Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Keberanian

Bai Zhen menyalurkan Qi miliknya perlahan ke telapak tangan. Suhu udara di sekelilingnya segera berubah, hawa panas menyelimuti ruangan kecil dalam gua itu. Pedang perak yang berada dalam genggamannya mulai bergetar ringan, memancarkan kilau redup yang semakin lama semakin terang, seolah merespons keinginan pemiliknya.

Tangannya sedikit bergetar, tapi dia tetap mengayunkan pedang itu dari bawah ke atas dengan tenaga yang terkontrol. Setiap gerakan terasa berat, seolah dia sedang membawa beban puluhan kilogram hanya untuk satu tebasan. Dia menekankan kekuatan penuh ke dalam ayunan itu, menyalurkan Qi-nya agar pedang itu tidak hanya menjadi senjata, tetapi perpanjangan dari kehendaknya sendiri.

Saat pedangnya melayang di depan, terbentuklah cahaya bintang pertama di belakang punggungnya. Bintang itu redup tapi nyata. Beberapa detik kemudian, bintang kedua terbentuk lebih terang dari yang pertama, menyala dengan intensitas yang lebih kuat. Namun ketika dia mencoba memanggil bintang ketiga, tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan. Keringat membanjiri wajah dan punggungnya, dan matanya sedikit berkunang.

Bintang ketiga muncul, tapi cahayanya tidak stabil. Bai Zhen mengatupkan rahangnya, lalu berteriak, "Serang!" dan dalam sekejap, pedang itu melesat bersama dengan cahaya dari ketiga bintang di belakangnya, mengarah lurus ke pohon besar di depan gua.

Suara tajam terdengar saat tebasan itu menyentuh batang pohon. Namun pohon itu tidak tumbang. Yang terlihat hanyalah goresan panjang pada kulit batangnya, luka yang dangkal dan tak berarti. Bai Zhen nyaris terjatuh karena kehabisan tenaga, tubuhnya limbung dan nafasnya tersengal.

Ia menatap pohon itu dengan tatapan kosong, lalu mengalihkan pandangannya ke pedang di tangan kanannya. Pedang yang seharusnya bisa membelah langit dan bumi, kini tak mampu merobek sebatang pohon tua. Dia tersenyum miris.

"Tidak apa apa, kerja keras akan membuahkan hasil," gumamnya pelan, mencoba menenangkan kegelisahan dalam hatinya sendiri

Ia terdiam selama lima belas menit, duduk bersila sambil mengatur napas dan menenangkan pikiran. Dada dan punggungnya masih naik turun, tetapi pikirannya mulai jernih kembali. Setelah tubuhnya sedikit pulih, ia kembali berdiri dan memegang erat pedangnya.

Formasi Pedang 48 Bintang. Itu adalah teknik yang pernah dia gunakan untuk mengubah medan perang dalam sekejap. Jika ia berhasil menguasainya kembali dalam kehidupan barunya ini, maka ia akan mampu menyerang hingga lima puluh musuh sekaligus hanya dengan satu tebasan. Bukan sekadar imajinasi, tapi fakta yang telah dia buktikan di masa lalu.

Seluruh kultivator Dewa pernah bertekuk lutut di hadapannya. Bukan karena status atau nama, melainkan karena kekuatan pedang Zhenhun yang digenggam erat olehnya. Pedang itu pernah menghancurkan gabungan tiga Sekte Dewa yang dikenal angkuh dan tak tersentuh. Sekte-sekte itu bahkan begitu congkak hingga berani menghabisi gurunya.

Bai Zhen masih mengingat segalanya dengan jelas. Dulu ia terpaksa hidup dalam pelarian, dikejar oleh Sekte Dewa, menyembunyikan dirinya di tempat-tempat yang bahkan tak layak disebut tempat tinggal. Ia menghilang dari dunia seperti ditelan bumi. Tiga tahun penuh penderitaan, sampai akhirnya ia kembali dan dunia menyambutnya sebagai monster berkekuatan puncak.

Tarikan napas panjang terlepas dari bibirnya. Masa lalu itu memang penuh luka, tapi ia tahu bahwa jika terus hidup di bawah bayangan dendam, ia tak akan pernah benar-benar bergerak maju. Ia menunduk sejenak, lalu menatap langit.

Waktu masih panjang dan sekarang nasib anak itu, Bai Zhen yang lama, pemuda yang seharusnya menjalani hidupnya di tubuh ini, berada di tangan dirinya yang sekarang. Ia tak bisa mengecewakan Klan Bai, orang-orang yang telah menyambutnya dengan tulus, meski karena kesalahpahaman besar.

Tentu kesalahan itu bukan sepenuhnya salah mereka. Situasinya terlalu rumit dan tak masuk akal untuk dijelaskan. Namun, ia tetap bertekad membalas kebaikan mereka.

Ia berdiri tegak, mengumpulkan Qi di tubuhnya. Tatapannya lurus menembus kegelapan malam. Perlahan, ia mengangkat pedang perak, Zhenhun, dan mulai mengayunkannya ke depan.

Pedang itu melayang di udara, berputar pelan, dikelilingi aura tajam yang menusuk. Bintang-bintang perlahan mulai terbentuk di belakang punggungnya, berpendar lembut namun penuh kekuatan.

Dua bintang muncul sempurna di belakangnya. Meskipun hanya dua, tidak seperti sebelumnya yang berjumlah tiga, kali ini tidak ada cacat sedikit pun. Dua bintang sempurna jauh lebih baik daripada tiga yang tak stabil.

Tebasan yang dilepaskannya menancap kuat ke batang pohon di hadapannya, menciptakan lubang yang cukup dalam. Ia menghela napas lega, senyuman kecil muncul di wajahnya.

Melihat dua bintang yang berhasil terbentuk dengan sempurna, Bai Zhen akhirnya menarik napas lega. Meski belum mencapai hasil ideal, namun ini adalah kemajuan besar. Ia tahu, jika setiap hari mampu membentuk dua bintang sempurna, maka dalam waktu dua bulan ke depan, Formasi Pedang Empat Puluh Delapan Bintang miliknya akan selesai tepat waktu. Waktu yang ia butuhkan untuk bersiap menghadapi Keluarga Han dan semua yang telah meremehkannya.

Terutama karena ia kembali teringat akan kata-kata dari Bai Tianhe, kakek yang selama ini begitu mempercayainya. Ingatan milik Bai Zhen yang asli juga perlahan mulai tersambung, membawanya pada satu informasi penting—sebuah kompetisi besar yang akan digelar di Kota Yunhe, hanya sekali dalam empat tahun.

Kompetisi itu bukan sekadar ajang uji kemampuan. Ia adalah kesempatan emas bagi generasi muda untuk menarik perhatian sekte-sekte besar. Siapa pun yang menang akan dilirik dan mungkin dibawa langsung menjadi murid inti. Itu adalah cita-cita banyak kultivator muda, dan Bai Zhen tidak terkecuali.

Sayangnya, usia menjadi batas penting dalam kompetisi ini. Hanya mereka yang belum melewati enam belas tahun yang diperbolehkan ikut serta. Dan Bai Zhen, dengan tubuh baru yang kini berusia empat belas tahun, hanya punya satu kesempatan tersisa. Enam bulan dari sekarang, ia harus berdiri di arena itu dan membuktikan kemampuannya.

Di dunia ini, anak berusia empat belas tahun sudah dianggap dewasa. Banyak yang telah menikah, banyak pula yang sudah ditunjuk untuk menggantikan posisi keluarga mereka. Karena itu, tidak ada waktu untuk bersantai atau menunda. Semua harus dimulai sekarang, dan ia tidak boleh gagal.

Bai Zhen kembali menghela napas, satu dari sekian banyak helaan napas hari ini. Hari yang panjang, penuh latihan dan kenangan. Ia sadar, meski membawa semua ingatan masa lalu, perjalanan kali ini tidak akan mudah. Dunia ini berbeda dari Benua Astralis yang dulu menjadi rumahnya.

Namun, langkah pertama telah ia ambil dan ia tidak akan berhenti.

***

Lahir di Benua Astralis merupakan keuntungan yang sangat besar bagi Bai Zhen. Di sana segala hal mudah diakses, mulai dari sumber daya yang melimpah hingga kualitas Qi yang sangat baik, memungkinkan seseorang untuk berkembang dengan pesat. Berbeda dengan benua terpencil ini yang hampir tidak memiliki sumber daya sama sekali. Di sini segalanya terasa jauh lebih sulit dan terbatas.

Di Benua Astralis, sebuah Ginseng Darah yang berusia 20 tahun hanya dianggap sebagai tanaman biasa, tumbuh dengan mudah di sepanjang hutan atau pegunungan. Namun di sini, di benua ini Ginseng Darah yang berusia 20 tahun dianggap sebagai harta yang sangat berharga. Di Benua Astralis, tanaman yang berusia lebih dari 500 tahun memiliki harga yang sangat tinggi, bahkan mencapai tingkat yang sangat langka jika berusia 1.000 tahun. Bai Zhen bahkan pernah mendapatkan Ginseng Darah yang berusia 10.000 tahun, yang merupakan sebuah pencapaian luar biasa dan sangat langka di Benua Astralis.

Namun kini, melihat Ginseng Darah yang kecil ini, Bai Zhen merasa sedikit terhina. Perbedaan yang begitu mencolok antara sumber daya yang ada di benua ini dan Benua Astralis membuatnya merasa harga dirinya sedikit terluka. Ginseng Darah kecil ini tidak cukup untuk memenuhi standar yang biasa dia temui di Benua Astralis.

"Yah, apa boleh buat," gumam Bai Zhen, berusaha untuk menghibur dirinya.

Meskipun demikian, dia kembali berlatih tanpa lelah. Waktu berlalu hingga malam hari dan akhirnya dia masuk ke dalam gua yang sudah dianggapnya sebagai rumah kedua. Gua ini penuh dengan energi Qi alami, memberikan ketenangan bagi tubuh dan pikirannya setelah berlatih sepanjang hari.

Di dalam gua, Huolian sedang tidur dengan lelap, tubuhnya terbaring diam. Bai Zhen mengerutkan dahinya, merasa aneh. Hewan spiritual, khususnya yang masih muda, umumnya sangat aktif. Namun, berbeda dengan Huolian yang seharusnya berada pada masa-masa aktifnya, hewan spiritual ini tampak sangat lemah dan malas. Seharian penuh, dia hanya berbaring tanpa ada niat untuk bergerak atau merespon.

Bai Zhen mendekati Huolian dan menyentuh tubuh mungilnya, merasa dinginnya tubuh itu menyentuh telapak tangannya. Mata Bai Zhen langsung terbelalak, terkejut dengan suhu tubuh Huolian yang sangat dingin.

"Bagaimana mungkin kamu begitu dingin?" tanyanya, suaranya penuh keheranan. Dia segera menggendong Huolian, merasakan tubuhnya yang tidak hanya dingin, tetapi juga lemah. Hal ini tentu tidak biasa bagi seekor hewan spiritual yang seharusnya memiliki energi vital yang sangat kuat.

Dia mengingat kembali bagaimana Huolian terlihat lemah kemarin, namun dia tidak begitu memperhatikannya. Kini, dia baru menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih serius sedang terjadi. Tanpa berpikir panjang, Bai Zhen mulai mencari solusi, matanya tertuju pada ketiga Ginseng Darah yang tersisa di dalam tasnya.

Ginseng Darah ini memiliki elemen api yang berlawanan dengan elemen alami dari Huolian, yang bertipe es. Secara alami, Ginseng Darah dapat membantu menstabilkan suhu tubuh Huolian, memberikan kehangatan yang dibutuhkan agar tubuhnya pulih kembali.

Bai Zhen dengan hati-hati memberikan satu Ginseng Darah kepada Huolian. Hewan spiritual itu menggigitnya perlahan, memakan tanaman itu dengan rakus. Setelah beberapa saat, Huolian tampaknya merasa lebih baik, tetapi masih saja kurang. Bai Zhen menggertakkan giginya dan dengan sedikit rasa cemas melihat sisa Ginseng Darah yang tinggal sedikit. Sumber daya ini sangat langka, dan dia tidak bisa begitu saja menggunakannya dengan sembarangan.

"Hei, hewan kecil... kamu berhutang banyak padaku. Aku bahkan tidak berani menggunakannya dengan gegabah, tapi kamu menghabiskan ketiganya dalam sekali makan," gumam Bai Zhen dengan nada frustrasi, meskipun dia merasa sedikit terhibur melihat Huolian yang mulai terlihat lebih baik.

Setelah itu, Huolian mengaum pelan sebelum akhirnya kembali tidur di pelukan Bai Zhen. Bai Zhen merasa bahwa suhu tubuh Huolian mulai kembali normal. Keadaan ini membuatnya merasa sedikit lega, namun masih ada kecemasan yang menggelayuti hatinya.

Bai Zhen meletakkan Huolian dekat api unggun yang menyala, memberikan kehangatan yang dibutuhkan agar dia merasa lebih nyaman dan tenang. Dalam situasi seperti ini, Bai Zhen mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ada tanaman berbahaya di sini yang bisa menyebabkan hewan spiritual seperti Huolian terluka? Tanaman apa yang ada di sekitar mereka yang bisa menyebabkan kerusakan seperti ini? Ini adalah pertanyaan yang terus menghantui benaknya.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel