Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 . Kemarilah....

"Tolong... hentikan!!!" raung Nyonya Gao. Nyonya Gao hendak berdiri dan mengejar suaminya tetapi dirinya terjerembab kembali. Kakinya lemas tidak bertenaga sama sekali, dirinya hanya bisa menangis tersedu-sedu.

Robert Gao berjalan keluar dari ruang kerjanya dengan gusar. Saat tiba di ruang depan, Robert Gao mendorong jatuh vas berisi bunga kesukaan istrinya yang berada di atas meja batu alam.

PRANGGG!!!

Vas bunga keramik pecah berkeping-keping saat menghantam lantai. Robert Gao berjalan di atas pecahan keramik dan bunga-bunga yang berserakan.

Rumah ini dibangun untuk istri tercintanya, lima tahun yang lalu. Semua interior dan perabotan dipilih sesuai dengan selera istrinya. Saat ini, dirinya bahkan tidak akan tahan berada di rumah ini walau hanya lima menit. Berani-beraninya istri dan orang kepercayaannya bermain gila di rumah ini.

Dengan kedua tangannya, Robert Gao mendorong sepasang daun pintu depan rumah hingga terbuka lebar.

Semua bawahannya yang berada di depan rumah menunduk ketakutan, saat melihat Tuan mereka keluar dari rumah dengan murka.

"THEO... THEO!!!" teriak Robert Gao dengan suara menggelegar, saat berdiri di depan rumah mewahnya. Salah satu tangannya menggenggam pistol dan sebelah. lagi memijat pelipis kepalanya. Kepalanya serasa hendak pecah karena rasa sakit yang amat sangat.

Theo Chou berjalan menghampiri Tuannya, dirinya tahu hal ini akan terungkap cepat ataupun lambat.

BUKKK!!!

Pukulan telak melayang di wajah tampan Theo Chou, pria itu terjatuh dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Theo menghapus darah itu dengan menggunakan jari jempolnya.

Moncong pistol yang dingin menempel di pelipisnya. Tangan Robert Gao bergetar hebat saat menodongkan pistol itu ke kepala Theo.

"Tidakkah kamu tahu batasan? Jangan menyentuh wanita milikku!!!" cecar Robert Gao dan todongan pistol itu semakin kuat menempel di pelipis Theo.

"Wanita itu tidak mencintai Anda!" Theo Chou sudah bersiap mati, saat dirinya memutuskan untuk menjalin cinta terlarang dengan Nyonya Gao.

"KAU....!!!" teriak Robert Gao. Tidak ada lagi kata-kata yang dapat terucap dari mulutnya. Bagaimana dua orang yang begitu dipercayai dan disayanginya tega melakukan hal tersebut.

"Kau cari mati!" Jari Robert Gao yang berada di pelatuk pistol bergetar, tetapi jari itu tidak mampu menarik pelatuk itu.

Di saat seperti ini, Robert Gao masih memikirkan wanita itu, wanita yang mengkhianati dirinya. Bagaimana jika Theo mati, bukankah itu akan membuat wanita itu sedih.

Akhirnya Robert Gao menendang keras Theo, dan pria itu terjungkal ke belakang. Robert Gao berjalan menuju mobil sport miliknya, membuka pintu dan berkata, "Jangan ada yang mengikuti aku!"

Beberapa orang bawahannya hanya dapat mematuhi perintah Tuannya, tidak ada yang berani menentang perintahnya. Robert Gao masuk ke dalam mobil sport berwarna hitam, mesin mobil meraung garang dan melaju kencang meninggalkan debu.

Tangan Robert Gao mencengkeram erat kemudi mobil, kemarahan masih menyelimuti dirinya. Ternyata sangat buruk rasanya, saat kita dikhianati oleh orang-orang yang kita percaya dan sayangi.

Robert Gao menginjak pedal gas dalam-dalam, dirinya akan melihat apakah keberuntungannya mampu membuatnya melewati semua rambu lalu lintas itu. Mesin mobil menderu keras, saat pedal gas dipijak dalam oleh Robert Gao. Senyum dingin terpatri di wajah tampannya, jika ajal datang menjemputnya sekarang, maka dirinya akan menerima dengan senang hati.

Mobil sport hitam melesat kencang di sepanjang jalan pusat Kota. Beruntung malam sudah sangat larut, jadi tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang.

Robert Gao memacu mobilnya melewati lampu lalu lintas pertama, beruntung lampu yang menyala adalah hijau. Dan begitu seterusnya, Robert Gao selalu melewati persimpangan dengan lampu hijau. Rasanya mustahil, tetapi itulah yang terjadi. Untuk sesaat dirinya tidak yakin kemana mobil ini akan membawanya, bukan sebaliknya. Setelah berkendara selama beberapa saat, akhirnya mobil berhenti paku saat kakinya menginjak pedal rem dalam.

Tubuhnya terlontar ke depan karena mobil yang berhenti mendadak. Robert Gao meletakkan kening di atas kemudi dan berusaha mengatur nafasnya yang masih memburu. Dirinya merasa sesak dan kesulitan bernafas, lalu Robert Gao membuka pintu mobil dan turun.

Robert Gao melihat sekeliling, ternyata dirinya berkendara sampai ke jembatan yang terbentang panjang di atas sungai Han. Konon, sungai ini harus dilalui para arwah menuju ke neraka.

Robert Gao berjalan limbung dan tiba di sisi jembatan. Tangannya yang masih gemetar, mencengkeram erat pagar besi jembatan itu. Angin kencang menerpa tubuhnya, Robert Gao memejamkan mata berusaha menikmati terpaan angin malam yang dingin. Perlahan Robert Gao membuka matanya dan menatap langit yang dihiasi begitu banyak bintang berkelap-kelip.

Jika dirinya tidak sefrustasi ini, maka dirinya pasti merasa pemandangan itu sangat menakjubkan. Namun, hatinya hancur dan setelah amarahnya mereda, perasaan marah itu tergantikan dengan rasa sedih yang mendalam.

Dirinya mengenang kembali awal bertemu dengan Natasya Lu, istrinya. Saat itu, Natasya Lu dijual kepadanya untuk melunasi hutang judi ayah wanita itu. Bisnis utama Keluarga Gao adalah kasino dan bisnis gelap lainnya. Di samping itu, mereka juga memiliki bisnis lain seperti pusat perbelanjaan, hotel dan rumah sakit.

Saat pertama kali melihat Natasya Lu, dirinya langsung jatuh cinta padanya. Sayangnya, ibu wanita itu bunuh diri setelah mengetahui putri satu-satunya dijual kepada Keluarga Gao. Sang Ayah yang tidak dapat menerima kematian Sang Istri, menjadi linglung dan meninggal dalam kasus tabrak lari.

Awalnya, Robert Gao merasa semua itu sangat sempurna. Kematian sepasang suami istri itu membuat Natasya Lu menjadi miliknya. Wanita itu masih perawan dan hal tersebut membuat Robert Gao semakin tergila-gila padanya.

Jika dipikir kembali, istrinya hanya diam saat mereka bercinta dan sesekali Robert Gao akan melihat air mata mengalir membasahi wajah cantiknya. Dulu, dirinya tidak peduli akan perasaan wanita itu. Robert Gao yakin dengan materi yang berlimpah, Natasya Lu akan mencintainya. Namun, semua perkiraannya salah besar. Natasya Lu berselingkuh dengan Theo Chou, orang yang ditugaskan untuk menjaga istrinya.

Memikirkan kembali hal tersebut, membuat dirinya merasa sangat bodoh. Di dalam dunia bisnis dirinya terkenal memiliki insting yang tajam. Namun, dalam hubungan suami istri dirinya gagal total.

Robert Gao menatap ke arah bawah jembatan, air sungai sangat keruh dan berarus cukup kencang.

'Kemarilah...Lompat... Di sini sangat damai... Datanglah...'

Bisikan- bisikan itu mengisi kepalanya, rasa frustasi yang besar membuat dirinya rentan dan kehilangan fokus. Ajakan itu sangat menggoda, bahkan Robert Gao dapat melihat wajah istrinya tercermin di dalam air sungai keruh itu. Wajah yang sangat di sukainya, wajah polos tanpa riasan, wajah itulah yang membuat dirinya jatuh cinta saat pertama kali mereka bertemu.

'Kemarilah... dapatkan istrimu kembali! Kamu akan baik-baik saja! Bukankah malam ini kamu sangat beruntung, kamu dapat melewati semua persimpangan tanpa terluka?'

Bisikan itu kembali terdengar dan ajakan itu sangat menggiurkan. Benar, hari ini dirinya sangat beruntung di mana dirinya dapat melewati semua persimpangan dengan semua warna rambu yang sama yaitu hijau.

Robert Gao seakan tersihir, kakinya mulai memanjat pagar pembatas jembatan. Semakin naik ke atas, hatinya merasa semakin bahagia. Seakan, jika dirinya berhasil mendapatkan bayangan istrinya maka semua perselingkuhan itu hanyalah mimpi buruk, bukan kenyataan.

Robert Gao berdiri di atas pagar besi, kedua tangannya terbentang lebar. Dirinya tertawa terbahak-bahak, merasa hidup ini begitu bebas dan lepas. Tidak ada rasa sedih ataupun kecewa, hanya perasaan bahagia.

Tindakan Robert Gao mulai menarik perhatian pengguna jalan lainnya dan beberapa orang sudah menghampirinya serta berteriak memintanya turun.

Robert Gao berbalik menatap kerumunan orang di belakangnya. Dirinya tersenyum kepada sekumpulan orang itu, lebih tepatnya membalas senyuman mereka. Robert Gao sama sekali tidak mendengar suara sekumpulan orang itu yang sedang berteriak histeris, malahan dirinya melihat betapa bahagianya sekumpulan orang itu sama seperti dirinya.

Robert Gao memalingkan wajahnya kembali ke depan dan menjatuhkan dirinya ke dalam sungai.

BYURRRRR!!!!

Suara percikan air terdengar jelas, orang-orang yang menyaksikan mulai histeris dan segera menghubungi pihak berwajib. Jarak antara jembatan dan sungai amat tinggi dan tidak ada satupun orang yang berani melompat untuk menolongnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel