Bab 7 Teguran Keras Ayah Mertua
Rio tak serta merta keluar kelasnya setelah mata kuliahnya selesai. Ia sibuk menyusun lembaran fotokopi dari kertas yang telah usang mengenai peradaban kota tua Mesopotamia.
Saat mahasiswa/mahasiswinya keluar kelas, Anastasia masih berada di dalam dan melihat lurus ke depan, tepat di mana Rio berdiri di mimbar biasa ia mengajar.
“Kamu nggak keluar?” tanya Rio melihat Anastasia masih duduk manis di kursinya.
“Sebentar lagi, Pak. Bapak sendiri belum keluar?” balasnya.
“Saya masih ada kerjaan,” jawab Rio.
“Kayaknya Bapak kesusahan, ya. Boleh saya bantu?”
Anastasia hendak beranjak dari kursinya, maksud hati ingin membantu Rio, tapi sang dosen melarangnya dan memintanya segera keluar kelas.
“Kalau kamu nggak ada kelas lagi, lebih baik tanya sama teman-teman kamu yang sudah lebih dulu mempelajari mata kuliah yang saya ajarkan tadi, karena itu masuk mata kuliah wajib! Dan saya minta jangan pernah anggap remeh setiap mata kuliah yang saya ajarkan. Satu lagi, saya juga bukan tipikal dosen yang akan memberitahu kapan ujian, karena kalian bukan anak kecil lagi, paham?” tegas Rio melirik Anastasia yang tampak santai berdiri di hadapannya.
“Paham, Pak. Lagipula, fakultas saya pun juga menerapkan hal yang sama. Jadi, bukan masalah jika kebijakan Bapak seperti itu. Tapi….” Anastasia menjeda ucapannya.
“Tapi apalagi?”
“Bapak mau terima ini kan?” Anastasia merogoh tasnya dan mengambil bungkusan pipih bersampul kertas kado
biru laut.
“Ini apa?” Kernyit Rio melihat bungkusan yang dipegang Anastasia.
“Sesuatu untuk Bapak.” Senyum Anastasia.
Rio menaikkan salah satu alisnya. Padahal dia telah memperingatkan mahasiswi ini untuk tidak memberikan apapun padanya, karena memang seperti itulah peraturannya, ditambah ada hati yang harus ia jaga.
“Maaf, saya tidak bisa menerima.” Rio mengambil ancang-ancang meninggalkan kelas, tapi tiba-tiba Anastasia menarik tangan Rio dan memberikan bungkusan tersebut langsung padanya sambil berjalan cepat meninggalkan kelas.
“Hei, kamu! Anastasia!” panggil Rio keluar kelas sambil meninggikan bungkusan yang diberikan gadis cantik itu.
“Pokoknya saya nggak mau tahu, Bapak harus terima barang itu!” teriak Anastasia diikuti senyuman dan lambaian tangan pada Rio, kemudian hilang dari pandangannya.
“Kenapa aku bisa kedapatan mahasiswi kaya gitu, ya.” Gumam Rio balik badan, terkejut saat melihat Diani berdiri di belakangnya.
“Astaga, Sayang! Bikin kaget aja!” Rio mengelus dada, melihat kanan-kiri, was-was jika ada yang melihat.
“Enak, ya dikasih hadiah baru pertama kali ketemu, eh, ini udah yang kedua kali ya kalau nggak salah?” sindir Diani menyeringai.
“Apaan sih, Sayang. Jangan mikir macam-macam dulu. Aku juga nggak mau terima pemberiannya, mau aku balikin. Kebetulan, dia lintas jurusan dan baru pindah hari ini, itupun aku nggak tahu,” papar Rio membela diri.
Diani lagi-lagi memberikan senyum sinis dan berlalu tanpa berkata apapun.
“Tunggu,” Rio mencegah Diani pergi.
“Ada apa?” tanya Diani dingin.
“Apa tak ada yang ingin kau katakan padaku?” Rio mendongakkan kepalanya, memandang angkuh Diani.
“Tentang?”
“Semalam!” sahut Rio dingin.
“Tak terjadi apa-apa!” balas Diani tak kalah dingin dan hendak melanjutkan langkahnya.
“Aku belum selesai, Diani!” Rio dengan cepat meraih tangan Diani dan menggenggamnya kuat.
“Lepas atau kuteriak!” ancam Diani.
Rasanya, Rio ingin menjepit dagu wanita yang terkadang membuatnya kesal setengah mati ini, tapi dia ingat ada hutang balas budi yang harus ia bayar.
Sial! Aku benar-benar sial! batin Rio melepaskan tangan Diani dan agak bersalah setelah melihat warna kemerahan pada telapak tangannya.
“Maaf,” ucap Rio lirih.
“Aku nggak mau bertengkar dengan kamu, Rio! Tapi tolong jangan sulut emosiku karena apa yang telah kau lakukan hari ini membuatku muak?” Diani pergi dari hadapan Rio dengan ekspresi marah.
Jika aku tak terikat dengan pertolonganmu, aku juga tak sudi berhubungan dengan wanita sepertimu! batin Rio.
***
Ziva yang saat ini sedang dalam mood yang baik sedang menikmati spaghetti kesukaannya. Diawali dengan pagi yang menyita emosi, dan diakhiri dengan senyum kepuasan.
“Sepertinya Hannah harus tahu soal ini.” Ucapnya dengan semangat membuka ponselnya dan mulai mencari nama sahabat karibnya itu di kontak telepon.
“Ayolah, angkat Hannah…masih tidur apa ya ni orang?” gumam Ziva terus mencoba menghubungi sahabatnya itu.
Tangan satu mengaduk-aduk spaghetti tangan yang lain menempelkan ponsel di telinganya, begitulah kebiasaan Ziva. Tak jarang kebiasaannya ini sering mendapat teguran dari sang suami yang dianggapnya tak sopan dan membuang waktu.
“Ke mana, sih ni Han-”
[Halo]
Suara lembut wanita di ujung telepon menggendang di telinga Ziva.
“Hannaaaaahhhhh!!!” serunya
[Ziziiiiiii, sayangku. Apa kabar dirimu? Kangen banget aku tuh sama kamu. Om gimana kabarnya? Zevannya?] rentet pertanyaan Hannah.
“Kebiasaan kamu nggak berubah ya, Han. Masih ke to the po plus kaya kenek, nyrocos aja.” Tawa riang Ziva.
[Ih, kamu tuh! Aku kan udah lama banget nggak balik ke Indonesia, terakhir waktu kamu nikahan, kan ya?]
“Ye, itu sih masih baru. Tiga tahun lalu, Han,” jelas Ziva hanya geleng-geleng kepala mendengar macam-macam pertanyaan dari sahabatnya.
[Habis kamu nggak ada kabar sama sekali. Gimana kabar suami kamu? Udah badan dua belum?]
“Rio kabarnya baik, papa juga baik, kalau Zevannya, aku nggak tahu karena semenjak menikah, kami udah lama nggak saling berhubungan,” papar Ziva terdengar sedih.
[Oh, dear…don’t be sad. Mungkin Zeva lagi sibuk, bukannya dia ambil Master kan di Rusia?]
“Iya,” balas Ziva.
[Dan pas banget klien kamu orang Rusia]
“Kebetulan aja itu, Han. Itu juga kalau bukan karena kamu, aku nggak bakal kaya gini.”
[Bukan karena aku, Zi. Tapi tuan Hugo pernah melihat desainmu sewaktu lomba di Zurich itu, lho]
Ziva mengingat lomba yang dimaksud Hannah.
“Maksudmu lomba desain antar mahasiswa internasional itu?” tanya Ziva setengah tak percaya.
[Iyes, betul banget, Zi! Tuan Hugo itu sejak awal udah perhatiin gaya desainmu, pernah beberapa kali juga nanya sama aku soal kamu. Dia sempat tanya sama aku apa kamu mau kerja di perusahaannya? Tapi waktu itu kamu mau nikah, jadi…]
Ziva hanya mampu menelan ludah kasar dan tubuh lemas mendengar ucapan Hannah.
[Tapi nggak usah kamu pikirkan, Zi ucapanku barusan. Toh, kamu sekarang juga kerja sama kan akhirnya sama tuan Hugo. Kupercayakan perusahaanku padamu. Oh, ya, satu lagi. Tuan Hugo masih punya atasan, seorang pria keturunan bangsawan, aku lupa siapa namanya. Yang pasti dia seorang CEO]
“Terus apa hubungannya Hannah?” bingung Ziva.
[Dengan atasannya lah kamu nanti akan berhubungan jika tuan Hugo sampai memintamu ke Rusia. Sudah dulu, ya. Bye Zizi sayang]
Belum selesai Ziva ingin tanya lebih lanjut, Hannah telah memutus pembicaraan. Ziva sangat penasaran siapa atasan tuan Hugo yang dimaksud.
***
Sore hari, saat jam perkuliahan mulai selesai, Rio menyudahi aktivitasnya mengajar. Ia berjalan cepat kembali ke ruang dosen dan tak sengaja berpapasan dengan Diani. Biasanya, Rio akan menyelipkan senyumnya, meski sekilas.
Tapi saat ini senyum itu hilang dari wajah suami Zivanna, yang ada hanya saling diam dan tak acuh. Arnold yang melihat sikap Rio dan Diani yang tak biasa lantas berujar, “Tumben, kalian kaya Tom and Jerry. Lagi berantem, ya?”
“Berisik!” ucap Rio dan Diani bersamaan.
Tak pelak, reaksi mereka mendapat lirikan sedikit curiga dari para dosen senior, dan Arnold. Dosen narsis itu hanya tersenyum semu dan tak lagi banyak bicara, segera kembali ke mejanya.
Me : Masih marah?
Namun tak segera dibalas Diani, meski ponselnya tergeletak di atas meja.
Me : Sibuk ngerjain apa?
Lagi, Diani tak acuh pesan yang masuk ke ponselnya. Rio mulai kesal dengan sikap Diani. Hingga akhirnya ia beranjak dari kursinya dan mengambil kasar tas gendong yang biasa ia gunakan.
“Aku pulang dulu, Nold.” Rio menepuk pundak kiri Arnold.
“Tumben cepet banget, mau kangen-kangenan ya sama nyonya Rio Wibisono?” ledek Arnold, sempat membuat Diani melirik tajam dan lirikan Diani dilihat oleh Rio. Menyeringai, Rio membalas, “Mau bikin anak dulu.”
Spontan, ucapan Rio tambah memanasi hati Diani dan Rio sangat jelas melihat ketidaksukaan Diani.
Me : Sayang, Mas udah mau jalan ke kantormu, ya. Kita berangkat bareng.
Setelah berkirim pesan ke Ziva, Rio segera menyalakan mobil dan meninggalkan parkiran kampus.
Ziva membaca pesan yang dikirim suaminya. Bahagia meski agak khawatir tentang pertemuannya dengan sang papa malam ini, karena ia tahu jika Rio sama sekali tak pernah disukai oleh papanya.
“Semoga papa tak menjadi singa liar yang kelaparan saat bertemu mas Rio nanti,” ucap Ziva bersiap menyambut kedatangan Rio.
Sejam kemudian, Rio tiba di kantor Ziva dan menemuinya. Ziva yang telah siap segera meluncur ke rumah lama dan menemui papanya.
“Tanganmu kenapa dingin, Sayang?” Tanya Rio saat menggenggam tangan Ziva hendak ke mobil.
“Ga apa-apa, Mas,” jawab Ziva menutupi takut dan cemasnya.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Rio membelai lembut rambut Ziva.
“Aku hanya takut dan deg-deg-an, kenapa papa nyuruh kita ke rumah.”
“Bukannya itu hal yang wajar ya, Sayang? Papa itu kan orang tuamu, mertuaku, jadi ya wajar saja,” balas Rio santai.
“Tapi-”
“Sudah, nggak usah dipikirkan. Aku tahu bagaimana sikap papamu padaku. Tapi, yah mau gimana lagi, memang dari awal beliau tak suka padaku.” Senyum ditunjukkan suami Ziva, tapi dalam hatinya, ia yakin pasti suaminya sangat tak nyaman, malah mungkin sakit hati.
“Atau kita alasan aja ke papa nggak bisa datang ke rumah hari ini karena ada urusan mendadak?” Ziva menghentikan langkahnya tepat di depan mobil mereka.
“Kenapa harus begitu, Sayang? Udahlah, kamu nggak usah takut dan parno begitu.
Aku yakin papa nggak akan ngomong macam-macam,” yakinkan Rio.
Semoga saja begitu, Mas. Batin Ziva masuk ke mobil meninggalkan kantornya
***
Hampir sejam di perjalanan karena macet yang menggila, Rio dan Ziva tiba di sebuah rumah mewah bergaya Mediterania putih dengan dua pilar kokoh di depan dan halaman depan rumah yang luas.
Tak lama, satpam rumah tersebut segera membuka pintu gerbang tinggi warna hitam dan memberi senyum.
“Selamat malam, Nona Besar.”
Ziva membalas dengan senyuman, Rio yang awalnya biasa saja mendadak pucat dan gelisah.
Kenapa perasaanku nggak gini, ya? batin Rio melihat rumah tersebut dengan tatapan marah, kesal, sedih, entah bagaimana ia harus mengungkapkannya.
“Sayang, ayo….” Ziva membuka pintu mobil dan mengajak sang suami segera menemui Hendardi Joshua Yahya.
Tenang…tenangkan dirimu Rio….
Saat pintu dibuka, ternyata sang papa telah duduk menyilangkan salah satu kakinya ditemani isapan cerutu Kuba, melihat kedatangan dua orang yang telah dinantikannya.
“Malam, Pah,” Rio dan Zia berbarengan
menyapa.
“Waktu Papa nggak cuma nunggu kalian! Papa juga masih banyak urusan yang lebih penting!” suara keras Hendardi langsung menyeruak di gendang telinga Rio dan Ziva.
“Maaf, Pah. Saya dan Ziva sebisa mungkin datang cepat, tapi jalanan macet, Pa,” jelas Rio.
“Dari dulu Jakarta emang selalu macet! Kamunya aja yang nggak becus cari jalan alternatif kek, jalan tikus kek, ngakunya dosen tapi otaknya nggak dipakai!” hardik Hendardi.
“Pa, cukup! Tolong hentikan! Kami datang ke sini dengan maksud dan tujuan baik. Kalau bukan karena Mas Rio yang minta Ziva datang ke sini, Ziva juga nggak mau datang!”
“Oh, begini rupanya hasil didikan suami dosenmu itu? Bisa membentak dan bicara keras dengan orang tuamu? Rio, apa yang telah kamu lakukan pada putriku, hah? Apa didikan keluargamu kamu ajarkan ke putriku? Kamu cuci otaknya, kamu doktrin dia, kamu jejali dia dengan asupan buruk ajaran keluargamu, iya!” makin lama suara sang papa makin tak terkendali.
“Pa! Kenapa Papa sangat membenci Mas Rio? Kenapa Papa nggak pernah bisa terima Mas Rio di tengah keluarga kita? Apa karena masa lalunya atau karena…”
Ziva mengepakkan kedua tangan di samping tubuhnya.
Dengan bibir gemetar, Ziva berucap kembali, “Atau karena pernikahan Ziva yang hanya digunakan sebagai penebus hutang keluarga Mas Rio?”
“Ziva!!” Hendardi dan Rio kompak seru memanggilnya.
Rio segera memeluk erat sang istri, tak peduli apa yang akan dilakukan…dikatakan oleh mertuanya.
“Papa boleh tak menyukaiku, tapi tolong hargai Ziva! Dia anak kandung Papa!”
Sekian lama menahan emosi, akhirnya Rio mengungkapkannya juga. Hernandi sedikit terkejut dengan sikap menantunya yang sering dianggap sampah dan tak berguna itu.
“Kamu berani bicara keras sama saya? Dengar ya, kalau bukan karena ayahmu punya hutang sama keluarga saya, Ziva juga nggak bakal saya nikahkan sama kamu! Dia layak dapat pria yang lebih dari kamu, paham!” Hernandi menunjuk tepat ke wajah Rio.
“Papa, cukup! Ziva benci Papa! Ziva nggak akan mau lagi menginjak rumah ini, selamanya!” Dengan penuh amarah, Ziva meninggalkan rumah mewah yang dulu menjadi tempat tinggalnya.
Rio segera mengikuti istrinya dari belakang, sementara Hernandi melihat dengan mata nyalang dan penuh kemarahan atas sikap putrinya yang sudah berubah.
“Rio Wibisono! Kau memang suami keparat! Sama dengan ayahmu!” umpatnya.
“Kita pergi dari sini, Mas! Cepat, aku sudah nggak tahan lagi!” pinta Ziva terisak.
“I-iya, Sayang.”
Keduanya akhirnya meninggalkan kediaman Yahya, sang papa kemudian mengambil ponsel yang disimpan di kantong celananya. Dengan suara dalam namun tegas ia menghubungi seseorang dan berkata, “Sambungkan aku dengan tuan Hugo.”
