
Ringkasan
"Cecelia Amerson dikhianati oleh suaminya sendiri, Adrian Morgan, yang merancang penculikannya demi menyingkirkannya dan melindungi ambisi serta hubungan gelapnya. Alih-alih runtuh, Cecelia memilih diam—dan membalas dengan perhitungan dingin. Sedikit demi sedikit, ia menjebak Adrian melalui bukti finansial, rekaman rahasia, dan jaringan kekuasaan yang selama ini ia bangun dalam bayang-bayang. Ketika skandal meledak, kerajaan Morgan runtuh dalam hitungan hari. Adrian dijatuhi hukuman penjara, para pengkhianat terseret hukum, dan dunia akhirnya mengetahui kebenaran: Cecelia bukan korban tanpa daya, melainkan otak di balik fondasi imperium itu. Dengan nama aslinya, Cecelia Amerson mengambil alih kendali sebagai CEO, menutup masa lalu penuh pengkhianatan, dan memulai warisan baru—bukan sebagai istri, bukan sebagai korban, melainkan sebagai penguasa atas hidup dan kekuasaannya sendiri."
Bab 1 Awal Dari Akhir
Lakban itu menggigit pergelangan tanganku seperti api ketika aku meronta tanpa daya di atas beton dingin. Gaun ulang tahunku—yang dulu sutra gading, kini robek dan bernoda—tergantung compang-camping. Seseorang telah merobek lengan kiri bajuku hingga terlepas; yang kanan nyaris terlepas dari bahuku. Darah melekat di rambutku, bercampur keringat dan ketakutan.
"Kamu benar-benar pikir dia sepadan dengan semua kerepotan ini?" gerutu salah satu pria, mematahkan buku jarinya. "Bos bilang jaga dia tetap bernapas, tapi tidak harus cantik."
Pria lain meludah ke tanah. "Menurutmu ini sebenarnya soal apa? Mengajarinya pelajaran? Tidak. Wanita ini akan digantikan."
Yang ketiga mendengus. "Perintahnya jelas. Jangan bunuh dia. Hancurkan saja dia sampai remuk."
Napas tersangkut di tenggorokanku.
Digantikan?
Kata-kata itu menghantamku seperti air es, tetapi aku memaksa diri tetap diam, mendengarkan setiap suku kata kejam. Mereka tidak menyebut nama—tidak perlu. Adrian bersikeras mengatur liburan ulang tahun dadakan ini. Tanpa sopir. Tanpa pengawal. Hanya aku, terisolasi dan rapuh.
Bajingan itu telah menjebakku.
Tembakan memecah udara—tajam, profesional, berperedam.
Pria yang paling dekat denganku terhuyung ke belakang, lubang rapi tepat di tempat pelipis kirinya tadi berada. Kekacauan meledak. Sepatu berlarian. Tubuh-tubuh tumbang. Satu mencoba kabur ke pagar. Sebuah bayangan menjatuhkannya sebelum dia melangkah tiga langkah.
Dalam hitungan detik, satu-satunya suara yang tersisa hanyalah napasku yang terengah.
Lalu: langkah kaki. Berat, terukur, presisi militer.
Sosok itu berjongkok di sampingku. Tangan bersarung tangan hitam memotong lakban dengan cepat.
"Nona Amerson."
Aku mengenali suara itu—tidak mendengarnya selama tiga tahun, sejak aku meninggalkan segalanya untuk menikahi Adrian Morgan. Pria itu tampak persis sama: rahang seteguh granit, perlengkapan taktis hitam, lambang kepala serigala perak terjahit di atas jantungnya.
Lambang kakekku.
"Orang tua itu yang mengirim kami," katanya pelan. "Memerintahkan kami membawamu pulang."
Tubuhku bergetar, bukan karena teror. Dia telah menemukanku. Setelah sekian lama, dia masih mengawasiku.
Dan Adrian... Tuhan, Adrian benar-benar mencoba membunuhku.
Saat timnya mengamankan tempat, aku berdiri dengan kaki gemetar, menepis tangan yang dia ulurkan.
"Antarkan aku pulang," bisikku.
Dua puluh menit kemudian, aku turun dari sebuah SUV hitam satu blok dari Morgan Estate. Sopir menyodorkan selimut wol. Aku menggeleng.
Biarkan mereka melihat apa yang dia lakukan padaku.
Aku menapaki jarak terakhir itu tanpa alas kaki, sutra compang-camping melekat pada tubuhku, membiarkan udara malam menyayatku seperti kebenaran itu sendiri. Mobil-mobil berita sudah memadati gerbang depan kami, kru kamera saling berdesakan mencari posisi.
Dan di sanalah dia.
Adrian Morgan berdiri di pusat panggung dengan mantel panjang yang dijahit sempurna, wajahnya topeng kehancuran saat dia berbicara di hadapan hutan mikrofon.
"Jika ada yang melihatnya—istriku, Cecelia—tolong, katakan padanya bahwa dia tidak sendirian di luar sana. Sayang, aku mencintaimu. Pulanglah padaku."
Kerumunan berbalik ketika aku muncul dari bayang-bayang. Tatapan kami bertemu di tengah kekacauan.
Ekspresi duka yang terlatih itu berkedip—hanya sesaat.
