Pustaka
Bahasa Indonesia

LAST ODYSSEA

73.0K · Tamat
Steviaraya
53
Bab
2.0K
View
8.0
Rating

Ringkasan

Setelah 10 tahun penantian, akhirnya Nicky merasakan kehamilan pertamanya. Tapi ternyata Jackson sang suami justru sudah punya dua anak lain dari hasil perselingkuhan. Nicky di buang oleh keluarga Jackson Anggara karna di anggap telat memberikan keturunan. Dendam yang memanas akhirnya memaksa Nicky untuk membangkitkan kembali Scalazzar, sebuah kelompok mematikan yang sudah lama hiatus. "Bunda, gak usah khawatir. Shen, udah siap." Gadis itu berdiri tegap dengan air mata tertahan. Dendam yang sama juga ia rasakan setelah tau masa lalu sang Bunda. Shenina Zeviolla, si cantik jelita dengan segala rasa murka dan keberaniannya, berjalan anggun dengan wajah manis dan kepolosan untuk menutupi jati dirinya yang sebenarnya.

TeenfictionBillionairePengkhianatanPernikahanThrillerWanita Cantikactionbadboypembunuhanpetarung

PROLOG

Wanita itu melangkah tertatih, lelah menangis seharian, peluh membasahi sekujur tubuhnya. Lemah. Dengan sekuat tenaga ia mendekati pesawat telepon yang terletak di ujung ruang tamu, tangannya bergetar menekan nomor demi nomor kemudian meletakan gagangnya di daun telinganya.

“Van, bisa ke sini?” Wanita itu berbicara sedikit parau membuat lawan bicaranya mendadak panik.

“Nick, kamu kenapa?” balas lawan bicaranya.

“Bantu aku, Van, aku gak kuat.”

“Tunggu.” Sambungan telepon itu diputus sepihak, wanita itu meletakan kembali gagang teleponya, kemudian duduk bersandar di tembok di sisi meja. Tangisan pilunya kembali pecah. Tangannya mengelus perutnya yang rata.

“Maafin Bunda, Nak,” ucapnya pada perutnya sendiri. Ia tersenyum getir, meremas dadanya yang teramat sakit, kejadian satu jam yang lalu membuat dunianya runtuh seketika.

Tok tok tok ...

Pintu rumahnya terbuka lebar, manampilkan sesosok wanita dengan perut membuncit dari balik pintunya.

“Nicky, kamu kenapa?” Wanita itu berlari menerjang, membantu Nicky untuk berdiri, membawanya duduk di kursi sofa.

Tangis Nicky kembali pecah. “Sakit, Van ...,” lirinya terisak.

Wanita itu mengelus lembut rambut Nicky, berusaha menenangkannya. “Coba pelan-pelan cerita ada apa?”

Nicky menghela nafas panjang, dalam sengguknya ia berkata, “aku hamil, Van.”

Wanita itu tersenyum lebar, penantian panjang sahabatnya kini berakhir bahagia. “Alhamdulillah, akhirnya ...”

“Tapi Jackson pergi ninggalin aku, Vanilla,” lanjut Nicky, tangisannya kembali pecah.

Wajah Vanilla berubah pias, senyumnya memudar. “Maksud kamu?”

“Dia selingkuh, Van.”

Bagai disambar petir di siang hari, melihat tangisan pilu Nicky membuat hati Vanilla tercabik-cabik, ia membawa Nicky dalam pelukannya, berusaha memberinya ketenangan.

“Ayah mertuaku datang menjemput dia dan Melvin, ia memberitahu kalau Jackson sudah punya istri lain yang sedang hamil enam bulan,” tutur Nicky.

Vanila terdiam membisu, tangannya masih setia mengelus rambut dan punggung Nicky, lamat-lamat air matanya ikut mengalir.

“Kamu ... sudah kabari keluarga mu?”

Nicky menggeleng. “Aku masih berharap Jackson kembali, Van.”

Vanilla mengangguk. “Dia harus kembali, Nick, dia harus memilih kamu. Ini penantian panjang kalian selama sepuluh tahun.”

“Dia pasti kembali kan, Van?”

“Insyallah.”

Bulan demi bulan dilewati oleh Nicky Zevionna seorang diri, tangisan pilu seolah menjadi minumannya sehari-hari. Kadang kala Vanilla datang membantunya saat ia kesakitan, membelikan susu, dan merawat Nicky ketika morning sickness-nya menyerang tiba-tiba, juga mengantarnya chek up ke dokter kandungan. Sampai akhirnya Vanilla berhenti menjaganya karena wanita itu juga baru saja melahirkan anak pertamanya.

Kebahagiaan Vanilla adalah kebahagiaan Nicky juga. “Ganteng anak mu, Van,” puji Nicky sambil mengelus pelan pipi bayi lelaki dalam gendongan Vanilla.

“Kalau nanti anak mu perempuan, kita jodohkan saja gimana?” usul Vanilla.

“Boleh tuh, pasti anaknya Nicky cantik kayak Bundanya,” sahut suara bariton yang baru saja datang membawakan dua gelas susu putih di atas meja.

“Ini untuk Vanilla dan ini untuk kamu, Nicky.” Ia menyajikannya di atas meja. “Jangan sampai tertukar, yang satu untuk ibu hamil dan satu lagi untuk ibu menyusui.”

Dua wanita itu terkekeh pelan kemudian meminum susu masing-masing.

“Makasih, Mas,” ucap Vanilla pada suaminya.

Pria itu mengangguk, matanya menatap Nicky sendu. “Kamu sudah dapat kabar tentang suami mu?” tanya nya.

Nicky menggeleng. “Biar saja, aku tak berniat mencarinya. Lagi pula keluarga besar ku sudah siap ...”

“Siap apa?” tanya Vanilla.

Nicky menggeleng seraya tersenyum tipis. “Maksud aku sudah siap merawat ku dan anak ku nanti.”

Mereka mendesah lega, tangan Vanilla mengusap pelan tangan Nicky. Ketiganya kembali sibuk memperhatikan bayi lucu dalam gendongan Vanilla.

Telepon rumah Nicky berdering, suaranya beradu dengan hujan petir di malam itu. Nicky bergegas mengangkatnya, satu tangannya mengelus perutnya yang sudah berusia delapan bulan.

“Hallo, Kak,” sapa Nicky.

“Saya akan datang ke Jakarta bersama beberapa pasukan, kamu siap-siap,” final suara lelaki di seberang sana.

“Baik, Kak,” jawab Nicky kemudian menutup sambungan teleponnya.

Wanita itu tersenyum tipis, mengelus perutnya yang semakin membesar. “Selamat datang anak Bunda, selamat datang di dunia penuh darah dan kekejaman.”

“Dunia ini terlalu buruk dan jahat untuk kamu, Malaikat Kecil ...”

Nicky terus meracau, memberi pesan-pesan kecil untuk sang buah hatinya yang belum lahir.

“Suatu saat nanti kamu akan sangat mengerti betapa Bunda sangat menyayangi kamu.”

****

16 Tahun Kemudian,

Suasana arena latihan itu saat ini cukup ramai, ini adalah hari Sabtu di mana jadwal latihan bersama diadakan di aula besar itu. Kebanyakan dari mereka memilih adu jotos sebagai olahraga favorit, atau sekedar bermain-main dengan multigym, memukul samsak, berputar-putar dengan scooter, olahraga panah, basket, semua dilakukan di dalam aula itu.

Gadis cantik itu duduk terdiam memandangi beberapa foto di tangannya, senyumnya menyeriang memandang satu foto pria dewasa bersama dua lelaki di sisi nya. Ia baru saja selesai berlatih beladiri dengan salah satu seniornya, tiba-tiba seorang pria paruh baya yang masih sangat bugar dan kekar duduk tepat di samping gadis itu. Ia mengusap pelan kepala sang gadis semabari memberikannya sebotol air minum.

"Kenapa?" tanya pria itu.

Gadis itu menggeleng pelan. "Papa ku ganteng juga."

Gentara terkekeh. "Untuk apa ganteng tapi otaknya di dengkul," cibirnya.

"Om Genta gak kangen sama mantan adik ipar?"

Pria itu berdecih. "Jika kamu laki-laki sudah ku buat remuk tulang mu."

Gadis itu terkekeh menanggapi. Satu hal yang paling mencuri perhatiannya adalah sosok remaja yang berdiri di sisi kanan pria itu, dia memiliki raut wajah yang cukup mirip dengan dirinya. Hal ini berkali-kali membuat gadis itu merasa kesal bukan main, ia tak ingin disamakan dengan para bajingan tengik itu.

“Andares, Leo, dan Renier sudah pernah kalah di sana. Kamu harus kembali, balaskan apa yang menurut mu harus dibalas.” ucap Gentara pada Shenina. Pria bertubuh atletis dan mata yang tajam itu menatap tiga lelaki yang sedang latihan fisik di ruang gym tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Empat tahun bukan waktu yang sedikit, kamu sudah sangat hebat sejauh ini, Nak,” lanjutnya seraya mengusap kepala gadis itu.

“Salma!” panggil Gentara pada seorang gadis berkaus hitam yang baru saja selesai latihan. Matanya menyorot gadis yang Andares bawa dari Indonesia sejak tiga tahun yang lalu, kemudian tatapannya beralih menginterupsi Keanu. “Ajarkan dia cara menjadi bandit yang elegan.”

Keanu mengangguk, ia tersenyum tipis menatap Salma lalu mengajak gadis itu menuju arena latihan tembak.

Shenina memandangi kepergian mereka, Salma adalah sosok yang paling sangat ia hormati, selain karena cerdas dan tangkas Salma juga menyimpan banyak rahasia yang belum terungkap sampai saat ini.

Shenina selalu penasaran, apa yang membuat Salma seketat itu menyimpan rahasia, Salma yang penuh teka-teki karena tidak mau menimbulkan peperangan yang lebih besar lagi. Salma juga yang membuat Shenina sadar akan arti persaudaraan dan ikatan darah di tengah dendam yang membara.

Jika lima jagoannya selalu mengajarkannya kekerasan, maka berbeda dengan Salma yang selalu memandang segala sesuatu dengan sudut pandang yang luas.

“Ken,” panggil Andares. “Jangan terlalu keras sama Salma.” Keanu hanya mengacungkan ibu jarinya ke udara dan melanjutkan langkahnya.

*****