Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Mendekat

Aku membuka ponselku di sela-sela kesibukanku mengajar. Sejak tadi ada notifikasi pesan wa yang berbunyi berkali-kali. Sebenarnya peraturan di sekolahku mengajar tidak membolehkan guru untuk berkomunikasi dengan ponselnya selama waktu belajar berlangsung kecuali untuk situasi darurat. Sepertinya ini pesan penting.

[Assalamualaikum Jelita]

[Lagi sibuk ya?]

[Jelita]

[Jawab dong wa saya]

[Jelita....]

[Ini Armand, yang kemarin ketemu di tempat reuni.]

[Reuni SMA di Kebun Raya Bogor.]

[Masih inget kan?]

Melihat pesan berkali-kali dari Armand akhirnya aku menjawab.

[Waalaikum salam, maaf sedang mengajar.]

Hanya dalam hitungan detik Armand menjawab.

[Oh sorry ganggu ya. Nanti sore deh aku hubungi lagi.]

Kuaktifkan mode senyap pada ponselku agar jika ada pesan masuk lagi suaranya tidak mengganggu murid-muridku lalu kutaruh ponselku dan kembali mengajar.

Sore hari setelah aku tiba di kontrakan, ponselku kembali berdering kali ini bukan pesan whats app tapi telepon dari Armand.

"Assalamualaikum, Jelita!"

"Waalaikum salam."

"Saya Armand, masih di tempat mengajar?"

"Nggak. Udah di rumah kok."

"Owh gitu, baguslah. Apa kabar?"

"Baik. Alhamdulillah."

"Alhammdulillah. Saya juga sehat. Ibu kamu gimana kabarnya?"

"Alhamdulillah ibu juga sehat."

"Kalau bapak?"

"Bapak? sehat juga."

"Tadi pagi aku telepon ibumu. Mau izin kamu eh kamu gak bisa diganggu jadi aku langsung aja telepon ibu."

"Apa? Kamu telpon ibu?"

"Iya,"

"Untuk apa?"

"Minta izin."

"Minta izin? Izin apa?"

"Izin mendekati putri semata wayangnya."

"Deketin aku?"

"Iya, siapa lagi? Emang ibu punya anak yang lain?"

"O.." aku terkejut mendengar pernyataan Armand, rupanya ia ingin mendekatiku.

"Kok cuma O?"

"Aku bingung harus jawab apa."

"Gak pa-pa kan aku minta izin ibumu?"

"Gak pa-pa."

"Saya serius loh mau deketin kamu."

"Hm."

"Jawabannya cuma hm, kalau masih cape aku tutup ya? Istirahat!"

"Ok. Bye."

Aku tidak menyangka Armand akan bertindak sejauh itu. Menghubungi ibuku untuk meminta izin mendekatiku. Selain teman sekolah, Armand juga tinggal satu desa denganku. Dia tahu banyak hal tentang diriku yang tidak diketahui orang lain.

Selepas maghrib, aku berencana memesan makanan untuk makan malam, tinggal sendirian membuatku malas memasak. Baru saja membuka aplikasi untuk memesan makanan sebuah pesan whats app dari Armand masuk.

[Aku sudah pesankan makanan kesukaan kamu. Sebentar lagi sampai.]

[Gak usah repot-repot, aku bisa pesan sendiri.]

[Gak ngerepotin kok, aku senang malah. Lima menit lagi makanannya sampai. Dimakan ya.]

[Jadi gak enak aku.]

[Enakin aja. Aku senang bisa beliin kamu makanan.]

[Terima kasih]

[Sama-sama. Selamat makan.]

Darimana Armand tau alamatku dan makanan kesukaanku ya? Jangan-jangan dari ibu. Aku sebenarnya tidak nyaman dibelikan makanan oleh seorang lelaki yang tidak ada hubungan denganku tapi ditolak pun makanannya sebentar lagi sampai, anggap saja rejeki, tidak perlu membeli makanan malam ini.

Setelah kenyang menyantap makanan yang dikirim Armand, aku membuka AlQur'an, target bacaanku hari ini belum tercapai. Setiap hari aku mengusahakan membaca sebanyak 1 juz. Hatiku terasa lebih tenang semenjak memiliki kebiasaan itu.

Mataku terasa berat setelah menyelesaikan bacaan Qur'an, aku pun merebahkan diri dan terlelap.

Deringan ponsel jam 3 dini hari membangunkanku. Sepupuku menelpon. Ia tinggal serumah dengan ibuku, sebelum merantau kutitipkan ibu padanya.

"Jelita?"

"Ya."

"Ibu pingsan tadi malam." ucapan sepupuku bagai petir di siang bolong. Aku benar-benar terkejut.

"Innalillahi, terus gimana kondisinya?"

"Sudah ditangani dokter."

"Dibawa ke rumah sakit mana?"

"Bukan rumah sakit tapi klinik Syifa Medika."

"O, klinik yang gak jauh dari rumah itu."

"Iya. Kamu kapan bisa pulang? Ibumu nanyain terus."

"Aku pulang pagi ini, naek kereta mba." Tanpa berfikir apapun lagi aku memutuskan untuk pulang walau aku masih tidak tahu akan mendapatkan tiket atau tidak.

"Baik,nanti aku sampaikan ke bude."

"Iya. Makasih udah jaga ibu."

"Iya sama-sama. Hati-hati di jalan."

"Iya."

Ibuku pingsan semalam, untunglah sepupuku langsung membawanya berobat ke dokter. Aku harus pulang. Ibuku adalah prioritas utamaku, tanpanya hidupku tidak akan berarti.

Baru saja aku membuka aplikasi online untuk memesan tiket kereta, ponselku kembali berdering kali ini Armand yang menelpon.

"Assalamualaikum."

"Waalaikum salam."

"Aku dengar ibumu sakit."

"Kok tahu ibu sakit?"

"Dari sepupumu. Kamu mau pulang?"

"Iya aku mau pulang."

"Aku pesankan tiket pesawat."

"Tiket pesawat?"

"Iya, biar kamu cepat sampai."

"Gak perlu repot-repot, aku bisa pesan tiket kereta."

"Aku gak repot, tiket pesawat sudah kupesan. Ibumu pasti ingin cepat ketemu anaknya."

"Terima kasih banyak."

"Sama-sama. Aku senang bisa membantu kamu."

Aku benar-benar bersyukur Armand membelikan tiket pesawat, hanya dalam beberapa jam aku bisa sampai di desa dibandingkan dengan kereta yang membutuhkan waktu lebih dari 12 jam.

Selama perjalanan aku memikirkan kata-kata Armand yang ingin mendekatiku. Dia beralasan sedang mencari calon istri. Aku tersentuh dengan kebaikan dan perhatiannya.

Apakah Armand merupakan jawaban doa-doaku? Dia tahu banyak hal tentang diriku yang tidak perlu orang lain tahu.

Ya Allah, apakah Armand adalah jodohku?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel