Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 9 : Are you kidding me, boss?!

Reva mengumpati layar ponselnya yang menyala, saat ini Johan tengah menghubunginya karena Artan yang meminta. Perasaan Reva mengatakan tak enak hingga ia ragu-ragu untuk mengangkat panggilan telepon dari Johan.

"Hallo?" sapa Reva akhirnya mengangkat juga panggilan Johan setelah ia berpikir panjang.

".........."

"Apa? K—kenapa bisa pak Jo?" kaget Reva setelah mendengar ucapan Johan di seberang telepon.

"............."

"B—baik, saya akan segera kesana." kata Reva seraya mematikan sambungan telepon.

"Shittt!" umpat Reva segera bangkit berdiri merapikan pakaian dan penampilannya.

Aldi yang sejak tadi duduk di sofa sembari bermain gamesnya pun menoleh ke arah Reva yang tampak panik dan bersiap pergi kembali.

"Kenapa lo Re? Mau pergi lagi?" tanya Aldi yang langsung di angguki Reva.

"Iya, gue ada janji temu sama pria sinting itu."

"Pria sinting?" ulang Aldi bingung.

"Ah, nanti saja aku jelasinnya. Yang pasti sekarang ini keadaannya darurat. Tuh orang ngomel-ngomel karena kencannya dengan wanita kandidat pertama gagal. Hhh, gue pergi dulu ya Al." Reva langsung nyelonong pergi tanpa menunggu jawaban Aldi.

Aldi memutar otaknya berpikir keras, siapa orang yang di maksud Reva ini? Apa pak Johan?

Aldi mengendikkan bahunya tanda acuh tak mau pusing memikirkannya. Memikirkan kliennya saja yang beberapa hari ini banyak komplen membuat kepalanya serasa ingin pecah.

******

Reva berdiri menatap bangunan megah di depannya, bangunan mewah dan luas yang bertuliskan AN Group.

Reva sangat tahu sekali arti dibalik nama itu, AN singkatan dari nama sang pemilik perusahaan. Ya, Artan Narendra.

Tadi saat Reva tengah diperjalanan menuju ke tempat janji temu antara ia dan Artan, Johan kembali menghubunginya untuk langsung datang saja ke kantor Artan. Johan memberitahu alamat jalan menuju kantor milik Artan.

Reva ingin menolaknya, tapi, ia memikirkan kembali bahwa ini sudah tugas dan menjadi tanggung jawabnya. Bagaimanapun juga, Reva harus tetap profesional dengan pekerjaannya agar tak menimbulkan citra buruk bagi mereka sebagai Mak comblang.

Lagian, Artan dan pak Johan sudah membayar mahal untuk jasa mereka ini. Mau tak mau Reva harus siap menghadapi segala sesuatunya, termasuk resiko jika kencan antara klien dan para kandidatnya gagal.

Reva menghubungi Johan sebelum ia melangkah masuk ke dalam kantor. Dering keempat Johan baru mengangkat panggilan Reva, Reva pun langsung mengatakan pada Johan jika ia sudah sampai di alamat yang Johan berikan.

Sambungan telepon terputus ketika Johan mengatakan akan menemui Reva di luar. Selang lima menit Reva melihat sosok Johan yang berjalan keluar menghampirinya.

"Maaf, sudah membuatmu menunggu lama." kata Johan membuka suara.

"Ah, tidak juga pak Jo." sahut Reva merasa tak enak.

"Ayo!" ajak Johan membimbing Reva untuk masuk ke dalam kantor.

Mereka berdua menaiki lift, Johan memencet tombol angka di lantai mana ruangan Artan berada.

"Maaf, sudah merepotkanmu untuk datang kesini nona Reva."

"Tidak mengapa pak Johan, ini memang sudah menjadi tugas saya." jawab Reva sungguh merasa tak enak dengan Johan. Johan adalah sosok pria yang tak malu ataupun gengsi untuk meminta maaf duluan.

Ting.

Suara dentingan lift yang menandakan jika mereka berdua telah sampai dilantai dimana ruangan Artan berada. Johan dan Reva keluar bersamaan, mereka berdua berjalan bersisian.

Johan membuka pintu ruangan Artan dan menyuruh Reva masuk ke dalam.

"Bapak, tidak ikut masuk?" tanya Reva panik saat melihat Johan yang tak ikut masuk dan ingin menutup pintu ruangan Artan.

Johan menggeleng. "Artan yang menyuruhku untuk mengubungimu, dia ingin bicara empat mata denganmu saja."

"Tapi, pak—"

"Johan, tutup pintunya!" teriak Artan  menatap tajam ke arah pintu.

Johan mengangguk. "Semoga berhasil!" kata Johan memberi semangat untuk Reva.

Diluar pintu ruangan Artan, Johan tersenyum senang karena Reva dan Artan kembali bertemu yang pastinya akan ada adu mulut dari keduanya. Pasti seru! Entah kenapa Johan malah lebih suka jika Reva saja yang menjadi kandidatnya daripada menjadi Mak comblang untuk Artan.

"Sampai kapan kau akan berdiri terus seperti patung disitu?!" pertanyaan sindiran yang telak Artan untuk Reva yang hanya berdiam diri di depan pintu yang kini tertutup rapat.

Reva menghela nafas dan membalikkan badannya menghadap ke arah Artan yang duduk di kursi kebesarannya. Pria itu terlihat tengah sibuk dengan layar laptopnya dan sesekali membuka berkas demi berkas yang menumpuk di mejanya.

Apa-apaan pria ini? Dia menyuruhku datang tapi dia sendiri sibuk dengan pekerjaannya. Apa dia pikir hanya dia sendiri yang sibuk?! batin Reva menguatkan iman dan kesabarannya menghadapi Artan.

"Duduklah!" suara Artan menginterupsi menyuruh Reva agar duduk.

Reva melirik ke arah sofa panjang ada di ruangan itu, Reva melangkah mendekati sofa panjang itu.

"Siapa yang menyuruhmu untuk duduk di situ?" tanya Artan ketika Reva sudah akan mendaratkan bokongnya untuk duduk.

"Jadi, aku harus duduk dimana pak?" tanya Reva sabar dengan bokong yang setengah duduk dan nyaris menyentuh sofa.

Artan tersenyum tipis. "Disini!" sahutnya menepuk ke arah pahanya.

What? Are you kidding me boss?!

Tbc...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel