Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Ke Solo

Hari ini aku mengajak Murni menemaniku pergi ke solo. Dia memiliki motor, jadi lebih irit diongkos juga aku tinggal ngisi bensinnya aja.

[Mit, mau berangkat jam berapa?] pesannya padaku.

[Bentar lagi ya, ini aku baru siap-siap juga kok] balasku kemudian.

Aku segera berkemas, tak lupa memakai pakaian hitam putih khas orang yang sedang melamar pekerjaan. Aku sangat berharap inilah jalanku untuk bisa keluar dari rumah ini.

Setelah semua siap aku bergegas keluar dari kamar. Meski ibuku tak pernah menyukaiku, tapi do'anya selalu kuharapkan dalam setiap langkah kaki ini. Semoga ia merestui perjalananku nanti.

Tap. . .

Tap. . .

"Bu, aku berangkat dulu ya. . .do'akan aku nanti bisa langsung diterima ya Bu!" pintaku padanya.

"Iya, hati-hati ya Mit, ini ibu tambahin buat ongkosmu nanti" jawab ibu, ia mengulurkan selembar uang bewarna merah.

"Makasih banyak Bu, nanti pasti Mitha ganti jika udah dapat duit" ucapku tulus hingga sampai mata ini berkaca-kaca, tak biasanya ibu sebaik ini padaku sebelumnya.

"Udah nggak usah kamu ganti, ibu iklas kok ngasihnya. . .udah sana buruan berasngkat!" ucapnya seraya mengecup pucuk kepala ini.

Dengan perasaan lega, kulangkahkan kaki ini menuju rumah Murni. Ia kini menjadi sangat penting buatku, semoga saja aku bisa membalas kebaikkannya suatu hari nanti.

Meski memakan waktu hampir setengah jam akhirnya aku sampai juga di rumah murni. Suasananya agak lengang, mungkin bapak ibunya juga sedang tak ada dirumah, pikirku dalam hati.

"Assalamualaikum Mur" sapaku diujung pintu.

"Waalaikumsalam, eh udah dateng Mit. . .sini masuk" ucapnya ramah.

Dengan senang hati aku langsung masuk dan duduk disalah satu kursi ruang tamunya. Kulihat ia tampak sibuk bersiap didepan cermin.

"Maaf ya, ini aku lagi bersiap" ucapnya, tangannya masih saja fokus memainkan aneka peralatan makeup didepan cermin.

"Nggak apa-apa kok Mur, santai saja" sahutku kemudian.

"SIAP!" serunya saat sesinya berdandan sudah selesai.

"Yuk, berangkat. . . keburu panas nanti dijalan!" ajakku padanya.

"Iya-iya sabar, aku panasin motor dulu ya" balasnya.

Benar saja ia langsung bergegas mengeluarkan motor dari dalam garasi. Kalau caranya seperti ini, entah kapan aku bisa segera sampai di solo.

Brem. . .bremm

Deru mesin suara motor mulai terdengar membisingkan telinga. Murni sempat berbasa-basi menawariku makan, yah tentu saja aku tolak. Takut semakin kesiangan dijalan nanti.

"Yuk berangkat!" ajaknya, ia menyerahkan satu helm untuk kupakai.

"Makasih Mur, kamu memang paling pengertian deh" ucapku tulus padanya.

Aku bergegas naik ke jok belakang motornya. Tak henti-hentinya aku mengucap kata bismillah semoga perjalananku ini selalu diberi kelancaran.

Tak butuh waktu lama Murni langsung melajukan motor ini dalam kecepatan tinggi, hingga tak kusadari ponsel jadul milikku terjatuh entah dimana.

"Mur. . .Mur, ponselku jatuh nih" ucapku panik.

"Jatuh dimana?" tanya murni sambil memelankan laju motornya.

"Enggak tau aku, tau-tau udah enggak ada dikantong jaketku" ucapku lesu.

"Udah biarin aja daripada kita kelamaan, keburu siang" ucap murni padaku.

"Tapi Mur, itu ponselku satu-satunya juga" sahutku cepat.

"Iya tau, kamu kan mau kerja . . .besok kalau gajian tinggal beli lagi kan beres" ucapnya menenangkanku.

Mendengar jawaban santai darinya aku hanya bisa diam. Takut juga kalau dibilang tak punya rasa terimakasih, udah untung dia mau mengatarku sampai ke solo.

"Alamatnya dimana?" tanyanya sambil terus melajukan motor.

"Katanya dekat setasiun dan terminal juga kok" ucapku, aku langsung memberikan selembar kertas berisi alamat tempat dimana aku akan melamar pekerjaan.

"Lumayan juga dari sini" sahutnya kemudian.

Aku sedikit lega juga mendengar ucapanya, paling tidak ada harapan besar pada Murni. Semoga saja ia benar-benar tau dimana alamat itu.

Sepanjang jalan aku sempat beberapa kali turun untuk menanyakan alamat itu pada orang-orang. Berharap mereka tau dan mau membantuku.

"Permisi Pak, maaf apa Bapak tau alamat klinik ini?" tanyaku pada penjual asongan.

"Oh ini, nggak terlalu jauh sih Mbak, Mbak lurus saja nanti ketemu pasar terus ketimur" ucapnya sambil mengarahkan tangan.

"Baik Pak, makasih banyak" ucapku dan Murni hampir bersamaan.

"Gimana Mith, lanjut?" tanya Murni memastikan.

"Lanjut donk, udah tanggung juga bentar lagi sampai kok" ucapku antusias.

Tak butuh waktu lama aku dan Murni sampai juga di klinik yang kami cari. Aku sangat terkejut ternyata disini seperti tempat orang belajar anak kuliahan.

"Kok kaya tempat kuliahku ya Mit" celetuk Murni padaku.

"Iya nih, benar juga" sahutku kemudian.

Kulihat ada mas-mas yang berjalan kearahku. Aku segera mengeluarkan surat lamaranku, dan bergegas menemuinya.

"Maaf Mas, kalau mau masukin lamaran dimana ya?" tanyaku padanya.

"Sini Mbak, biar aku yang bawa" ucapnya ramah.

"Makasih banyak Mas" balasku kemudian.

"Ini semua sudah lengkap bukan, persyaratannya bagaimana?" tanyanya memastikan.

"Sudah kok Mas, tapi itu tadi ponselku jatuh jadi gimana ya nomer ponselku" ucapku ragu.

"Tenang saja, bisa memakai nomer ponsel temannya dulu Mbak" ucapnya memberi solusi.

Kulirik kearah Murni, sepertinya ia juga setuju. Dengan perasaan lega akupun setuju. Murni bergegas mencantumkan nomer ponselnya pada surat lamaranku.

"Begini Mbak, karna rumah Mbak jauh gimana kalau ikut tes aja sekalian" ucap Mas itu memberi solusi.

"Gimana Mur, kamu maukah menungguku disini?" tanyaku memastikan.

"Iya-iya tak apalah, demi kamu juga kok" jawabnya pasrah.

Aku bergegas mengikuti mas-mas itu masuk kedalam, dan baru kuketahui jika namanya Netral. Cowok putih, manis dan lembut tutur katanya khas orang Solo.

Hampir dua jam aku berkutat dengan soal-soal tes ini. Aku sangat berharap untuk bisa lolos dan diterima diperisahaan ini, meski aku belum tau klinik apa ini sebenarnya.

"Mur, yuk pulang!" ajakku pad Murni, ia sempat terkejut, mungkin ia melamun karna terlalu lama menungguku.

"Udah selesai ya, gimana diterima?" tanyanya penasaran.

"Nanti dihubungi dulu katanya, aku pasrahkan padamu Mur, kan ponselku udah hilang" ucapku lesu.

"Iya-iya, santailah dikit Mit. . .yuk pulang!" ajaknya, ia langsung menyerahkan satu helm untuk kupakai.

Sepanjang perjalanan pulang kami hanya saling diam, sibuk dengan fikiran masing-masing. Sedang Murni sepertinya masih sembari fokus dengan kemudi motornya.

"Kita mampir makan dulu yuk, kamu pasti lapar kan" ajakku padanya.

"Enggak usah deh, langsung pulang saja" sahutnya kemudian.

"Bener nih kamu enggak mau makan, gimana donk, aku jadi enggak enak nih padamu" ucapku sungkan.

"Kaya dengan siapa pake nggak enak segala, udah pikirkan saja gimana besok kamu kerja" jawabnya kemudian.

Benar juga kata murni, aku juga harap-harap cemas. Gimana dengan lamaranku tadi, semoga saja diterima. Aku sungguh tak sabar menanti kabar dari Mas Netral tadi. Semoga ia memberi keberuntungan untukku. Bagaimanapun aku ingin segera mendapat pekerjaan.

bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel