Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

#####Bab 3. Pengucilan

"Kau lihat, hampir tidak ada pelayan yang tersisa untuk melayani Nyonya Muda. Bukankah ini jelas, Nyonya Muda itu tidak disukai oleh Nyonya Besar!"

"Mengapa begitu? Sebenarnya apa kesalahan Nyonya Muda hingga Nyonya Besar bahkan tidak membiarkannya hidup dengan nyaman?"

Pelayan yang satu mengangkat bahu, "Siapa yang tahu siapa yang telah dia singgung."

Ia telah mendengar desas desus dari para pelayan kecil yang melayani di Taman Krisan. Namun hal itu masih merupakan dugaan-dugaan tak berdasar di antara mereka para pelayan kecil.

Suara-suara percakapan yang berasal dari luar gerbang Taman Anggrek, meski cukup jauh dari paviliun utama, Li Yuan masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Ia menatap pohon belalang di pekarangan. Wajahnya tanpa ekspresi.

Saat waktu makan malam tiba, pelayan kecil yang ditugaskan untuknya datang membawakannya apa yang menjadi hidangan malam itu.

Dibandingkan dengan hidangan kemarin, hidangan hari ini benar-benar sederhana.

Ibaratnya, kemarin ia masih menjadi kaisar, namun dalam semalam ia hampir telah menjadi pengemis.

Ketidaksukaan sang ibu mertua padanya benar-benar membuka mata!

"Apa panggilanmu?" Ia bertanya pada pelayan kecil yang berdiri di sebelahnya.

Pelayan kecil menunduk, menjawabnya, "Nyonya Muda, Pelayan ini dipanggil Xiao Du."

"Xiao Du, apakah kediaman ini tiba-tiba jatuh miskin hingga makanan yang disajikan untuk para majikan sejak pagi begitu sederhana?" Ia berbicara hampir tanpa emosi.

"Menjawab Nyonya Muda, Pelayan ini hanya ditugaskan untuk membawa hidangan ini untuk Nyonya Muda. Menurut pelayan di dapur, Nyonya Besar telah menganjurkan para majikan muda di kediaman agar berpantang dan hanya makanan vegetarian yang boleh disajikan."

"Begitu?" Li Yuan menatap sayuran rebus serta umbi-umbian kukus dalam porsi kecil dihadapannya, sebelum menyuruhnya untuk kembali berjaga di luar.

Bagus, kalau begitu mari kita pastikan orang-orang di kediaman ini menjalani hari-hari berpantang mereka dengan baik!

~~~

Keesokan harinya, para pelayan yang bertugas di dapur dilanda kepanikan.

Bagaimana mungkin daging yang baru dibeli dari pasar di pagi hari bisa tiba-tiba menghilang begitu saja?

Daging sebanyak itu merupakan persediaan selama tiga hari yang di beli lebih awal oleh pengurus dapur untuk membuat hidangan bagi para majikan.

Tidak hanya itu, bahkan sisa persediaan daging beberapa hari yang lalu serta daging berbumbu yang diawetkan juga telah menghilang secara misterius.

Semua orang di dapur bertanya-tanya, apakah ada pencuri yang telah masuk dan hanya mencuri semua daging dari mereka?

Kemudian pertanyaan itu segera diragukan. Pencuri mana yang akan berbuat seperti itu? Mengapa repot-repot menyelinap hanya untuk mencuri daging yang hampir tidak bernilai!

Namun matahari semakin tinggi di langit sehingga mereka tidak sempat lagi untuk pergi membeli daging karena harus segera menyiapkan sarapan untuk para majikan.

Dengan begitu, saat sarapan pagi itu, hidangan semeja penuh didominasi dengan sayuran dan tumis jamur-jamuran, tanpa jejak daging terlihat.

"Ada apa ini! Apakah kita sudah tidak memiliki perak untuk dibelanjakan? Hidangan daging satupun tidak ada!" Protes seorang pemuda berusia sekitar dua belas atau tiga belas tahun, yang merupakan Tuan Muda Kedua di kediaman Shen.

Para anggota keluarga yang lain juga memperlihatkan ketidakpuasan dengan hidangan sarapan yang disajikan di atas meja.

Meng Mama, yang merupakan kepala pengurus kediaman segera membungkuk, memberi penjelasan: "Pelayan ini meminta maaf kepada majikan semuanya. Ini semua terjadi karena pencuri telah masuk ke dapur dan mencuri semua persediaan daging yang ada."

Nyonya Besar tentu telah mendengar hal itu sebelumnya, ia segera berkata, "Bagaimana mungkin ada pencuri yang hanya mencuri daging tanpa mencuri barang berharga? Bukankah itu hanya tikus-tikus kecil yang perlu segera kau disiplinkan di dapur besar?!"

Meng Mama segera mengerti dan mundur masih dengan membungkuk.

Sementara itu, sang pencuri besar sedang duduk di sebuah paviliun terbengkalai di belakang kediaman yang letaknya cukup jauh dari halaman-halaman lain.

Daging perut babi iris yang sedang dipanggang di atas lempengan besi di depannya mendesis mengeluarkan suara yang membuat sang pemanggang menjadi agak tidak sabar.

Aroma daging yang terpanggang sungguh menambah ketidaksabarannya. Ditambah lemak yang meleleh membuat irisan daging itu mengkilat.

Visual yang sungguh sempurna!

Hari ini ia akan berpesta hingga puas dengan semua daging ini di sini. Nafsu makannya tak perlu diragukan, selalu sangat baik!

Lagipula, melihat tubuh yang begitu ramping yang kini miliknya ini, yang mungkin hanya dengan sentuhan saja akan runtuh, ia bertekad untuk mengisinya dengan banyak asupan daging.

Yang paling ia sesali setelah terbangun kembali adalah merelakan tubuh lamanya yang telah dibentuk dari latihan keras selama bertahun-tahun.

Lihatlah tubuh setipis kertas ini, bahkan berlari dengan gesit tidak bisa lagi dilakukannya dengan baik. Seluruh otot-otot di tubuh ini sebagian besar telah melemah!

Ini bisa dimengerti, bagaimanapun sang pemilik tubuh sebelumnya adalah seorang nona muda yang terlindungi.

Meski begitu, betapapun kurang gesit dirinya sekarang, dia masih lebih unggul dari orang biasa.

Memiliki kemampuan menyembunyikan diri dengan baik lah yang akhirnya membuatnya berhasil mencuri seluruh persediaan daging keluarga ini.

Ia tersenyum dingin.

Bagaimanapun, ini adalah balasan karena telah memaksanya menjadi seorang vegetarian!

Omong-omong, halaman terbengkalai ini tanpa sengaja ditemukannya saat sedang berkeliling.

Satu-satunya pelayan yang di tempatkan di sisinya hanya akan datang di waktu makan saja, mengantar makanan untuknya, lalu segera menghilang entah kemana.

Pada dasarnya, dia tidak memiliki seorang pelayan pun untuk melayaninya dengan benar. Namun dengan tidak adanya pelayan di sekitar, ia bisa bebas berkeliaran tanpa ada yang mengawasi.

Tentu saja ini cara yang sangat buruk dalam memperlakukan seorang menantu perempuan. Mereka sama sekali tidak menganggap keberadaannya.

Sekali lagi, secara tidak wajar ini merupakan hal yang bagus untuk Li Yuan. Menghindarkan dirinya dari segala etika yang harus dipatuhi seorang istri yang sebenarnya.

Saat daging di atas panggangan telah berwarna agak keemasan, Li Yuan dengan cekatan memindahkannya ke atas sebuah daun lebar yang dipetiknya dari sekitar.

Kemudian segera mengisi kembali lempengan besi itu dengan irisan-irisan lainnya.

Menurut kenangan yang dimiliki pemilik tubuh aslinya, ia telah dinikahkan kemari demi memenuhi permintaan Tuan Tua Shen, yang adalah kakek dari suaminya kini.

Konon, sang kakek pernah diselamatkan sewaktu mudanya oleh keluarga kelahiran sang Nyonya Muda, dan kemudian beliau telah menjanjikan ikatan pernikahan dengan keluarga bangsawannya di masa depan.

Meskipun menikah ke dalam keluarga bangsawan, namun upacara pernikahannya bahkan tidak semeriah upacara pernikahan sebuah keluarga sederhana.

Bahkan bisa dibilang hanya sedikit lebih baik dari upacara mengambil selir.

Wanita ini benar-benar malang. Bagaimana mungkin keluarganya tega menikahkannya dengan keluarga semacam ini?

Saat hidup sebagai putri pedagang, kehidupannya jauh lebih baik daripada sekarang.

Meski ibu kandungnya telah meninggal lebih awal, setidaknya di sana ia masih bisa makan dan minum dengan baik.

Li Yuan segera mengambil daging yang masih panas dengan sumpit, meniupnya sebentar sebelum dimasukkan ke dalam mulut.

Siapa yang akan menduga bahwa semua daging itu telah lenyap ke dalam perut sang menantu baru!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel