Ikatan Baru
Bai Zhen perlahan mendekat dan menggendong anak harimau itu dengan hati-hati. Ia terkejut karena makhluk kecil itu tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyerang. Justru sebaliknya, hewan itu tampak sangat jinak, seolah telah lama mengenalnya.
Sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan luas tentang dunia kultivasi dan makhluk magis, Bai Zhen justru merasa kebingungan. Ia sama sekali tidak tahu jenis apa hewan spiritual yang sedang berada dalam pelukannya.
Berbeda dengan hewan buas biasa, hewan spiritual memiliki kemampuan untuk menyerap Qi murni dari langit dan bumi. Seiring bertambahnya kekuatan, kecerdasan mereka pun berkembang, bahkan bisa menandingi manusia. Namun, tingkat kecerdasan itu tetap bergantung pada jenis dan garis keturunan mereka.
"Apakah kamu sendirian di sini," bisiknya pelan, suara lembutnya seolah tak ingin mengusik ketenangan makhluk mungil itu.
Jika memang ada induk hewan spiritual di sekitar sini, maka ia harus bersiap menghadapi situasi yang tidak menguntungkan. Bahkan bisa saja ia menderita luka parah jika tidak berhati-hati.
Namun anak harimau itu hanya menggelengkan kepala dengan gerakan polos yang lucu. Bai Zhen tidak bisa menahan tawa kecilnya. Hewan ini masih begitu muda dan lemah, tapi sudah mampu memahami ucapan manusia.
Hal itu saja sudah cukup untuk menunjukkan satu hal. Harimau kecil ini bukanlah makhluk biasa. Ia adalah keturunan dari hewan spiritual yang sangat langka. Hanya saja, satu pertanyaan besar masih bergema dalam benaknya.
Bagaimana mungkin makhluk langka seperti ini bisa muncul di gunung terpencil dan sederhana seperti Gunung Hongshan?
Bai Zhen menggendong anak harimau itu dengan lembut, membiarkan jemarinya menyentuh bulu-bulu halus yang terasa hangat dan nyaman di pelukannya. Sejak dulu, ia memang menyukai hewan berbulu. Ada perasaan bahagia yang menguar di dadanya, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Memeluk makhluk kecil yang empuk dan jinak seperti ini benar-benar menenangkan. Tanpa sadar, bibirnya melengkung membentuk senyuman. Beberapa hari belakangan ini hatinya selalu diliputi kesuraman, dan mungkin inilah pertama kalinya ia tersenyum dengan tulus tanpa beban.
"Apakah kamu memiliki nama?" tanyanya dengan suara lembut.
Anak harimau itu menggeleng pelan, menatapnya dengan mata jernih yang memancarkan kepolosan. Bai Zhen hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya lebih erat. Tingkahnya terlalu menggemaskan.
"Bagaimana jika aku memberimu nama?" ujarnya lagi sambil tersenyum.
Makhluk kecil itu mengangguk antusias, seolah-olah benar-benar menunggu nama yang akan diberikan padanya.
"Bagaimana dengan Huolian. Itu artinya kamu adalah api kecil yang menyala di hatiku."
Ia memang terdengar agak percaya diri dengan nama yang baru saja ia ucapkan, namun anak harimau itu tampak sangat senang. Ia tidak tahu bahwa nama itu mungkin terdengar aneh di telinga orang lain. Tapi dengan kepolosannya, Huolian malah terlihat semakin lucu.
Mungkin hanya Bai Zhen di dunia ini yang bisa memberikan nama semacam itu pada hewan spiritual miliknya.
Setibanya mereka di gua, Huolian turun dari pelukan Bai Zhen dan berjalan sebentar sebelum akhirnya mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Bai Zhen menyambut benda itu dengan hati-hati dan terkejut saat menyadari bahwa itu adalah sebuah inti spiritual.
Setiap hewan spiritual hanya memiliki satu inti semacam itu. Jika diberikan kepada seseorang, maka itu berarti satu hal. Ikatan antara mereka kini menyatu, hidup dan mati mereka saling terhubung.
Jika Bai Zhen mati, maka Huolian juga akan mati. Inti spiritualnya akan hancur bersama tuannya. Hal ini menjadi bukti betapa besar kepercayaan Huolian kepadanya sampai-sampai ingin menunjukkan kesetiaannya, Bai Zhen merasa terharu dengan ketulusan yang begitu murni. Tak ada sedikit pun keraguan dalam mata bening itu. Ia menatap makhluk kecil itu dengan lembut.
"Apakah kamu sudah memikirkannya baik-baik. Saat ini aku bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri," ucap Bai Zhen pelan.
Namun Huolian tetap mendesaknya untuk memakan inti spiritual itu. Tatapannya penuh semangat dan percaya. Bai Zhen akhirnya mengangguk pelan, lalu duduk bersila, menenangkan pikirannya dan mulai mengambil posisi untuk berkultivasi.
Inti spiritual dikenal memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia memperkirakan akan mampu naik beberapa tingkat hanya dengan satu inti ini.
Begitu ia menelan inti spiritual itu, hawa dingin langsung menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia baru sadar bahwa Huolian adalah hewan spiritual dengan elemen es yang sangat murni.
Energi dari inti itu menyebar cepat, dan ia mulai mengolahnya secara perlahan. Namun hanya dalam hitungan napas, kekuatannya langsung melonjak.
Tingkat dua, tingkat tiga, tingkat empat. Kekuatannya terus meningkat, tanpa ada tanda-tanda akan berhenti.
Ketika akhirnya mencapai tingkat sembilan, Bai Zhen segera menekan aliran kekuatannya dengan sekuat tenaga agar tidak naik lagi. Ia sadar bahwa ia telah tiba di puncak Tahap Kondensasi Qi.
Jika ia terus naik, maka ia akan langsung menembus ke tahapan berikutnya. Itu bukan hal baik bagi pondasi kultivasinya. Jauh lebih baik jika ia memperkuat dan memantapkan Qi-nya terlebih dahulu, apalagi dengan dantian yang lebih luas dari orang kebanyakan.
Satu hal yang harus ia akui, garis keturunan yang dimilikinya benar-benar kuat. Jika bukan karena warisan darah itu, mustahil tubuhnya bisa menerima peningkatan secepat ini tanpa meledak.
Bai Zhen menarik napas dalam-dalam dan perlahan membuka matanya. Ia merasakan kekuatan besar mengalir dalam dirinya. Semuanya terasa berbeda.
"Terima kasih Huolian. Ini semua berkat dirimu. Aku menjadi jauh lebih kuat," ucapnya dengan senyum tulus, lalu mengambil sisa daging kelinci dari semalam dan memberikannya kepada makhluk kecil itu.
Huolian menyambutnya dengan riang, mengibas-ngibaskan ekornya dengan gembira.
Bai Zhen berjanji akan turun setelah dua bulan. Maka seharusnya dalam waktu itu, dia akan bisa mencapai Tahap Regenerasi Qi puncak atau bahkan lebih tinggi dari itu. Semuanya akan bergantung pada niat dan keberuntungannya.
Selama dia memiliki keberuntungan yang cukup baik, maka ada kemungkinan dia dapat mencapai tahapan yang sama dengan paman keduanya. Jika perhitungannya tidak meleset, maka pamannya berada di Tahap Penempaan Tulang awal, sedangkan kakeknya telah mencapai Tahap Penempaan Tulang tingkat menengah, mungkin pada tingkat lima atau enam.
Jika dia berhasil menyusul mereka di usia muda seperti ini, maka hal itu akan menciptakan sejarah baru dalam klannya dan membuat banyak orang terkagum kagum padanya.
Karena kultivasinya telah melonjak begitu tinggi dalam waktu singkat, maka saat ini dia perlu membiasakan diri terlebih dahulu. Dia tidak bisa terburu buru. Dia harus memperkuat kendali atas kekuatannya yang baru dan memperdalam pondasinya agar tidak rapuh di masa depan.
Kini, saatnya bagi Bai Zhen untuk mulai melatih seni bela diri yang telah dia kembangkan secara pribadi. Teknik itu adalah sesuatu yang ia rancang secara khusus, dan hanya dirinya yang memahaminya.
Zhenhun, pedang yang selama ini menjadi teman setianya, bukan hanya sekadar senjata. Pedang itu memiliki hubungan erat dengan elemen bintang dan langit malam.
Itu semua karena seni bela diri yang dia ciptakan sendiri, seni pedang yang dia beri nama Tebasan Seribu Bintang. Ketika seni bela diri itu dipadukan dengan Qi miliknya, maka akan muncul cahaya bintang di balik punggungnya yang menyatu dalam pola seperti rasi bintang, lalu menghantam musuh dengan kekuatan yang tak bisa diremehkan.
Tebasan Seribu Bintang memiliki tiga tahapan utama di dalamnya. Tahapan pertama adalah Tebasan Cahaya Bintang, lalu meningkat menjadi Tebasan Bintang Matahari, dan akhirnya mencapai puncaknya dalam bentuk Tebasan Ribuan Cahaya. Ketiga tahapan itu adalah pondasi yang harus ia kuasai sebelum benar benar dapat menggunakan jurus pamungkasnya.
Namun dengan kekuatannya saat ini, Bai Zhen tidak yakin apakah dia sudah cukup layak untuk menggunakan salah satu dari ketiganya. Bahkan untuk mencoba sekalipun, dia merasa belum siap.
Maka untuk saat ini, dia memutuskan untuk kembali ke teknik yang lebih sederhana. Teknik yang pertama kali diajarkan oleh gurunya, sebuah dasar dari semua jurus yang dia miliki sekarang, yaitu formasi pedang Empat Puluh Delapan Bintang.
Teknik ini memanfaatkan Qi miliknya untuk membentuk formasi pedang yang tersembunyi dalam pola empat puluh delapan bintang. Formasi ini bisa bertahan lebih lama dan mengecoh lawan dengan sangat baik.
Tentu saja, teknik ini tidak akan banyak berguna jika digunakan menghadapi lawan yang kekuatannya jauh di atasnya. Tapi saat menghadapi musuh yang setara atau hanya sedikit lebih kuat, formasi ini bisa menjadi senjata mematikan yang membuat perbedaan antara hidup dan mati.
Bai Zhen menggenggam erat Zhenhun, pedang peraknya yang bersinar tenang di bawah cahaya langit. Dia menarik napas dalam dalam dan mengambil posisi. Kini saatnya mencoba serangan pertama sejak kelahirannya kembali.
Bersambung...
