Part 8 : Kandidat pertama
"Dimana wanitanya?" bisik Artan di telinga Reva.
Saat ini mereka berdua tengah di cafe yang menjadi tempat janjian bertemu atau tempat kencan Artan dengan salah satu wanita yang menjadi kandidat pertama.
"Mungkin sebentar lagi dia sampai," sahut Reva yang masih fokus pada layar ponselnya.
Artan mendengkus sebal, berapa lama lagi mereka harus menunggu si wanita ini? Sudah cukup lama mereka menunggu, inilah hal yang paling di benci Artan. Satu kata ini yang sangat membosankan, Artan benar-benar sangat benci yang namanya menunggu.
Biasanya di kantor ia yang di tunggu-tunggu para bawahannya, dan sekarang untuk hal seperti ini harus ia sendiri yang menunggu.
Awas saja kalau wanitanya jelek ataupun tak sesuai kriteria idamanku. Akan ku telan hidup-hidup nih Mak comblang. batin Artan mengomel.
"Sebentar ya," pamit Reva bangkit berdiri namun tangannya di cekal Artan.
"Mau kemana?" tanya Artan penasaran.
"Wanita itu, maksudku kandidat yang pertama sudah datang. Aku akan membawanya kesini untukmu, oke!" Reva mengedipkan sebelah matanya seraya nyelonong pergi setelah Artan melepaskan cekalan tangannya.
Artan menatap punggung Reva yang perlahan menghilang di balik pintu cafe.
Lima menit kemudian Reva kembali masuk ke dalam cafe dengan seorang wanita cantik, mereka berjalan bersisian. Reva menoleh dan tersenyum pada wanita itu yang juga tersenyum padanya.
"Nah, itu dia!" tunjuk Reva saat mereka sudah akan dekat dengan meja Artan yang kini tampak sibuk dengan ponselnya.
"Tampan sekali!" puji wanita kandidat pertama itu. "Aslinya lebih tampan dari fotonya."
"Ya, begitulah." sahut Reva mual mendengar pujian untuk Artan.
Mereka berdua sudah sampai di meja Artan, Reva berdeham untuk menyadarkan Artan akan kehadiran mereka.
Artan melirik ke arah bawah yang menampilkan dua pasang high heels, satu berwarna hitam yang tadi dipakai Reva dan yang satu lagi berwarna merah.
"Wow, warna yang sangat menggoda dan menantang. Sexy!" batin Artan puas dengan kesan pertamanya.
Artan menyimpan ponselnya kembali ke saku jasnya, mendongakkan kepalanya bersiap melihat wanita itu.
Bukannya melihat ke arah wanita kandidat pertama, mata Artan malah fokus ke wajah Reva yang kini tengah tersenyum manis.
"Pak Artan, perkenalkan, ini dia wanita kandidat pertama yang akan menjadi calon pasangan bapak." ucap Reva tersenyum manis memperkenalkan wanita itu.
"Mbak, Mira, ayo silakan duduk." Reva menarik satu kursi yang duduk berhadapan dengan Artan, dan meja sebagai penyekatnya.
"Terima kasih mbak Reva."
"Sama-sama, silakan nikmati waktu kalian dan semoga sukses." kata Reva memberi semangat di akhir kalimatnya.
Reva undur diri dari hadapan mereka, memang seperti inilah tugasnya. Ia tidak akan ikut mencampuri kliennya bila sedang melakukan kencan.
Hhhh, Reva bisa sedikit bernafas lega. Tinggal menunggu hasilnya, Reva berdoa semoga Artan dan mbak Mira cocok.
*****
"Artan, itu namamu kan?" tanya Mira tersenyum manis.
"Iya, benar." sahut Artan cuek.
"Mau pesan apa?" tanya Artan saat salah seorang pelayan datang menghampiri mereka.
"Kamu ingin pesan apa?"
"Pertanyaan yang dibalas pertanyaan," kata Artan tersenyum geli.
Mira tertawa kecil yang semakin membuat wajah cantiknya tampak menggemaskan. "Samakan saja pesanan kita berdua."
"Oke baiklah," sahut Artan cepat.
Pelayan itu pergi setelah selesai mencatat pesanan mereka berdua, tinggalah Artan dan Mira yang kembali diam. Keduanya canggung dan kembali bungkam sampai Mira sendirilah yang membuka suaranya bertanya pada Artan.
"Umur kamu berapa?" tanya Mira berbasa-basi.
"Memang Mak comblang itu tidak memberitahu umurku berapa?"
"Ada kok, 30 tahun."
"Lalu, kenapa kau bertanya lagi."
"Agar suasana diantara kita tak canggung," sahut Mira tersipu malu.
"Hhh, seharusnya jika kau tak ingin suasana diantara kita terasa canggung. Kau tanya hal lain saja."
"Seperti, misalnya?" tanya Mira penasaran.
"Begini...." Artan menjeda ucapannya.
Mira menunggu kelanjutan kalimat yang akan Artan lontarkan dengan mata menyipit penasaran.
"Sudah pernah berciuman? Sudah pernah berhubungan intim? Berapa kali melakukannya? Nah, seperti itu contohnya." kata Artan tersenyum mesum.
Mulut Mira menganga lebar mendengarnya, apa-apaan pria ini?
"Uhm, sekarang giliran aku yang bertanya." Artan menatap fokus wajah Mira yang kini berubah merah padam menahan marah.
"Berapa ukuran bra-mu? Ku lihat payudaramu sangat besar." tanya Artan terkekeh.
Shitttt!
Byurrrrr.
Mira menyiram wajah Artan dengan jus jeruk bertepatan dengan pelayan yang saat itu mengantarkan pesanan mereka.
"Pria brengsek kau!" umpat Mira kesal seraya berlalu pergi.
Kejadian itu sukses kembali membuat Artan menjadi tontonan para pengunjung cafe lainnya.
"Sempurna!" gumam Artan tertawa geli melihat dirinya yang naas karena ulahnya sendiri.
Entah kenapa mulutnya rasanya sangat gatal sekali ingin mengatakan hal itu pada Mira. Artan bisa menilai sendiri bagaimana diri seorang Mira hanya dengan satu kali pertemuan.
Tbc...
