Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Izin

Sesampainya di rumah aku langsung menuju ke kamar ibu. Melihat ibuku terbaring lemah, aku ingin menangis.

"Assalamualaikum, Ibu."

"Waalaikum salam, Jelita."

Ibu tersenyum lemah melihatku. Aku segera menghampiri dan mencium tangannya, ibu mengusap kepalaku penuh sayang.

"Ibu sakit?"

"Biasalah, namanya juga sudah tua."

"Je khawatir bu, Je pulang saja ya gak usah merantau lagi?"

"Cita-citamu belum tercapai. S-2 mu belum selesai."

"Tapi Je gak tega liat ibu sakit, sendirian. "

"Ibu nggak sendirian kan ada sepupumu. "

"Je ingin urus ibu."

"Selesaikan dulu sekolahmu baru kau pulang. Ibu akan sangat bahagia kalau kamu punya pendidikan tinggi."

Aku memeluk ibuku dengan penuh rasa sayang.

"Jelita, kamu harus punya pendidikan tinggi, supaya orang tidak lagi memandang rendah kamu dan ibu lagi."

"Iya, Bu."

Masa lalu ibuku yang buruk dan tatapan rendah orang lain pada kami adalah hal yang paling memotivasiku untuk sukses. Sejak SD aku selalu rangking satu sampai kemudian kuliah di kampus ternama dan kini aku merantau ke Jakarta melanjutkan kuliahku sekaligus bekerja. Ibu ingin derajat kami terangkat dan aku menjadi orang yang disegani di desa. Aku berusaha mewujudkan cita-cita itu.

Setelah bercengkerama bersama ibu, aku beristirahat di kamarku. Kamar paling nyaman yang pernah kutempati yang selalu membuat tidurku nyenyak.

Keesokan harinya setelah membersihkan tubuh ibuku, terdengar ketukan di pintu.

"Assalamualaikum."

"Waalaikum salam." Jawabku setelah menaruh wadah air di tempat cuci piring.

Aku bergegas membuka pintu dan terkejut saat kudapati Armand berdiri di sana.

"Dari bandara saya langsung ke sini, mau jenguk ibu. Boleh?"

"Boleh, masuk!"

Armand juga merantau sepertiku hanya saja aku di Jakarta dan ia di Bekasi. Kedatangannya membuat sisi hatiku berdesir, demi menjenguk ibuku ia melakukan perjalanan jauh dengan pesawat belum lagi kebaikan hatinya yang lain.

Armand menaruh tas ranselnya di kursi lalu bertanya padaku, "Ibu mana?"

"Di kamar ini." Aku berdiri di depan kamar ibu.

Armand memasuki kamar ibu mengikuti diriku.

"Bu, ada yang jenguk."

"Saya Armand, Bu, yang tempo hari telpon."

"O, ini yang namanya Armand."

"Iya, Bu."

"Makasih ya sudah belikan tiket buat Jelita."

"Saya cuma bisa bantu itu, Bu."

"Itu bermakna sekali, Jelita jadi cepat sampai."

"Alhamdulillah. Kondisi Ibu bagaimana?"

"Sudah baikan nak Armand, alhamdulillah. Mungkin kangen juga sama Jelita, jadi cepet sembuh ada Je di sini."

"Alhamdulillah kalau kondisi ibu sudah membaik."

"Kedatangan saya ke sini, bukan sekedar mau jenguk ibu tapi saya mau minta izin."

"Izin?"

"Saya ingin serius dengan Jelita, Bu."

"Apa nak Armand, tau asal usul Jelita?"

"Tau, Bu."

"Keluargamu tidak keberatan?"

"Tidak, Bu, saya sudah membicarakan hal ini dengan bapak dan ibu."

"Kalau begitu, ibu tidak akan menghalangi niat baik nak Armand. Tergantung bagaimana Jelita saja."

"Saya sudah dapat izin ibu untuk serius denganmu. Apa kamu bersedia jadi pendampingku?"

Ibu dan Armand melihat ke arahku. Pertanyaan tiba-tiba itu membuatku membeku. Inginnya langsung kujawab iya namun pekerjaan mas Armand yang menjadi ganjalanku. Aku tidak mau dinafkahi dengan uang riba.

"Kita bisa bicarakan nanti, terlalu mendadak kalau dijawab sekarang." ucapku.

"Ya sudah kalau begitu ajak nak Armand istirahat dulu. Kamu sudah buatkan minum buat mas mu ini Je?"

"Belum, Bu."

"Ayo buatkan!"

"Sementara aku buat minum, kamu bisa duduk di ruang tamu." Aku berkata pada Armand.

"Kok manggilnya kamu, nggak sopan Je. Mas, panggil Armand dengan sebutan mas." Ibu mengoreksiku. Aku tidak bisa menyanggah.

"Baik bu. Mas Armand bisa istirahat d ruang tamu, aku buatkan minum dulu."

Armand tersenyum mendengar panggilan barunya lalu keluar dari kamar ibu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel