Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Malam pun menjelma, usai mempersiapkan makan malam Aina duduk di teras sambil memandang rintik gerimis yang terus saja berjatuhan.

Lelah. Itu Aina rasakan saat ini, tubuhnya butuh istirahat tapi suami dan ibu mertuanya tak membiarkan ia beristirahat sama sekali.

Aina memandang kedua putranya yang sedang terlelap dalam rengkuhannya, sejenak ia berpikir bagaimana jika berpisah dengan Azam apa mungkin ia sanggup mengurus Saka dan Suga sedangkan ia harus mencari nafkah seorang diri.

"Cepat besar buah hati Bunda," lirih Aina lalu tanpa terasa bulir bening menetes begitu saja.

Kecewa, marah dan sedih. Itu yang di rasakan oleh Aina saat ini, wanita yang kesehariannya hidup tanpa kasih sayang dan cinta itu sedang kecewa dengan keadaan. Aina masih berharap ada keajaiban dan cinta untuknya kelak.

Di ciumnya pucuk kepala dua putra kembarnya sambil membisikkan, "kelak jangan mewarisi sifat nenek dan ayahmu."

Tepukan keras mendarat di bahu kiri Aina membuat ia terperanjat, saat ini Aina merasa dirinya seperti seorang pembantu dan pemuas nafsu saja untuk suaminya.

"Ayo! Aku sudah seminggu tak merasakannya," ajak Azam.

Tak ada kata manja seperti saat awal Azam mengejar cintanya. Penyesalan hanya tinggal penyesalan, Aina yang terpaksa menerima Azam dengan menyanggupi mahar yang Aina buat untuk sebuah penolakan tapi nyatanya kini menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

"Mas. Aku capek mengurus Saka dan Suga sendiri. Kepalaku juga rasanya sakit," lirih Aina lalu ia bangkit dari duduknya.

Aina mudah saja bangkit karena kedua putranya berada dalam gendongan kain.

"Kenapa harus menolak ajakan suami? Kau tau itu dosa, Aina?" Azam dengan mudah berbicara tentang dosa, apa ia pikir selama ini yang ia lakukan bukanlah dosa.

Dengan berat langkah Aina mengikuti Azam menuju kamarnya, menidurkan buah hati di ranjang khusus bayi kemudian Aina beranjak ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan tubuhnya namun Azam terlebih dahulu menyambar lengan Aina.

"Mas," panggil Aina saat melihat suaminya itu menatapnya dengan tatapan aneh.

Seperti biasanya, Aina sudah paham. Azam tak akan mau menunggu lagi, setiap berhubungan dengan Aina Azam sudah mengkonsumsi obat terlebih dahulu.

Hati Aina remuk setiap setiap kali berhubungan badan dengan suaminya itu karena Azam melakukannya bukan karena landasan cinta.

Larut begitu saja dengan keadaan hingga sepuluh menit terlewatkan, kini hasrat Azam sudah tertuntaskan agar rasa sakit di bagian terlarang dan kepalanya sedikit berkurang.

Azam menatap malas wajah Aina yang kusam, tak ada ucapan kata terimakasih pada sang istri karena telah memuaskan hasratnya justru Azam melemparkan pakaian Aina yang teronggok di lantai ke wajah ibu dua anak itu.

"Cepat pakai. Nanti keburu Saka dan Suga bangun," ucap Azam seraya memakaikan pakainya sendiri.

Secepatnya Azam berbaring dan memejamkan matanya, mengabaikan Aina yang masih terpaku.

Sesakit ini diperlakukan seperti pemuas nafsu belaka. Tubuh Aina gemetar menahan tangis karena Aina tak ingin terlihat lemah di mata Azam.

Pernah Aina menangis namun Azam semakin murka dan memaki Aina dengan mengungkit segala sesuatu yang begitu menyakitkan termasuk mahar yang pernah ia berikan.

Bergegas Aina mengenakan pakaiannya, rasanya melayani Azam kini Aina merasa jijik karena tak ada rasa cinta pada laki-laki yang ia sebut suami itu.

Awal menikah memang tak ada cinta di hati Aina tapi ia berusaha mencintai Azam seiring berjalannya waktu hingga dua putranya lahir dan di situ ke hancurnya perasaan Aina saat mertua Aina hadir dalam rumah tangga mereka.

Intan selalu menyuntikkan perkataan buruk pada Azam agar selalu membenci Aina dengan alasan mahar besar yang tak sepadan dengan derajat Aina yang hanya lulusan sekolah menengah pertama.

Berlahan Azam pun membenarkan perkataan ibu kandungnya, karena Intan selalu mengatakan surga berada di bawah telapak kaki ibunya dan surga Aina berada di bawah telapak kaki suaminya, jadi setiap apa yang Aina berikan pada ibunya harus atas izin Azam termasuk mahar.

Terlarut dalam lamunan Aina tak menyadari dua putranya menangis karena haus. Hingga kaki kiri Azam menendang Aina yang dari tadi hanya duduk memandang lurus ke depan.

"Anak-anak bangun. Apa kamu tuli?" Azam menegaskan perkataannya membuat Aina menyentuh dadanya.

Walaupun berulang kali Azam mengatakan umpatan namun hati Aina tetap merasa perih karena yang mengatakan itu adalah suaminya sendiri jika orang lain yang mengatakan itu mungkin Aina sudah pergi dan tak mau mengenal lagi orang itu.

Entahlah. Aina sendiri bingung dengan nasibnya dan kedua putranya, bergegas Aina bangkit dari duduknya lalu mendekat ke arah ranjang bayi sambil mengulas senyum memandang ke dua putranya yang kini diam seketika.

"Anak-anak ibu haus ya? Cup ... cup." Aina meraih ke dua putranya namun saat tangan Aina meraba punggung bayi mungil itu sudah basah karena mengompol.

Aina menoleh menatap Azam yang terlelap di atas ranjang, mengurus bayi kembar seorang diri bukan perkara mudah namun Azam mengabaikannya. Membelikan pempers saja Azam enggan dengan alasan uang di toko masih dalam pengiritan dan Azam pernah mengatakan tak mau lagi banyak mengeluarkan uang lebih banyak lagi karena untuk mahar saja ia sudah banyak menghabiskan uang.

Ibu dua anak itu hanya terdiam, seolah ini semua adalah salahnya.

Dengan cekatan tangan Aina mengantikan pakaian dua putra kembarnya lalu menidurkannya lagi setelah menyusui Saka dan Suga.

Detak jam terus berbunyi, Aina belum juga terlelap. Pikirannya terlalu banyak, saat ini Aina sedang memikirkan bagaimana caranya bisa menghasilkan uang dengan cepat tapi tidak mengeluarkan modal sama sekali. Pernah jadi kuli cuci tapi Intan marah-marah pada Aina karena mempermalukan dirinya dan Azam.

Kini tatapan Aina tertuju pada gawai Azam yang tergeletak di atas nakas, setelah beberapa kali bergetar.

Aina bergeser sedikit lalu menyalakan gawai milik Azam. Ada beberapa pesan terlihat di layar termasuk pesan mesra dari seorang wanita.

"Sayang besok suamiku tak ada di rumah. Datang ya, Mas."

Samasekali tak ada rasa sedih di hati Aina saat membaca pesan yang ada di gawai suaminya itu, bukan Aina tak ada rasa cemburu tapi hatinya kini telah mati.

Jika tidak memikirkan tentang anaknya saat ini Aina ingin sekali bercerai dengan Azam tapi satu sisi lainnya Aina juga berpikir bagaimana jika ayah dan ibunya tahu, ke dua orang tua Aina pasti tidak akan setuju jika Aina bercerai dengan Azam karena menurut mereka perceraian bukalah hal terbaik.

Dalam hati kecil Aina, dirinya sungguh tidak ingin lagi tersiksa batin seperti saat ini. Semenjak kedatangan mertuanya itu membuat Aina seperti babu di rumah suaminya. Bukan hal mudah membuat hati selalu tabah menerima perlakuan buruk dari suami dan mertuanya tapi Aina akan mencoba untuk bertahan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel