Bab 8 Gregory Abel, Serigala Tanah Lenin
“Samanta, apa Tuan Hugo sudah menghubungi lagi?
“Belum, Pak. Apa perlu saya telepon beliau?” tanya wanita pirang berparas cantik hidung mancung.
“Tidak, biarkan saja. Aku percaya dengan kinerjanya.” Seorang pria memakai kemeja hitam panjang tanpa jas dengan potongan rambut pendek hitam lurus, mata biru, dan jambang tipis kanan-kiri pipinya.
Dialah Gregory Abel, pria 40 tahun yang mungkin bisa dikategorikan sugar daddy. Parasnya yang tampan, sangar, dengan mata biru kecil tajam, alis tebal, membuat perempuan manapun yang menatapnya langsung jatuh cinta.
Gregory adalah Presdir sekaligus CEO Yukoi Oil & Gas, salah satu perusahaan minyak dan gas terbesar di Rusia dan keturunan bangsawan Dinasti Romanov.
Sayangnya, meski ia seorang Presdir dan CEO, Abel, begitulah pria tampan ini disapa oleh orang-orang terdekatnya tak pernah mau bertemu dengan kolega bisnisnya jika ia merasa tak seirama dan tak menyukai kolega-kolega bisnisnya itu dan lebih memerintahkan Hugo untuk turun tangan, termasuk pembangunan museum yang disponsori oleh perusahaannya ini.
Abel kembali ke ruangannya yang penuh lukisan dari berbagai belahan dunia, karena ia memang penikmat seni kanvas.
Menyandarkan punggung ditemani iringan musik klasik, Abel mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Telunjuknya mengetuk-ngetuk meja, sedang kedua matanya mulai terpejam menikmati gesekan biola bercampur tuts piano.
Saat Abel akan masuk ke mimpi indahnya, ponsel miliknya berdering dan membangunkan matanya. Jemarinya menjamah ponsel miliknya dan nama Hugo tertulis di layar gawainya.
“Ya, bagaimana?” sahut Abel.
[Mengenai pembangunan museum, sudah mencapai 70 persen tuan. Apakah kita akan memanggil arsitek itu ke sini?]
“Akan ku pertimbangkan lebih dulu, siapa nama arsitek yang bertanggung jawab atas museum ini?” tanya Abel penasaran.
[Nona Zivanna, tuan]
“Oh, ternyata seorang wanita?”
[Benar, tuan. Tapi saya jamin tuan Gregory tak akan kecewa dengan desain Nona Zivanna. Karena saya telah mengawasinya sejak beberapa tahun yang lalu]
Abel terdiam. Dia sangat percaya pada kemampuan Hugo dalam menganalisis pasar dan menilai kemampuan seseorang.
“Lakukan apa yang menurutmu baik, tuan Hugo. Aku percaya padamu,” sahut Abel menyudahi pembicaraannya.
Belum lama sang CEO menutup telponnya, kali ini ponselnya kembali berdering. Abel kembali menatap layar gawainya dan melihat nomor tak dikenal tertulis di layar ponselnya.
“Ya, Gregory di sini,” ucap Abel selalu menyebut nama depannya pada orang asing yang tak dikenalnya.
[Selamat sore waktu Rusia, tuan Gregory. Bagaimana kabar Anda?]
Abel mengernyit.
“Siapa ini?”
[Hendardi Joshua Yahya, Anda tak melupakan saya, bukan?]
“Oh, Tuan Joshua. Apa kabar? Lama tak mendengar suara Anda. Bagaimana bisnis dan perusahaan Anda?”
[Baik, tuan Gregory. Bagaimana dengan bisnis Anda, apakah semuanya berjalan baik?]
“Ya…ya, semuanya berjalan dengan baik. Terima kasih. Ngomong-ngomong, ada apa menghubungi saya, Tuan Joshua?”
[Saya ingin minta bantuan Anda, tuan Gregory]
Abel menjauhkan sedikit ponselnya dan melihat sekilas nomor ponsel yang diterimanya. Bantuan apa yang orang ini maksud.
“Bantuan apa maksud Anda, tuan Joshua?”
[Bisakah Anda meminta putri saya datang ke Rusia dan menyelesaikan desainnya di sana?]
Abel terkejut! Dia mengingat kembali ucapan Hugo tentang arsitek yang baru saja dikatakannya.
Apakah arsitek itu putri orang ini? batin Abel.
[Bagaimana Tuan Gregory? Anda bisa bantu saya?] tanya Hendardi Joshua Yahya sekali lagi.
“Apa yang bisa saya dapatkan jika membantu Anda?” otak bisnis Abel mulai bicara.
Sial! Paling malas aku berurusan dengan orang seperti ini! batin Hendardi.
[Perusahaan saya tengah membangun kilang minyak di lepas pantai Indonesia, jika Anda bersedia-”]
“Kita bisa bicarakan hal itu saat bertemu muka, bagaimana tuan Joshua?”
[Saya akan mengikuti waktu Anda, tuan Abel]
Setelah keduanya menyudahi percakapan di telepon, Abel tersenyum pas karena merasa mendapatkan tangkapan yang luar biasa.
“Tak salah aku memilih Hugo sebagai pengamat pasar untuk perusahaan, dia sangat berguna,” ujar Abel.
Bunyi pesan masuk di aplikasi pesannya memaksa ia kembali membuka ponselnya.
“Kenapa hari ini ada banyak orang yang menggangguku!!!” keluh Abel membuka pesan yang masuk ke ponselnya.
Zeze : Abel, kamu nggak datang ke museum?
Abel hanya membaca dan melihat isi pesan tersebut dan membalasnya.
Me : Aku sibuk. Maaf, ya.
Zeze : Oh, kukira kamu akan datang ke museum. Yasudah kalau begitu. Kamu udah makan? Kalau belum aku kirim makanan, ya?
Me : Tidak, terima kasih. Tapi kamu akan sangat membantu jika tidak terus-terusan mengirimi aku pesan.
Dengan santai, Abel melempar asal ponsel miliknya. Zeze, perempuan asal Indonesia yang berstatus mahasiswi di salah satu universitas bergengsi di Rusia yang selama setahun belakangan dekat dengan Abel karena keduanya sama-sama bekerja sebagai kurator museum Hermitage.
Tak ada yang mengetahui identitas Gregory Abel karena dia telah menutup mulut semua media Rusia melalui uang dan pengaruh yang ia miliki, ditambah sikap introvert sang CEO memberi keuntungan baginya.
“Samanta, periksa latar belakang arsitek yang menangani pembangunan museum Herzberg. Berikan informasinya padaku besok,” titah Abel melalui line telepon miliknya.
Aku penasaran apa ada hubungan antara Tuan Hendardi dengan arsitek itu, ya? batin Abel.
***
Di Jakarta, waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Ziva sama sekali tak bisa memejamkan mata, sementara Rio telah pergi ke alam mimpi. Dengan mata sendu, ia melihat sang suami dan mengusap lembut wajah Rio. Air matanya hampir lolos dari ekor matanya bila mengingat kejadian yang mereka alami hari ini.
Sungguh, Ziva tak tahu lagi bagaimana menghadapi sikap angkuh dan dingin papanya. Tak ada yang ia inginkan kecuali restu dan uluran hangat keluarganya pada Rio. Ziva mencoba kembali tidur setelah mengusap air mata yang telah sampai di ujung ekor matanya, namun ia teringat jika desain museum yang diinginkan kliennya belum selesai.
Dengan langkah pelan, Ziva keluar kamar menuju ruang kerjanya. Sebuah gambar yang hampir selesai terpampang di papan gambarnya, mau tak mau Ziva harus memaksakan mata dan fisiknya demi masa depan keluarga kecil dan bahagianya, itulah yang awalnya dipikirkan olehnya.
Di belahan benua lain, Abel telah menerima informasi mengenai Zivanna dengan sangat detail. Samanta, sang asisten pribadi Abel dengan cepat memberikan segala informasi yang diminta. Sang CEO pun membaca dan terlihat tertarik dengan informasi yang diberikan.
Senyum simpul terpatri di wajah tampan Abel, namun senyum itu hilang dan berganti dengan kernyitan kening saat ia membaca jika Zivanna ternyata memiliki saudari bernama Zevannya.
“Menarik!” tukas Abel disertai senyum lebar.
Tangannya pun mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
“Zeze.”
[Abel! Kenapa? Tumben telepon?]
“Apa kau masih di museum?”
[Ya, aku masih di sini. Kenapa?]
“Pulang aku jemput ya.”
[Hah? Aku nggak salah dengar nih? Kamu mau jemput aku?]
“Iya, kenapa? Tidak boleh?”
Zevannya mencubit pipi tirusnya dan merintih pelan, kesakitan.
[B-boleh dong. Oke, aku tunggu, ya]
Keduanya menyudahi percakapan di telepon. Zevannya tak menyangka jika pria yang terkenal cuek dan dingin di kalangan pekerja yang bekerja di museum Hermitage ternyata akan menjemputnya, sontak, rona merah di wajah adik Zivanna ini langsung merah, menahan kesenangan.
Di tempat lain, Abel mulai bersiap untuk berganti pakaian dan merubah statusnya menjadi pekerja biasa. Pekerjaannya sebagai kurator telah ia jalani selama setahun, tepat saat Zevannya melamar menjadi kurator di museum Hermitage.
Tak ada yang tahu mengenai pekerjaan sampingan Abel, termasuk ibunya, Louise Romanov, seorang cicit keturunan Dinasti Romanov terakhir.
Pukul 9 malam, Abel telah berdiri di depan tempat kerjanya, museum Hermitage. Udara dingin Moskow yang menusuk kulit tak dihiraukannya. Manik birunya melihat seorang wanita berjalan hampir berlari ke arah dirinya berada.
“Sudah lama, Abel?” tanya wanita itu tak lain tak bukan Zevannya.
“Baru saja. Kamu sudah makan?” tanya Abel masih belum terlalu fasih mengucap bahasa Indonesia.
“Belum. Kamu?” tanya Zevannya lagi.
“Aku juga belum,” balas Abel.
“Kalau begitu kita makan dulu?” ajak Zevannya.
Bagus! Zeze mulai terpancing! batin Abel.
“Okay, pilihlah restoran yang kamu mau,” ucap Abel.
“Hah? S-serius? Kamu kejatuhan duren, Abel?” tanya Zeze tak percaya.
“Ke-jatuhan duren? Maksudnya?” Kening Abel mengernyit.
“Maksudnya tuh kamu lagi dapat keberuntungan? Uang banyak?” jelas Zeze.
“Oh, yah…anggaplah begitu. Jangan buang waktu, ayo kita makan,” ajak Abel.
***
Rio yang meraba sisi ranjang kanan sebelahnya kosong langsung membuka lebar matanya. Ia terbangun dan beranjak mencari Ziva yang saat ini pasti berada di ruang “bertapanya”.
Benar saja! Saat Rio membuka pintu ruang kerja Ziva, ia melihat istrinya tertidur pulas menelungkupkan kepalanya di atas papan gambar masih memegang pensil di tangan kirinya.
Sebenarnya aku kasihan pada Ziva, ia sangat bekerja keras banting tulang demi keluarga kami. Tapi jika aku ingat dengan perlakuan dan sikap papanya, aku benar-benar tak ingin menikahinya! batin Rio masuk ke dalam dan membangunkan sang istri.
“Sayang…Sayang, bangun. Masuk, yuk.” Ajak Rio terus membangunkan Ziva.
“Ada apa, sih Mas? Jam berapa ini? Aku masih ngantuk,” ucap Ziva yang masih memejamkan matanya.
“Jam 1 pagi, Ziv,” bisik Rio.
“Hah? Apa! Jam 1 pagi?” Ziva langsung membuka lebar kedua matanya. “Kok Mas nggak banguni aku, sih? Haduh, mati aku…” keluhnya buru-buru Ziva melanjutkan desainnya.
“K-kenapa, Ziv? Kok panik banget?” tanya Rio mulai ikutan panik.
“Gimana nggak panik? Desainnya harus dikasih ke klien ku hari ini dan kamu lihat kan desainku….” Ziva menunjuk desainnya dengan napas kesal.
“Harus hari ini? Nggak bisa dinego selesainya?” tanya Rio pelan dan hati-hati agar tak menyinggung perasaan Ziva.
“Itu udah hasil nego, Massssss…” Ziva mulai menggambar lagi. Sementara Rio hanya bisa menghela napas panjang.
“Mau kutemani?” tawar Rio.
“Nggak usah. Aku harus konsentrasi! Harus selesai hari ini!” tegas ziva.
Rio tak berkomentar apapun. Ia segera kembali ke kamar dan mengambil ponselnya.
Me : Aku sudah tak tahan lagi hidup dengan Ziva, Sayang!
Pesan itu Rio kirim ke Diani, entah akan dibalas atau tidak, yang penting ia telah menyampaikan isi hatinya.
Di sisi lain, Ziva yang masih mengguratkan garis-garis kasar pada kertas dihinggapi rasa bersalah karena bersikap tak acuh pada Rio saat sang suami bertanya padanya. Namun saat ini yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana caranya agar pekerjaannya selesai sehingga kliennya puas dan itu otomatis akan berdampak pada karir dan keuangan mereka pastinya
Maafkan aku, mas Rio. Bukannya aku mengacuhkanmu, tapi aku harus profesional, demi masa depan keluarga kecil kita.
***
Abel dan Zevannya saat ini sedang menyantap makan malam salad dan sup khas tanah Lenin. Keduanya tampak sangat menikmati makan malam yang menurut Zeze romantis dan mungkin tak akan terulang lagi nantinya.
Kedua mata wanita cantik ini terus memperhatikan pria tampan rupawan di depannya, masih ada rasa tak percaya jika Abel mengajaknya makan malam.
“Boleh aku tanya satu hal, Abel?” tanya Zeze sedikit ragu dan takut.
“Ya, tanyalah,” sahut Abel santai.
“Kenapa tiba-tiba menjemput dan mengajak makan malam?” tanya Zevannya penasaran.
“Apa salah jika aku mengajak partner kerjaku makan malam? Setidaknya, aku ingin tahu lebih banyak mengenai dirimu, Nona Zeze ata kupanggil Zeze?” Abel mulai mengeluarkan pesonanya.
“Kau ingin tahu tentangku? Memangnya apa yang membuatmu tertarik Abel? Bukankah kau tak suka dengan mencari tahu tentang hidup orang lain?” kali ini Zeze berusaha memancing Abel.
Ternyata wanita ini menarik juga, jauh di luar ekspektasiku, batin Abel hanya tersenyum mendengar kata-kata Zeze.
“Jadi, apa yang ingin kau tahu, Abel?” tanya Zeze sekali lagi.
“Aku ingin tahu tentang keluargamu. Bisa kau ceritakan?” pinta Abel.
Adik Ziva ini terdiam sejenak, ia melihat dengan tatapan sedikit curiga pada Abel karena apa yang didengar selama ini olehnya sangat berbanding terbalik dengan yang ia alami sekarang.
Apakah Abel sedang memancingku? batin Zeze menutupi curiganya dengan sebuah senyuman.
“Tak ada yang menarik dari keluargaku. Hanya satu orang tua, dan kakakku, juga suaminya.” Ucap Zeze menikmati segelas vodka di malam yang dingin.
“Itu saja?” Abel menaikkan kedua alisnya.
“Ya, itu saja. Tak ada yang spesial bukan?” sahut Zeze.
Ternyata Zeze tidak sebodoh yang kukira, batin Abel.
“Apa kakakmu bekerja, Ze?” tanya Abel lagi.
“Ya, dia seorang arsitek. Kudengar dia baru saja memenangkan tender untuk membangun museum di sini.”
Ternyata benar! Zivanna adalah arsitek yang dimaksud! Abel tertawa puas dalam hati.
“Ada apa? Kenapa tiba-tiba tanya kakakku?” selidik Zevannya.
“Tidak, tak ada apa-apa. Hanya tanya saja,” ucap Abel tak ingin Zeze mencurigainya. “Bagaimana dengan suaminya?” lanjut tanya Abel.
“Apa?” sahut Zeze yang hampir tersedak karena Abel masih bertanya tentang sang kakak.
“Maksudku, apa pekerjaan suaminya?”
“Kakak iparku dosen, tapi aku tak pernah menyukainya-” Zeze langsung membungkam mulutnya dan meminum vodkanya.
Abel menangkap sinyal “tak beres” dari mimik wajah Zeze, dan hal itu semakin membuatnya penasaran dan tertarik menyelami keluarga Yahya.
Aku harus mencari tahu latar belakang Zeze dan sang arsitek ini.
“Oh, ya. Apa besok kamu masuk, Abel?” tanya Zeze mengalihkan topik lain.
“Ya, besok aku masuk. Kenapa?” balas Abel.
“Ada lukisan yang baru saja dibeli oleh museum dari Paris, kalau tak salah lukisan Aprodhite.”
“Aprodhite?” Abel menaikkan kedua alisnya.
“Iya, dari Louvre museum.”
Abel bergeming, ia memang menyukai sesuatu yang bernilai estetik dan mahal, tanpa pikir panjang ia mengiyakan untuk memeriksanya. Zeze yang berasa ketiban durian runtuh pun melambungkan senyumnya.
Tak pernah ia sangka kan semudah ini mendekati pria dingin dan cuek seperti Gregory Abel.
“Tapi, boleh aku minta bantuanmu, Zeze?” tanya Abel tersenyum simpul.
“Ya, tentu saja. Apa yang bisa aku bantu?” jawab Zeze.
“Aku ingin bertemu dengan kakakmu.”
“A-apa?” mata Zeze terbelalak membulat sempurna. “Kenapa tiba-tiba mau bertemu kakakku?” tanya Zeze lagi.
“Karena aku ingin belajar banyak hal, terutama desain bangunan.”
Benarkah hanya sebatas ingin belajar, Abel? Tak ada niatan lain darimu pada kakakku? batin Zeze.
