam, tak tahu terima kasih, dan berhati dingin seperti ini, bukanlah kak Yuanzhen yang aku kenal!

Tiba-tiba, sebilah pedang tajam menancap lurus ke dada Song Jinyue.

Alis Song Jinyue berkerut rapat, keringat dingin langsung mengalir dari dahinya yang pucat pasi.

Ia merasa seakan-akan dunia berputar, tubuhnya melemah dan jatuh tak berdaya ke tanah.

Darah merah segar mewarnai pakaian putihnya, membentuk bunga-bunga merah yang mencolok.

Sakit!

Rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang!

Song Jinyue memandang keluarganya yang terbaring tak bernyawa untuk terakhir kalinya.

Amarah dan ketidakpuasan akhirnya tenggelam di bawah hujan deras di luar.

……………

Baru saja memasuki musim dingin, Villa Yunquan dengan dinding bata hijau dan atap ubin putih di pinggiran Ibu kota dikelilingi oleh pepohonan maple merah yang menghiasi seluruh bukit.

Berdiri di dalamnya, rasanya seperti berada di lautan bunga.

"Nona, Nenek Zhao dari pihak Nyonya telah datang." Qiu Yun membuka pintu kamar dan melihat Nona nya kembali duduk di depan cermin tembaga yang diukir, menghela napas, lalu membungkuk untuk mengambil sisir dari kayu persik yang dihiasi dengan ukiran bunga.

Di dalam cermin tembaga, terlihat seorang gadis muda dengan wajah cantik seperti bunga, mata yang indah seperti lukisan, namun alisnya yang terkerut membuat kecantikannya tampak lebih menyedihkan.

Beberapa hari terakhir, Nona nya selalu duduk termenung di depan meja rias.

Qiu Yun menyisir rambut hitam legamnya, hatinya merasa sedikit tertekan, namun tetap menyarankan, "Bagaimanapun, Tuan Adipati tetap memikirkan Nona. Sekarang, dia sudah mengirim orang datang tiga atau empat kali untuk mengundang Nona. Nona tidak perlu lagi bermusuhan dengan Tuan Adipati. Sekarang Anda juga sudah dewasa, tinggal di sini terus tidaklah baik, bagaimana kalau kembali ke kediaman dulu baru bahas."

Lima tahun yang lalu, Nyonya yang dahulu telah meninggal dunia, dan Nona mengalami sakit terus menerus selama tiga bulan ,sudah bolak-balik memanggil dokter terkenal di ibu kota, tetapi tidak ada yang bisa membantu. Akhirnya, Tuan Adipati tidak tahu dari mana mendatangkan seorang dukun.

Dukun itu dengan tegas mengatakan agar Nona meninggalkan Ibu kota selama lima tahun untuk menjalani masa berkabung untuk ibunya, dan setelah itu baru boleh kembali ke rumah, jika tidak, dikhawatirkan akan ada bahaya terhadap nyawanya.

Setelah itu, Qiu Yun menemani Nona nya datang ke Villa Yunquan, dan benar saja kesehatan Nona semakin membaik dari hari ke hari.

Namun selama beberapa tahun ini, Tuan Adipati belum pernah datang sekalipun menjenguk Nona.

Takutnya, Nona menyimpan rasa benci di dalam hati terhadap Tuan Adipati.

Sekarang, lima tahun telah berlalu, Tuan Adipati juga telah mengirim orang untuk menjemput, tetapi Nona bersikeras tidak mau pulang.

Nenek Zhao, yang datang hari ini, adalah pelayan pengurus yang berada di sisi istri kedua Tuan Adipati.

Song Jinyue melihat wajah yang familiar di cermin tembaga yang diukir, dan merasakan sedikit kesedihan.

Ternyata dia telah hidup kembali...