1. Aku Mithaaa
Aku Paramita, gadis lugu berusia 17 tahun. Aku baru saja tamat dari bangku SMA, satu hal yang sangat aku impikan sebelumnya. Hingga akhirnya aku harus menjadi pengangguran untuk sementara waktu. Aku sangat bingung, haruskah aku bekerja dan melupakan mimpiku untuk menjadi seorang sarjana.
"Mit, Mita mbok ya kamu itu lekas cari pekerjaan, sampai kapan sih kamu akan jadi pengangguran kaya gini" ucap ibu padaku.
"Iya Bu, sabar . . .ini aku juga lagi cari-cari kok, cari kerja kan susah" jawabku kemudian.
"Cari kerja itu sejak dulu emang susah, tapi lebih susah lagi jika kamu tak bekerja, menyusahkan saja!" seru ibu.
"Iya-iya Bu, maaf aku akan terus berusaha kok, aku tia hari pegang Hp juga buat mantengin info kerjaan kok" sahutku kemudian.
"Terus apa hasil yang kamu dapat?" tanya Ibu, raut mukanya benar-benar ingin menerkamku.
"Belum ada sih Bu, tapi ini aku lagi nunggu kabar dari teman lamaku" jawabku singkat.
Tanpa merespon ucapanku, ibu langsung bergegas pergi meninggalkanku. Entahlah, kadang aku ini sampai berfikir apa aku ini bukan anak kandungnya, hingga ia sangat tak menyukaiku.
Melihat sikap ibu akhir-akhir ini padaku, membuatku semakin ingin secepatnya keluar dari rumah ini. Meski harus kerja apapun itu aku harus siap, dari pada mendapat muka masam dari ibuku sendiri.
[Yuk, kamu kerja dimana? Adakah info kerjaan buatku?] kukirim pesan pada Ayu, teman lamaku saat di SMP.
[Aku kerja di klinik nih, kamu mau?] balanya kemudian. Melilhat responnya membuatku langsung bersemangat membalas pesan darinya.
[Mau banget aku, Dimana?] tanyaku antusias.
[Kamu pergi ke Solo saja, kantor pusatnya disana kok, sedang aku ini udah penempatan dikota Kediri] balasnya lagi.
Dan gayungpun bersambut, ia segera mengirim alamat kantor pusat yang katanya berada dikota Solo itu, kota yang tak terlalu jauh dari tempat tinggalku.
Sekarang aku mulai berfikir, dengan siapa aku akan berangkat memasukkan lamaran itu. Mengingat aku belum pernah sekalipun pergi ke kota solo. Fikiranku tertuju pada temanku waktu kelas 1 SMA dulu, apalagi ia anak kuliahan sekarang pasti banyak waktu.
[Mur, bisa anterin aku ke Solo enggak, aku mau melamar Kerja?] kukirim pesan langsung padanya.
[Bisa banget, kamu tentukan kapan dan waktunya ya, yang penting ingat jangan mendadak!] balasnya.
Melihat responnya, membuatku tersenyum lega. Paling tidak ada satu harapan besarku didepan mata. Semoga saja semua bakal diberikan kemudahan.
"Bu, besok aku mau melamar kerjaan di Solo" ucapku pada ibu. Kulihat ia masih saja fokus menyiangi sayur dalam baskom.
"Bagus deh, biar berkurang dikit beban ibu" sahutnya kemudian. Ada sedikit nyeri saat ia menyebutku beban dalam hidupnya.
"I-iya Bu, do'akan saja semua lancar . . . siapa tau aku bisa sedikit meringankan beban Ibu" pintaku padanya.
"Memang kewajibanmu harus meringankan beban ibu, bertahun-tahun ibu merawatmu sekarang kapan kamu akan membalasnya?" tanyanya kemudian, tak sadar air mata ini menetes begitu saja.
"Iya, secepatnya pasti akan kubalas kok" jawabku kemudian.
"Kenapa masih disini, udah buruan sana bantuin beresin rumah!" pinta ibu kemudian.
"Ma-maaf Bu, aku minta uang donk. . . buat beli perlengkapan untuk persiapan melamar besok" ucapku ragu.
"Nih, tapi inget ya ini hutang. . .besok kalau udah kerja buruan kembalikan" ujarnya, ia memberiku selembar uang merah. Lumayanlah bisa kugunakan buat ongkosku besok.
Setelah semua perlengkapan siap, aku mulai menulis surat lamaran. Hal yang sudah bisa kuhafal diluar kepala, karna terlalu seringnya tangan ini menulis hal yang sama.
Satu hal yang membuatku masih penasaran. Sebenarnya klinik apa ini, kenapa anak lulusan SMA yang tanpa pengalaman bisa masuk kesana?. Otak ini masih berusaha berfikir positif, mungkin saja sebagai tenaga kebersihan atau apalah, tak apa yang penting aku bisa secepatnya pergi dari rumah ini. Rumahku yang kata orang istanahku, tapi bagiku adalah neraka.
bersambung
