Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Serangan Gumshin

“Aku Asahi, penunggu pohon keramat di hutan Yeongdam,” katanya menjawab dengan suara yang terdengar lantang dan bulat.

Perempuan berkepang dua itu berjalan menghampiri Bai Lu. Ia menatapnya dengan kedua bola matanya yang merah, dan membulat sempurna dengan begitu tajam dan juga tegas.

“Kau Han Yuram bukan? Seorang Jeonsa goljjagi penguasa gunung Halla yang terkenal karena aroma bunga Lilynya.”

Bai Lu berjalan mundur satu langkah dari hadapan Asahi. Bagaimana mungkin ia tahu tentang dirinya? Apakah Han Yuram seterkenal itu? Sampai semua orang mengenal tentang dirinya?

“Dari mana kau tahu tentang diriku?” tanya Bai Lu begitu polos.

Asahi tertawa lebar begitu keras hingga ia menitikkan air matanya, karena saking lucunya pernyataan Bai Lu barusan, serta membuat Lee Gon dan juga Ling Fei saling beradu pandang dengan bingung.

“Dari mana kau bilang? Kau sangat polos sekali, Han Yuram. Semua mahluk di dunia ini tahu tentang dirimu. Seekor semut saja tahu apapun yang berkaitan dengan dirimu. Bahkan, mereka semua itu ingin sekali membunuhmu.”

Asahi mengucapkan kalimat terakhirnya dengan setengah berbisik, hingga membuat Bai Lu yang mendengarnya cukup terkejut dengan kedua bola matanya yang membelalak.

Mendengar kata bahwa semua orang ingin membunuhnya, Bai Lu mendorong tubuh Asahi dengan kasar yang jaraknya itu cukup dekat dengannya.

“Apa kau gila!!” Bai Lu berteriak ketakutan dan terlihat mulai panik.

“Mau apa kau sebenarnya? Apa kau ada maksud tertentu untuk mendekati kami?” Lee Gon berteriak begitu melihat Bai Lu mendorong tubuh Asahi hingga tersungkur jauh.

“Batu merah suci. Semua gumiho, bahkan para roh jahat penghuni alam semesta ini ingin sekali mendapatkannya. Apa kalian tidak sadar, kalian itu incaran para gumiho. Mereka semua ingin membunuh kalian, terutama dirimu!” Asahi menunjuk wajah Bai Lu dengan menggunakan tongkat sakti miliknya.

Ling Fei mendekati Lee Gon dan setengah berbisik padanya. “Jangan macam-macam padanya, Gon~ah. Itu tidak akan ada gunanya.”

Lee Gon menatap wajah Ling Fei bingung. “Kenapa? Memangnya siapa dia?”

“Dia si pemilik tongkat sakti bunga teratai alas dewa yang cukup melegenda di hutan Yeongdam. Jika kau mencium aroma bunga Jasmine, berarti dia ada di sekitar kita.” Ling Fei menjawab dengan suara yang pelan dan masih menatap wajah Asahi yang tampak sedang bersitegang dengan Bai Lu.

“Pantas saja, aku mencium aroma bunga Jasmine saat Asahi muncul. Ternyata, dia si pemilik tongkat sakti bunga teratai alas dewa dari Yeongdam yang sangat melegenda itu.”

Ling Fei melangkahkan kakinya dengan perlahan untuk mendekati sosok perempuan bernama Asahi itu. Begitu Ling Fei hendak memegang pakaiannya, Asahi langsung mundur dua langkah dan menjauh darinya.

“Kau mau mencari tahu tentangku diriku bukan? Kau ingin membaca masa laluku, kan?”

Ling Fei tersenyum lebar. Garis senyumnya membentuk sebuah isyarat akan sesuatu hal yang mencurigakan, dari sosok Asahi yang cukup melegenda di hutan Yeongdam itu.

“Kau pintar juga, Asahi.”

Asahi tersenyum sinis dan menyeringai. Ia melipat kedua tangannya dan kembali menatap Ling Fei, Lee Gon, dan Bai Lu silih berganti.

“3 bersaudara Jeonsa goljjagi dari Lembah Air Terjun Suci. Pendekar sakti yang sedang mencari batu merah suci, dan berusaha untuk melenyapkan Aeshin. Betulkah perkataanku?”

“Benar sekali, kami memang sedang mencari batu merah suci itu. Lantas, kenapa kau bertanya?Apa kau berusaha untuk mencarinya juga?”jawab Lee Gon sedikit menantang dan kembali menatap wajah Asahi yang terlihat dingin, dengan wajahnya yang bengis seperti pembunuh berdarah dingin.

Ling Fei melihat Asahi seperti mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Begitu hendak melemparkan sesuatu itu ke arahnya dan kedua saudaranya, ia langsung menatap ke arah Lee Gon dan juga Bai Lu.

“Awas, dia akan melemparkan jarum beracun!!” teriak Ling Fei memperingati.

Begitu Jarum beracun itu dilemparkan ke arah Lee Gon dan juga Bai Lu, Lee Gon langsung mendorong tubuh Bai Lu dan membawanya terbang ke atas pohon. Melihat hal tersebut, Asahi tak tinggal diam begitu saja.

Ia langsung berlari dan menerbangkan dirinya ke arah Lee Gon, bermaksud untuk kembali menyerangnya. Melihat hal tersebut, Bai Lu langsung memanggil pedang Hayeongsan miliknya, kemudian menyerang Asahi yang ingin menghunuskan tongkat sakti bunga teratai alas dewa miliknya itu ke arah Lee Gon.

Pergulatan pun tak dapat dihindari lagi. Pertarungan sengit antara Bai Lu dan Asahi di atas pohon membuat Ling Fei dan Lee Gon berusaha untuk membantu saudaranya.

Namun, seperti apa kata cerita para mahluk di hutan Yeongdam, Asahi memang sangat sakti dan sangat sulit untuk dikalahkan. Banyak senjata rahasianya yang cukup berbahaya, yang bisa saja melenyapkan nyawa setiap orang yang menyerangnya.

Dan, salah satu senjata itu adalah jarum beracun. Bai Lu berusaha untuk menghindari serangan Asahi, namun Asahi yang tampal cerdik itu menyerang Bai Lu dengan jarum beracunnya kembali.

Melihat hal tersebut, Ling Fei langsung berlari ke arah Bai Lu, kemudian menggores tangan Bai Lu dengan cepat, hingga mengeluarkan kembali mengeluarkan tetesan darah.

Tetesan darah itu pun langsung ia manfaatkan dengan melemparkannya ke arah Asahi yang mulai merasakan rasa nyeri dan ngilu di sekujur pergelangan tangannya.

“Darah abadi? Kau ingin melenyapkanku dengan darah abadi milik Han Yuram, Ling Fei!!” teriak Asahi sambil memegang pergelangan tangannya yang mulai membiru, karena mengenai darah abadi milik Han Yuram yang cukup meresahkan setiap lawan yang ingin menyerang mereka.

“Hanya itu kehebatanmu, Asahi?” teriak Lee Gon tersenyum puas dan terlihat bangga dengan kemampuan saudaranya yang sangat hebat itu.

Asahi yang kesal langsung menyerang Lee Gon dengan tongkat sakti bunga teratai alas dewa miliknya. Namun, saat ia sedang bertempur dengan Lee Gon, sekelebat bayangan hitam muncul dengan gemuruh angin yang membentuk gulungan badai, untuk memporak-porandakan tempat di mana Lee Gon dan juga Asahi sedang bertempur.

“Lari!!” teriak Ling Fei kemudian begitu melihat gemuruh angin badai datang secara tiba-tiba.

“Ada apa, Ling Fei?” Bai Lu kembali berteriak dan berusaha menahan dirinya agar tidak terbawa arus angin yang begitu kencang, hingga membuat beberapa tanaman, pepohonan, dan dedaunan terbang terbawa angin.

“Pasukan Gumshin datang untuk menyerang kita!! Cepat lari dan selamatkan diri kalian!!” teriak Ling Fei kembali.

Begitu mendengar perintah Ling Fei, Lee Gon, Bai Lu, dan juga Asahi mulai melarikan diri dan menyelamatkan diri mereka dari gumpalan angin yang semakin besar, hingga menerbangkan hal apapun yang berada di sekitar mereka.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel