Bab 7 Lamaran?
Komunikasi antara aku dan Armand kian intens. Setiap hari kami selalu berkirim kabar lewat aplikasi whats app. Kadang yang kami bicarakan pun bukan hal penting.
[Dek, lagi apa?]
[Baru selesai ngajar]
[Udah makan?]
[Udah]
[Aku baru habis telpon ibu]
[Ibu sehat?]
[Alhamdulillah sehat]
[Terus?]
[Ibu setuju dek dengan hubungan kita.]
[Alhamdulillah]
[Je, Mas ingin lebih serius dengan hubungan kita. Gak jalan di tempat.]
[Mas maunya gimana?]
[Mas ingin segera menghalalkan hubungan kita.]
[Mas tau syaratku kan?]
[Iya mas tahu, mas akan penuhi itu tapi mas butuh waktu.]
[Itu syarat mutlak dariku mas. Aku gak mau nantinya aku dinafkahi dari uang hasil riba. Naudzubillah.]
[Mas sedang usahakan apa yang kamu mau dek.]
[Terima kasih mas sudah mau berusaha.]
[Kembali ke pembahasan tadi dek. Aku ingin kita segera halal dan ibuku sudah setuju, kakak dan adekku juga sama.]
[Jadi maksud mas gimana?]
[Mas mau melamar kamu secara resmi. Biar gak menggantung gini, mas ingin memastikan hati kamu cuma untuk mas.]
[Seperti tadi aku bilang soal syarat aku.]
[Mas pastikan saat kita akad nanti, usaha mas sudah berganti dengan yang benar-benar halal.]
[Aamiin.]
[Bulan depan aku dan keluargaku datang buat melamarmu dek.]
[Tanggal berapa mas?]
[insya Allah taggal 25]
[Nanti aku kasi tau ibu, bapak dan pakde.]
[Aku juga bakal telpon ibumu, pengen ngomong langsung dek.]
[Alhamdulillah klo gitu.]
[Kamu pulang kapan?]
[Aku pulang tanggal 24.]
[Aku beliin tiketnya ya dek nanti kukirim.]
[Iya mas. Terima kasih.]
Hatiku terasa berbunga-bunga, walau mas Armand belum bisa memenuhi syaratku tetapi ia mau berusaha dan akan segera melamarku.
Aku menelpon ibuku, menyampaikan kabar gembira ini. Ibuku begitu antusias ketika kukabari, beliau memang sangat berharap aku segera menikah.
Aku berpesan pada ibu untuk tidak memberitahu tetangga sebelum lamaran itu terjadi. Biar saja acara lamaran ini hanya dihadiri oleh keluarga dekatku.
Seminggu sebelum acara lamaran, ibuku menelpon. Menanyakan kondisiku dan mengabari bahwa tetangga-tetangga kami sudah mengetahui perihal lamaran itu dan mereka ingin ikut hadir. Aku mengira ibuku yang menceritakan hal ini pada para tetangga namun ternyata berita lamaran ini mereka dapatkan dari keluarga Armand.
Persiapan lamaran menjadi besar karena tetangga-tetangga yang akan hadir. Dua hari sebelum tanggal 25 aku pulang. Dan persiapan pun telah dilakukan, ibuku meminta bantuan tetangga untuk memasak. Rumahku begitu ramai, sibuk dengan acara memasak.
Tepat tanggal 25, subuh hari seorang perias datang. Sebenarnya aku tidak ingin dirias toh ini hanyalah lamaran namun ibuku berkeras ingin menjadikan momen ini menjadi spesial. Akhirnya aku meminta riasan yang natural saja.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, belum ada tanda-tanda keluarga mas Armand datang.
"Je, jam berapa Armand mau datang?"
"Jam 9 bu."
"Udah jam 10 ini."
"Aku coba telepon hapenya dulu."
Aku mengambil ponsel lalu menelpon nomer Armand, namun tidak ada jawaban.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, masih tidak ada tanda-tanda Armand dan keluarganya datang. Kasak-kusuk omongan tetangga sudah terdengar sejak tadi bahkan sebagian dari mereka mulai pulang.
"Gimana ini nduk?" Pak De ku bertanya denagn wajah kecewa.
"Je, sudah hubungi berkali-kali tapi tidak ada satu pun yang dijawab." Aku menjawab pelan.
"Biar Pak De ke rumahnya."
"Jangan!"
"Kenapa? "
"Biarkan pak de mungkin ini takdir Je."
"Ini ndak biaa dibiarkan, bikin malu keluarga!"
"Je gak mau ada keributan. Kalau mas Armand memang tidak mau melamar ya sudah. Kita tidak perlu memaksa."
"Baik, pak de akan turuti apa yang Je mau."
Aku menatap wajah-wajah kecewa keluargaku terutama ibu. Hatiku hancur.
