Bab 8 Belum Berjodoh
Aku malu, kecewa dan sedih. Apalagi saat melihat wajah ibuku. Hati ini rasanya perih. Armand begitu tega melakukan hal ini.
Ya Allah cobaan apa lagi ini!
Aku berwudhu dan menunaikan shalat. Kutumpahkan semua perasaanku, kepada siapa lagi aku bisa mengadu selain kepada-Nya. Air mataku mengalir seraya kupanjatkan doa.
Selesai shalat aku merasa hatiku sedikit lebih tenang lalu aku mengambil ponsel untuk menghubungi Armand kembali untuk ke sekian kalinya.
[Mas, kalau mas memang tidak berniat melamarku tidak perlu berjanji untuk datang apalagi memberitahu para tetangga. Kami sudah menunggu sekian lama dengan persiapan yang tidak sedikit. Jujur aku malu mas kepada para tetangga dan aku sedih saat melihat wajah ibuku. Perasaanku mungkin tak perlu dipikirkan tapi ibu, itu yang buat aku sedih. Bayangkan kalau hal ini terjadi pada adikmu!!!]
Aku menutup layar hapeku setelah memastikan pesanku terkirim.
"Je..!" Ibu datang ke kamarku.
"Iya, Bu," Ibu duduk di sampingku lalu memelukku erat.Tangannya mengusap lembut punggungku.
"Sabar ya, Je!"
"Je gak pa-pa bu, Je ikhlas menerima. Mungkin kami memang tidak berjodoh."
"Tapi Je, kamu pasti sedih banget."
Aku mengurai pelukan ibu perlahan. Kutatap wajah ibu, ada sisa-sisa air mata di sana.
"Bu, jodoh itu sudah diatur Allah dan Je yakin betul tentang itu. Allah sudah mengatur semuanya." Aku sudah memutuskan untuk menerima semua takdir ini dan menjalaninya dengan ikhlas.
"Yang sabar ya, Je!" Ibu kembali mengulang permintaannya.
"Insya Allah Je sabar bu, Je kuat."
Ibu mengangguk-angguk dan mengusap pundakku. Aku tau ibu sangat terluka, seorang ibu akan lebih merasa sakit kalau anaknya yang terluka dibanding dirinya sendiri. Karena itu aku harus meyakinkan dirinya bahwa aku kuat, sabar dan ikhlas.
Malam ini ibu tidur bersamaku. Setelah shalat Isya berjamaah kami berbaring, menghilangkan lelah pikiran dan fisik kami. Lama kami terdiam tanpa suara hingga rasa kantuk merengguk kesadaran ibu. Dengkuran halusnya mulai terdengar menandakan dirinya mulai terlelap.
Tepat tengah malam notifikasi pesan di ponselku berbunyi. Aku yang tidak bisa memejamkan mata sejak berbaring segera mengambil ponselku dari atas nakas. Ternyata dari Armand.
[Maaf hari ini kami tidak jadi datang ke rumah. Bukan bermaksud mempermalukan keluargamu tapi aku memutuskan mundur. Aku belum bisa memenuhi keinginanmu. Usahaku sedang maju pesat apalagi pinjaman online yang baru sebulan ini dirilis. Maaf Jelita, aku lebih memilih mundur daripada harus menutup usahaku. Sampaikan maafku pada ibumu.]
Aku membaca kalimat demi kalimat dari Armand berkali-kali memastikan tidak ada yang terlewat satu katapun. Mencerna isinya dengan hati dan pikiranku.
Ia lebih memilih usaha ribanya dari pada diriku, berarti ia memang bukan untukku.
Aku berjalan ke arah jendela kamar, melihat langit yang ditaburi bintang. Sakit, hati ini sakit terasa. Seharusnya aku menjaga hatiku agar tidak terlibat sebelum semuanya pasti. Aku salah, ku akui itu. Aku gadis yang memiliki latar belakang yang buruk tak seharusnya mengharapkan hal yang lebih.
Wahai Yang Maha Membolak Balikkan Hati, teguhkan hati ini pada agama dan ketaatan pada-Mu. Aamiin.
Aku melihat ibu yang sudah terlelap. Syukurlah ibu bisa terlelap, aku sedikit lega. Aku berbaring d samping ibu, berusaha meyakinkan diriku bahwa Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untukku hanya waktu yang memisahkan kami. Suatu saat kami pasti bertemu.
