Bab 3
Nenek Zhang ketakutan sampai segera berlutut dan menundukkan kepala, kepalanya membentur tanah berkali-kali sampai terdengar suara dug dug dug. Baru tiga kali menunduk, dahinya sudah berdarah.
“Qing’er, aku salah, aku benar-benar salah. Mulai sekarang aku tidak akan menipu orang lagi. Aku bersumpah kalau aku melakukan hal buruk lagi, aku akan disambar petir. Jangan bunuh aku, kumohon padamu, mohon jangan bunuh aku…”
“Tunggu, kalian lihat itu, bukankah orang yang diinjak hantu wanita itu adalah Da Yu dan Da Gang?”
Suara yang datang dari kejauhan membuat gerakan Nenek Zhang terhenti. Ia cepat-cepat mendongak. Di bawah kaki Huo Yanqing ternyata adalah Da Yu dan Da Gang. Ia tertegun, lalu melirik tanah diam-diam. Di tanah itu, selain bayangan Da Yu dan Da Gang, ada juga bayangan Huo Yanqing. Itu berarti Huo Yanqing tidak mati.
Lalu bagaimana mungkin Huo Yanqing bisa melayang di atas permukaan air?
Otak Nenek Zhang bekerja cepat. Ia segera menyimpulkan bahwa Huo Yanqing bisa tampak seperti melayang karena ia berdiri di atas bahu Da Yu dan Da Gang.
Tinggi bahu Da Yu dan Da Gang kebetulan sejajar dengan permukaan air, membuat Huo Yanqing terlihat seolah-olah melayang. Ditambah lagi waktu itu dalam keadaan gelap, semua orang tidak bisa melihat jelas, karena itulah mereka mengira Huo Yanqing adalah hantu wanita.
Seketika, amarah Nenek Zhang memuncak. Ia bangkit dari tanah. “Huo Yanqing, kamu berani-beraninya pura-pura jadi hantu untuk menipuku.”
Huo Yanqing mengabaikan kemarahan Nenek Zhang dan dengan ringan melompat turun ke tanah.
Setelah itu, tubuh Da Yu dan Da Gang bergoyang sebentar lalu jatuh ke tanah. Dengan suara keras, mereka tergeletak tidak bergerak sama sekali.
Nenek Zhang menjerit, “Da Gang, Da Yu, kalian kenapa?”
Suami, anak, dan menantunya sudah mati sejak lama. Kini ia hanya hidup bergantung pada dua cucunya. Kalau sampai cucunya terjadi apa-apa, ia sendiri juga tidak ingin hidup lagi.
“Raja Hantu suka laki-laki yang kuat sebagai bawahannya. Jadi dia mengambil jiwa Da Yu dan Da Gang.” Ucap Huo Yanqing dengan nada malas.
“Tidak mungkin.” Nenek Zhang tidak percaya. Ia meraba hidung Da Gang dan Da Yu, tidak ada napas keluar maupun masuk. Jelas dua cucunya ini sudah putus napas. Ujung jarinya bergetar. Ia ambruk ke tanah dan menangis sedih. “Mereka sudah mati… sudah mati… mereka meninggalkan aku nenek tua ini sendirian, mereka tidak menginginkan nenek tua ini lagi.”
Warga desa yang bersembunyi di sekitar sana, setelah memastikan Huo Yanqing bukan hantu, perlahan kembali ke tepi sungai dan melihat Da Gang serta Da Yu yang tergeletak. Mereka bertanya kepada Nenek Zhang, “Da Gang dan Da Yu kenapa?”
Nenek Zhang sudah menangis sampai tidak bisa bicara.
Chen Chunzhu memandang Huo Yanqing yang mengenakan gaun putih dan tetap secantik biasanya, rasa cemburu dalam hatinya kembali muncul. Ia bertanya dengan penuh kebencian, “Huo Yanqing, kenapa kamu belum mati juga?”
Bukannya katanya perempuan cantik berumur pendek? Kenapa nyawa Huo Yanqing begitu panjang?
Tatapan Huo Yanqing melintas dari ujung kaki sampai kepala Chen Chunzhu, terasa seperti angin dingin yang membuat bulu kuduk merinding.
“Kamu… kamu lihat apa?” Chen Chunzhu memberanikan diri memarahinya.
Huo Yanqing tersenyum tipis. “Raja Hantu ingin aku membawa seorang gadis pelayan sebagai teman yang menemaninya di bawah. Kulihat kamu cukup cocok, jadi kupilih kamu saja. Saat hari gerbang dunia arwah mulai tutup, aku akan membawamu pergi.”
Semua orang: “……”
Wajah Chen Chunzhu langsung pucat. “Kamu… kamu berani?”
“Aku ini orang yang sebentar lagi mati, apa yang tidak berani kulakukan? Kalau aku mau, meledakkan desa ini saja juga tidak masalah. Kalau kamu tidak mau mati, menyingkirlah jauh-jauh. Jangan berada di hadapanku mengotori pandanganku.”
Tatapan Huo Yanqing seketika menjadi tajam dan menakutkan.
Chen Chunzhu langsung lari terbirit-birit. “Huo Yanqing, kamu memang orang sgila.”
Huo Yanqing menoleh pada orang-orang lain. “Dan kalian…”
Para gadis yang belum menikah takut Huo Yanqing memilih mereka sebagai pelayan dunia bawah, sehingga mereka langsung lari tunggang langgang.
Huo Yanqing tersenyum mengejek.
Para lelaki, demi harga diri, tidak mungkin lari seperti para gadis.
Salah satu pemuda memberanikan diri memaki, “Perempuan gila, apa yang kamu lihat? Kalau kamu masih menatap kami, hati-hati kami tenggelamkan kamu untuk kedua kalinya.”
Tatapan Huo Yanqing langsung mendingin. Ia melangkah mendekati pemuda itu.
Pemuda itu ketakutan dan mundur selangkah.
Huo Yanqing mengangkat kaki kirinya, menginjak kuat-kuat dada Da Yu, lalu berjalan melewatinya, kemudian menjejak dada Da Gang dan sampai di depan pemuda itu.
“Kamu… kamu mau melakaukan apa?”
Entah karena malam terlalu gelap, pemuda itu merasa wanita di depannya terlihat sangat menakutkan, membuatnya tertekan dan sulit bernapas: Ilusi, ini pasti cuma ilusi. Bagaimana mungkin aku takut pada seorang perempuan gila?
Huo Yanqing menatapnya tanpa berkata apa-apa.
Tiba-tiba, dengan suara keras, Da Gang dan Da Yu memuntahkan segumpal besar air sungai. “Uhuk uhuk.”
Air yang tersumbat di dada mereka terdorong keluar oleh injakan kaki Huo Yanqing, napas mereka sudah kembali.
Semua orang terkejut. “Da Yu dan Da Gang tidak mati?”
“Da Yu, Da Gang, kalian tidak mati, kalian tidak mati!” Nenek Zhang menangis bahagia, sambil tertawa dan menangis sekaligus. “Syukur lah, syukurlah langit memberkati…”
Huo Yanqing menoleh pada Da Yu dan Da Gang yang mulai dibantu berdiri. Ia mendengus. “Raja Hantu menolak mereka karena terlalu bodoh. Dia tidak mau menerima mereka sebagai bawahannya, jadi mereka dipulangkan.”
Semua orang: “……”
Huo Yanqing melanjutkan, “Raja Hantu juga bilang, alasan warga Desa Wan Gu mati satu demi satu bukan karena dia sedang mengumpulkan bawahan. Tetapi karena kalian menjual tanah leluhur kepada pengembang untuk membangun kawasan wisata. Tanpa perlindungan tanah leluhur, hilangnya keberuntungan membuat kalian mudah tertimpa musibah.”
Semua orang tertegun.
“Ini beneran?”
“Memangnya omongan orang gila bisa dipercaya?”
“Tapi memang kenyataannya, setelah tanah leluhur dijual, barulah kecelakaan mulai menimpa warga desa kita.”
“Kalau begitu, berarti tidak ada hubungannya dengan Raja Hantu?”
“Kalau memang berhubungan dengan menjual tanah leluhur, maka aku tidak jadi jual. Dibayar uang banyak pun tetap tidak mau jual.”
“Betul, tidak perlu dijual. Kalau mati, duit pun tidak sempat dipakai. Besok pagi aku langsung telepon pengembang, batalkan kontrak.”
“Yang penting adalah nyawa. Aku juga mau batalkan perjanjian kontrak.”
Saat mereka terus berdiskusi, Huo Yanqing sudah diam-diam kembali ke rumah kecil tempat ia tinggal, sebuah rumah tradisional reyot dengan atap genteng tua, dinding tanah, jendela dan pintu kayu yang tampak rapuh dan bisa runtuh kapan saja.
Ia masuk ke dalam rumah, mengganti pakaian yang kering, lalu mengambil handuk. Sambil mengeringkan rambut di depan cermin, ia mengangkat alis, menatap pantulan dirinya. “Lumayan cantik.”
Warga Desa Wan Gu sama sekali tidak akan menyangka bahwa Huo Yanqing saat ini bukan lagi Huo Yanqing yang mereka kenal.
Huo Yanqing yang dulu sudah mereka tenggelamkan hingga mati. Dengan membawa dendam besar, ia pergi ke dunia bawah. Sedangkan Huo Yanqing yang sekarang adalah sosok yang dipanggil oleh kebencian jiwa pemilik tubuh asli ini.
Malam ini kebetulan adalah hari terbukanya Gerbang Arwah. Banyak hantu berkeliaran keluar dari dunia bawah untuk menjenguk keluarga mereka.
Huo Yanqing juga tidak terkecuali. Hanya saja, ia tidak menyangka bahwa setelah lima tahun mati, pertama kali kembali ke dunia manusia, ia justru dipanggil ke dalam tubuh seorang perempuan yang punya nama yang sama dengannya.
Ia bukan hanya menyerap ingatan pemilik tubuh asli, tapi juga mewarisi kebencian yang begitu kuat. Bisa dibayangkan betapa besar dendam gadis itu pada orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.
Apakah pemilik tubuh asli bisa untuk tidak membenci mereka?
Tentu saja tidak bisa.
Baru sebulan lahir, Huo Yanqing sudah dibuang oleh ibunya. Ayahnya pun tidak menyayanginya, bahkan melampiaskan kemarahan atas kepergian ibunya kepada dirinya.
Adik tiri laki-laki dan perempuan semakin memperlakukannya buruk. Mereka diam-diam mengubah jurusan kuliahnya, menjebaknya agar melihat langsung pacar dan sahabatnya berzina di depan mata, dan bahkan menyewa orang untuk menyerangnya. Walau percobaan itu gagal, trauma mental yang ia alami sangat parah.
Satu-satunya orang yang menyayanginya yaitu neneknya, meninggal karena sakit jantung setelah mendengarnya mengadu. Kakeknya pun menyalahkannya, menganggap dia sebagai penyebab kematian neneknya. Pada akhirnya, ia tidak kuat lagi dan jatuh sakit jiwa.
